(12) Dia Orangnya

1071 Words
"Dia calon suami kamu? Itu artinya dia adalah laki-laki yang dijodohkan dengan kamu selama ini? Makanya tadi dia langsung tahu kalau kita berdua Kakak beradik dan dia juga tahu kalau kamu masih seorang mahasiswi, dia tahu semua itu karena dia memang kenal sama kamu, apa itu yang kamu maksud sekarang?" Dan gue mengangguk pelan, yang gue maksud memang kurang lebih sama dengan apa yang Mas Azzam pikirkan sekarang, gue juga mikir kaya gitu begitu tahu kalau nama laki-laki yang berdiri membela pacarnya dengan sangat tegas itu adalah Reza, semua pertanyaan yang dari tadi wara wiri di kepala gue seakan langsung terjawab begitu tahu kalau nama laki-laki tersebut adalah Reza, nama yang sama dengan laki-laki yang selama ini di jodohkan dengan gue. "Wafa nggak tahu itu pasti atau enggak, Wafa juga ngerasa aneh karena dia bisa tahu kalau Wafa ini adiknya Mas dan Wafa masih seorang mahasiswi, cuma Wafa semakin yakin begitu dia ngomong kalau Wafa ini adalah anak dari teman Papanya, apa dia beneran calon suami Wafa atau ini cuma perasaan Wafa doang ya Mas? Wafa bahkan nggak bisa memastikan apapun." Gue balik nanya sama Mas Azzam ya karena gue memang nggak tahu pastinya kaya gini, ini cuma berawal dari rasa curiga gue, kemudian berubah arah menjadi sebuah keyakinan yang sangat tahu kebenarannya, gue masih belum tahu pasti tapi gue sangat yakin dengan tebakan gue sekarang cuma ya balik lagi, yakin doang nggak bisa menjamin kepastiannya, masih ada kemungkinan kalau gue salah dan ini cuma sekedar kebetulan biasa, kebetulan karena nama mereka sama dan kebetulan semua tebakannya laki-laki tadi tentang gue itu bener semua, mungkin memang sebuah kebetulan doang, nggak lebih dari itu. "Tapi kalau dia ngomong dia tahu kamu adalah anak dari teman Papanya, itu artinya dia memang kenal sama kamu, Fa. Dia bukannya ngomong atau nebak sembarangan, dia kenal kamu dan kemungkinan kalau dia itu adalah calon suami kamu malah jadi lebih besar, itu nggak menutup kemungkinan sama sekali cuma membuat Mas bingung sekarang, kalau memang dia calon suami kamu dan harusnya dia juga udah tahu kalau kalian di jodohkan udah lama, kenapa dia masih punya pacar? Bukannya itu juga aneh?" Tanya Mas Azzam yang ikut gue tanyakan dalam hati gue sekarang juga, omongan Mas Azzam nggak salah sama sekali, kalau memang dia adalah Reza yang gue kenal, nggak mungkin malah punya pacarkan? Nggak mungkin mengakui perempuan tadi sebagai pacarnya kalau memang kenal gue sebagai tunangannya, itu juga sangat aneh untuk gue sekarang, patut gue pertanyakan dengan sangat jelas. "Nah itu juga bener, mungkin memang bukan dia orangnya Mas, mungkin cuma namanya doang yang mirip atau dia tadi yang salah ngenalin Wafa, bisa ajakan? Pokoknya Mas jangan khawatir, kalau memang bukan dia orangnya ya malah bagus, Wafa juga bersyukur, beruntung banget kalau memang bukan dia orangnya, nggak kebayang hidup Wafa bakalan gimana kalau memang beneran punya calon suami modelan begitu, amit-amit Mas, nggak rela banget kayanya." Bisa makan hati tiap hari gue nantinya, sekarang aja gue ngebayanginnya agak horor sendiri, agak gimana gitu gue mikirnya kalau punya suami tapi masih punya pacar juga? Udah gitu secara langsung udah berani ngenalin pacarnya ke gue, masih berani nyebutin pacar padahal dia tahu gue siapa, apa nggak keterlaluan orang kaya gitu? Wah gue bisa kehabisan kata setiap hari kalau begitu caranya mah. "Tapi kalau dia orangnya gimana Fa? Kalau beneran dia Reza yang kamu maksud, apa dia nggak keterlaluan sama sekali? Apa dia nggak punya pemikiran sama sekali sampai ngenalin pacarnya di depan kamu kaya tadi? Udah tahu bakalan punya istri tapi masih menjalin hubungan dengan perempuan lain, apa kamu pikir laki-laki seperti itu adalah laki-laki baik?" Pertanyaan Mas Azzam yang lagi-lagi memang sempat gue pikirkan tadi, gue mikir kalau itu semua bener, nasib gue bakalan kaya apa? Gue bakalan sesakit hati apa nanti? Belum nikah aja dia udah berani ngaku kalau dia punya pacar di depan gue bahkan di depan Mas Azzam yang seharusnya dia juga tahu kalau Mas Azzam udah seperti keluarga untuk gue, apa nggak sakit laki-laki kaya gitu. "Apapun kenyataannya Wafa belum tahu Mas, Wafa nggak ngerti dengan keadaannya, yang bisa Wafa lakuin sekarang ya cuma mencoba berpikir yang baik-baik aja, Wafa mau mencoba menenangkan hati dan perasaan Wafa aja dulu, nggak mau mikirin terlalu lama hal yang belum pasti, hal yang belum ada kejelasannya juga, Wafa nggak mau kaya gitu." Dan ini adalah pilihan gue sekarang, kalau gue terlalu memaksakan diri untuk memikirkan kemungkinan terburuk, gue cuma akan membebani diri gue sendiri, ujung-ujungnya gue malah menyakiti perasaan gue sendiri juga, masa depan nggak ada yang tahu dan sekarang gue belum tahu pasti apa Reza yang gue lihat hari ini adalah Reza yang akan menjadi suami gue nanti, gue nggak harus mikirin hal yang suatu saat akan gue ketahui jawaban dengan sendirinya, waktu akan menjawab semuanya. "Kamu bener, jangan terlalu memikirkan hal yang cuma akan menyakiti perasaan kamu sendiri, itu nggak harus kamu lakuin, itu nggak harus kamu pikirin terlalu lama, di masa depan kamu akan tahu Reza yang kita temui hari ini adalah Reza yang akan menjadi calon suami kamu atau hanya Reza yang kebetulan mempunyai nama yang sama." Gue mengangguk pelan, mungkin yang Mas Azzam omongin sekarang harus benar-benar gue ingat dengan baik, gue nggak boleh berlarut memikirkan hal ini juga, itu nggak baik. "Tapi Fa! Kalau sampai dia adalah Reza yang menjadi calon suami kamu nanti, akan Mas pastikan kalau dia akan tahu akibatnya setelah memperlakukan kamu kaya tadi." Mas Azzam bicara dengan nada yang sangat serius dan berjalan lebih dulu sekarang, Mas Azzam mungkin terlihat tenang tapi ucapannya barusan juga bukan main-main, Mas Azzam sangat serius dan kalau sampai Reza yang gue maksud beneran Reza yang gue temui barusan, Mas Azzam nggak akan tinggal diam, itu yang gue khawatirkan. "Kamu jasi nyari barang kaperluan kamu?" Dan gue menggeleng pelan, gue udah nggak berminat untuk nyari barang-barang perluan gue, gue udah keburu malas, mungkin lain kali aja cuma sekarang gue sama Mas Azzam itu perlu ngabarin Daffa, gue ngasih tahu Daffa dimana gue sama Mas Azzam nungguin dia sekarang cuma anehnya, Daffa malah ngomong kalau dia udah tahu gue sama Mas Azzam itu dimana sekarang, katanya dia ngeliat gue sama Mas Azzam tadi, ni anak kenapa lagi coba? Setelah setuju kalau gue sama Mas Azzam bakalan nungguin dia, nggak lama berselang, Daffa dateng nemuin gue sama Mas Azzam lengkap dengan nafas ngos-ngosannya. "Cie yang barusan ketemu sama calon imam, Kakak janjian sama Kak Reza?" Ucap Daffa tiba-tiba begitu berdiri dihadapan gue sama Mas Azzam sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD