"Kamu ngomong apaan Dek?" Siapa yang janjian memangnya? Sama siapa tadi katanya juga? Reza? Daffa ngomong apaan coba sekarang lagi? Ni anak kalau ngomong suka nggak bener, maksudnya apaan lagi sekarang dengan ngomong kaya gini? Gue yang ngeliatnya aja sampai bingung kaya gini, apa yang mau gue jawab kalau gue aja kebingungan kaya gini sama pertanyaannya coba? Heran banget gue juga.
"Kakak nggak paham di bagian mananya? Adek udah ngomong dengan jelaskan? Kakak janjian sama Kak Reza? Kenapa tadi aku malah ngeliat Kakak ngomong sama Kak Reza juga?" Jelas Reza sekali lagi? Reza? Gue ketemu sama Reza calon suami gue itu kapan? Daffa jangan aneh-aneh juga, gue tambah bingung nanti.
"Reza? Siapa yang janjian sama Reza? Kapan Kakak ketemu sama orangnya Dek? Kapan Kakak janjiannya, kamu yant bener kalau ngomong, kapan kamu ngeliat Kakak ketemu sama Reza? Kapan dan dimana?" Kapan gue ketemu sama tu orang? Sadar kalau ketemu aja enggak nah janjian apalagi? Daffa yang bener aja, gue sampai makin nggak ngerti, Daffa kalau ngomong juga nggak sekaligus, nggak suka basa-basi sama gue juga, maksudnya apa coba? Ni anak udah lama nggak gue ceramahin makanya berakhir kaya gini apa gimana? Jangan nambah beban pikiran gue doang kalau memang nggak jelas sama sekali.
"Lah barusan aja aku ngeliat Kakak ketemu sama Kak Reza, barusan aja ketemunyakan masa Kakak malah nanya sama aku lagi? Kalau Kakak nggak janjian sama tu orang terus tadi kalian berempat ngomongin apa? Aku kira lagi ngobrol bareng karena muka kalian keliatan cukup serius juga." Dan seketika otak gue langsung berpikir keras, gue juga langsung natap Mas Azzam yang dari tadi ikut mendengarkan, gue rasa Mas Azzam juga udah tahu apa yang ada dipikiran gue sekarang, gue rasa Mas Azzam juga sadar dengan apa yang gue pikirkan sekarang, gue nggak berani berpikir kalau itu beneran sesuai dengan apa yang gue pikirkan sekarang, gue takut untuk meyakini apa yang gue takuti sekarang.
"Mas! Jangan bilang kalau orang yang ketemu sama kita barusan itu beneran Reza yang dijodohin sama aku nanti, dia yang bakalan jadi suami aku nanti, dia yang keliatan nggak karuan begitu dan dia yang tadi sangat membela pacarnya di depan kita berdua juga, Daffa nggak salah orangkan Mas?" Tanya gue ke Mas Azzam dan berharap kalau pemikiran gue itu akan salah tapi belum ada respon apapun dari Mas Azzam sekarang, Mas Azzam masih memilih diam dan nggak membicarakan apapun lagi, diamnya Mas Azzam yang berarti dia mengiakan semua pertanyaan gue barusan, mengiakan ucapan gue itu artinya dia siap membuat perhitungan dengan laki-laki yang namanya Reza tadi.
"Mas! Mas kenapa diem? Wafa nanya sama Mas sekarang, bukan dia orangnyakan Mas?" Tanya gue ulang untuk Mas Azzam, Daffa yang sekarang memperhatikan gue sama Mas Azzam bergantian juga ikut terlihat kebingungan, Daffa nggak akan ngerti kalau gue belum ngomong apapun sama dia, Daffa hanya membicarakan apa yang dia lihat sekarang, apa yang ada di depan matanya, cuma itu yang Daffa pikirkan jadi jelas Daffa nggak akan tahu karena dia nggak ada tempat kejadian tadi, kalau sampai Daffa tahu tadi gue sama Mas Azzam ketemu sama Reza nggak sengaja, dan kita berdua juga ketemu sama pacarnya Reza, bakalan gimana reaksi Daffa, gue juga nggak tahu, bisa aja Daffa lebih parah sekarang.
"Mas rasa memang dia orangnya." Jawab Mas Azzam dingin, tatapan Mas Azzam sekarang beneran terlihat marah dan nggak mau membicarakan apapun lagi, gue sendiri juga nggak mau memperparah obrolan, otak gue seakan nggak bisa berfungsi dengan normal sekarang karena gue terlalu sibuk memikirkan semua kemungkinan yang ada, otak gue rasanya udah nggak bisa di ajak bekerjasama karena terlalu lelah memikirkan semua kemungkinan yang ada sekarang, gue takut menghadapi kenyataan yang ada juga mungkin iya, gue takut kalau gue akan semakin kecewa kalau gue tahu semua kebenarannya, kebenaran kalau calon suami pilihan orang tua gue mungkin bukan yang terbaik untuk gue kedepannya, ini yang sangat gue takutkan sekarang, sangat sangat.
"Kalian berdua ngomongin apaan sih Kak? Mas? Kalian berdua ngomongin siapa sekarang? Aku lagi ngomongin Kak Reza calon suaminya Kak Waffa tapi kenapa malah kaya gini lagi reaksi kalian? Bikin orang makin penasaran tahu nggak, sebenernya ada apa? Kakak nggak janjian sama Kak Reza? Kalian nggak janjian tapi nggak sengaja ketemu kaya tadi? Itu mah jodoh namanya jadi kenapa harus pasang muka suram kaya gini?" Tanya Daffa yang sekarang ikut memberikan komentarnya lagi, gue nggak mungkin mengiakan ucapannya Daffa sekarang karena gue nggak mau Daffa ikut-ikutan emosi, kalau Daffa udah berulah semuanya juga nggak akan mudah, setidaknya itu yang gue pikirkan sekarang, itu yang gue pertimbangkan sekarang.
"Kalau memang orang yang kamu lihat tadi adalah Reza calon suami Kakak kamu, itu artinya kita memang ketemu secara nggak sengaja, apa ada hal bagus dari semua kejadian itu? Apa ada yang bisa Mas jelasin kalau Kakak kamu aja keliatan jelas nggak bisa mengomentari apapun lagi sekarang, itu yang sebenernya terjadi." Susah banget rasanya untuk gue meberika jawaban pertanyaan Daffa barusan, pertanyaan Daffa sederhana tapi jawabannya nggak akan sesederhana itu lagi, jawabannya akan membuat gue lebih terikat dengan hal lain lagi, hal lain yang akan membuat gue lebih kecewa sekarang juga, gue nggak mungkin ngomong sama Daffa kalau perempuan yang berada diantara kita berdua tadi itu adalah pacarnya Reza, pacar yang sedari tadi sangat dibelanya di depan gue sama Mas Azzam juga, kalau Mas Azzam bisa bersikap dingin kaya sekarang, apa kata Daffa yang tahu kalau Kakaknya diperlakukan kaya gitu, itu jelas masalah baru lagi.
"Mas! Sebenernya ada masalah apa sih Mas, kenapa malah jadi kaya gini? Apa masalahnya sekarang sampai Kak Wafa bersikap sangat aneh, orang ketemu calon suaminya seneng nah ini malah suram, nggak jelas banget keliatannya." Tanya Daffa beralih ke Mas Azzam, Mas Azzam yang sepertinya akan memberikan jawaban lebih pasti untuk semua pertantaan yang membuat Daffa sangat kebingungan sekarang, Mas Azzam kayanya juga nggak akan nutupin apapun karena walaupun gue udah natap Mas Azzam dengan tatapan memohon, Mas Azzam masih belum terpengaruh, Mas Azzam terlihat sangat marah sekarang.
"Daffa berhak tahu Fa, dia berhak tahu dan kamu akan butuh Daffa kalau memang calon suami kamu masih berulah kaya gini." Ucap Mas Azzam ke gue tapi udah cukup untuk menarik perhatian Daffa sekarang, Daffa juga semakin fokus dengan Mas Azzam sekarang, Mas Azzam yang seakan siap menjawab semuanya.
"Kenapa sih Mas? Apa masalahnya?" Tanya Daffa lebih mendesak.
"Kamu lihat perempuan yang ada diantara Mas, Kakak kamu dan calon suami Kakak kamu tadi?" Tanya Mas Azzam yang diangguki Daffa.
"Dia adalah pacar dari calon suami Kakak kamu."