"Pacar? Mas becanda? Ini udah nggak lucu Mas, maksudnya tu orang apaan masih pacaran padahal udah tahu kalau dia bakalan punya istri? Maksudnya dia apaan sampai dia harus ngomong nggak jelas kaya gini? Maksudnya apaan coba? Mau nyelingkuhin Kakak? Mau punya istri tapi tetap mau punya pacar juga? Maunya gimana tu orang?" Tanya gue Daffa ke Mas Azzam emosi, jangankan Mas Azzam, gue yang denger aja hampir pecah kepala gue sekarang, gue hampir aja nampar orangnya kalau masih ada di depan mata tapi lagi-lagi kenyataan membuat gue harus segera menyadarkan diri, kenapa? Karena mau dia punya pacar atau selingkuhan sekalipun, saat ini dia masih belum menjadi siapa-siapa gue dan gue juga nggak punya hak untuk melarang apalagi marah dengan sikapnya sekarang, itu seperti hak pribadi yang belum bisa gue ganggu gugat selama gue belum sah menjadi istrinya, gue ngggak bisa ngelakuin itu, gue harus sadar posisi dan tahu diri dari sekarang.
"Mas tahu perasaan kamu, Mas juga ngerasa kalau dia udah sangat keterlaluan, gimana bisa dia ngomong kaya gitu sama Kakak kamu kalau dia tahu Kakak kamu akan menjadi istrinya nantinya, itu sama aja dia mengenalkan pacar didepan calon istrinya sendiri, apa sikapnya tadi adalah sikap seorang laki-laki baik? Mas nggak ngerasa kalau dia bisa bertanggungjawab sepenuhnya untuk Kakak kamu nanti, Mas jadi nggak yakin kalau dia bisa membahagiakan Kakak kamu nanti, gimana bisa bahagia kalau kelakuannya aja kaya gitu? Gimana Mas nggak emosi sekarang?" Sambung Mas Azzam menangapi ucapan Daffa tadi, tapi ya mau gimana? Gue udah lelah untuk memberikan komentar tentang hal yang harusnya nggak gue ucapin sama sekali, gue tahu sikapnya Reza hari ini membuat dia terlihat sangat buruk dimata Daffa sama Mas Azzam, bahkan di depan mata gue tapi sekali lagi, gue nggak punya hak apapun untuk protes sekarang, gue nggak punya.
"Terus alasan kalian tadi berdiri berempat lama itu apa? Dia ngomongin apaan sampai memakan waktu sebanyak itu, aku mikirnya tadi kalian memang janjian atau nggak sengaja ketemu terus ngobrol barengkan? Bisa saling kenal biar makin akrab, selama ini Kakak kan cuma liat fotonya, itupun cuma sekali, nggak yakin kalau masih ingat juga sama mukanya, kalau tadi aku tahu dia dateng sama pacarnya, bakalan aku habisin Mas." Ucap Daffa terlihat jelas sedang berusaha menahan amarahnya, terlihat jelas kalau Daffa sangat marah sekarang, marah yang sampai membuat orang lain yang ngeliatnya aja bisa langsung, walaupun gue udah tahu tapi gue nggak punya kemampuan untuk mewujudkan keinginan Daffa itu, gue masih belum punya hak dan selama gue gue nggak punya hak, mereka juga belum berhak melakukan apapun terhadap Reza, dia masih bukan siapa-siapa gue saat ini, itu adalah kenyataan yang harus Daffa sama Mas Azzam terima.
"Dia memang jalan sama pacarnya terus nggak sengaja Kakak kamu nubruk pacarnya, awalnya Mas juga nggak tahu apapun dan dateng cuma untuk membantu Kakak kamu berdiri, disisi yang lain, Reza juga dateng untuk membantu perempuan yang di tabrak sama Kakak kamu, yang nggak lain adalah pacarnya Reza, Reza menyebut kata pacar dengan cukup jelas beberapa kali, Mas nggak bereaksi apapun karena memang nggaj sadar kalau laki-laki itu Reza calon suami Kakak kamu, dia cuma bersikap sedikit aneh tadi dan omongan kamu barusan membuktikan semuanya." Jelas Mas Azzam yang entah kenapa seakan membuat suasananya makin berubah nggak karuan sekarang, gue mau menyalahkan tapi kayanya percuma, nggak ada yang harus gue perpanjang sekarang, udah jelas semuanya, Daffa udah tahu dan itu memang apa adanya, memang begitu sikapnya Reza tadi, dia bersikap aneh karena dia udah kenal sama gue dari awal, dia sengaja ngenalin pacarnya di depan gue walaupun dia tahu gue siapa di masa depan, apa harus gue membela laki-laki kaya gini di depan keluarga gue? Kayanya belum perlu, dia masih belum menjadi suami gue jadi gue nggak harus menjaga kehormatannya di depan siapapun.
"Apa kita labrak aja Mas? Aku rasa orangnya juga masih ada disekitar sini, nggak mungkin pulang gitu aja, asli ngeselin banget tu orang, memang bener tampang itu nggak menjamin apapun, tampang baik-baik kaya gitu belum tentu kelaluannya baik juga, belum tentu bisa dipercaya juga, kalau dari awal aku tahu kelakuan tu orang kaya gini, nggak bakalan aku ngebelain tu orang di depan Kakak, nggak bakalan aku ngomong yang baik-baik, nyesel kaya gini jadinya." Denger Daffa ngomong kaya gini aja membuat gue kehilangan muka sekarang, membuat gue kehilangan muka dan itu sangat sulit untuk gue terima, Daffa aja bisa terang-terangan ngomong kalau dia menyesal nah apa kabar gue yang bakalan jadi istrinya nanti? Hidup gue bakalan sedramatis apa coba? Kacau parah.
"Udalah Dek, nggak ada yang harus kita perpanjang lagi, untuk apa kita dateng dan nemuin tu orang kalau kenyataan kita belum bisa berbuat apapun? Kenyataan kita belum bisa ngomongin apapun sekarang, nggak ada yang harus kita perpanjang, untuk apa kamu nyusulin tu orang dan c*m akan ribut-ribut di tempat umum kaya gini? Nggak ada gunanya juga, cuma bikin malu karena diliatin banyak orang, Kakak nggak mau kaya gitu, nggak ada yang harus kita bahas lagi sama tu orang dan lebih baik kita pulang sekarang, kamu udah ketemu semua keperluan kamu untuk sekolahkan? Kalau udah, ayo pulang sekarang." Ajak gue yang langsung di tolak sama Daffa, Daffa bahkan ikut terlihat kesal menatap gue sekarang, apalagi yang ada dalam pemikirannya ni anak sekarang gue juga nggak tahu, apa yang Daffa pikirin sekarang sampai memperlihatkan ekspresi kesal kaya gitu? Gue nggak tahu dan andai gue tanya, Daffa udah pasti juga tetap marah sekarang, itu jelas.
"Kak! Kakak yang kenapa coba? Kakak nggak ngerasa orang itu bersalah sama sekalikah? Nggak ngerasa kalau dia itu salah karena udah bersikap sama Kakak kaya gitu? Apa Kakak nggak marah karena udah nggak dianggap sama sekali oleh calon suami Kakak sendiri? Ayolah Kak, sekarang itu udah nggak zamannya yang perempuan terus diam dan merasa tersakiti sendiri kalau kelakuannya tu orang begitu, kenapa nggak kita laporin sama Ayah Bunda aja? Kalau kita ngasih tahu Ayah sama Bunda, aku yakin Ayah bakalan mikir ulang untuk menjodohkan Kakak sama laki-laki kaya gitu, ini masih calon suami aja kelakuan udah kaya gini, apalagi kalau udah jadi suami?" Tanya Daffa geram, Daffa siap mukulin apapun kayanya sekarang, anak SMA memang belum bisa menjaga amarahnya dengan baik sekarang, umur Daffa kenyataannya juga nggak bisa nipu.
"Dek! Seperti kata kamu tadi, dia cuma calon suami, belum jadi suami Kakak lagi jadi Kakak nggak punya hak apapun, apa kamu nggak paham? Kakak belum punya hak ataupun itu, beda cerita kalau dia udah jadi suami Kakak, kenyataannya sekarang belumkan jadi jangan buang-buang waktu sama tenaga kalian berdua, itu nggak penting." Jawab gue berusaha membuat Mas Azzam sama Daffa mengerti dengan pemikiran gue sekarang.
"Satu lagi! Kakak nggak mau kamu ribut sama siapapun, kamu paham?" Ini peringatan dari gue untuk Daffa.