Setelah memperingati Daffa supaya nggak bertindak aneh-aneh, gue langsung menggiring Mas Azzam sama Daffa pulang sekarang, gue udah ngomong berkali-kali kalau gue nggak mau memperpanjang urusan, gue nggak mau gegabah dalam beberapa hal, gue nggak mau bersikap terlalu jauh ya karena gue nggak ngerti apapun, gue belum punya status apapun juga jadi kalau mau marah juga kira-kira, memang gue siapanya sampai harus bersikap keras kepala kaya gitu? Memang gue ngelakuin apa sampai harus berurusan sama masalah pribadinya tu orang, kalau udah ada status atau jelas gue ini siapanya nah baru boleh tu gue protes lah sekarang kan belum jadi siapa-siapanya, kenapa harus gue labrak tu orang? Beneran buang-buang waktu sama tenaga gue aja, nggak cuma waktu gue sendiri tapi waktu Daffa sama Mas Azzam juga, dari pada ribut nggak jelas ya lebih mending gue ngajak mereka pulang sekarang toh yang Daffa butuhin juga udah ada semua.
"Kak! Kakak itu bener-bener, kenapa nggak Kakak biarin aja aku nemuin Kak Reza tadi? Kalau aku nemuin dia, aku bisa ngasih dia peringatan supaya dia nggak nyakitin Kakak, supaya dia jangan macam-macam apalagi sampai berulah, orang kaya gitu harus segera dikasih tahu kalau enggak bisa makin semena-mena, belum nikah aja dia udah berani kaya gitu apalagi kalau udah nikah? Apa Kakak pikir laki-laki kaya gitu pantas untuk di jadikan suami? Okelah sekarang Kakak beralasan kalau Kakak belum punya status apapun tapi di masa depan Kakak yang bakalan jadi pendampingnya tapi masa dia nggak ada perasaan sedikitpun? Kan nggak bener tu orang." Kesal Daffa yang belum hilang juga walaupun udah gue ajak pulang paksa kaya gini, Daffa terlihat masih sangat kesal dan seperti penjelasan apapun dari gue nggak akan membantu, Daffa harus tenang lebih dulu baru bisa mendengarkan maksud ucapan gue dan sekarang Daffa masih penuh dengan rasa kesalnya.
"Karena Kakak sadar Kakak ini siapanya sekarang makanya Kakak nggak mau ikut campur, kalau mengenai masa depan ya nanti dimasa depan kita bicarain, lagian kalau dia udah jelas-jelas tahu Kakak siapa dan dia masih berani mengenalkan pacarnya kaya tadi, apa kamu pikir laki-laki kaya gitu masih belum bertekad, kalau kamu dateng dan ngelabrak tu orang tadi, Kakak yakin bakalan jadi keributan yang jauh lebih besar, kamu tahukan kalau Kakak paling malas sama yang namanya ribut-ribut? Masih banyak hal lain yang bisa kita lakuin, nggak harus buang-buang waktu sama tenaga untuk orang kaya dia." Ini maksud ucapan gue tadi, gue ngerasa beneran nggak penting ngeladenin orang yang udah jelas-jelas nggak mikirin perasaan gue, nggak mikirin pandangan dan pendalat gue, kalau dia mikirin perasaan, pandangan bahkan pendapat gue sebagai calon istrinya dimasa depan, dia nggak akan seberani itu ngenalin perempuan lain ke gue sebagai pacarnya, itu yang harus Daffa paham.
"Tapi Fa, tujuan Daffa nemuin Reza juga bukan untuk sekedar ngasih dia peringatan atau semacamnya, itu smeua bukan sekedar buang-buang waktu sama tenaga tapi itu semua Daffa lakuin supaya Reza tahu, dia nggak bisa bersikap seenaknya sama kamu, walaupun bagi dia kamu mungkin nggak penting sekarang, perasaan kamu dia juga nggak peduli tapi kami semua peduli, Mas, Daffa dan terutama Ayah sama Bunda, kita semua peduli sama kamu jadi Reza harus tahu kalau dia nggak bisa bersikap seenaknya, sesuatu yang dia anggap nggak berhrga dalam hidupnya bisa saja sangat berharga untuk orang lain." Kali ini malah Mas Azzam yang buka suara, gue mendengarkan dan mencoba paham dengan maksud ucapan Mas Azzam barusan, gue nggak menyalahkan dan gue juga nggak memberikan tanggapan apapun, gue masih mencoba berpikir dengan tenang sebenernya apa yang harus gue lakuin sekarang? Gue beneran terkedala status, status gue yang sekarang belum menjadi siapa-siapanya Reza membuat gue ragu untuk bersikap terlalu jauh.
"Mas! Wafa cuma ngerasa kalau Wafa belum berhak karena saat ini Wafa sama dia juga belum punya hubungan atau ikatan apapun, kalau Wafa sama dia udah menikah atau udah tunanganlah paling mending, mungkin Wafa bakalan punya lebih banyak keberanian untuk menghadapi sikap Reza yang kaya tadi tapi sekarang belumkan? Kalau belum gimana bisa Wafa bersikap sesuka hati Wafa kaya gini? Wafa nggak ngerasa penting sama sekali untuk membahas masalah itu, dia aja nggak mikirin perasaan Wafa jadi kenapa Wafa harus pusing sendiri mikirin sikapnya kaya gini?" Bukannya itu nggak penting? Gue akan menganggap penting seseorang yang menganggap penting gue dan gue akan berusaha bertahan kalau memang seseorang itu mau bertahan untuk gue, posisi gue sekarang bukan dalam keadaan gue dipaksa untuk bertahan dan berjuang seorang diri, kalau gue udah jatuh cinta sama tu orang dan dia bersikap kaya gini baru gue peduli tapi sekarangkan belum? Gue belum merasakan apapun.
"Karena sebelum menikahlah Mas mau kamu bersikap lebih tegas, Mas mau dia tahu kalau kamu bukan perempuan yang bisa dia tindas, dia harus ingat kalau kamu punya keluarga, ada keluarga yang akan sangat terluka kalau kamu nggak bahagia nanti pada saat sudah bersama, lagian dari sebelum menikahlah kita bisa menilai, sikap dia hari ini beneran membuat Mas merasa kecewa, Mas sama Daffa aja bisa kecewa? Apa kata sama Ayah Bunda? Mereka akan jauh lebih kecewa lagi, mereka menjodohkan kamu sama Reza karena mereka pikir Reza adalah yang terbaik, kalau sampai Ayah sama Bunda tahu masalah ini, apa mereka nggak akan berubah pikiran?" Tanya Mas Azzam yang membuat gue langsung mengingat Ayah sama Bunda, Ayah sama Bunda pasti juga akan sangat kecewa dengan masalah ini, Ayah sama Bunda akan sangat kesal, mereka bahkan mungkin marah kalau tahu sikap calon menantu pilihan mereka malah nggak karuan kaya gini.
"Mas! Apa nggak bisa kita nggak usah ngasih tahu Ayah sama Bunda masalah hari ini? Ayah sama Bunda nggak harus tahu apapun karena Wafa nggak mau Ayah sama Bunda makin kecewa, mereka pasti bakalan merasa bersalah kalau tahu sikap Reza kaya gini?" Ucap gue ke Mas Azzam, gue pikir ini adalah cara terbaik supaya gue bisa menenangkan keadaan, kalau sampai Ayah sama Bunda tahu, keadaannya bukan tenang tapi malah makin nggak karuan, Ayah sama Bunda bakalan ngelakuin apa aja gue nggak bisa nebak, gue beneran mau tenang.
"Kak! Kakak apa-apaan coba? Kenapa Ayah sama Bunda nggak harus tahu? Karena mereka orang tua kita, mereka harus tahu Kak, mereka juga berhak memberikan penilaian, Kakak memang nggak mau ada ribut-ribut tapi masalah kalau nggak dibicarain dan cuma dipendam, kapan selesainya? Dibiarin gitu aja masalahnya nggak akan selesai sendiri, sekarang Daffa tanya, memang Kakak mau nikah sama laki-laki yang udah jelas masih punya pacar kaya gitu? Kelakuannya modelan begitu?" Dan gue menggeleng pelan untuk pertantaan Daffa barusan, ya jelas gue nggak akan mau, siapa juga yang mau menikah dengan laki-laki yang nggak karuan begitu, belum apa-apa aja gue udah diperlakukan kaya gini.
"Nah kalau nggak mau kenapa nggak ngomong sama Ayah kelakuan calon menantu pilihannya kaya gini? Kakak nggak mau Ayah menyesal seumur hidup karena salah memilihkan pasangan untuk putrinyakan?" Tanya Daffa lagi, ni anak kalau ngomong kadang suka bener.
"Mas! Gimana?" Tanya gue beralih ke Mas Azzam.
"Mas rasa apa yang Daffa omongin ada benernya, Ayah sama Bunda tahu adalah pilihan yang jauh lebih baik." Mungkin ini memang yang terbaik.