Setelah mutusin untuk nemenin Daffa nyari barang keperluannya, gue awalnya memang sempat pulang dulu ke rumah, iya kali gue nunggu dari mulai pagi sampai siang Daffa pulang sekolah, nggak mungkin dong, makanya setelah Mas Azzam pamit berangkat ke kantor, gue balik pulang ke rumah juga, cuma katanya nanti berangkatnya satu mobil aja yang artinya juga gue bakalan di jemput lebih dulu sebelum nanti Mas Azzam juga jemput Daffa di sekolahnya, kita nanti belanja nah setelahnya gue sama Daffa bakalan di anter pulang lagi, muter-muter memang tapi bukan gue yang minta juga, Mas Azzam yang mau repot sendiri, gue mah ngiain aja toh berangkat misah-misah juga nggak enak.
"Kamu nungguin siapa Kak? Mau kemana lagi?" Tanya Bunda ke gue yang memang udah siap dari tadi, gue udah siap dan nunggu tapi yang katanya mau jemput, hilalnya nggak keliatan sama sekali, nggak ada kabar juga setelah ngomong selesai shalat zduhur bakalan langsung dijemput, gue mau nanya apalagi kalau memang Mas Azzam udah ngomong begitu? Ya tinggal tunggu aja.
"Kan Wafa udah izin sama Bunda semalam, hari ini Wafa mau nemenin Daffa nyari keperluannya, entah apa yang banyak banget tapi pokoknya Daffa minta di temenin." Jawab gue mengingatkan jawaban gue semalam, kan gue udah ngomong kalau gue sama Daffa mau belanja, Ayah sama Bunda udah ngizininkan? Terus kenapa ditanya lagi?
"Lah kalau memang mau keluar sama Adik kamu, kenapa kamu malah masih disini? Adik kamu disekolah Kak, harusnya kamu jemput kesana bukannya malah nunggu di rumah kaya gini? Lupa apa gimana?" Tanya Bunda gue, gue menggeleng-gelengkan kepala gue sekarang, perasaan yang lupa barusan siapa? Gue atau Bunda?
"Wafa nggak lupa Nda, cuma kita itu berangkatnya sama Mas Azzam nah Mas Azzam janjinya mau jemput biar bisa berangkat bareng, nggak misah-misah, ini makanya Wafa masih nunggu, tar jemput Daffa juga disekolahnya." Jelas gue sekali lagi, nyari kerjaan memang tapi Mas Azzam sendiri yang keliatan udah kurang kerjaan makanya gue iyain aja, nggak ada ruginya juga untuk gue cuma sekarang, setelah denger jawaban gue barusan kenapa tatapan Bunda gue malah berubah? Bunda kenapa lagi? Bunda mikirin apa sebenernya sampai bengong kaya gitu?
"Kak! Kamu udah ngasih tahukan sama Azzam kalau kamu udah Ayah jodohkan? Azzam udah tahu kalau kamu akan menikah dengan laki-laki lain suatu saat inikan?" Tanya Bunda gue tiba-tiba, gue mengangguk cepat untuk pertanyaan Bunda gue barusan, ya memang Mas Azzam udah tahu, udah lama tahunya malah, kan gue selain curhat sama Daffa, curhat juga sama Mas Azzam jadi nggak mungkin Mas Azzam nggak tahu, setidaknya ini yang gue pikirkan, ini yang gue yakini juga.
"Wafa udah ngomong sama Mas Azzam masalah perjodohan Wafa lama Nda, kalau Daffa aja udah tahu, bakalan aneh kalau Mas Azzam sampai nggak tahuz Bunda kan tahu gimana hebohnya Daffa kalau udah ngebahas masalah perjodohan Wafa, memangnya kenapa Nda, ada masalahkah?" Bunda pasti mikirin sesuatu makanya sampai nanya kaya gini sama gue, kalau nggak mikirin sesuatu nggak mungkin tiba-tiba Bunda nanya Mas Azzam tahu atau enggak masalah perjodohan gue?
"Nggak papa, Bunda cuma nanya aja, syukur kalau memang Azzam udah tahu, suatu saat kamu bakalan jadi istri orang Kak jadi lebih cepat Azzam tahu itu lebih baik." Lanjut Bunda menanggapi ucapan gue barusan, hah? Ini gimana coba maksudnya? Memang kalau Mas Azzam tahu lebih awal tentang perjodohan gue, apa yang harus disyukuri? Bunda aneh banget, Bunda pasti mikirin sesuatu, nggak mungkin cuma sekedar nanya kaya gitu, makin aneh tahu nggak.
"Nda! Suatu saat Wafa memang bakalan nikah dan jadi istri laki-laki lain, walaupun nggak dengan jalur perjodohan kaya gini, cepat atau lambat Wafa bakalan nikahkan? Dan nikahnya itu udah pasti sama laki-laki lain, nggak mungkin sama Daffakan? Adik sendiri begitu ataupun sama Mas Azzam yang udah gue anggap layaknya Mas kandung gue sendiri jadi yang Bunda syukuri itu kenapa? Kenapa Nda?" Tanya gue lebih jelas karena gue sangat yakin kalau memang ada sesuatu yang dipikirkan Bunda sekarang makanya Bunda sampai ngomong kaya gitu, karena nggak biasanya Bunda nanya masalah kaya gini.
"Ya memang nggak ada apapun Kak! Bunda cuma mau mastiin aja kalau memang Azzam udah tahu jadi kedepannya nggak akan ada salah paham dalam bentuk apapun lagi." Jawab Bunda malah mulai terbata-bata sekarang, gue semakin menyipitkan mata, Bunda ini kenapa? Membingungkan banget.
"Salah paham? Salah paham apa sih Nda? Bunda jujur deh sama Wafa, Bunda nggak mungkin cuma sembarangan tanya kalau nggak mikirin apapun, Bunda mikirin apa sebenernya? Cerita sama Wafa." Desak gue ke Bunda, ya gimana enggak, gue tetap ngerasa kalau Bunda itu mikirin sesuatu dan sesuatu itu pasti udah sangat mengganggu makanya Bunda sampai nanya terbata sama gue kaya gini, biasanya Bunda kalau mau nanya ya ngomong kaya biasa, nanya aja, nggak harus keliatan seakan berpikir keras kaya sekarang.
"Bunda cuma khawatir kalau Azzam akan salah paham seandainya dia tahu telat, Bunda nggak mau perasaan Azzam semakin dalam, harapannya semakin tinggi, Bunda nggak mau Azzam semakin kecewa Kak, kamu memang nggak mungkin menikah dengan Adik kandung kamu Daffa tapi kamu jangan lupa kalau kamu berkemungkinan menikah dengan Azzam karena dia bukan saudara kandung kamu." Jawab Bunda gue dengan sangat tidak yakin, mendengarkan jawaban Bunda barusan, gue sendiri ikut tercengang, gimana bisa Bunda gue punya pemikiran kaya gitu? Gue sama Mas Azzam menikah? Itu beneran berita lucu, kekhawatiran Bunda berlebihan sekali menurut gue.
"Jadi ini yang Bunda pikirin dari tadi sampai Bunda nanya kaya gini sama Wafa? Bunda, kalaupun Mas Azzam bukan saudara kandung Wafa, tapi Wafa sama sekali nggak mungkin menikah sama Mas Azzam, denger dan ngebayanginnya aja udah lucu jadi gimana bisa itu jadi kenyataan? Waffa nggak akan menikahi Masnya Waffa sendiri, Bunda harus khawatir kenapa?" Tanya gue masih nggak habis pikir dengan pemikiran Bunda gue sekarang, ini beneran udah nggak lucu, Mas Azzam sama gue itu beneran nggak mungkin.
"Di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin, kamu nggak akan tahu masa depan Kak, Bunda kaya gini karena ingin mengingatkan kamu, bagaimanapun Azzam itu laki-laki." Ya memang dari dulu Mas Azzam laki-lakikan? Nggak mungkin dulunya perempuan, Bunda juga bener kalau dalam dunia ini nggak ada yang nggak mungkin tapi gue sama Mas Azzam sama sekali nggak ada dalam bayangan gue, gue nggak akan ngelakuin itu.
"Bunda! Gini deh, kalaupun ya, misalnya gitu, kalau suatu saat mungkin Mas Azzam ngajakin Wafa nikah dan saat itu Wafa juga belum Ayah jodohkan dengan siapapun, Wafa tetap nggak akan nerima Mas Azzam, kenapa? Karena bagi Wafa, Mas Azzam itu keluarga dan selamanya akan seperti itu." Ini yang gue pikirkan jadi membayangkan kalau suatu saat gue akan menikahi laki-laki yang udah gue anggap selayaknya Mas kandung gue sendiri itu terdengar sangat konyol.
"Apa jawaban Wafa sekarang bisa menenangkan kekhawatiran Bunda?" Lanjut gue bertanya yang diangguki Bunda gue perlahan.