(4) Rasa berdasarkan waktu.

1130 Words
Hah? Perempuan yang aku cinta? Gue yang masih berdiri di tempat udah menganga mendengarkan ucapan Mas Azzam barusan, maksud ucapan Mas Azzam barusan itu apa? Mas Azzam mau menjadikan gue tameng untuk menolak perasaan perempuan yang ada di hadapan kita berdua sekarang atau gimana? Ngeri mendadak kaya gini gue liatnya. "Mas! Mas ngomong apaan?" Cicit gue nyikut lengan Mas Azzam sekarang, kacau parah kelakuan Mas Azzam sekarang, jangan tanyain muka perempuan yang denger Mas Azzam memperkenalkan gue sebagai perempuan yang dia cintai sekarang, udah keliatan seolah ada tabung gas ditimpukin ke kepalanya, muka kagetnya itu udah keliatan jelas. "Ini bantuan yang Mas maksud, kamu diam aja, bantuin Mas ngebujuk Rani supaya mau percaya kalau Mas nggak akan pernah punya perasaan apapun sama dia, tolongin pokoknya." Mas Azzam narik lengan gue dan ngomong kaya gini, Mas Azzam ngomong kecil banget jadi gue yakin perempuan yang baru gue tahu bernama Rani tersebut nggak akan dengar apapun. "Mas keterlaluan tahu nggak, kasian begitu mukanya." Tapi mukanya Rani sekarang memang beneran kasian, gue jadi nggak tega sekaligus ngerasa bersalah sendiri, mukanya keliatan beneran sedih, perasaannya juga pasti hancur banget sekarang, denger laki-laki yang dia cintai malah memperkenalkan perempuan yang dia cintai juga pasti bakalan bikin khawatir, siapa yang nggak bakalan sakit kalau kaya gini? "Terus kamu nggak kasian sama Mas kalau di ikutin terus sama perempuan kaya gini? Dia bakalan jauh lebih sakit kalau terus menggantungkan harapan sama Mas, lebih baik dia tahu sekarang dengan tegas dari pada Mas tunda dan harapannya malah semakin menjadi-jadi, lebih kasiankan?" Tanya Mas Azzam balik ke gue. Kalau gue pikir-pikir ya kasian juga kalau Rani terus berharap sama Mas Azzam tapi Mas Azzam keliatan beneran nggak suka sama nggak nyaman kaya gini, Rania seakan menanti dan menunggu harapan palsu, Rani bakalan lelah dan Mas Azzam juga bakalan sama lelahkan, cinta sepihak itu nggak akan nyaman untuk kedua belah pihak, bukan cuma untuk yang jatuh cinta aja. "Ya terus ini mau gimana? Mukanya udah kaya mau nahan tangis kaya gitu." Ucap gue beneran nggak tega, mukanya Rani udah merah, matanya juga semakin berkaca-kaca, keliatan jelas kalau Rani sedang mencoba menahan isak tangisnya di depan gue sama Mas Azzam sekarang, gue makin kasian jadinya, ya ampun hati anak perempuan orang udah sehancur apa sekarang? Berkeping-keping dan nggak berbentuk lagi kayanya. "Kamu cukup ngiain apapun omongan Mas sekarang kalau kamu memang mau mau ngebantuin Mas, makin cepat, makin bagus." Udahlah, gue nggak punya komenan apapun lagi sekarang, Mas Azzam beneran bikin gue kaget, baru tahu gue kalau Mas Azzam juga punya sisi kaya gini, sisi yang siap menolak anak perempuan orang lain dengan begitu teganya, dengan begitu tegasnya dan dengan begitu jelasnya, gue beneran nggak pernah ngebayangin hal ini. "Ini beneran perempuan yang kamu cintai? Apa ini beneran pacar kamu?" Tanya Rani dengan nada bicara yang mulai sedikit terbata, hah? Pacar? Lah ini apaan lagi? Tadi cuma ngakuin gue sebagai perempuan yang Mas Azzam cintai tapi kenapa malah sampai kudu dianggap pacarnya Mas Azzam juga? Bukannya ini jauh lebih keterlaluan bohongnya? Gue yang nggak nyaman sekarang, gue yang semakin ngerasa bersalah karena udah bohong sama Rani kaya gini. "Ini memang pacar aku, itu kenyataannya." Jawab Mas Azzam dengan sangat tegas, gue udah geleng-geleng kepala sekarang, kacau banget udah, bohongnya malah semakin menjadi-jadi, nggak cuma Rani yang kaget, gue juga sama kagetnya sekarang, sejak kapan gue jadi pacar orang? "Kenapa kamu tega sama aku, Zam? Aku padahal udah suka sama kamu dari dulu, aku cinta sama kamu tapi kenapa kamu malah memilih perempuan lain? kenapa?" Tanya Rani dengan bulir air mata yang sukses mengakir dipipinya sekarang, gue udah hampir aja ngomong kalau ini semua bohong sangking nggak teganya, cuma Mas Azzam kembali menatap gue tajam. "Aku udah ngasih kamu jawaban lamakan kalau aku nggak akan bisa nerima perasaan kamu? Aku nggak akan jatuh cinta sama kamu karena aku punya perempuan yang aku cintai tapi kamu sendiri yang nggak mau denger dan percaya? Kamu masih mau nyalahin aku juga sekarang?" Jawab Mas Azzam yang membuat gue ikutan kaget lagi, jadi Mas Azzam udah memberikan jawaban lama cuma Rani yang nggak mau percaya, itu artinya Rani yang menolak untuk meninggalkan Mas Azzam gitu aja walaupun udah di jawab perasaannya, Rani juga salah. "Jadi ini alasan Mas sampai harus bohong? Nggak bisa dikasih tahu ya perempuannya?" Cicit gue lagi, kalau udah dikasih tahu baik-baik tapi Rani nggak mau ngerti dan nggak mau percaya nah itu udah beda lagi ceritanya, ini udah bukan salah Mas Azzam lagi, Mas Azzam juga pasti nggak nyaman kalau terus didekati oleh perempuan yang nggak dia suka, cara halus nggak berhasil makanya Mas Azzam pakai cara kaya gini. "Sekarang kamu udah tahukan? Makanya bantuin Mas kamu sampai selesai." Gue menghela nafas dalam dan memaksakan senyuman gue menatap Mas Azzam sekarang, oke, gue bantuin. "Aku yang udah kenal kamu lama, aku yang suka sama kamu lebih dulu, harusnya kamu milih aku bukannya dia." Dan dengan beraninya Rani menunjuk ke arah gue dengan tangannya sekarang, separah itu memang kelakuannya. "Kalau rasa suka sama cinta bisa diukur dari lamanya perkenalan, itu artinya aku akan mencintai Wafa lebih banyak dari pada kamu, kenapa? Aku dan tumbuh dan beranjak dewasa bereng Wafa, bukan dengan kamu." Lanjut Mas Azzam yang membuat Rani semakin tercengang, tapi yang Mas Azzam omongin juga nggak salah, bener semua. "Hallo Mbak Rani, kenalin aku Wafa." Ucap gue mengulurkan tangan gue lebih dulu, karena Rani sebaya sama Mas Azzam jadi gue panggil Mbak aja ya, terus itu bukannya menyambut uluran tangan gue tapi Mbak Rani malah nepis tangan gue kasar, marah banget kayanya sekarang. "Kamu akan menyesal karena bersikap kaya gini sama aku, Zam." Mbak Rani pergi gitu aja setelah ngomong kaya gini, yang barusan ancamankan ya? Bisa banget ngomongnya seberani itu. "Wah! Kalau modelan begitu sifat dan kelakuan perempuan yang suka sama Mas, kacau banget perempuannya, Wafa aja nolak punya Kakak Ipar modelan begitu nah Daffa apalagi, bakalan protes besar-besaran kalau tahu perempuan modelan begitu yang jadi Kakak Iparnya." Ucap gue mendudukkan tubuh gue di kursi sekarang, gue bahkan menghembuskan nafas panjang sangking nggak nyangkanya. "Makanya Mas mau lepas dari Rani secepat mungkin, kesabaran Mas udah habis soalnya, untung kamu dateng tapi bentar, bukannya kamu punya kelas pagi ini? Jangan bilang kamu bolos cuma karena Mas minta tolong?" Tanya Mas Azzam langsung pasang muka kagetnya di depan gue sekarang, lah ini lagi, tingkat kepedeannya begitu tinggi, sulit untuk dijatuhkan. "Mas ngomong apaan? Kebetulan dosennya nggak dateng jadi kelas kosong makanya Wafa bisa nemuin Mas disini." Jawab gue nggak habis pikir, gue minta Mas Azzam mesenin gue minuman seperti biasa, capek sama haus juga, udah ditolongin masa nggak ada upahnya, bayarin minum kek. "Oh, keberuntungan Mas berarti, terus nanti gimana? Jadi nemenin Daffa?" Gue mengangguk cepat. "Ya jadi, kalau nggak jadi, bisa makin horor kelakuan Daffa nanti." Gue ngebayanginnya aja udah sakit kepala.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD