**Bab 048: Dilema Hans** "Maafkan aku…" ucapnya lirih. "Aku… tidak bisa menghentikannya. Pendarahannya tidak berhenti." Kata-kata itu jatuh seperti hukuman mati. "Hans…!" Halvir memanggilnya dengan senyum dipaksakan. Matanya berkaca-kaca. "Ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda. Hentikan itu!" "Aku tahu kemampuanmu. Keluargamu mungkin tidak mengakuimu—tapi aku mengakui dirimu!" "Jangan kecewakan aku. Kau pasti bisa…" Halvir terus mendesaknya. "Halvir, dengarkan aku!" Hans mengguncang bahu Halvir berkali-kali. "Yang paling kritis sekarang adalah pendarahannya—" Hans menekan intonasinya, "—pendarahan di dalam organ kewanitaannya." "Kalau begitu, tutup! Hentikan pendarahannya!" Halvir berteriak putus asa. "Kau menghentikan pendarahan saat aku terluka parah! Darahku waktu itu j

