**Bab 016: Kampung Halaman Halvir**
Tidak jauh di depan, perbukitan raksasa menjulang gagah—berderet seperti benteng alami yang sengaja dibangun alam untuk melindungi sesuatu di belakangnya. Tebing-tebing batu itu berdiri kokoh, keras, dan sunyi, seolah menantang siapa pun yang berniat mendekat tanpa izin.
Di puncak-puncaknya, beberapa pria muda terlihat bersiaga. Tubuh mereka tegap, sorot mata tajam, menyapu hutan dan jalur masuk tanpa lengah sedikit pun. Mereka berdiri seperti bagian dari batu itu sendiri—diam, waspada, dan siap menerkam jika perlu.
''Mereka adalah para penjaga desa,'' ujar Halvir sambil menunjuk ke arah beberapa sosok di atas tebing. Nadanya tenang, nyaris datar. ''Di belakang mereka, ada desa tempatku tinggal.''
Anindira menegakkan tubuhnya di punggung Halvir. Matanya membulat, berkilat penuh antusias.
''Desa?!'' pekiknya spontan. ''Ada banyak orang?''
''Eum,'' jawab Halvir singkat sambil mengangguk.
Reaksi Anindira langsung berubah. Tubuhnya sedikit meronta, tangannya menepuk-nepuk bahu Halvir.
''Kak, turunkan aku!'' pintanya. ''Aku akan jalan sendiri…''
''TIDAK!''
Jawaban Halvir tegas, nyaris memotong udara.
''Kak…'' rengek Anindira, nada suaranya turun, mencoba melunakkan sikap Halvir.
''Kau melakukan perjalanan jauh. Kau lelah, Anindira!'' seru Halvir, tak bergeser sedikit pun dari pendiriannya. ''Akan kubawa kau memeriksakan diri dulu kepada Hans.''
Anindira mengembungkan pipinya. Dahinya berkerut, bibirnya mengatup rapat. Ia tahu percuma membantah. Pada akhirnya, ia hanya bisa menghela nafas kesal dan menyerah.
Ekspresi bersungut itu justru terlihat menggemaskan di mata Halvir.
Ia merasa senang—benar-benar senang—melihat wanita yang ia bawa pulang tetap sehat dan ceria, meski tubuh kecil itu telah melewati perjalanan berbulan-bulan di hutan yang kejam.
Tak lama kemudian, mereka tiba di gerbang desa.
Suasana langsung berubah. Para penjaga menyapa Halvir dengan sikap ramah namun penuh hormat. Beberapa menundukkan kepala, yang lain menepuk d**a mereka sebagai salam. Setelah itu, pandangan mereka bergeser—sekilas ke arah Anindira—lalu saling melirik di antara mereka sendiri.
Rasa penasaran jelas tergambar. Namun tidak satu pun mendekat. Tidak ada yang berani bertanya.
Halvir membawa wanita bersamanya bukanlah hal baru di desa ini. Namun sikap Anindira berbeda. Terlalu santai. Terlalu ceria. Senyumnya ringan, matanya menyapu sekitar dengan rasa ingin tahu yang jujur—seolah ia tidak berada di tengah dunia yang keras dan berbahaya.
''Anindira, berhenti tersenyum pada mereka!''
''Ha?!'' Anindira tersentak, bingung. ''Aku hanya membalas sapaan mereka…''
''Mereka menyapaku, bukan dirimu!''
''Kalau begitu, aku yang menyapa mereka…''
''Hentikan! Kau akan membuat mereka salah paham!''
''Hanya menyapa, apa yang bisa membuat salah paham?!''
Anindira terus menyahut, tak menyadari nada Halvir yang semakin keras—bukan marah, tapi menahan sesuatu yang lain. Kecemburuan yang disamarkan sebagai peringatan. Kekhawatiran yang dibungkus ketegasan.
Dan kekhawatiran itu bukannya tanpa alasan.
Di dunia ini, kesalahpahaman kecil bisa berubah menjadi masalah besar. Terlebih jika seorang wanita menunjukkan sikap terbuka di hadapan para pria desa.
Meski demikian, satu hal tak terbantahkan.
Siapa pun yang salah paham—atau bahkan berniat lancang—tak akan berani melangkah jauh.
Bukan ketika wali utama wanita itu adalah Halvir.
Seorang Safir.
Pepohonan raksasa menjulang rapat, batang-batangnya setebal menara batu, daunnya saling bertaut membentuk atap hijau gelap yang menahan cahaya. Udara terasa lebih lembap dan sunyi, hanya suara gesekan dedaunan tinggi dan langkah Halvir yang mantap di atas akar-akar besar.
Anindira menggeser pandangannya ke kiri dan kanan, lalu ke belakang. Tidak ada pagar. Tidak ada rumah. Tidak ada jalan seperti yang ia bayangkan.
''Apakah masih jauh?''
''Apanya?''
''Desanya...''
Halvir melangkah tanpa ragu, seolah hutan ini adalah halaman rumahnya sendiri.
''Kita sudah memasukinya sejak tadi.''
Anindira berhenti sejenak di punggung Halvir. Alisnya terangkat tinggi.
''Hah! Lalu dimana orang-orangnya?''
''Sebagian di rumah, sebagian pergi keluar melakukan tugasnya masing-masing.''
Anindira semakin kebingungan. Matanya menyapu tanah, semak, sela-sela pepohonan.
''Sejak tadi aku belum melihat adanya rumah...''
''Kita juga sudah melewati beberapa tadi...''
Langkah Halvir tetap stabil. Tidak ada nada bercanda di suaranya.
''Hah, dimana?!'' sahut Anindira sambil tengak-tengok ke sana ke mari. ''Aku tidak melihatnya...''
Halvir berhenti. Ia menoleh sedikit, memperhatikan arah pandang Anindira yang terus bergerak di permukaan tanah.
''Kau melihat kemana?'' tanyanya heran. Lalu dagunya terangkat. ''Di atas!''
''Ha?!''
Anindira langsung mendongak. Lehernya menegang, matanya menyipit, berusaha menembus rapatnya dedaunan. Ia memicingkan mata, menyesuaikan fokus, jantungnya berdetak lebih cepat karena ekspektasi.
Tidak ada apa-apa. Hanya dahan, daun, dan cahaya yang terpecah.
''Akan sulit bagimu untuk melihatnya,'' ujar Halvir tenang. ''Kami mendirikan rumah jauh di ketinggian.''
Anindira masih mendongak, napasnya sedikit tertahan.
''Bagaimana pun aku melihat tidak kulihat ada bangunan, di pohon. Sebetulnya di ketinggian berapa meter kalian mendirikan rumah?!''
''Tiga puluh meter paling rendah.''
Anindira hampir tersedak ludahnya sendiri.
''Tiga puluh?! Seharusnya aku sudah bisa melihatnya...''
Halvir mendengus pelan, ada bayangan geli di sudut matanya.
''Bukan berati di setiap pohon yang kau lihat ada rumah di situ, Anindira. Pikirkan juga privasi kami!''
Anindira menoleh cepat. Kata terakhir itu jelas asing baginya. Ekspresinya membeku di antara bertanya, penasaran, dan sedikit tersinggung—seolah Halvir sengaja menggodanya.
Halvir tersengeh melihat wajah itu.
Langkah mereka berhenti di depan sebuah pohon raksasa. Batangnya begitu besar hingga Anindira merasa seperti berdiri di hadapan tiang dunia. Kulit kayunya kasar, berlapis, dengan akar-akar yang menonjol seperti tangga alami.
''Kita sampai di salah satu rumah,'' ujar Halvir.
Anindira langsung mendongak lagi. Kali ini lebih serius. Matanya menelusuri batang pohon, mengikuti garis-garis alami kayu ke atas, ke tempat di mana dedaunan tampak lebih jarang.
''HANS!'' panggil Halvir sambil mendongak. ''Bisa aku naik?''
Suaranya tidak keras. Tidak berteriak. Hanya suara biasa—namun jelas dan mantap.
Anindira menoleh padanya, wajahnya penuh tanda tanya.
''Kak, apa bisa terdengar?''
Jarak itu terasa mustahil baginya. Sekitar lima puluh meter ke atas, tersembunyi di antara dedaunan.
''Eum,'' jawab Halvir sambil mengangguk santai. ''Pendengaran kami tajam, tapi dia...''
Halvir melirik ke atas, matanya sedikit menyipit, ''Pendengarannya jauh di atas rata-rata.''
Belum sempat Anindira bertanya lagi, Halvir sudah bergerak.
''Kita naik, dia sudah menjawab...''
Anindira membelalakkan mata. Ia sama sekali tidak mendengar apa pun.
Gerakan Halvir cepat dan efisien. Tangannya meraih pijakan tersembunyi, tubuhnya memanjat dengan keluwesan yang nyaris tidak masuk akal. Anindira refleks mencengkeram bahunya, napasnya tertahan saat ketinggian mulai terasa nyata.
Beberapa saat kemudian, mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu.
''Hans aku masuk...''
Halvir kembali meminta izin, suaranya kini lebih dekat, lebih jelas.
Anindira terpaku.
Di hadapannya berdiri sebuah rumah kokoh dari papan kayu tebal, menyatu dengan cabang-cabang besar pohon. Tidak ada paku mencolok. Tidak ada tali kasar. Semua tampak menyatu, seolah rumah itu tumbuh bersama pohon sejak awal.
Dadanya terasa hangat dan berdebar.
Ia tahu, di dunia asalnya, ada suku yang membangun rumah di ketinggian puluhan meter. Ia pernah melihatnya—di layar televisi, lewat dokumenter.
Tapi ini berbeda.
Kini ia berdiri di sana.
Di ketinggian lebih dari lima puluh meter.
Dan ia akan memasukinya.