Chapter 3 Telephone
Julia sedang berbaring di tempat tidur sambil membaca novel yang sudah dibeli tiga bulan yang lalu tapi belum sempat dibaca.
Tapi dia merasa alur cerita novelnya kurang menarik, hanya bercerita mengenai hubungan terlarang antara ceo beristri yang sudah lumayan berumur dengan sekretaris baru yang masih muda, Julia merasa menggantuk setelah membaca dua bab saja.
Biasa ia paling suka membaca novel, ia termasuk pencinta novel kelas berat, koleksi novel nya saja sudah satu lemari.
Uang saku nya kebanyakan dihabiskan untuk membeli novel kesukaannya. Selain membeli novel ia juga memgoleksi serial kdrama yang lagi booming.
Waktu luang Julia kalau di rumah tidak ada acara yah membaca novel atau maraton menonton serial kdrama.
Setelah luluran, creambath dan makan kwetiaw goreng seafood lalu baca novel yang membosankan, mata Julia sudah terasa berat, suasana kamar yang sejuk karena ac dan sambil mendengarkan alunan musik yang romantis dari radio.
Tidak tahu mengapa hari ini dengan cuaca mendung, suasana hati yang sedang moody dan lagu lagu yang diputar di radio saat ini lagu bergenre romantis.
Semua seolah olah mendukung perasaan Julia sehingga dia merasa relax dan membuat dia merasa mengantuk.
Baru saja Julia merasa mulai memasuki dunia mimpi tiba tiba dering hp nya terdengar nyaring di dekat tempat tidurnya.
Mengira itu hanya dalam mimpi tapi deringan terdengar semakin jelas dan nyata.
Julia mencari cari hpnya di samping tempat tidur dengan mata yang masih tertutup.
"Hallo" jawab Julia malas malasan.
"Hallo, apakah ini nomer hp Julia?" tanya penelephone.
Suara bass yang terdengar terasa asing di telinga Julia.
"Yah, siapa ini?" Julia balik bertanya, dia merasa tidak mengenali suara pria dan ia juga masih belum benar benar terbangun.
"Ini Elias, saya mendapat nomer ini dari mama kamu, apakah saya mengganggu menelphone saat ini?" tanya pria tersebut.
Setelah mendengar penjelasan pria tersebut Julia langsung membuka matanya dan buru buru berbangun dalam posisi duduk.
Julia memikirkan apa yang akan di katakannya, pria tersebut tiba tiba memanggil namanya
"Julia, hallo.. hallo Julia?"
Mungkin pria tersebut mengira terjadi masalah dengan koneksi sambungan hp nya karena Julia terdiam tidak menjawab pertanyaannya beberapa saat.
"Hallo, maaf koneksi di rumah memang suka bermasalah, saya sedang bersantai di rumah" Julia beralasan.
"Saya minta maaf karena menelphone tiba tiba, ini semua karena mama saya meminta saya menelephone Julia secepatnya. Saya sebenarnya ingin langsung bertemu karena mama saya sudah memberikan gambaran dan pujian mengenai kamu. Saya merasa tertarik ingin mengenal Julia lebih dekat kalau Julia bersedia" kata pria tersebut
"Oh mama sudah memberitahukan kalau ada anak temannya yang mau berkenalan, tapi maaf apakah saya harus memanggil kak atau nama saja yah? karena kita belum kenal" tanya Julia
"Elias saja supaya lebih akrab, oh iya apakah saya boleh sering menghubungi Julia? karena saya ingin lebih cepat akrab dengan Julia dan saya merasa nyaman berbicara dengan Julia" jawab pria tersebut
Julia merasa kaget karena baru menelphone satu kali pria ini sudah merasa tertarik padanya padahal mereka belum pernah bertemu sama sekali.
Julia merasa sedikit tidak nyaman dalam situasi ini, dia merasa berbicara dengan seseorang tanpa wajah.
Menurutnya berbicara secara akrab perlu mengetahui bagaimana wajah dan fisik seseorang.
Walaupun Julia tidak membeda bedakan orang dalam mencari teman, tapi ia merasa perlu mengetahui wajah orang yang ingin berkenalan dengannya.
"Eh, tidak masalah jika Elias mau menghubungi saya, kapan saja jika saya sedang tidak sibuk"
"Apakah saya bisa menghubungi Julia jam 8 atau jam 9 malam? saya biasa sudah menyelesaikan pekerjaan dan bisa santai untuk berbicara dengan Julia"
"Jam 8 atau jam 9 tidak masalah tapi jangan sampai jam 10 ke atas karena saya sudah mengantuk, setiap hari saya harus bangun pagi pagi untuk membantu orang tua saya mengurus usaha mereka"
"Baik akan saya ingat"
"Julia tidak ada acara hari ini? sebenarnya saya ingin langsung menemui Julia di rumah, tapi saya tidak enak tiba tiba saja langsung mendatangi rumah Julia tanpa kenalan lebih dahulu"
"Mungkin setelah kita saling mengenal lebih jauh saya pasti ke rumah Julia untuk bertemu langsung"
"Ngobrol secara langsung membuat lebih akrab" kata Elias
Julia mendengarkan semua perkataan Elias tanpa terputus, diri nya tidak tau harus memberikan respon apa.
Ia tidak memiliki ide apapun dalam percakapan dengan Elias.
Ia tahu Elias berusaha mengakrabkan dirinya tapi Julia masih ragu ragu.
Tiba tiba Julia mendengar ada yang mengetok pintu pagar rumahnya sehingga ia memiliki alasan untuk mengakhiri pembicaraan mereka.
"Maaf Elias, saya harus memutuskan pembicaran kita karena saya harus menerima tamu" Julia merasa tidak sopan karena tiba tiba saja memutus percakapan.
" Oh baiklah, tidak masalah kok, kalau begitu besok saya akan hubungi Julia lagi, bye" kata Elias.
"Bye" jawab Julia.
Julia merasa lega atas selesainya percakapan mereka, ia tidak tahu apakah ia merasa seneng atau tidak atas percakapan mereka.
Ia merasakan kesulitan berkomunikasi dengan Elias, mungkin karena baru pertama kali berbicara satu sama lain.
Tapi ia tahu Elias terdengar seperti orang yang mudah bergaul dan mudah akrab dengan seseorang.
Julia tidak terlalu memperdulikan telephone yang barusan diterimanya.
Julia melihat ke pagar depan rumahnya karena suara seseorang memanggil manggil namanya.
Setelah membuka pintu pagar ternyata teman akrabnya Anna datang mengunjungi nya.
Anna teman akrabnya tinggal dalam satu komplek perumahan dengannya.
Usia Anna sebenarnya masih muda sekali, ia masih dua puluh dua tahun, beda usia dengan Julia lima tahun tapi mereka berdua bisa akrab dan cocok berteman seolah olah seumuran.
Karena berada dalam lingkungan yang dekat mereka sering mengunjungi satu sama lain dengan bebas tanpa ada batasan waktu.
Orang tua mereka juga saling mengenal sehingga mereka seperti kakak beradik saja dibandingkan berteman.
Mereka suka saling curhat, Anna yang paling sering curhat karena ia sudah memiliki kekasih.
Anna suka mengeluarkan uneg uneg atau sekedar menghabiskan waktu bersama Julia ketika kekasihnya sedang sibuk.
Julia senang dengan kedatangan Anna sehingga ia tidak kesepian dan bt sendirian di rumah.
Akhirnya ia menghabiskan waktu dengan bergosip ria dengan Anna untuk melupakan semua stress yang dihadapi nya sampai malam.