Lima: Asisten yang Terluka

1065 Words
Bnb bab 5 Wulan menatap Bhumi tanpa berkedip. "Maksudnya apa ya, pak? Kok laporan sama saya? Bapak mau ke Hongkong, kek. Ke monas, kek. Silahkan, saya bukan mamah pak Bhum." Bhumi mengedikkan bahunya. Ia kembali fokus menatap jalanan di sebelah kanannya. Ponsel butut gadis itu kemudian berbunyi. Dengan cepat Wulan mengangkatnya, setelah tahu siapa yang menelepon. "Assalamualaikum, ibu." "Kamu udah balik, nduk?" "Belum, masih di jalan. Ulan di traktir bos makan tadi." Logat Jawa yang kental walaupun ia menggunakan bahasa Indonosia membuat Bhumi melirik Wulan, hanya sebentar sebelum mengalihkan lagi pandangannya ke jalan. "Kamu hati-hati kalau dikasih orang makan, nanti dikasih obat bius, terus kamu diperkosa. Jangan macem-macem toh, Lan." Wulan tertawa. Sesekali matanya melirik Bhumi. Bukankah malam ini dia akan memperkosa anak orang? Mata Wulan langsung terbelalak. Secara refleks ia mendorong tubuhnya sampai kepalanya membentur kaca mobil. "Aduh, wedhus." Gerutunya seraya menggosok bagian belakang kepalanya kuat-kuat. Bhumi menoleh heran padanya, membuat Wulan semakin merapatkan badannya ke pintu mobil. Sial, baru sadar di dalam mobil beneran ada penjahat kelamin. "Lan, ndak apa-apa, toh? Bunyi kepentok apa itu?" "Ndak, bu. Kejedot jendela." Wulan dengan jujur menjawab pertanyaan sang ibu. Dalam hati ia mulai terlihat panik saat ini. "Kamu tuh, ya. Ati-ati dikit, Lan. Anak perempuan kok koyok ngono, kemayu dikit. Tapi ojo terlalu lemes, nanti kamu dijahatin orang malah nggak bisa apa-apa." "Iya, ibu ndak usah khawatir. Ulan bisa kok, nggak usah cemas. Bapak sama Bintang gimana kabarnya?" "Kabar mereka baik. Kamu kalau libur pulang bentar yo, nduk. Arman sering kesini nanyain kamu." Wulan tersenyum mendengar ibunya menyebut nama Arman, pemuda desa, ketua Karang Taruna yang dijodohkan dengannya. "Mas Arman datang, bu? Dia nanyain Ulan?" "Yo jelas, tho. Tapi kamunya nggak ada." Wulan tertawa. "Bilangin sabar ya, bu. Nggak lama lagi kok." "Udah ibu bilangin. Katanya kalau kamu pulang, mau ngelamar." Wajah Wulan mendadak merona. "Bilang mas Arman sabar nunggu ya, bu. Ulan pasti pulang. Rindu masakan ibu." Suara tawa terdengar dari seberang. "Mau makan apa, nduk?" "Mau maem gedang godog, bu." "Ya, ampun. Kamu bisa masak sendiri. Tinggal godhog aja." Ibunya kembali tertawa. "Ya, lain kan dari tangan ibu." Wulan tersenyum. "Ya udah, nanti kamu balik, ibu masak gedhang. Wes, udah dulu, ya. Kamu baik-baik di Jakarta." "Iya, bu. InsyaAllah. Assalamualaikum." "Waalaikum salam." Setelah memutuskan sambungannya, suara Bhumi menyadarkan Wulan kalau ia masih berada di mobil pria itu. Tanpa sadar, Wulan makin memepetkan tubuhnya ke bagian pinggir mobil. "What's wrong with you?"  Kata pria itu. "Kata ibu tadi, hati-hati kalau ada yang ngasih makanan, bisa-bisa dimasukin obat, kalau Wulan teler, nanti diperkosa." Jawabnya tanpa dosa. Sebuah tawa menyembur dari depan. Baik Felix maupun sang sopir tertawa terbahak-bahak. Bhumi tampak tersinggung. "Terus kamu kira, saya mau memperkosa kamu, begitu?" Wulan bergidik, bahkan Bhumi bisa melihat dengan jelas sikapnya itu. Bhumi mendengus. "If there were any log and you, I'll choose the log, instead." Ngomong opo, toh? Sok keInggrisan bener nih orang satu. "Bulan, do you hear me?"  Suara Bhumi memanggil Wulan yang sedang melamun, membuat gadis itu kemudian tanpa sadar menjawabnya. "Opo meneh?" Bhumi terdiam karena Wulan menghardiknya dalam bahasa Jawa. Dia memang putra Jawa, bahkan namanya kental sekali dengan nama Jawa, Bhumi Prakasa, namun sama sekali asing dengan bahasa itu. Melihat si gadis kampung, dengan logat khasnya, tanpa peduli siapa dirinya saat ini, benar-benar mengejutkan pria itu. "I' ll fired you, if you still use your mother tongue for speaking." "Mbuh la, pak. Wulan nggak ngerti njenengan ngomong opo." Suara tawa Felix menggelegar dari depan, diikuti suara pak Manaf. "Bebih, cuma yey yang selalu bantah omongan bos. Yey sadar tinta, cyin?" Wulan mengangguk. "Jelas Wulan sadar, om Pel. Kalau nggak sadar, itu ada tiga kemungkinan, tidur, mabuk, atau pingsan." Mereka berdua tertawa lagi. Sementara Bhumi masih tidak percaya menatap Wulan yang cemberut padanya, satu-satunya mahluk yang sok jijik ketika melihat dirinya yang selalu digilai banyak wanita. "Pak Manaf, itu stop, stop didepan." Suara Wulan kemudian membuat ketiga lelaki itu memasang mode waspada. Ketika pak Manaf sang supir melirik tempat yang menjadi tujuan Wulan, ia menoleh heran, mereka berhenti di sebuah warung tenda penjual kopi yang cukup ramai. "Ini warung kopi, mbak Wulan. Bukan kosan." Wulan mengangguk. Ia segera menarik tas selempangnya. Sebelum membuka pintu ia membalas pertanyaan pak Manaf. "Kata ibu Wulan, misal diajak orang, suruh stop agak jauh dari rumah, jadi kalau dia dendam, mau ngebuntutin, nggak bakal tau rumah kita." Felix bertepuk tangan menyetujui. "Yey cerdas, bebih." Namun tidak bagi Bhumi. "Maksud kamu, saya bakal membuntuti kamu?" Wulan menggeleng. "Bapak terlalu percaya diri. Wulan biasa naek ojol, pak. Jaga diri itu perlu, orang kampung juga punya cara hidup buat berjuang di kota orang." Bhumi langsung diam, tepat setelah Wulan membuka pintu mobilnya. "Makasih buat traktiran dan nganternya pak Bhum. Hati-hati di jalan, ingat Tuhan." Pria itu mendengus segera setelah Wulan menutup pintu mobil. Gadis itu lalu melambai dengan riang pada Felix dan pak Manaf, sesuatu yang tidak ia lakukan pada Bhumi, yang notabene adalah atasannya. "Dadah om Pel, makasih ya pak Manaf." Keduanya membalas ucapan pamit gadis itu, bahkan Felix tidak ragu melemparkan kissbye pada Wulan yang segera ditepisnya dengan cuek. "Bukan muhrim om Pel." Wulan mulai ceramah. Felix tertawa, kemudian pak Manaf mulai menjalankan mobilnya kembali. Belum sepuluh meter mobil berjalan, mereka dikejutkan dengan bunyi benda bertubrukan, dan pak Manaf yang melihat dari spion mobil memperlambat laju mobilnya. Bhumi menoleh heran ke arah belakangnya, namun gagal karena beberapa orang mulai berkerumun. "Kenapa?" Tanyanya. Felix sempat menjulurkan kepalanya keluar jendela. "Motor nabrak kayaknya, yang nyetir kepelanting, bos." "Ya udah, cuma motor, kan? Kita langsung ke apartemen Nina ya, Fel. Nanti kamu sama pak Manaf naek taksi aja, aku mungkin nginep." Felix yang tahu arah dan maksud tujuan Bhumi malam ini ke apartemen Nina hanya mengangguk. Sementara pak Manaf yang masih melirik dari spion mobil menjawil Felix dengan ragu. "Tadi mbak Wulan pakai jilbab biru kan, mas Felix?" Felix mengangguk. "Iya, pak. Kenapa?" Tanya Felix bingung. Perlahan pak Manaf meminggirkan mobilnya, membuat Felix juga Bhumi memandanginya dalam heran. "Kayaknya yang lagi dibopong orang-orang di belakang itu mbak Wulan, deh." Felix menutup mulutnya, tanpa pikir panjang ia membuka pintu mobil dan berlari menuju kerumunan orang yang sibuk menonton kecelakaan barusan. Beberapa diantara mereka tanpa ragu merekam adegan tersebut dan mengunggahnya ke internet. Saat pria kemayu itu tiba, ia memegang dadanya yang tiba-tiba berdetak lebih kencang. "Bebih Bulaan..." Terbaring pasrah dalam pelukan seorang pria tidak dikenal, Wulan tampak tidak sadarkan diri dengan kepala berlumuran darah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD