Enam : Mahkota di Balik Jilbab

957 Words
Merasakan sesuatu yang panas disekitar kepalanya , Wulan membuka matanya lalu mengerenyit saat sadar bahwa ia mendapati beberapa orang hilir mudik di hadapannya.  Dimana ini? "Bebih..." Suara lirih yang terdengar olehnya membuat Wulan menoleh ke arah pembicaranya dan ia terperanjat mendapati Felix tergugu dihadapannya. "Eh, om Pel kenapa disini?" Felix menyusut air matanya. "Yey kecelakaan, bebih. Ditabrak motor. Tinta ingat?" Tanyanya.  Wulan menggeleng. Saat menyentuh kepalanya, ia terperanjat. "Astagfirullahalazhim. Jilbab Wulan kemana, om Pel? Pejem matanya, jangan lihat Wulan." Gadis itu terpekik, menarik seluruh selimut hingga menutupi kepalanya. Felix yang merasa bingung karena ulah Wulan,, menggigit bibirnya sendiri. "Jilbab yey darah semua. Tadi dilepasin sama perawat, sekalian jahit lukanya." Wulan berdecak. Felix tahu gadis itu frustasi. "Orang sana bilang, you nyelamatin ibu hamil lagi nyebrang. Eke terharu, nek." Kata Felix.  Namun tidak ada jawaban dari gadis itu. Ia masih tenggelam dalam selimut yang menutupi tubuhnya. "Maaf om Pel, boleh keluar sebentar? Minta tolong panggil suster? Wulan nggak enak dilihat begini sama om Pel." Felix mengerti. Ia mengangguk dan memutuskan untuk keluar. Namun sebelumnya ia menoleh lagi pada gadis itu. "Yey centes, bebih, kayak bule. Rembong yey pasti bikin iri bintang iklan sampo, bagus lebat dan item. Eke aja iri. Sayang kenapa ditutupin. Kalo tinta, yey sudah jadi model iklan." "Pliss om Pel, jangan dibahas aurat aku."  Nada suara Wulan terdengar sangat tidak nyaman, membuat Felix mendesah kebingungan. Toh, rambut yang tergerai kan tidak masalah. Lagipula, ia sangat terperanjat ketika tahu wajah Wulan tanpa jilbab sangat cantik, persis cerita tentang putri Jawa jaman dahulu kala. Ia ingat tentang Ken Dedes yang kecantikannya membuat Ken Arok rela membunuh Tunggul Ametung. Kenapa bebih Bulannya yang secantik bidadari itu harus menutup kepalanya? Bahkan orang-orang disekeliling Felix, semuanya ingin menunjukkan bagian tubuh mereka agar bisa tenar. Ia bahkan kenal beberapa artis yang rela mengobral tubuhnya agar bayaran mereka mahal dan penggemar mereka bertambah. Sayang bebih Bulan lebih memilih menyimpan kecantikannya di balik sepotong kain. Felix benar-benar tidak habis pikir. Lima menit kemudian seorang perawat tiba, ia lalu dengan pelan menepuk bahu Wulan yang masih tertutup selimut. "Ibu Kana, tadi ada yang panggil perawat, betul." Gadis itu mengiyakan. "Suster, ada jilbab cadangan nggak? Kata yang nemenin saya tadi, jilbab saya darah semua. Kalau nggak ada, biar jilbab tadi aja dibalikin. Saya nggak bisa ngapa-ngapain kalau nggak pake jilbab, suster. Tolongin saya." Terdengar suara perawat tersenyum. "Ada ibu, tapi warna putih. Nggak apa-apa?" Suara Wulan yang mendesah lega menunjukkan bahwa ia senang. "Nggak apa-apa, suster, terima kasih." "Oom yang tadi masih di luar, kan?" Lanjutnya. "Iya ibu." Jawab perawat itu. "Suster bawa jilbabnya?" "Iya, bawa. Tapi anu..." Ucapan perawat tersebut terhenti saat Wulan membuka selimutnya. Ia menghela napas panjang. Tidak nyaman rasanya berada di dalam selimut yang pengap.  Wulan kemudian mencoba untuk duduk dengan bantuan sang perawat. Rambut hitamnya yang mencapai punggung tampak tergerai. Seperti kata-kata Felix tadi, bahkan sang perawat tampak terpesona melihat Wulan tanpa jilbab.  Dengan cekatan gadis itu menggelung rambutnya. Bahkan tanpa bantuan karet. Setelah ikatannya menjadi sebuah cepol yang rapi, perawat tersebut menyerahkan jilbab putih yang dipegangnya pada Wulan. "Mau dibantu pasang jilbabnya?" Perawat itu menawarkan. Namun Wulan menggeleng. Setelah menyematkan sebuah jarum pentul dibagian leher, barulah Wulan tampak tenang. "Saya boleh pulang, suster?" Tanya Wulan. Perawat itu mengangguk. "Nggak ada keluhan lain, kan? Tadi dokter jaga bilang, cuma luka dikit. Dijahit dua jahitan, darahnya aja agak banyak." Wulan menggeleng. Lukanya hanya sedikit nyeri, namun selain itu ia tidak merasakan hal lain. Setelah perawat pamit, Felix masuk dan mendapati Wulan sudah duduk di atas ranjang. "Bebih gulingan aja kalau masih pusing." Katanya. Wulan menggeleng. "Nggak apa-apa, om Pel. Mau pulang aja tadi perawatnya bilang boleh pulang, kok. Ini pasti sudah malem banget. Aku nggak enak sudah nyusahin." Kata Wulan merasa bersalah. "Ah, nggak nyusahin. Untung tadi kita belom jauh. Kalau nggak, tambah bahaya. Yey sendirian nggak ada keluarga." Wulan tersenyum. "Makasih banyak ya, om. Maaf bikin susah." Felix menggeleng.  "Nehi, tinta susah neik. Sama yey, bikin eke serasa jadi kakak pere yang baik. Walo yey tinta mawar eke peluk." "Bukan muhrim, om Pel." Lagi- lagi Wulan mulai berceramah namun Felix tampak tidak peduli. "Sutralah, yey mo bilang apose, tinta peduli neeik. Cus, kita pulang."  "Kita naek taksi online atao ojol, om Pel? Ini rumah sakit jauh nggak dari kosan Wulan?" Tanya gadis itu saat ia hendak turun. Felix menatapnya heran. "Naik taksi online? Yey kira kita kesini naek apose?" Wulan mengedikkan bahunya. "Nggak tahu, gerobak?" Felix tertawa.  "Sama bos." Jawabnya.  Wulan langsung terdiam. Ia baru sadar bahwa tidak mungkin Felix sendiri yang membawanya ke rumah sakit. "Oh. Ya udah, besok kalau ketemu bos, bilangin makasih, ya. Udah ngerepotin. Pasti sekarang bos marah-marah gara-gara aku sambil kencan sama cewek tadi."  Felix tertawa. "Kenapa tertawa, om Pel? Wulan salah ngomong? Eh, iya. Nggak mungkin sih, bos marah-marah, pasti sibuk maksiat." Tawa Felix semakin menyembur. Wulan melirik Felix dengan bingung. Namun ia tidak peduli. Saat hendak turun, ia baru sadar tasnya tidak berada didekatnya. "Tas aku mana?" Tanyanya menatap Felix dengan bingung. "Tas kamu sama saya." Sebuah suara pelan dan berat terdengar tidak asing namun berhasil membuat bulu kuduk Wulan meremang. Ia sampai takut untuk menoleh ke asal suara yang berada dibelakangnya, satu sudut yang lolos dalam penglihatannya sejak sadar tadi. Dengan napas tertahan, Wulan menatap Felix yang menutup mulutnya menahan tawa. "Om Pel, sejak kapan jadi dubber? Kok rasanya aku denger suara pak Bhum deket sini? Bukannya  Tadi bilangnya mau kemana itu...apartemen Nana?" Dari balik punggungnya, sosok Bhumi yang menjulang membuat Wulan hampir terjungkal muncul. "Kamu harus tanggung jawab, gara-gara kamu, kencan saya terpaksa batal malam ini." Namun Wulan tidak mendengar apapun. Ia terlalu terkejut untuk mendengar ucapan pria itu. Yang berkelebat dalam pikirannya adalah saat ia duduk dan menggelung rambutnya, pria itu melihat segalanya.  Pria itu menyaksikannya tanpa jilbab. "Innalillahi..." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD