Tujuh : Bos yang posesif

1026 Words
Wulan menutup pintu kosannya dengan perasaan campur aduk. Ada rasa kesal sekaligus sedih disana. Kesal karena ia terus mendapatkan banyak kesialan sejak sore, padahal ia sebelumnya merasa amat senang terhindar dari kewajiban untuk pulang malam karena sang bos berbaik hati mengizinkannya pulang lebih cepat. Namun semua itu kemudian menjadi malapetaka, begitu buruk hingga ia ingin sekali berteriak. Ia sama sekali tidak menyesal mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan seorang wanita hamil yang hendak menyeberang usai ia turun dari mobil Bhumi, tidak sama sekali. Hal yang membuat air matanya jatuh bahkan saat ia turun dari mobil di depan pagar kosannya adalah karena ia teledor, tidak menyadari kehadiran Bhumi di kamar rawat rumah sakit itu.  Hatinya terasa pedih, mengingat sesuatu yang harusnya ia perlihatkan pada sang suami di saat malam pertama mereka harus dinikmati oleh pria b******k, penjahat kelamin yang doyan mengumbar perbuatan zinahnya dimana-mana. Tolonglah, pria itu sudah terlalu sering melihat aurat wanita lain, bahkan ia sudah sering mencicipinya, sekarang kenapa malah dirinya sendiri jadi korban? Demi Tuhan dia tidak rela, tidak ikhlas. Wulan melempar tasnya ke sembarang arah, lalu menjatuhkan dirinya ke atas kasur empuk yang menjadi fasilitas kosannya. Rasanya ia ingin menangis lagi, akan tetapi air matanya ngadat, menolak untuk keluar. Terpaksa dengan nanar matanya menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu LED empat watt yang anehnya membuat pandangannya sedikit silau. Ia teringat ucapan pria itu saat turun dari mobilnya tadi. "Istirahat, tidak usah kerja besok pagi." Terus kalau dia tidak masuk, lalu kesempatannya buat libur dua minggu lagi akan berkurang jatahnya. Wulan tidak akan sudi. Di kampung, Arman sudah menunggu. Ia harus pulang, toh semuanya sudah diatur dengan baik, ia akan mengambil semua shift yang bisa ia tangani, lalu jadwal liburnya akan bisa diakumulasikan. Tidak mudah memang, tapi setelah nego-nego rahasia dengan sesama anak magang, maka hal itu tidak mustahil. Ia punya kesempatan tiga hari untuk pulang kampung, sekaligus seminar proposal untuk keperluan skripsinya. Jika pihak HRD bertanya, Wulan akan menunjukkan bukti absensinya nanti di kampus, bahwa ia benar berada di sana. Lagipula, ia butuh bertemu Arman. Pria yang telah dijodohkan dengannya itu sudah lama tidak berkomunikasi dengannya. Dia bukan tipe anak muda tahun twenty seventeen atau kids jaman now, bukan, Arman hanya bujang dusun nan udik yang sebenarnya lebih hapal sandi morse dari pada sandi akun gugel, yang mengamalkan pancasila lebih baik dari siapapun juga, bahkan juga mengamalkan Al Quran dan Hadist dalam kehidupannya sehari-hari.  Jikapun ingin bertemu Wulan, maka akan ada bapak ibu mereka disana. Biarkan tetua sibuk bicara, mereka berdua kemudian akan saling lirik dan disanalah seninya, cinta muncul dari mata.  Mata lah yang mengirimkan gelenyar cinta. Hemat biaya pulsa dan kuota juga, tentu saja. Nah, menurut Wulan, begitulah perjodohan yang baik dan benar. Tidak perlu vulgar seperti Bhumi b******k itu. Dengan kesal Wulan melempar tasnya ke sembarang arah kemudian ia berguling-guling dengan kesal, hingga membuat sprei ranjangnya tercerabut dari tempatnya. "Mas Arman, maafin Wulan. Bukan mau Wulan sampe bisa ada yang melihat aurat calon istri kamu." Air matanya tetap macet.  Namun ia terus berharap, penyesalan itu akan menghapus semua kesedihannya akibat dipergoki Bhumi yang bahkan tidak bicara apa-apa lagi setelah Wulan langsung melarikan diri dari IGD tanpa menoleh padanya, jika tidak ditahan oleh Felix yang memaksanya untuk tetap diantar pulang. *** Pagi berikutnya tiba, namun tidak seperti hari biasa dimana Wulan yang selalu standby di samping Bhumi dari pagi sebelum pria itu melakukan briefing untuk acara pagi, mendampinginya saat live, bahkan setelah acara siaran langsung, gadis itu sedang sibuk berbisik-bisik dengan Gema, anak magang seangkatannya, mahasiswa universitas Islam di daerah Ciputat yang akrab dengannya. Mereka bahkan sibuk nongkrong sambil jongkok saat siaran acara musik pagi ditayangkan. Gema memang bertugas sebagai anak magang di bagian tersebut, dan sebelum menjadi asisten Bhumi, Wulan sering mampir ke sana sekalian mencuci mata, mencari artis idolanya, Ardhito. Dari Wulan, Gema kemudian tahu kalau gadis itu dilarang Bhumi masuk, namun berkeras untuk datang. "Kepala lo nggak nyeri, kan? Bahaya ntar kalo pingsan." Wulan menggeleng, tepat saat Gema menyodorkan sebungkus kacang kulit kepadanya, buat ganjal kalau kelaparan. Wulan yang dasarnya doyan kacang, terutama kacang rebus dari kampung-duh dia jadi rindu masa-masa jadi bocah- tanpa ragu menerima pemberian pria itu. Saat hendak membuka plastik kemasan, sebuah tangan menarik kacang itu dari tangannya. Ketika mendongak, jantung Wulan mendadak macet. Bhumi Prakasa berada di belakang mereka, sedang memandang ke arah Gema dengan sinis. "Pak Bhum, kok tahu Wulan ada di sini?" Gadis itu langsung bangun, berusaha merebut kembali kacangnya yang diambil oleh Bhumi.  "Itu kacang Wulan, pak." Katanya. Bhumi melirik gadis itu dengan tatapan sinis. "Kamu sendiri pernah bilang, tidak baik menerima pemberian orang lain, terutama dari laki-laki." Wulan terdiam. Gema yang sebelumnya dalam posisi jongkok, langsung berdiri dan memberi salam pada pembawa berita terkenal itu. "Kacangnya aman, pak. Saya yang kasih." Bhumi kemudian melempar pandangannya pada Gema. Si anak magang yang berseragam biru donker tertunduk kikuk. Kemudian Bhumi kembali pada Wulan yang tidak berani menatapnya, selain itu kehadiran Bhumi yang tiba-tiba membuatnya merasa tidak enak pada Gema. Mereka sebenarnya dalam posisi tidak bisa diketahui oleh siapapun. Pojok dibelakang studio enam yang dijadikan tempat syuting acara "Lagu Nampol Banget" hanya diketahui rombongan anak magang secara turun-temurun. Bahkan kru televisi pun tidak ada yang tahu. "I don't want my employee get sick because of your nuts." Bhumi menekankan pada kata "nuts" begitu rupa, sehingga setiap orang yang mengerti bahasa Inggris tahu, bahwa bukan kacang yang sedang ia bicarakan saat ini. Hanya Wulan yang memandangi Bhumi dengan bengong. "Pak Bhum, yang bener ah. Makan kacang kok bikin sakit? Lagian bapak kenapa ke sini, sih? Ini kan tempat rahasia anak magang, bukan pejabat kayak bapak. " Bhumi hanya meliriknya sekilas, tidak merespon pertanyaan gadis itu. Ia segera berbalik, namun sebelum berlalu ia bicara lagi pada keduanya. "Before the two of you were here,  I was the best apprentice in here. And you, Bulan, to my office, now." Lalu ia berlalu begitu saja, membuat Gema dan Wulan saling menatap dengan bingung. "Bos lo kagak dapet jatah, kali ya?" Tanya Gema pada Wulan, yang tentu tahu reputasi pria itu. Wulan menggeleng, sebelum suara Bhumi memanggilnya kembali membuat gadis itu berlari dengan panik mengejar sang atasan. Bos konak, nggak dapet jatah, karyawan jadi susah. Huuh naseeeb anak magang. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD