Malam ini Letta tengah sibuk mengerjakan PR matematikanya, mulutnya terus mengumpat karena diberi tugas dari mata pelajaran yang tidak dia suka di hari pertama. Tapi, berkat tekadnya yang kuat untuk menyelesaikannya sebelum pukul delapan, akhirnya dia bisa mengerjakannya dengan lancar. Setelah itu dia menutup bukunya dan mengambil gawai untuk membaca komiknya yang masih berlanjut tiap minggu. Ada banyak komik di kotak Favorite-nya dalam sebuah aplikasi membaca komik. Di kamarnya pun ada sebuah rak khusus untuk semua koleksi komik dan novelnya. Rak itu sudah benar-benar pengap meski ada dua yang masing-masingnya berukuran satu kali dua meter. Kamarnya tidak cukup luas untuk menaruh rak baru makanya dia beralih ke aplikasi daring.
Tiba-tiba layarnya macet dan muncullah sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya. Gadis itu ragu, takut itu telepon iseng atau malah penipuan. Telepon pun mati karena dia terlalu lama berpikir. Lalu muncul sebuah pesan yang berisi perintah untuk mengangkat teleponnya dengan nomor yang sama. Letta semakin bingung, tapi menurutnya pasti itu orang yang dia kenal atau mungkin Dhira yang memakai nomor lain.
Muncul lagi telepon dengan nomor yang sama kedua kalinya. Namun kali ini video call. Letta semakin terkejut dan memundurkan kursi belajarnya berusaha menjauhkan telepon dari wajahnya. Tapi, akhirnya dia menjawab dengan menyembunyikan wajahnya di bawah gawainya hingga yang terlihat hanya dahinya saja.
Ada suara kekehan di sana. Letta mengintip sedikit pada layar gawainya yang langsung memperlihatkan seorang pria yang t*******g d**a dengan rambut basah dan handuk di atas kepalanya. Sontak dia teriak dan melempar gawainya di atas meja, dia sendiri bangkit dari kursi dan mundur menjauh seolah habis melihat serangga yang dia takuti.
“Letta, lu di sana ‘kan? Kok, baru diangkat?” tanya pria di dalam layar gawainya tersebut.
“Letta, ada apa?!” teriak mamanya dari lantai bawah.
Buru-buru Letta menjawab bahwa dia baik-baik saja dan langsung mengunci pintu. Setelah itu dia kembali mengambil gawainya perlahan.
Pria itu masih di sana tanpa atasan, sibuk mengeringkan rambutnya dan mencari Letta di layar.
“Arion! Ngapain lu nelepon gue? Tau dari mana nomor gue? Kenapa lu t*******g?!” pekik Letta berusaha tidak menatap tubuhnya langsung.
“Banyak banget pertanyaan lu. Gue baru mandi.”
“Jam segini?”
“Iya, tadi sore abis nongkrong sama anak-anak.”
“Terus ngapain lu nelepon?! Pake baju sana!”
“Waktu mandi gue inget lu, jadi gue gak sabar untuk nelepon, tadinya mau via suara aja, tapi gue pengen liat wajah panik lu,” katanya dengan terkekeh puas.
Letta menutup matanya gemas. Dia menempelkan layar gawai di dadanya sementara dia menahan diri supaya tidak mimisan setelah melihat tubuh seorang laki-laki tanpa atasan begitu.
Ya ampun, wajahnya makin cakep kalo basah begitu. Badannya itu, ya Tuhan, kenapa putih banget, dadanya kotak-kotak kayak di komik. Ternyata beneran ada, ya, cowok begitu?!
Letta berdialog dengan dirinya sendiri dalam hati. Tapi, pria di alam gawainya terus-terusan memanggil namanya. Dengan cepat Letta melihatnya lagi dan akhirnya dia sudah memakai kaus.
“Lu peluk hape-nya di d**a lu? Ah ... coba badan gue beneran yang dipeluk, gue sih seneng,” ucapnya dengan nada menggoda.
“Ih, apaan sih gak jelas banget! Udah ah, gue lagi sibuk, matiin deh teleponnya!”
“Sibuk apa?”
“Jam segini gue harus baca komik baru bisa tidur nyenyak!”
“Hmm ... gue kira lu masih polos kayak yang Dhira bilang, tapi lu baca komik begituan ya?”
“Begituan gimana?” Letta mulai tidak mengerti dengan perkataan Arion.
“He ....” Aron sengaja menggantung kalimatnya.
Muka Letta langsung memerah karena tahu apa yang akan lelaki itu katakan, meski dia tidak pernah membaca genre seperti itu, tapi sebagai penggemar komik dan anime, dia paham betul jenis-jenis genre. Dan yang akan disebut Arion adalah genre terlarang, sangat terlarang, bisa dikatakan itu komik po*n.
“Enak aja! Gak pernah, ya, gue nyentuh begituan! Udah lah, matiin aja, gue mau tidur!” bentak Letta yang malu sendiri membahas hal seperti itu. Reflek dia menekan tombol merah di gawainya.
Lalu dia duduk di ranjangnya dan menarik napas berkali-kali. Untunglah Arion tidak berusaha meneleponnya lagi. Tapi, ada sebuah pesan masuk yang bertuliskan, “Gue, kan, gak bilang apa-apa tadi. Haha ... tidur yang nyenyak, besok gue ada kelas dari siang sampe sore, jadi gak bisa nemuin lu, semoga lu gak kangen.”
Gawai itu diremasnya dan wajahnya kembali memerah dengan jantung yang berdebar cepat. Siapa yang tidak senang diperlakukan manis begitu oleh pria tampan dan keren macem Arion? Tapi, hal itu juga yang membuatnya ingin tertawa geli karena kalimat terakhirnya yang terdengar seperti gombalan receh.
Sharletta pun mulai membaca komiknya dan bersiap tidur dengan senyum yang terus mengembang.
٭٭٭
Seharian ini Arion tidak menghubungi Letta sampai jam pulang sekolah. Gadis itu merasa tenang karena jadi bisa fokus belajar, dia ingin masuk kelas tambahan unggulan, paling tidak kelas C juga sudah bagus, pikirnya. Rencananya juga bulan depan dia akan dimasukkan ke tempat bimbel sebelum semester dua datang. Papa dan mamanya masih mencari tempat bimbel yang terbaik untuknya, namun dengan budget yang masih terbilang normal. Sharletta tidak masalah soal itu karena pada akhirnya dia sendiri yang akan memilih. Orang tuanya memang mementingkan kenyamanan anaknya juga, tugas mereka memilihkan yang terbaik, sisanya Sharletta yang menentukan.
Letta dan Dhira berpisah dengan Aliyah dan Ruri di gerbang seperti biasanya. Sedangkan mereka berdua jalan menuju halte depan komplek yang berjarak sekitar tujuh sampai delapan ratus meter dari sekolah. Letta mengecek gawainya setiap saat, hal itu membuat Dhira ingin menggodanya.
“Ciee, kangen, ya, sama Arion?”
“Ha? Enggak, kok.”
Tiba-tiba suara pemberitahuan masuk dalam gawainya. Dengan cekatan Letta membuka kunci layarnya dan mendapat pesan di sebuah aplikasi chat w******p yang berisi foto. Ketika dia buka, matanya langsung melotot dan jantungnya berdebar tak keruan. Mulutnya memekik saking tidak tahanya melihat foto itu. Kemudian dia berjongkok menutup wajahnya.
“Apaan sih? Kenapa?” tanya Dhira merebut gawai Letta dan melihat foto itu. “Apa yang aneh sama foto ini, Let?”
Layar gawainya menunjukkan foto seorang pria memakai topi hitam yang dibalik dengan seragam SMA-nya yang berantakan. Tapi, ekspresi wajah pria itulah yang membuat Letta salah tingkah. Arion mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum sangat manis.
“Woy, Letta! Sadar, oy!” bentak Dhira yang ikut berjongkok menatap ekspresi Letta yang tersenyum dengan mata kosong. Jiwanya seperti sudah terbawa ke dunia lain.
“Anak ini parah banget deh, di kasih ginian doang langsung gila,” lanjut Dhira berdecak heran dan kembali berdiri. “Gue buang juga nih hape!”
Letta langsung tersadar dan merebut kembali gawainya. “Ih! Ini foto berharga! Gila lu asal buang aja, foto orang cakep begini macem pangeran dari komik yang keluar ke dunia nyata! Aaarrgh!!” teriak Letta gemas.
“Yee, malah makin gila nih anak! Bodo ‘ah gue jalan sendiri aja, nanti disangka orang gila juga gue jalan sama lu.” Dhira bergegas meninggalkan sahabatnya itu.
“Ih, tunggu! Dhira! Eh, eh, kenapa dia ngirim foto begini ya?” tanya Letta yang berhasil mengejar Dhira. “Apa maksudnya coba?”
“Meneketehe! Tanya langsung ke orangnya!”
“Ih, malu laah. Dia terlalu cakep, gue gak kuat mau buka chatnya lagi.”
“Lebay!” ejek Dhira.
Mereka pun terus beradu pendapat sampai di halte bus.
Untunglah Letta sudah lebih tenang, namun satu pesan yang masuk membuatnya kembali berdebar.
“Daritadi cuma dipandangin doang? Gak ada niatan untuk bales?” begitu isi chat yang dikirim Arion.
Letta berusaha membalas dengan tangan bergetar. “Bukan gitu, ngapain lu ngirim foto?”
Tak lama balasan pun masuk lagi. “Biar lu gak kangen.”
Letta semakin gemas dan ekspresi mukanya seperti menahan mulas di perut. Dia hanya berusaha menahan rasa ingin berteriak dan guling-guling di lantainya, tidak mungkin dia melakukan semua itu di dalam bus yang ramai penumpang.
“Oh, makasih deh. Gue gak kangen, kok!” balas Letta akhirnya berusaha terlihat normal dalam percakapan itu.
Arion hanya membalasnya dengan emot senyum dan lambang hati.
Letta tidak mau kalah, dia kembali membalas. “Gue bilang gue ENGGAK KANGEN! Jadi, gak usah kirim foto lagi!”
Tidak ada balasan lagi dari pria itu sampai malam tiba. Sekarang Letta merasa bersalah. Tapi, dia juga tidak mau menghubunginya lebih dulu. Akhirnya dia mengalihkan pikirannya dengan membaca komik daringnya lagi.