#7 - Arion Cemburu

1349 Words
Beberapa hari berlalu tanpa ada pesan maupun telepon dari Arion. Sharletta bukan tipe gadis yang peka terhadap keanehan itu sampai Dhira menanyakannya. Saat itulah Letta teringat lagi akan ucapan terakhirnya waktu itu. Dhira sebenarnya tahu bahwa seoarng laki-laki tidak mungkin marah hanya karena ucapan Letta yang menolaknya mengirim foto lagi. Tapi, gadis itu sengaja memanas-manasi Letta supaya dia merindukan Arion. “Gimana tuh, Let? Kayaknya dia pergi deh, elu sih jutek banget sama dia,” ucap Dhira. “Masa sih? Terus gue harus gimana? Masa gue yang ngubungin dia? Gue sebenernya seneng dia ngirim foto. Gue cuma malu laah, masa semudah itu gue tergoda? No! Dia harus berusaha dong!” “Lho, berarti lu emang suka ‘kan sama dia? Hayooo ... jangan kelamaan jual mahalnya nanti dia pergi, nyesel deh. Emang lu nemu cowok lain yang kayak di komik selain dia?” Letta merasa terpojok dan semakin khawatir memikirkan Arion. “Biarin ajalah, kalo emang dia suka sama gue, dia pasti lebih berusaha, cowok di komik ‘kan begitu. Usahanya keras!” ucap Letta dengan yakin. “Komik mulu! Ini dunia nyata, woy! Serah lu dah!” Dhira benar-benar sudah lelah menanggapinya karena dia sendiri tidak terlalu mengerti dengan dunia Letta yang penuh dengan tokoh fiksi khayalannya. Tak lama kemudian guru masuk dan pelajaran pun dimulai. ٭٭٭  Aliyah mengajak mereka semua untuk bertemu dengan temannya di lapangan panjat tebing ketika bel pulang berbunyi. Ruri sih mau saja karena dia anak yang bebas. Letta sendiri anak yang sangat polos jadi dia mau ikut karena bisa bertemu teman baru. Selama ini kehidupannya selalu bersama Dhira saja, meski di kelas juga punya banyak teman. Letta ingin mengenal dunia luar, dunia yang Aliyah dan Ruri miliki. Namun, Andhira memilih untuk tidak ikut dan pulang, gadis itu benar-benar tidak mau membuka dirinya. Mereka pun berpisah setelah Andhira memperingati Letta untuk berhati-hati. Akhirnya mereka bertiga jalan menyusuri jalan komplek yang selalu sepi sampai ke sebuah lapangan besar. Letta jadi teringat Arion, ini adalah tempat pertamanya bertemu dengan lelaki itu dan pertama kalinya pula lelaki itu hendak menyerangnya. Tiba-tiba hatinya jadi kembali berdegup kencang dan memikirkan Arion yang tak kunjung ada kabar lagi. Dia jadi berpikir bahwa dirinya mungkin terlalu jelek dan membosankan, jadi pria itu pergi. Lalu Aliyah membuyarkan lamunan Letta dengan memperkenalkan seorang pria yang terlihat lebih dewasa dari mereka. Pria yang berkulit kecokelatan dengan rambut cepak seperti habis dicukur dan lesung pipi terbentuk ketika dia tersenyum menyapa Letta. “Wildan,” katanya menyalami Letta. Aliyah berbisik pada Letta. “Dia ini anak SMA lho, keren ‘kan?” Letta langsung terheran-heran mendengarnya, dalam batinnya dia bertanya, keren apanya? Dia bukan tipe gue banget. Beda sama Arion. Karena perkataan Aliyah barusan, kini Letta malah jadi ilfil pada mereka. Sejatinya gadis mungil itu benci seseorang yang pamer sesuatu yang bahkan sesuatu itu tidak dia sukai. Memang, bagi sebagian murid SMP, anak SMA terlihat keren karena tingkatannya yang lebih tinggi dan nampak lebih bebas. Baik laki-lakinya maupun perempuannya, mereka sama-sama mendambakan kehidupan SMA yang katanya penuh kesan menyenangkan dan menegangkan. “Temen lu cantik-cantik, Al,” ucap Wildan pada Aliyah. “Iya dong. Nah, lu pilih deh mau balik sama Ruri atau yang baru, hehe ....” Sontak Letta terkejut mendengar pernyataan Aliyah. “Maksudnya apa, Al?” tanyanya dengan wajah bingung. “Biarin aja, Let. Dia mah suka asal kalo ngomong,” sanggah Ruri yang seolah sudah terbiasa dengan sikap Aliyah. Letta pun hanya mengangguk dan dua gadis itu tertawa melihat ekspresi polosnya. “Bercanda ya, Let. Jangan diambil hati. Temenan aja dulu, siapa tau cocok,” lanjut Aliyah dengan cengengesannya. Letta pun hanya tersenyum dan mengiyakan. Tak lama setelah itu Wildan membawa Letta ke sebuah kursi tempat di mana dulu Dhira duduk bersama Vendi. Sedangkan Ruri dan Aliyah duduk di atas rumput mengamati anak lain pulang di seberang sana. Sesekali mereka mengecek keadaan Letta dan Wildan. Di sana Wildan mulai tertarik pada Letta yang berwajah manis dan sikap ramahannya. Letta memang terkenal karena mudah bergaul, dia bisa bicara pada siapa pun dan membawa suasana ceria. Letta adalah anak yang sangat baik dan tidak suka menyinggung hati lawan bicaranya yang baru dia temui meski tidak suka. Anak itu selalu menghargai orang lain dan hanya akan berakhir mendumel dalam hati. “Lu udah punya pacar belum?” tanya Wildan yang duduk menghadap gadis mungil itu. “Belum, kenapa?” “Bagus dong, gue bisa jadi list pertama,” jawabnya melempar senyum menggoda. Letta sebenarnya sudah mulai tidak nyaman karena dia tidak suka laki-laki ini, berada di dekatnya sangat memuakkan. Perasaannya mengatakan bahwa pria ini tipe yang terlalu percaya diri dan suka menggoda perempuan. Sedikit ilmu itu dia dapatkan dari membaca komik dan menonton anime. Di sisi lain Ruri bertanya pada Aliyah. “Memang gak apa-apa, ya, ngenalin Letta ke Wildan? Cewek itu masih polos, Al.” “Biarin aja, kan temenan doang, siapa tau mereka sama-sama suka,” balas Aliyah santai dengan seringai di bibirnya. “Tapi, Wildan itu udah ngedeketin banyak cewek, lu sama gue udah termasuk korban dan ada satu teman kita lagi di kelas B. Gue sih takut dia mcem-macem sama Letta yang gak punya pengalaman.” “Tenang, kita ‘kan di sini ngejagain. Selow aja kali! Gak mungkin Wilda begitu, dia masih sopan sama kita.” Saat itu seorang pria dengan CBR-nya melihat pemandangan itu dari kejauhan. Perasaannya tak tenang dan mencurigai sosok anak perempuan di sana. Karena jaraknya terlalu jauh membuatnya tidak bisa dengan jelas melihat mereka. Tapi, dia tahu betul rambut dan perawakannya adalah gadis yang dia kenal. Buru-buru dia menarik gas motornya dan memutari lapangan untuk sampai ke seberang sana. Dia memarkirkan motornya tepat di depan pos yang terbengkalai setelah melewati dua sejoli di bangku itu dan meyakinkan bahwa gadis itu benar Sharletta. Bergegas dia turun dan melepas helmnya. Hatinya benar-benar berkecamuk melihat dua sejoli itu duduk terlalu dekat. Hingga ketika dia mendekat, Wildan tengah menanyakan sesuatu pada Letta dengan tangan yang bersandar di atas kursi seperti ingin merangkul gadis itu. “Lu mau gak jadi pacar gue?” tanya Wildan. Sharletta yang membelakangi pria bermotor tadi sedikit bergeser mundur dan berpikir apa yang harus dia jawab. “Pacar ya? Hmm ... kita baru kenal.” Wildan semakin mendekat dan menyentuh tangan Letta. Gadis itu reflek menepisnya. Saat itulah sang pria yang sudah tepat di belakangnya menarik tangan Letta hingga berdiri dan masuk dalam pelukannya. “Jangan pegang-pegang, dia cewek gue!” bentaknya dengan wajah datar. Letta sendiri terkejut mendapati kehadiran Arion di sana. Tubuhnya ada di dalam pelukan pria itu. Meski ini kali pertama dia masuk pelukan seorang lelaki, tapi saat ini hatinya merasa tenang daripada deg-degan. Di sisi lain Aliyah dan Ruri pun ikut terkejut dan mulai menghampiri mereka. Wildan yang melihat itu hanya terkekeh dan berdiri menghadap Arion yang bertubuh tinggi itu. “Santai aja Bro, gue cuma nanya. Katanya dia belum punya pacar, kok. Kenapa lu nyolot?” Arion mendengus dan kembali berkata. “Anak ini terlalu polos makanya dia bilang gitu, jangan coba-coba untuk manfaatin dia!”  “Sekarang gue tanya ke Letta, emang bener dia cowok lu?” Arion menatap Letta sejenak dan kembali bicara pada Wildan. “Gak perlu dijawab!” Pria itu langsung membawa Letta pergi menjauh. Aliyah dan Ruri memanggil Letta, namun Arion tak membiarkannya berpaling lagi. Letta terus dibawa sampai ke samping motornya dan memakaikannya helm yang dia gantungkan di jok belakang. Tanpa ada kalimat yang terlontar dari mulut mereka, Arion membawa Letta pergi dari sana. Gadis itu hanya mampu meremas ujung jaket kulit yang menutup seragam Arion dengan perasaan campur aduk. Bingung, takut, terkejut, dan bahagia. Dia lega bisa melihat Arion lagi saat ini, bahkan dia menyelamatkannya dari pria yang tidak disukainya itu. Letta mulai merasa debaran cinta di hatinya, meski dia tidak sepenuhnya mengerti akan cinta. Tapi, berdasarkan ilmu yang dia miliki dari membaca komik, apa yang tengah dia rasakan ini disebut cinta. Dia merasa rindu dan khawatir saat tidak melihat Arion, lalu merasa sangat lega dan bahagia ketika melihatnya lagi. Begitulah yang Letta ketahui mengenai perasaannya kini. Apalagi ketika pria itu mengatakan bahwa dia adalah kekasihnya. Senyumnya pun perlahan naik tanpa Arion sadari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD