#8 - Saling Menahan Diri

1242 Words
Mereka berhenti di sebuah taman bermain yang masih dalam kawasan komplek yang sama. Area terbuka luas yang tetap mengusung penghijauan. Komplek itu memang sangat luas seperti berada di tengah hutan dengan banyaknya pohon yang masih berdiri kokoh. Di dalam komplek tersebut ada sekolah dasar sampai sekolah menengah atas yang terbuka untuk umum. Namun, rata-rata yang masuk sana memang dari keluarga yang orang tuanya bekerja di pabrik besar yang memegang seluruh kawasan tersebut termasuk Dhira dan Letta. Sayangnya ayah mereka sama-sama hanya karyawan yang statusnya tidak terlalu tinggi, jadi belum bisa menempati rumah yang ada di kawasan tersebut. Di sini ada sebuah taman bermain yang luas. Letta sendiri belum pernah ke sini sebelumnya karena jarak dengan sekolahnya cukup jauh. Di taman itu tidak ada siapa pun, tapi pasti pukul empat sore ke atas akan ramai dengan anak-anak. “Kenapa ke sini?” tanya Letta yang berjalan mengekor di belakang Arion. Dia tidak menjawab dan terus berjalan sampai duduk di sebuah kursi taman yang terbuat dari semen. “Sini duduk!” perintahnya selembut mungkin. Letta pun menurut dan duduk di sebelahnya. “Lu gampang diajak ketemu sama cowok yang gak dikenal ya?” tanya mulai menginterogasi. “Ha? Enggak, kenapa?” tanyanya heran. “Enggak apanya? Waktu itu lu mau aja diajak temen lu untuk nemenin dia ketemu cowoknya, kebetulan aja gue juga disuruh nemenin Vendi. Andai gue gak ada, lu pasti jadi orang b**o di sana.” “Ya ... gue cuma mau nemenin temen gue, emang salah? Gue juga khawatir sama dia yang baru ketemu sama cowoknya, gimana kalo dia diculik?” Arion masih tidak mau menatapnya dan mendengus kesal. “Terus tadi apa? Gue gak liat ada Dhira di sana. Apa alasan lu kali ini? Lu gak takut bakal diserang kaya gue nyerang lu? Apa jangan-jangan gak masalah, ya, siapa orangnya untuk lu?” “Maksudnya? Gue gak ngerti! Temen gue gak cuma Dhira. Aliyah sama Ruri ngajak gue ketemu temennya, gue gak tau kalo ternyata temennya cowok dan cowok itu malah maunya ngobrol sama gue doang,” jelas Letta dengan polosnya. “Gue gak suka!” “Terus lu mau aja? Kalo nanti temen lu ngenalin lu ke cowok lainnya juga masih mau aja?” Kali ini Arion menoleh padanya menatap kesal gadis mungil itu. Letta melihat sorot mata yang marah itu dan jadi merasa bersalah. “Gak maulah kalo tujuannya bukan berteman. Tapi ....” “Tapi, apa?!” Suara Arion yang lebih dalam dan seperti membentak itu mengejutkan Letta dan membuatnya menunduk menatap rok birunya. “Gue cuma gak enak sama temen-temen gue, mereka ‘kan cuma mau ngenalin gue sama temen lainnya. Gue cuma mau menghargai mereka meski gue takut banget tadi, gue gak suka cowok itu deket-deket ....” Suaranya semakin redup karena menahan tangisnya akibat dibentak tadi. Arion memutar kedua bola matanya dan menatap awan mendung yang menutup cahaya matahari. Lalu keheningan pun menjalar di antara mereka. “Lu sendiri ke mana dari kemarin? Tiba-tiba muncul hari ini dan marah-marah, gue bingung!” tanya Letta memberanikan diri menatap pria itu untuk mengalihkan rasa takutnya. Arion menundukkan wajahnya lagi dan menatap Letta. “Gue lagi ngurusin proposal untuk PKL bulan depan.” “Oh, gue pikir lu marah sama chat terakhir gue itu, gue pikir lu gak akan nolongin gue tadi,” bisik Letta kembali menunduk, namun hatinya lega karena Arion pergi bukan karena tidak suka. Arion mengambil salah satu tangan Letta dan menggenggamnya erat. Jantung Letta berdebar lagi karena ini kali pertama seorang pria memgang tangannya selain papanya. “Maaf ya, harusnya gue inget perkataan Dhira soal kepolosan lu,” kata Arion dengan lembut. “Lu pasti takut banget, gue juga takut kalo seandainya gue gak ke sana tadi.” Ketika Letta menoleh padanya, wajah pria itu mendekat dan lengan satunya mengelus kepala Letta dengan lembut. “Lain kali jangan mau diajakin kalo gak jelas tujuannya. Cukup gue aja yang terpikat sama lu.” *Degh* Letta benar-benar meleleh saat ini. Matanya hanya bisa melihat kedua manik hitam keabuan yang berkilat di hadapannya itu. “Gue takut tangan ini,” bisik Arion menyentuh tangan mungil itu. “bibir ini, tubuh ini diambil orang lain sebelum gue bisa menyentuhnya,” lanjutnya mengelus bibir Letta dengan ibu jarinya. Perut Letta terasa semakin diaduk-aduk. Namun, tanpa sadar bibirnya tertarik membuat senyuman. Begitupun Arion yang mulai menunjukkan senyumnya. Dahi mereka mulai bersentuhan. Bibir mereka hanya berjarak satu sentimeter. Tak lama kemudian Arion menjauh kembali, hatinya berdegup tidak keruan ketika menatap gadis itu dari dekat. Dia mengepal tangannya untuk menahan hasratnya yang ingin sekali mencicip bibir mungil merona itu. Pandangannya dialihkan ke langit mendung di atas sana yang mulai menunjukkan secercah cahaya matahari lagi. Di sisi lain, Letta juga sibuk dengan hatinya sendiri yang ingin meledak. Otaknya terus meneriakkan pujaan-pujaan tentang pria di sebelahnya itu. Namun, bagaimanapun dia harus terlihat normal, dia tidak pernah memperlihatkan sisi gila dirinya yang begitu di depan semua orang bahkan Dhira. Dia sendiri tidak paham kenapa hanya pada Arion dirinya bisa menggila begini. “Pulang yuk! Udah mau sore, anak-anak kecil juga udah mulai dateng tuh,” ajak Arion. “Oh, iya.” Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan keluar komplek dan mau tidak mau Letta harus menerima tumpangan itu sampai rumahnya. Sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak bicara dan tiba-tiba Arion menarik lengan Letta untuk memeluk tubuhnya. Sontak gadis itu tertarik ke depan, Arion mengambil tangan Letta yang satunya dan membuat mereka saling berpautan, Letta terus menarik napas lalu mengeluarkannya lagi berkali-kali supaya detak jantungnya tidak tersalurkan ke tubuh pria itu. Bibir bawahnya pun digigit supaya dia tetap sadar dan tidak terbang ke langit ke tujuh. Begitu masuk ke perumahan Letta, dia mulai melepas pelukannya karena takut tetangganya melihat mereka. Dan sesampainya di depan rumah, gadis itu langsung turun dengan berpegang pada pundaknya Arion yang agak keras itu. Otaknya jadi berpikir ke mana-mana, buru-buru dia melepasnya dan menunduk berterima kasih. Reflek dia menengok ke segala arah takut tetangganya ada yang melihat. “Lain kali kalo ada apa-apa hubungin gue,” katanya sembari mengikat kembali helm yang dipakai Letta di jok belakangnya. “Iya,” jawab Letta singkat. “Gue balik ya,” ucap Arion mengelus kepala Letta sebelum beranjak pergi. Saat itulah Letta merasa lega dan mengembuskan napasnya banyak-banyak. Lalu berbalik memasuki rumahnya, tapi suara pintu dibuka di belakangnya membuat dia menoleh. Tampak Dhira tersenyum mencurigakan di balik pintunya yang bisa dibuka atas bawah. “Dari mana lu?” tanyanya. Letta mengembuskan napas sekali lagi dan melempar senyum girang sebelum berlari menghampiri Dhira yang menyambutnya dengan membuka semua pintu dapurnya. Setelah mendengar cerita Letta yang diakhiri dengan kebahagiaan itu, Dhira mulai bicara. “Udah gue bilang hati-hati ‘kan? Gue gak mau terlalu deket sama mereka karena gue gak percaya sama mereka. Untunglah Arion dateng tepat waktu, harus makasih lu sama dia!” bentaknya. “Iyaa, gue lupa belum makasih soal yang itu sama dia,” jawab Letta menunduk sedih. “Eh, ngomong-ngomong, kok, bulan depan dia udah PKL sih, emang dia kelas berapa?” tanya Letta penasaran. “Vendi sih kelas tiga, kalo mereka temenan, yaa ... Arion juga sama. Yaa, mungkin emang udah jadwalnya, kan semester depannya mereka tinggal bikin laporan akhir.” “Hooo ... sibuk dong mereka?” “Sama kayak kita nanti juga sibuk ‘kan sama bimble dan kelas tambahan. Di sekolah juga udah difokusin belajar terus sama praktek gitu pasti.” Letta hanya mengangguk dan tiba-tiba hatinya merasa senang lagi. Moodnya sangat bagus hari ini berkat pertemuannya dengan Arion.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD