Pagi ini sekolah sedikit berbeda ketika Letta dan Dhira masuk ke kelasnya. Beberapa kawan menyapa Letta dengan senyuman aneh. Beberapa lainnya berani menanyakan perihal hubungannya dengan seorang anak SMA. Ada juga yang menyampaikan pesan bahwa dirinya ditunggu oleh Bu Dini di kantornya.
Mereka berdua saling menatap heran dan tiba di mejanya. Aliyah langusng menyapanya dengan girang dan mengatakan bahwa Letta ditunggu Bu Dini. Ruri sendiri hanya diam tidak merespon mereka. Wajahnya khawatir dan perasaannya kalut tanpa mereka ketahui.
“Hayo ... kenapa, Let? Kok, dipanggil guru BK sih pagi-pagi?” goda Aliyah.
Sharletta tetap bergeming sejak masuk tadi karena bingung sendiri dengan keadaan kelas pagi ini.
“Ayo gue temenin,” ucap Dhira dengan santainya.
Mereka berdua pun keluar menuju kantor BP tanpa bertanya apa-apa pada Aliyah.
Pintu diketuk dan ada suara dari dalam yang menyuruh mereka masuk. Bu Dini langsung menyuruh Letta duduk di depan mejanya sedangkan Dhira duduk di sofa dekat pintu.
“Kamu tau kenapa Ibu panggil kamu ke sini?” tanya guru dengan mata belo dan bibir merah marun itu. Rambutnya disanggul rapi ke atas, membuatnya nampak manis karena tubuhnya yang mungil meski sudah mempunyai dua anak yang masih kecil.
Letta menggeleng. “Kenapa ya, Bu?”
“Ada temen kamu yang bilang kalo kemarin kamu terlihat jalan sama anak SMA, laki-laki, terus katanya kalian peluk-pelukan di lapangan panjat tebing. Apa itu benar? Kamu pacaran sama dia?”
Letta melongo mendengar pernyataan itu. Memang benar dia kemarin bertemu Wildan dan Arion yang masih memakai seragam SMA. Pria itu juga meluk dia semata-mata untuk melindungi dia dari Wildan. Tapi, kalau sampai guru tahu, bisa-bisa jadi masalah dan orang tua pun ikut tahu.
“Saya gak pacaran, Bu. Memang kemarin ... saya diajak Aliyah ketemu temennya, tapi saya gak tau kalo temennya cowok dan anak SMA,” jawab Letta panik namun masih berusaha untuk hati-hati.
“Aliyah? Jadi cowok itu temennya? Bukan temen atau pacar kamu?”
Buru-buru Letta menggeleng. “Bukan pacar saya! Temen aja bukan, itu temennya Aliyah. Saya cuma dikenalin.”
“Tapi, kamu peluk-peluk?” Kedua mata belo Bu Dini membuat Letta ketar-ketir, rasanya mata itu mampu mencium ketakutannya.
“Enggak! Saya aja gak mau ngobrol berdua sama dia waktu itu.” Mata Letta mulai mengarah ke atas meja dan tidak memandang Bu Dini lagi. “Tapi, Aliyah ngebiarin saya diajak ngobrol berdua sama cowok itu.”
Bu Dini berpikir sejenak menatap wajah Letta yang cemas sekaligus bingung itu. Kemudian Dhira bangkit dan ikut duduk di sebelahnya.
“Jadi gini, Bu. Ibu tau ‘kan kalo saya sama Letta selalu bareng?” tanyanya.
“Iya, kenapa?” Akhirnya perhatian Bu Dini teralihkan ke arah Dhira.
“Saya saksi di sana,” kata Dhira dengan gaya santai khasnya seolah tidak pernah gentar pada masalah apa pun. “Memang bener Aliyah ngajak kita berdua utnuk kenalan sama temennya yang kita gak tahu siapa, perempuan atau laki-laki. Tapi, saya nolak dan memilih pulang duluan, sedangkan Letta nerima ajakan itu karena dia anak yang baik, gak enakan kalo nolak ajakan temennya. Paham ‘kan, Bu?”
Bu Dini mengangguk dan sesekali melirik Letta yang juga ikut menyimak.
“Jadi, dia ikut meski gak enak. Nah, saya masih ada di area panjat tebing itu. Agak jauh memang karena saya juga kebetulan ketemu temen lama, anak SMA juga di tempat jajanan. Di sana ada banyak anak SMA yang nongkrong. Terus karena saya liat Letta duduk berdua sama cowok, jadi saya samperin sama temen laki-laki saya ini. Perasaan saya gak enak aja.”
“Tunggu, kamu temenan sama anak SMA? Jangan-jangan pacaran juga?” sanggah Bu Dini.
“Enggak, Bu. Dia temen. Ibu inget yang namanya Gerry Ardiansyah? Dia dulu sekolah di sini, dua tahun lalu lulusnya.”
“Hmm, kayak pernah denger.” Kedua bola mata Bu Dini mencari ingatannya di langit-langit kantornya itu.
“Nah, dia kakak saya, Bu. Sekarang dia udah SMA, otomatis saya juga kenal sama temen-temennya, tetangga saya dan Letta juga rata-rata anak SMA, kita sering main bareng. Jadi, gak salah dong kita temenan sama mereka? Begitu pun Letta, dia cuma mau berteman. Coba Ibu bayangin masa anak bocah gini nakalnya ke sana-sana?”
Bu Dini tersenyum kecil melihat Letta yang protes dibilang bocah. “Iya, Ibu percaya. Letta hanya anak nakal yang kekanakan dengan tidak merapikan seragamnya setiap hari.”
Letta langsung melihat seragamnya yang keluar. “Maaf, Bu,” ucapnya melempar senyum garing sembari memasukkan seragamnya hingga rapi.
“Masih pagi udah berantakan.” Bu Dini menggeleng. “Yaudah, Ibu percaya sama kalian, lain kali hati-hati ya. Jangan sampe menimbulkan fitnah seperti ini lagi. Kalian boleh, kok, berteman dengan siapa saja, asal mengarah ke hal positif. Atau seenggaknya pikirkan nama baik sekolah ketika kalian masih pake seragam.”
“Iya, Bu!” seru dua anak perempuan itu bersamaan.
“Kalian boleh keluar dan tolong panggil Aliyah.”
“Saya udah tau kalo yang ngadu ini Aliyah, Bu,” celetuk Dhira sebelum beranjak pergi. “Padahal itu temen dia, dia yang niat ngenalin ke kita, malah dia juga yang fitnah kita.”
“Iya sudah, gak apa-apa nanti ibu yang menasihati dia.”
Sekali lagi mereka berterima kasih dan pamit kembali ke kelas. Sampai di luar Letta mengeluarkan makiannya terhadap Aliyah.
“Udah gue bilang, hati-hati. Gue sih udah gak percaya, diliat dari cara ngomong sama kelakuannya,” kata Dhira dengan santainya.
“Makasih ya, Dhir. Padahal lu gak ada di sana, lu jadi bohong karena gue.”
“Selow aja, gue ‘kan selalu bohong sama kelima cowok gue.”
Letta hanya tersenyum maklum dan hatinya cukup lega sekarang. Hampir saja nama baiknya tercoreng hanya karena fitnah itu.
"Haaah! Aturan di SMP ini memang merepotkan!" pekik Letta merenggangkan badannya.
“Gak cuma di sini, semua sekolah pasti begini,” tambah Dhira.
Sesampainya di kelas, Letta dikerubungi anak-anak yang penasaran. Banyak pertanyaan mengenai kenapa dia dipanggil ke ruang BP/BK dan kebenaran perihal pacarnya yang anak SMA itu.
“Gue difitnah, gue gak pacaran. Gue cuma temenan sama cowok itu, itu pun gue dikenalin sama seseorang yang ada di kelas ini dan orang itu malah fitnah gue,” jelas Letta dengan polosnya.
“Waah, parah banget ya? Siapa emang?” tanya salah seorang perempuan.
“Iya siapa? Ada tukang fitnah ternyata di kelas kita,” seru yang lainnya.
“Eh, tapi lu deket sama anak SMA? Kalo iya, gak apa-apa, gue juga punya banyak temen SMA. Gak ada yang salah sama itu. Lu mau pacaran juga bebas aja. Kenapa tuh orang gak suka banget sama lu ya?”
“Mungkin karena Letta ini sejak kelas satu udah terkenal sering dideketin senior. Dia iri kali?”
Mereka saling sahut-sahutan menebak alasana dibalik pemfitnahan itu. Letta tidak mau mengikuti pembicaraan itu lebih jauh. Dia izin kembali ke kursinya bersama Dhira dan menyuruh Aliyah ke ruang BP.
“Lho, kenapa gue juga? Kalian ngomong apaan sama Bu Dini?” tanya Aliyah mulai panik.
“Gak tau, kita gak ngomong apa-apa, Bu Dini sendiri yang nyebut nama lu,” jawab Letta mulai duduk di bangkunya.
Aliyah bangkit dan mengajak Ruri, tapi gadis itu menolak karena merasa tidak dipanggil. Aliyah pun marah-marah dan mengancam akan menyebut namanya nanti. Dengan begitu Aliyah pergi juga sendiri dengan langkah kesal.
Ruri langsung berbalik meraih tangan Letta. “Let, gue minta maaf, sebenernya gue tau rencana Aliyah, tapi gue takut untuk nolak. Dia ngancem gue terus.”
Letta melihat wajah Ruri yang penuh penyesalan itu.
“Gak apa-apa, gue percaya, kok, sama lu.”
“Makasih ya, Let. Waktu itu gue udah tanya ke Aliyah apa bakal baik-baik aja karena gue paham lu masih polos. Tapi, dia suruh gue tenang. Padahal gue khawatir sama lu karena Wildan itu playboy. Aliyah dan gue termasuk korban, waktu gue mau nerima ajakan Wildan untuk jadi pacarnya, kebetulan temen kita dari kelas B bilang kalo mereka pacaran setelah gue kasih liat fotonya.”
Letta terkejut mendengarnya.
“Terus yang nyebarin rumor juga Aliyah, gue cuma bisa diem karena dia selalu marahin gue kalo gue nasihatin untuk berhenti. Aliyah itu mantannya Wildan yang sakit hati karena ngedeketin gue dulu. Untunglah gue gak jadi pacaran sama tuh cowok.”
“Nah, ini. Dua orang bodoh ketemu, cocok udah,” ucap Dhira tiba-tiba.
Ruri dan Letta sama-sama mau saja diperalat dan mudah terhasut. Karena masing-masing dari mereka juga memiliki rasa tidak enakan terhadap kawan.
Akhirnya mereka berdua berdamai dan Ruri meminta lebih dekat dengan mereka karena tidak mau dibawa ke jalan yang salah lagi oleh Aliyah.
“Ngomong-ngomong, yang kemarin beneran cowok lu?” tanya Ruri penasaran tanpa menanggapi omongan Dhira barusan.
“Bukan, hmm ... belum pacaran sih kayaknya, baru deket aja,” jawab Letta santai.
“Oh, baru deket. Kapan-kapan kalo lu mau ketemu, gue ikut ya? Biar gue kenal juga sama cowok lu. Hehe ... dia cakep lho, Let.”
“Iya kah?” Wajah Letta berseri-seri. “Eh, dia belum jadi cowok gue! Lagian gue gak tau kapan kita ketemu lagi, dia suka muncul tiba-tiba.”
“Yaa, gak apa-apa nanti aja kalo dia ke sini lagi.” Ruri tersenyum lebar pada Letta yang akhirnya mengiyakannya.
Dhira yang mendengar percakapan mereka itu hanya bisa menepuk dahi dan geleng-geleng kepala. Dia berbisik dalam hati, kerjaan lagi deh gue nyadarin bocah polos satu ini nanti.