HE'S NOT ACTING

1076 Words
**Genta : “Kalau gue sih, setuju saja. Lagi pula, itu adalah hal bagus. Gue jadi bisa lebih mudah untuk pendekatan sama Nayla.” Membaca pesan balasan berisi persetujuan dari Genta, Danur tak heran. Sudah jelas, Genta akan dengan senang hati menerima permintaan yang sang gadis tujukan. Setelah itu, Danur memasukkan kendaraan berjenis SUV ke dalam gerbang. Menutup pintu pagar dengan rapat. Menapak menuju sisi dalam rumah. Menggapai koran yang sengaja ditinggalkan oleh Nayla. Pemuda itu segera membawa masuk koran tersebut menuju kamar. ****** Di dalam kamar pribadi. Danur membaca ulang pemberitaan yang sudah tertulis pada media cetak. Mengusap puncak kepala dengan kasar. Membatin dalam. Wahai, Nawang. Siapa pun lo, gue harap lo takkan menampakkan diri di depan gue lagi. Jikalau, lo bersikeras. Setidaknya, berikan petunjuk akan sosok lo mulai dari sekarang. Jangan membuat gue berlaga menjadi seorang detektif, yang harus memecahkan rahasia di balik arwah bergentayangan lo. Usai memastikan koran tersebut terlipat rapi, Danur menyimpan media cetak ke dalam laci. Beralih menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun, “Astaga! Kau mengejutkan Kakak saja,” Danur berdecak. Sesaat usai mendapati sosok Luna sedang bersindekap di balik ambang pintu yang terbuka. “Minggir. Kakak hendak ke kamar mandi,” Ia mengulang kalimat dengan perintah. Hanya saja, Luna terus bergerak menghalangi. Berkata, “Enak saja! Aku sudah membantumu agar tak dimarahi oleh Papa dan Mama. Lantas, tak ada balasan apa pun untukku?” “Memang, apa yang sedang kau inginkan? Uang untuk membeli pulsa? Atau, jajanan?” Danur bertanya. Memandang lekat manik mata Luna yang membulat sempurna. Sang adik semata wayang menggeleng sebanyak dua kali. Berujar, “Tidak. Aku hanya ingin memintamu untuk pergi menonton dengan teman perempuanku. Itu saja.” Sontak, “HIA! Kau menjadikan Kakak sebagai bahan taruhanmu lagi di sekolah?” Danur melengkingkan nada. Sembari terkikik kecil, Luna menyahut ‘iya. Menambahkan, “Lagi pula, itu salahmu sendiri. Coba saja, kau memiliki kekasih. Mereka takkan mengejar-ngejarmu melaluiku. Aku kerepotan sekali. Padahal, kau hanya dua kali menjemput ke sekolah. Namun, wajahmu yang tampan itu berhasil ditemukan oleh mereka di dalam sosial media. Dan, lihatlah! Teman-teman perempuanku telah menjadi fans garis kerasmu, Kak.” “Kalian ini masih SMA. Mengapa menyukai anak kuliahan seperti Kakak?” Issh! Luna berdesis. Menyahut, “Justru itu, Kak. Kau lebih tua beberapa tahun dari kami. Jadi, pesonamu itu semakin digandrungi siswi seperti kami.” Mendengar sang adik terus menyahut, Danur menggeleng tak heran. Luna memang kerap enggan untuk kalah pada setiap perdebatan. Namun, perihal permintaan menonton bersama seorang siswi SMA, sampai kapan pun Danur takkan mengabulkannya. “Sudah! Cepat minggir dari hadapanku, sekarang,” Sang kakak kembali memerintah. Luna hanya bisa pasrah. ****** Beberapa menit kemudian. Danur baru menuntaskan agenda membersihkan badan. Ia sedang menggosok rambut yang basah. Berjalan keluar dari dalam kamar mandi di lantai dasar rumah. Tiba-tiba, pemuda tersebut tersentak. Namun, segera tersadar. Beralih menghampiri sumber suara pada layar televisi yang sedang menyala. “Luna?” Danur menyapa siswi SMA yang sedang terbahak. Saat itu, sang adik jelas-jelas sedang menikmati acara bertajuk drama korea di layar televisi berukuran besar. Lantas, sosok berambut panjang yang kulihat di samping sisi luar kamar mandi tadi adalah dia? Haish! Dasar hantu wanita tak tahu diri. Di saat matahari sedang terik saja, dia berani menampakkan diri. “Ada apa sih, Kak? Mengapa kau hanya terdiam setelah memanggilku?” Luna menyahut. Merasa penasaran dengan sapaan Danur yang setengah-setengah. Sembari menyampingi posisi duduk sang adik yang sedang bersandar pada sisi badan sofa, Danur mengecilkan volume suara. “Apa yang sedang kau lakukan, hah?” Luna memekikkan suara. Menatap tajam sang kakak. Danur mengajukan pertanyaan, “Apakah kau tak pernah melihat penampakan wanita di dalam rumah, Lun?” “Pernah,” Luna menyahut singkat. Mengangguk kepala. Bergerak meninggikan volume televisi. Menatap kembali tampilan oppa korea yang sedang tampil di dalam drama. “Benarkah?” “Yah! Itu, tentu saja. Melihat Mama ketika sedang marah-marah, bagaikan penampakan hantu wanita bagiku.” Haha! Luna mengakhiri jawaban berisi kalimat canda dengan tawa membahana. Issh, Danur berdesis. Mengacak sisi puncak kepala sang adik. Sejatinya, Danur tak pernah memiliki kemampuan berlebih sedari kecil. Sehingga, mendapati dia mampu melihat sosok tak kasat mata, Danur enggan percaya begitu saja. Meski begitu, penampakan hantu yang kerap menyebut nama Nawang, membuat pikiran Danur terus menjadi tak tenang. Kemudian, “Oh ya, Kak. Aku adalah pengikut akun Kak Genta. Dia hebat sekali. Dalam sehari bisa mengunggah video bertema horor sebanyak dua kali. Dan, itu rutin sekali. Yang ingin kutanyakan padamu, apakah kemarin kau tak pulang ke rumah karena benar-benar berada di kampung keramat?” Luna mengeluarkan suara. Sesaat usai teringat pada unggahan milik sahabat sang kakak. “Jadi, Genta sudah mengunggah video terbaru?” Luna mengangguk. Menjawab, “Benar, unggahan terbaru miliknya sudah beredar sekitar satu jam yang lalu.” Sontak, Danur segera meraih ponsel milik sang adik. Berpamitan untuk berselancar di dalam laman media bertajuk unggahan video. Benar saja, di dalam video tersebut Genta sedang merekam momen antara pria tersebut dan Reksa, yang sedang menjelajah sebuah rumah tua. Saat itu, gambaran yang ditunjukkan bukan hasil rekaman dari Genta. Melainkan, sosok Reksa diduga membawakan kamera untuk merekam wajah Genta juga di sana. Lima menit usai mereka menjelajah seluruh penjuru ruang, tiba-tiba layar kamera terjatuh dan menggelap. Suara aneh merasuk ke dalam gendang telinga. Tak berapa lama, Genta sudah dalam posisi berswa-video. Ia sedang bercerita jikalau sosok sang sahabat mendadak menghilang dari hadapan. Lalu, Reksa justru kembali ditemukan dalam keadaan kerasukan. Pada saat bersamaan, “Kau lihat sendiri kan, Kak? Kak Genta pandai sekali berakting. Kak Genta benar-benar meyakinkan kami dalam setiap video yang dia unggah. Maka dari itu, tak aneh jikalau para subscribers amat menunggu unggahan terbaru dari dia. Haha! Termasuk, aku.” Danur mendengkus. Menyahut, “Itu bukan akting, Lun. Kejadian mistik memang sempat terjadi pada kemarin malam.” “HAH?” Luna melantangkan nada. Tak lagi berfokus pada gambaran oppa korea. Lebih berminat untuk mendengar cerita secara lengkap dan langsung dari sumber yang ada. Danur yang semula hanya kelepasan berbicara, tak lagi bisa menyanggah. Ia terpaksa menceritakan kejadian sesungguhnya di belakang layar kamera. Tak lain, perihal sosok Genta yang hampir dicekik oleh Reksa. Tentu, hingga saat Danur datang untuk menyelamatkan Reksa, yang sedang dikendalikan oleh makhluk gaib.  Hrr! Luna bergidik ngeri. Sesaat usai mendengar seluruh kisah yang dibawakan oleh sang kakak baru saja. Meski begitu, ia meminta agar Danur menyampaikan pesan pada Genta. Yakni, sebuah permintaan secara langsung supaya pemuda tersebut terus mengunggah video; selagi tiga sekawan itu, mengerjakan KKN di Kampung Lelegean.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD