ONE YEAR AGO

1079 Words
Tak terasa, hari beranjak sore. Saat itu, kedua orang tua Danur telah kembali ke rumah. Mendapati kendaraan berjenis SUV yang terparkir di depan halaman, sosok Rendra segera mencari keberadaan sang putra. “Di mana kakakmu, Luna?” “Seperti biasa, Pa. Jikalau, tak berada di rumah Kak Genta. Berarti, dia sedang berada di rumah Kak Reksa.” Dengan segera Rendra menujukan panggilan keluar. Menekan nomor pada kontak milik Danur. Suara pemuda dari seberang segera terdengar. Seorang ayah dengan perawakan tegap, garis wajah tegas dan sempurna, baru saja meminta agar Danur pulang ke rumah. ****** Tak menunggu lama, suara pintu pagar terdengar terbuka. Danur melangkah. Sosok Rendra sedang menunggu pemuda tersebut di teras. “Luna bilang, kau sedang mengerjakan KKN di luar kota?” Sang ayah bertanya. Mengkonfirmasi info yang sempat ia dapat dari sang putri. “Benar, Pa. Hanya saja, untuk minggu ini kami masih harus kembali ke kampus. Ada apa?” Danur menyahut. Menjejalkan p****t sesaat usai berkilah. Membenarkan kebohongan sesuai dengan yang sempat diucapkan oleh Luna pada sang ayah. “Apakah kau satu tim juga dengan Reksa dan Genta?” “Tentu saja, Pa.” Rendra mengangguk kepala. Setelah itu, pria matang tersebut menujukan permintaan agar Danur menemani Reksa untuk kontrol ke rumah sakit. Semenjak Reksa mengalami kecelakaan pada satu tahun silam, secara tak langsung Rendra menjadi wali dari sosok pemuda itu. Mengingat, sahabat pria yang sedang bersibuk dengan bisnis di luar negeri, sudah mengamanahkan sang putra semata wayang kepada dia. “Memang, Reksa masih membutuhkan kontrol ke dokter, Pa? Dia terlihat baik-baik saja.” “Kita tak pernah tahu efek jangka panjang dari pasien pasca cidera kepala. Kau tahu sendiri, kecelakaan yang sempat menimpa Reksa pada waktu itu terbilang lumayan parah.” Kali itu, berganti sang putra yang menggerakkan kepala. Mengangguk paham pada pokok bahasan yang sedang mereka perbincangkan. *** *Flashback on* Tepatnya, pada setahun yang lalu. Tak biasa, Reksa tidak berada di rumah. Waktu itu, Danur berusaha menghubungi sang sahabat. Jikalau, pada liburan semester, keluarga Danur akan berlibur bersama; sama halnya dengan keluarga Genta, berbeda dengan keluarga Reksa. Sosok Satria Pambudi dan sang istri terus bersibuk di luar negeri. Mereka hanya sesekali pulang ke Indonesia. Itu pun, hanya untuk tinggal dalam beberapa minggu saja. Sehingga, mendapati Reksa tak berada di rumah dan tak bisa dihubungi oleh Danur, ia dan sang ayah menjadi khawatir. Dapat dipastikan bahwa kepergian Reksa tak bersama kedua orang tua. Maka dari itu, Danur dan Rendra menangguhkan rencana bepergian pada waktu itu. Berniat untuk menunggu Reksa memberi kabar. Lagi pula, mereka memang hendak mengajak pemuda tersebut untuk turut berlibur bersama. Hanya saja, Bukan sebuah kabar baik yang Danur dan Rendra dapati. Melainkan, panggilan masuk dari sebuah rumah sakitlah yang mereka jumpai. Saat itu, sebuah rumah sakit daerah yang terletak jauh dari pusat kota, menghubungi nomor Danur. Pemuda tersebut terkejut setengah mati. Tak lain, ketika mendengar sosok Reksa baru saja mengalami kecelakaan mobil di wilayah pedesaan. Informasi akurat itu segera membuat keluarga Estiawan berangkat menuju alamat rumah sakit daerah, yang sudah disebutkan oleh pihak penelepon. Setiba di sana, Danur tak henti bertanya-tanya. Untuk apa Reksa bepergian sejauh itu seorang diri? Itulah, yang sempat terselip di dalam benak Danur pada waktu itu. Meski begitu, saat genting tersebut bukan waktu yang tepat untuk memikirkan arah pergi Reksa pada sebelumnya. Melainkan, mereka harus berfokus pada penanganan darurat untuk si pasien kecelakaan. Rendra segera meminta pihak rumah sakit kota terdekat agar mengambil alih perawatan untuk putra sang sahabat. Ia bersedia menanggung seluruh biaya yang diperlukan. Semenjak itu, tak ada agenda berlibur bagi keluarga Estiawan. Danur sudah pasti akan memilih untuk menunggu sang sahabat yang sedang menjalani perawatan. Beruntung, Luna tak memprotes kegagalan kepergian mereka untuk berlibur. Detik-detik menunggu Reksa keluar dari dalam ruang operasi, di saat itulah Danur mulai mendapati hal janggal. Ia mulai sering merasakan merinding, kesemutan dan berat pada sisi tengkuk bagian kiri serta kanan. Lalu, pengelihatan sosok tak kasat mata menjadi perubahan paling mengganggu keseharian. Pada mulanya, Danur hanya mengira jika ia sedang mengalami sindrom kelelahan yang begitu berat. Namun, penampakan yang terus mengganggu. Menyebabkan, pemuda itu hingga mendoktrin diri. Jikalau, pemandangan yang sempat tertangkap di dalam retina, merupakan akibat dari cerita-cerita horor yang sering dibawakan oleh sang adik perempuan. Yah! Luna senang sekali menonton acara bertajuk misteri. Meski begitu, penyanggahan yang Danur lakukan tak ada gunanya sama sekali. Hantu wanita itu tetap saja berkeliling di hadapan. Bahkan, Danur sudah menjumpai berkali-kali. Jikalau, sosok tak kasat mata itu sering berada di sekitaran tubuh Reksa; baik ketika pemuda tersebut sedang terbaring di ranjang perawatan, mau pun ketika Reksa sudah dinyatakan untuk pulang. *Flashback off* *** “Jadi, kau jangan lupa untuk mengantar Reksa ya, Nak? Kau tahu sendiri, jikalau Reksa sudah pasti akan menolak jika Papa yang menyarankan.” “Baiklah, Pa. Danur akan memenuhi amanah yang baru saja Papa berikan.” Kemudian, ayah dan anak itu mengakhiri perbincangan. Rendra beranjak masuk ke rumah. Sedangkan, Danur masih terduduk di teras. Pada saat bersaman, Drrt drrt! Beberapa pesan menghujam. Tak lain, berasal dari grup obrolan para tiga sekawan. **Genta : “Untuk apa Bokap lo minta lo balik, Nur?” **Genta : “Pasti, lo kena marah gara-gara semalam nggak balik ke rumah, kan?” **Genta : “Issh! Maka dari itu, contoh gue. Gue sudah mempersiapkan seribu satu alasan sebelum jadi bahan ocehan Mama.” **Reksa : “Jangan lo dengerin, Nur. Kasihan Tante Kasih kalau harus diperlakukan sama dengan Tante Nimas. Sudah pasti, Nyokap Genta itu enek dan gedek banget sama anak laki-laki mereka karena pandai sekali membuat alasan.” **Danur : “Haha!” **Danur : “Kalau gue sih, bagian membuat alasan sudah diambil alih sama Luna.” **Genta : “Idih! Sombong lo. Mentang-mentang adik lo bisa diajak kompromi.” **Genta : “Coba saja, adik gue juga sama kayak Luna. Beuh! Setiap hari dah, gue keluyuran.” Obrolan demi obrolan tak penting, terus berlanjut. Sebelum sebuah pesan masuk mengalihkan perhatian Danur. Ia segera meninggalkan grup obrolan. Saat itu, Nayla baru mengabarkan. Bahwa, sistem informasi yang harus ia tembus untuk mendapatkan identitas para mahasiswa dan mahasiswi kampus sedang diemban oleh penjaga baru. Penjaga wanita itu lebih killer dari sebelumnya. **Nayla : “Tapi, lo jangan khawatir, Nur. Dia pengikut setia laman Hideous Movie Channel. Gue sudah ajak dia untuk mengobrol. Sepertinya, dia bakal kasih ijin kalau gue bisa atur jadwal meet and greet bareng pemilik akun horor itu. Yah! Genta. Lo tinggal bujuk sahabat lo, yang satu itu aja. Setelah itu, urusan identitas si Nawang bakal gue kelarin dengan mudah.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD