DISTURBING GHOST (1)

1083 Words
Genta tak pernah menyangka, jikalau saat Danur dan Reksa sedang bersitegang, kedua pemuda itu akan terlihat begitu dingin satu sama lain. Sehingga, Genta hanya bisa memberi waktu kepada kedua sahabat untuk tenang lebih dahulu. Setelah itu, barulah ia akan mencoba untuk mencairkan suasana diantara Danur dan Reksa. Beruntung, hari itu bertepatan dengan tim KKN mereka yang harus membubuhkan tanda tangan di bagian kemahasiswaan. Dengan sedikit terpaksa, Danur dan Reksa harus berada di dalam satu waktu yang sama. Termasuk, dengan Genta serta Nayla. ****** Kini, keempat muda mudi tersebut sedang berbaris rapi untuk menunggu giliran. Di sela mereka menunggu antrian, suara Genta terdengar. Memberikan candaan pada sosok kedua sahabat. Sementara itu, Nayla segera bertindak peka akan tanggapan Danur dan Reksa yang tak seperti biasa. Yakni, tertawa akrab saat Genta bersikap konyol di hadapan mereka. Sehingga, mahasiswi tersebut mengeluarkan suara. Menujukan kalimat pada Reksa. Meski, pemuda itu sempat berekspresi tak suka. “Sa? Lo jangan marah sama Danur. Jikalau, memang lo tak mengijinkan gue untuk berangkat bersama kalian. Maka—” Sontak, “Apa lo bilang?” “Ehm, bukankah kalian bersitegang karena Danur mengutarakan permintaan gue perihal berangkat bersama kalian sewaktu KKN nanti?” Seketika, Nayla berujar kikuk. Ia salah sasaran. Reksa belum mengetahui perihal ijin tersebut. Genta segera menengahi. Menepuk pundak Reksa. Berbisik, “Jauh sebelum lo bersitegang soal kedekatan Danur dan Nayla tadi, Nayla sudah lebih dulu meminta Danur untuk mengutarakan ijin tersebut. Jadi, saran dari gue lo jangan semakin naik darah.” Hhh, Reksa menghembus napas panjang. Berujar, “Gue nggak bakal larang lo untuk berada dekat dengan kita. Selama tujuan lo sekedar untuk melaksanakan KKN bersama kami. Selain itu, gue tak yakin. Haruskah, gue mengijinkan lo untuk dekat secara pribadi dengan salah satu diantara kami.” GLEK! Sontak, Nayla menelan ludah dengan susah. Sedangkan, Danur dan Genta segera menyimpulkan bahwa Reksa benar-benar sedang memberi peringatan dengan penuh penekanan. Pada saat bersamaan, “Anggota tim KKN Kampung Lelegean,” Seorang dosen bagian kemahasiswaan berseru dengan lantang. Ia berhasil membuyarkan ketegangan diantara keempat muda mudi di sana. ****** Pukul empat sore. Danur masih berada di area kampus. Mata ajar terakhir baru selesai pada sepuluh menit yang lalu. Di sela ia hendak pergi bersama Genta untuk menuju pusat olahraga, Reksa terlihat menyeberang jalan besar seorang diri. Danur tak heran. Mengingat, sebelum itu Genta sudah menyampaikan bahwa Reksa takkan pulang bersama dirinya. “Sudahlah, Bro. Biar saja. Lagi pula, masing-masing dari kita sudah pasti memiliki kehidupan pribadi. Dan, yah. Gue dapat mengerti keinginan Reksa. Mungkin dia sedang ingin melakukan hal di luar sepengetahuan kita.” “Tapi, Ta?” “Tapi, apa?” Genta menyahut. Ehm, "Tidak. Tak apa. Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang saja.” Setelah itu, kedua pemuda tersebut berkendara dalam kendaraan masing-masing. Mengemudi pada satu arah yang sama. Yakni, pusat olahraga. ****** Setiba di sana. Danur dan Genta telah menempati posisi alat olahraga pilihan mereka. Jikalau, Danur benar-benar ingin melatih otot. Tak halnya dengan Genta. Seperti biasa, pemuda tersebut berolahraga sekaligus melakukan penjajakan dengan wanita-wanita muda, yang juga mengisi waktu luang di sana. Astaga, Genta! Tabiat lo itu, kagak berubah memang. Danur berkomentar. ****** Satu jam kemudian. Danur telah lebih dulu menuntaskan agenda berolahraga. Sedangkan, Genta sedang menunda waktu untuk menyempatkan diri bertukar nomor dengan salah seorang wanita muda, yang berhasil terperangkap oleh pesona tampan di wajah. Namun, di waktu Danur hendak membersihkan tubuh pada area pemandian khusus pria, bayangan seorang wanita berpakaian putih dan berambut panjang, muncul begitu saja. Tepat sesaat usai ia membuka penutup bilik pemandian. Haish! Danur mengeram. Menutup sisi tubuh yang saat itu sedang bertelanjang d**a. Mengumpat, “Lo itu benar-benar tak tahu diri. Apa lo berada di sini bukan untuk menakuti melainkan untuk mengintip gue, hah?” Sontak, “Hei, ya! Apa yang sedang lo lakukan, Nur? Lo sedang mencerca siapa?” Genta segera bersuara. Sesaat usai menapak pada sisi dalam kamar mandi berukuran besar. Menghampiri sisi bilik dengan tirai yang terbuka. “Tak ada siapa-siapa di dalam bilik mandi ini, Nur. Sadar, Nur. Sadar!” Genta menghentak. Menggeleng kepala. Kemudian, menghampiri bilik lain di dalam ruang yang sama. Benar saja, hantu wanita tersebut segera menghilang bertepatan dengan Genta mengeluarkan suara. Danur bernapas lega. Melanjutkan niat semula. Bergegas membersihkan tubuh dan segera pulang ke rumah. ****** Di area parkir basemen. Mobil milik Genta telah melintas lebih dulu. Pemuda itu baru saja memberi tanda berlalu dengan membunyikan klakson secara singkat. Sementara itu, Danur masih bersiap untuk memasang sabuk pengaman. Setelah memastikan bunyi ‘klik’ terdengar, ia segera menancap pedal gas. Tiba-tiba, Di sela Danur memutar kemudi ke arah kiri, zona pandang pemuda tersebut mendapati sosok hantu wanita sedang terduduk pada jok penumpang. Cit! Ban mobil berdecit. Sesaat usai Danur menginjak rem dengan dalam. Mengeram kesal, “Lo? Lo itu benar-benar mengganggu, tahu? Sebenarnya, apa yang lo mau? Ah! Perihal permintaan tolong lo untuk membuktikan jika kasus bunuh diri lo itu tidak benar? Oke—” Danur menghentikan ucapan. Memukul kemudi dengan kasar. Ia melanjutkan, “Gue bakal bantu lo untuk membuktikan bahwa lo sengaja dibunuh. Tapi, tak semudah itu, Hantu! Maksud gue, tak semudah itu arwah Nawang. Lo kira, mudah bagi gue untuk menuduh dan menjadikan sahabat gue sendiri sebagai tersangka? Anjir, lo! Meski, Reksa kerap tertutup dan membuat gue kesal akan perilaku misteriusnya yang berlebihan. Gue nggak akan tega dan serta merta menjadikan dia tersangka dengan mudah. Gue juga membutuhkan bukti yang akurat. Jadi, please! Lo enyah dari hadapan gue,” Danur meminta. Penuh gurat frustasi di wajah. Namun, Tin! Suara klakson terdengar dari arah belakang. Dua buah mobil terlihat telah mengantri untuk melanjutkan perjalanan. Pada detik itu juga, sosok arwah Nawang tersebut menghilang. Danur mendengkus. Kembali menginjak pedal gas. ****** Di dalam perjalanan. Dering ponsel terdengar. Saat itu, sang adik perempuan menujukan panggilan masuk. Danur segera menyahut melalui tombol kemudi yang ia tekan. “Halo, Lun?” “Kak? Kak? Kau sedang berada di mana?” Suara Luna terdengar panik dari seberang. Sontak, “HEI? Hei, tunggu dulu, Luna. Ada apa? Berbicaralah dengan perlahan. Kakak tak bisa mengerti maksud dan ucapanmu jika kau terburu-buru seperti itu.” “Bergegaslah pulang. Baru saja, Kak Reksa datang ke mari. Dia memberi sepanci makanan berisi kari ayam. Berdalih, jika ia tak mampu menghabiskan ayam-ayam itu seorang diri. Tetapi, lihatlah! Ayam potong di dalam panci ini dipenuhi dengan belatung berwarna putih. Aku takut sekali. Papa dan Mama belum tiba di rumah. Jadi, bergegaslah pulang, Kak. Aku mohon.” Mendengar nada bicara Luna yang ketakutan. Danur segera menancap pedal gas. Berjanji bahwa ia akan segera tiba di rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD