TENSE SITUATION

1473 Words
Ketiga pemuda tersebut baru saja berpindah pada ruang tamu. Danur tak henti memperhatikan Reksa dengan seksama. Sedangkan, Genta terus melontarkan pertanyaan ini dan itu. Banyak kalimat tanya berisi kejadian horor yang mungkin terjadi di saat Reksa tergeletak dengan tiba-tiba. “Lo itu hanya seorang pembuat konten yang sedang mencari-cari bahan baru untuk unggahan video lo saja. Jadi, jangan sangkut pautkan kejadian gue tergeletak di lantai tadi.” Issh! “Jika, bukan karena kejadian mistis. Lalu, apa alasan lo terjatuh dan pingsan? Bukankah, pada kali terakhir lo juga mengalami hal yang sama? Bedanya—“ Genta menghentikan ucapan. Melirik sekilas pada sosok Danur, yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka berbincang. "Bedanya apa, Ta? Mengapa lo berhenti berbicara saat menatap gue?” Danur menimpali. Menyorot tajam manik mata si pembicara. “Bedanya, waktu itu gue berpindah tempat begitu saja, Nur,” Reksa mewakili jawaban yang hendak dilontarkan oleh Genta. “Maksud lo?” “Yah. Maksud kita, sewaktu berada di rumah tua itu, Reksa mendadak hilang dari pandangan pada saat penerangan tiba-tiba padam; seperti kepadaman lampu yang baru saja dialami oleh Reksa di rumah ini,” Genta menimpali. Hening untuk beberapa detik. Sebelum, “Sudahlah! Yang terpenting, alasan gue jatuh dan pingsan tadi bukan karena hal gaib. Melainkan, gue tak sengaja menginjak genangan air akibat menumpahkan gelas berisi minuman sebelumnya.” “Parah! Lo teledor juga rupanya,” Genta menyahut. Menggeleng tak percaya jikalau sosok Reksa yang terbiasa rapi dan siap dalam segala hal, bisa ceroboh juga. “Gue juga manusia kali, Ta,” Reksa menjawab. Menepuk keras sisi pundak sang sahabat. “Tapi, Nur. Gue rasa obat-obatan gue tertinggal di rumah lo,” Reksa menambahkan. Kali itu, ia sedang berujar pada Danur. “Selagi memasak di dapur, kepala gue tiba-tiba pusing. Ternyata, akibat belum sempat meminum obat. Dan, nahas! Gue justru terpeleset sewaktu melintas di sisi samping meja. Alhasil, gue pingsan dah.” Danur bingung harus menanggapi dengan seperti apa. Sejujurnya, ia memiliki banyak kalimat tanya. Entah mengapa, kejadian dan cerita yang baru saja ia dengar, tak membuat pikiran di dalam kepala merasa lega. Namun, “Sepertinya, esok pagi gue takkan sempat untuk mampir ke rumah lo. Sopir di rumah gue harus mengantar Bik Marni menuju terminal. Jadi, besok gue harus mengantar Luna sebelum pukul tujuh ke sekolah. Maka dari itu, gue bawa obat-obatan lo ke kampus saja,” Danur memberi alasan atas ketidak mampuan dirinya untuk mengembalikan obat-obatan milik Reksa yang tertinggal. “Tak masalah, Nur.” Obrolan terjeda. Sesaat usai sebuah suara terdengar berisik di dalam gendang telinga. Sontak, Genta beranjak dari posisi semula. Memasang mode menyala pada perekam video di dalam kamera. Sementara itu, Reksa dan Danur telah terbiasa. Mereka berdua hanya menepuk jidat dan mengijinkan Genta untuk menghampiri sumber suara. Dan, “Sa? By the way, sore tadi sepulang dari rumah gue, lo pergi ke mana?” Danur bertanya ketika mereka telah berada berdua saja di sana. “Ta-tadi sore—“ Reksa tergagap. Terlihat gugup dan enggan membalas kontak mata yang Danur tujukan. “Gu-gue, ada urusan.” “Urusan apa? Apakah urusan yang lo maksud adalah menghadiri pesta ulang tahun mahasiswi manajemen keuangan?” Danur memberi skak mat. Spontan, Reksa membidik tajam manik mata sang lawan bicara. Menjawab, “Jika memang iya. Lantas, mengapa? Apakah gue tak boleh menghadiri pesta ulang tahun dia?” “Ah, tidak-tidak! Bukan itu yang gue maksud,” Danur berujar sembari menggerakkan kedua telapak tangan sebagai pertanda ‘tidak demikian’. “Lalu, mengapa lo bertanya menyelidik seperti itu?” Ehm, “Gue hanya merasa penasaran. Lo tiba-tiba pergi dari rumah gue tanpa berpamitan. Mengirim pesan jika lo sedang sakit perut dan bergegas pulang. Tetapi, tak lama setelah itu lo sudah berada di satu acara yang juga dihadiri oleh Genta. Apakah semua hal itu hanya sebuah kebetulan? Ataukah, ada hal yang sedang lo sembunyikan?” “Apa maksud lo, Nur?” Reksa mulai mengubah nada bicara. Merasa terprovokasi dengan kalimat yang Danur lontarkan. “Gue hanya merasa lo tak biasa untuk pergi ke acara besar. Kalau boleh gue tahu, apa hubungan lo dengan mahasiswi yang hari ini berulang tahun itu?” Ck! Reksa berdecak. Menyeringai kesal di wajah. Berkata, “Apakah karena kita bersahabat, maka lo harus mengetahui status hubungan gue dengan seseorang?” Seketika, Danur menelan ludah dengan susah. Tak kembali mendesak Reksa untuk bercerita. ****** Keesokan hari. Danur telah bersiap dengan rapi. Setelan kemeja yang sengaja digunakan dengan dalaman kaos berlengan pendek, menjadi gaya berpakaian pada pagi itu. Sembari mengedarkan pandangan di penjuru komplek, ia sedang memikirkan perihal sahutan Reksa yang terdengar kesal pada kemarin malam. Di sela Danur melamun, sosok Luna bergerak mengendap-endap. Siswi berseragam putih abu-abu itu baru saja mengejutkan sang kakak. Kemudian, mereka berpindah ke dalam kendaraan secara bersamaan. Deru kendaraan terdengar. Lagi-lagi, Luna bercerita tentang unggahan video dari laman milik Genta. Saat itu, video dengan judul tak biasa, segera menarik perhatian Danur. Tak lain, disebabkan karena latar video yang berasal dari tempat tinggal Reksa. “Aku hingga mengulang video rekaman ini sebanyak dua kali. Aku benar-benar melihat bayangan wanita sedang melahap ayam potong di bagian belakang rumah Kak Reksa, Kak,” Luna berujar. Danur terkejut setengah mati. Beruntung, ia tetap bisa mengendalikan kemudi. Meski begitu, wajah si pria berubah menjadi pucat pasi. Mengingat, Reksa memang tak mungkin membeli beberapa ekor ayam untuk dimakan seorang diri. Namun, akankah arwah gentayangan bisa melahap ayam? Danur menelengkan kepala. Tak benar-benar percaya. “Sudah pasti, Genta mengedit beberapa bagian di video miliknya, Luna. Jadi, kau jangan percaya begitu saja,” Pada akhirnya, kalimat itulah yang terlontar. Sedangkan, sang adik hanya mencebik dengan kesal. Ia telah terbiasa dengan tanggapan Danur yang selalu bertentangan. ****** Perjalanan menuju arah sekolah Luna terbilang cepat. Rendra dan Kasih sengaja menyekolahkan sang putri dekat dengan hunian. Sehingga, pagi itu tepat sebelum pukul tujuh. Danur telah memberhentikan mobil di sekitar area sekolah. Tentu, itu karena Luna enggan sang kakak memarkir kendaraan tepat di depan gerbang. Luna enggan ditagih untuk memperkenalkan Danur pada para teman perempuan. “Seriusan? Kakak antar kamu sampai di sini saja?” Danur mengkonfirmasi. Sembari merapatkan pegangan pada tas, Luna mengangguk cepat. Berkata, “Tentu saja. Itu karena kau enggan menonton dengan salah satu teman sekolahku. Jadi, tak mungkin aku membiarkanmu menampakkan diri di depan pintu gerbang.” Melihat sang adik bersikeras, Danur hanya bisa mengiyakan. Mengijinkan agar Luna turun dari dalam kendaraan. Meski begitu, ia tak serta merta meninggalkan Luna begitu saja. Danur masih menunggu hingga mendapati langkah sang adik menapak tepat ke dalam sisi halaman sekolah. Kemudian, barulah ia menginjak pedal gas. Mengarahkan kemudi menuju Universitas. ****** Setiba di kampus. Danur memarkir mobil tepat di samping kendaraan berjenis SUV yang sudah lebih dulu berada di sana. Lalu, mengedarkan pandangan. Mencari kendaraan milik Genta. Dan, benar. Pada sebuah sudut yang khas, mobil mewah itu telah terparkir dengan jajaran jenis kendaraan yang sama. Danur bergegas menuju ruang kelas. Ia tak lupa membawa serta bungkusan berisi obat-obatan milik Reksa. Di sela pemuda tersebut melangkah, sosok Nayla menghampiri secara tiba-tiba. Ia berjalan menyampingi langkah Danur yang lebar. Dengan peka pria itu berujar, “Gue belum sempat bicara dengan Reksa. Jadi, jangan tagih gue perihal permintaan lo untuk berangkat bersama.” Cih! “Memang, hanya hal itu yang hendak gue bicarakan dengan lo? Tentu, tidak. Gue hendak menginfokan kepada kalian. Maksud gue, melalui lo. Kalau, hari ini tim kita harus menghampiri ruang kemahasiswaan. Kita harus membubuhkan tanda tangan persetujuan untuk melaksanakan KKN. Jadi, kalian jangan lupa untuk datang.” Mendengar pengingat yang Nayla berikan, Danur hanya memanggutkan dagu. Ia segera paham. ****** Setelah itu, langkah kedua muda mudi tersebut telah menapak pada sisi lobi jurusan. Mereka menghentikan langkah tepat di depan lift yang ada. Mengantri dengan sejumlah mahasiswa dan mahasiswi lain. Ting! Lift berdenting. Tak lama kemudian, mereka telah tiba di lantai tujuan. Berjalan berdampingan hingga menimbulkan bisik demi bisik para mahasiswi yang sedang berada di luar kelas. Merasa diperhatikan seperti itu, Danur tak heran. Ia sudah terbiasa. Hanya saja, itu merupakan hal berbeda bagi Nayla. Mahasiswi tersebut merasa senang karena bisa menjadi pusat perhatian. Ia bergumam. Asyik! Gue pasti bakal menang taruhan. ****** Kini, Danur dan Nayla telah menapak pada sisi ruang kelas. Reksa memperhatikan gerak gerik sang sahabat. Tentu, Genta juga membidik Danur dari sebuah sudut berbeda. Lalu, Genta meninggalkan posisi semula. Yakni, menjauh dari kerumunan mahasiswi di dalam kelas yang sama. Berjalan menghampiri posisi Reksa berada. Sudah pasti, Danur akan menuju posisi tersebut juga. Dan, “Nur? Sebaiknya, lo jangan terlalu dekat dengan Nayla,” Reksa mengeluarkan suara. Memberi saran. Danur menyipitkan mata. Membalas ucapan dengan dingin, “Bukankah, semalam lo sendiri yang bilang? Kalau, bukan karena kita bersahabat, kita menjadi berhak untuk mengetahui status hubungan satu sama lain dengan seseorang? Jadi, untuk apa lo sekarang mengatur dengan siapa gue berteman dekat?” Whoa? Genta berseru di dalam hati. Membatin. Apa yang sedang terjadi pada mereka berdua? Tak biasa, situasi tegang terjadi pada Danur dan Reksa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD