Bagaimana tidak, saat itu Luna baru saja bercerita. Jikalau, sewaktu ia berada di rumah berdua saja dengan Marni, suara tembang berbunyi secara lirih.
“Tembang?”
“Benar, Kak. Kau tahu tembang Lingsir Wengi, tidak? Issh! Kau pasti tak tahu. Tunggu dulu, aku akan memutarkan musik itu untukmu,” Luna beralih menggulir jemari pada telepon genggam. Mengetik sebuah judul lagu.
Di saat intro lagu terdengar, Danur bergegas menutup sisi speaker ponsel milik sang adik. Berdesis. Meminta agar Luna memasang earphone. Lalu, meraih dua benda berbentuk bundar untuk diletakkan pada sisi lubang telinga.
Earphone bluetooth baru saja memperdengarkan tembang yang Luna maksudkan. Seketika, Danur mengernyitkan dahi. Berujar, “Tembang lagu ini, siapa yang memutarnya di saat Kakak sedang pergi keluar tadi?”
Luna mengerutkan wajah. Berbisik, “Mana Luna, tahu? Luna takkan memutar lagu berbau menyeramkan seperti itu. Yah. Meski, aku kerap mendengar tembang tersebut pada saat menyaksikan unggahan video horor milik Kak Genta. Tapi, tak pernah kudengarkan dengan sengaja.”
Hhh!
Danur menghela napas dengan berat. Melepas dua benda yang masih terhubung dengan perangkat elektronik milik sang adik. Berpesan, “Kalau begitu, jikalau ada hal aneh lagi di dalam rumah ini, kau harus segera memberitahukannya kepada Kakak.”
“Baiklah,” Luna mengangguk. Mengijinkan Danur beralih pergi dari posisi semula lebih dulu.
Setelah itu, gadis SMA tersebut bergidik ngeri usai berada di ruang tengah seorang diri. Berlari cepat menuju sisi kamar pribadi.
******
Jarum pada jam dinding baru saja berdentang tepat pada angka dua belas.
Dini hari itu, Danur masih belum memejamkan mata. Ia sedang berada di meja belajar sembari berfokus pada layar laptop yang menyala. Menyiapkan segala keperluan terkait bahan yang dibutuhkan saat menjalankan KKN.
Drrt drrt!
Sebuah pesan masuk ke dalam nomor ponsel Danur. Pesan dari salah seorang sahabat itu, baru saja memerintahkan agar ia beranjak menuju sisi jendela kamar di lantai dua. Lalu, meminta agar Danur mendongakkan kepala.
Daun jendela baru saja terbuka. Danur memusatkan pandangan pada sosok Genta yang sedang melambai. Lalu, panggilan masuk ditujukan oleh pemuda tersebut.
“Ada apa?” Danur menyahut panggilan.
“Bergegaslah turun. Temani gue untuk membuat konten di area komplek sebelah.”
“Apaan? Kagak. Malas gue,” Danur menolak. Memutuskan sambungan.
Namun, Genta tak kehabisan ide. Ia berjalan menuju sisi rumah lain yang berada tak jauh dari sana. Yakni, berbelok ke arah kanan usai mendapati pertigaan di ujung jalan. Setelah itu, ia akan segera menemukan tempat tinggal keluarga Pambudi, yang dihuni oleh Reksa seorang diri.
Setiba di depan kediaman sang sahabat, Genta merapatkan bibir. Malam itu, tak ada penerangan sama sekali pada bangunan berlantai dua yang sedang ia lihat.
Namun, pemuda itu sama sekali tak menyerah. Meski, terlihat tak sedang berpenghuni. Genta tetap melanjutkan langkah untuk mendekati sisi gerbang. Dan, benar saja. Saat itu, pintu pagar Reksa dalam keadaan terkunci.
Ada apa ini? Apakah Reksa tak sedang berada di dalam rumah? Memang, dia akan menginap di mana? Genta bertanya-tanya. Sesaat usai berkacak pinggang dengan sebelah tangan.
Dan,
Tut.. tut..
*Danur*
“Halo, Ta? Ada apa lagi?” Suara sang sahabat kembali terdengar.
“Gue sedang berada di rumah Reksa. Tetapi, rumah dia gelap sekali. Sama sekali tak ada pencahayaan.”
“Masa?”
“Iya. Buru lo ke mari. Gue penasaran. Reksa tak mungkin menginap di tempat lain, bukan? Jadi, mari kita memaksa masuk ke dalam rumah.”
“Baiklah, lo tunggu sebentar. Gue on the way ke rumah Reksa.”
Panggilan berakhir. Bersamaan dengan sosok Danur yang baru saja keluar dari dalam kamar. Berjalan menuruni anak tangga. Menuju sisi ambang pintu utama. Membuka dan menutup pintu tersebut dengan perlahan. Tak lupa membawa serta kunci pribadi sebagai bekal untuk kembali pulang nanti.
Setelah itu, dengan langkah lebar ia bergegas untuk tiba di kediaman Pambudi. Dari kejauhan, ia bisa melihat Genta yang sedang bersibuk di depan pagar; mengutak-atik gembok berukuran sedang di sana.
“Ta?” Danur menyapa.
Genta menoleh. Menyahut, “Gue sudah coba menghubungi Reksa. Tetapi, dia tak menyahut panggilan. Ngomong-ngomong, Bokap lo punya kunci pagar cadangan milik keluarga Pambudi, kan?”
“Lo tahu dari mana?”
“Dari Bokap gue-lah.”
Benar, ketiga pria matang yang juga bersahabat; memang sempat memutuskan untuk memiliki kunci pagar rumah keluarga Pambudi. Bukan untuk hal buruk. Melainkan, hal itu agar memudahkan Rendra -ayah Danur dan Tommy -ayah Genta, untuk memantau hunian yang ditinggalkan oleh Satria -ayah Reksa. Sekaligus, untuk memeriksa sakelar lampu jikalau ada hal terkait kendala listrik terjadi di perumahan mereka.
Tak menunggu lama, Danur memasukkan batang kunci ke dalam gembok berwarna silver. Bunyi ‘klik’ baru saja terdengar. Kedua pemuda itu berhasil membuka pintu pagar. Masuk ke sisi dalam halaman seraya penghuni rumah di sana.
“Terus, kita harus masuk ke dalam rumah dengan menggunakan kunci apa, Nur?”
“Entahlah. Coba lo tanya Bokap, lo. Kali saja, Bokap lo punya kunci utama pintu rumah ini.”
“Alamak! Kalau Bokap lo kagak punya. Bokap gue juga kali, Nur.”
Di sela mereka berbincang, sebuah suara benda terdengar terjatuh dari sebuah sudut. Sembari menyalakan lampu penerangan pada telepon genggam masing-masing, mereka berjalan berdampingan. Menghampiri sumber suara.
Lalu,
“NUR?” Genta memekikkan suara. Sesaat usai mengarahkan senter yang terletak di belakang ponsel pada sebuah sudut.
Danur mengalihkan pandang; menyamakan arah bidikan. Saat itu, Reksa sedang dalam keadaan tergeletak di lantai. Diketahui sedang dalam keadaan tidak sadar.
Issh!
“Bagaimana cara kita masuk ke dalam untuk menolong Reksa, Nur?” Genta bertanya gusar.
Sedangkan, tak demikian dengan Danur. Pemuda tersebut berusaha mendorong sisi jendela letak Genta menemukan Reksa tergeletak dari sana.
Suara daun jendela terbuka. Lalu, Danur segera memasukkan lengan. Berusaha menggapai pengunci pintu yang diperkirakan berada dekat dengan sisi jendela.
Klik!
Bunyi pengunci baru saja terdengar. Pintu berhasil terbuka setengah. Genta mendorong pintu hingga terbuka lebar. Ia bergegas melangkah masuk ke dalam hunian melalui pintu belakang.
Pada saat bersamaan,
Sosok Reksa terlihat tersadar. Menggerakkan tangan untuk menyentuh sisi pelipis bagian kanan. Menoleh pada dua bayangan yang baru saja masuk melalui sebuah ambang pintu. Mengeluarkan suara, “Kalian? Bagaimana bisa masuk ke dalam rumah gue?” Pertanyaan itu terlontar. Sesaat usai Danur berhasil menyalakan lampu pada sisi ruang belakang.
“Ceritanya nanti saja, Bro. Sekarang, gue bantu lo untuk pindah ke sofa depan lebih dulu,” Genta mengarahkan. Membantu pergerakan sang sahabat.
Sementara itu, Danur masih memperhatikan sekeliling ruang. Beberapa barang terlihat berserakan. Seolah, Reksa telah lama berada di ruang tersebut untuk memasak sebuah menu makan malam. Yah! Hidangan malam yang teramat terlambat.
Anehnya!
Mengapa Reksa juga membeli ayam untuk menu hidangan makan malam? Apakah kesamaan ini hanya kebetulan semata? Danur membatin. Sesaat usai melihat satu ekor ayam, yang masih utuh di atas meja. Sedangkan, bau kaldu telah memenuhi penjuru ruang.