POINTING A KNIFE

1123 Words
Mendengar pengelakan yang Danur tujukan, Nayla bersikeras untuk meyakinkan. Mengulang cerita dalam beberapa kali pengucapan kalimat. Hingga, tak terasa mereka telah berpindah ke dalam ruang berisi kerumunan tamu undangan. “Gue seriusan, Nur.” “Gue nggak percaya. Sudah. Gue hendak mengajak Genta untuk kembali pulang. Lebih baik, lo juga segera pulang ke rumah,” Danur menyarankan. Setelah itu, kedua muda mudi itu berpisah. Danur berhasil menemukan sosok Genta yang sedang tebar pesona pada setiap kaum hawa yang ada. “Ta? Balik yuk,” Danur mengajak. “Ah, elah! Baru jam berapa sih, Bro? Lo keburu amat,” Genta enggan mengiyakan ajakan sang sahabat. ****** Akibat Genta bersikeras untuk tetap tinggal. Danur memutuskan untuk kembali ke rumah seorang diri dengan menggunakan taksi. Di sela ia melangkah menuju sisi luar bangunan, sosok Nayla terlihat sedang memutar badan mobil menuju depan ambang pintu utama. Setelah itu, perempuan tersebut mengajak Danur untuk pulang bersama. Di dalam perjalanan. Mereka berdua mengobrol perihal banyak hal. Danur bercerita tentang penampakan yang semakin terlihat jelas. “Jadi, sudah fix nih kalau sosok hantu wanita yang lo lihat itu adalah Tri Ajeng Nawangsari?” Nayla mengkonfirmasi. Sembari memperbesar potret Nawang di dalam sosial media, Danur mengiyakan. Sedangkan, Nayla sedang mendecap bibir. Berujar, “Kalau begitu, semua sudah jelas; Nawang dan Reksa itu berkaitan. Dan, sepertinya sewaktu gue melihat Reksa berbicara seorang diri, dia sedang berbincang dengan mendiang Nawang. Yah! Meski, gue tak dapat melihat sosok hantu wanita, yang sering lo temukan berkeliling di sekitaran tubuh Reksa itu sih.” Mendengar kesimpulan yang ditarik oleh Nayla, Danur enggan untuk segera setuju. Mengingat, Reksa tak terlihat seperti seorang pria muda yang tega melakukan pembunuhan; menyebabkan arwah seorang wanita menjadi bergentayang. ****** Setiba di depan kediaman Estiawan. Nayla menurunkan kaca jendela. Kembali mengingatkan agar Danur segera membicarakan perihal permintaan dirinya untuk turut berangkat bersama saat KKN tiba kepada Reksa. Pemuda tersebut bersindekap pada daun jendela kendaraan. Bertanya memastikan, “Lo yakin masih mau bergabung dengan misi yang sedang gue jalankan? Lo nggak takut, jikalau suatu hal dapat terjadi sewaktu kita menyelidiki kedekatan Reksa dan Nawang lebih jauh lagi?” “Maksud lo apa, Nur? Lo sedang menolak secara halus perihal ajakan kencan dari gue setelah KKN, hah? Ck! Terlambat. Gue sudah memasang nyali tinggi. Lagi pula, awas! Jangan sampai lo ingkar dengan kesepakatan kita berdua. Pokoknya, gue nggak mau tahu. Lo harus berkencan dengan gue selama lima kali.” Hhh! Pemuda tersebut menghela napas dengan kasar. Sejatinya, ia takut jika suatu hal turut menimpa sosok Nayla; sewaktu mereka menyelidiki tempat kejadian perkara secara bersama. Namun, nasi telah menjadi bubur. Nayla enggan untuk mundur. “Baiklah, sebaiknya lo pulang sekarang,” Danur menepuk daun pintu kendaraan. Mengijinkan Nayla menutup kaca jendela yang semula terbuka. ****** Usai melangkah pada sisi dalam rumah. Luna menyambut kedatangan sang kakak. Ia bercerita perihal sosok Marni yang pergi ke pasar pada satu jam silam. Berkata, “Sewaktu Bik Marni pulang, dia membawa dua puluh ekor ayam potong yang masih segar, Kak. Bayangkan saja, dia kira kita sedang mengadakan acara tasyakuran?” Dahi sang kakak berkerut heran. Seolah tak percaya dengan ujaran Luna, yang kerap mengatakan hal berisi bahan bercandaan. “Astaga, Kak. Aku serius. Jika, kau tak percaya. Maka, bergegaslah menuju dapur sekarang. Bik Marni masih bersibuk dengan potongan-potongan ayam itu. Bebauan bumbu memenuhi ruang dapur.” Mendengar kalimat berisi penekanan, Danur melangkah dengan lebar. Dan, benar saja. Semua hal yang dikatakan oleh Luna adalah benar. “Bik? Sedang apa Bibik memasak sebanyak itu? Apakah Papa dan Mama yang meminta Bik Marni?” Danur bertanya. Sontak, si pelayan wanita menghentikan pergerakan mengiris daging ayam. Menatap sang majikan muda dengan tajam. Berujar, “Bukankah, tadi kau sendiri yang memintaku untuk memasak ayam potong, hah?” Dengan serentak, Danur dan Luna membelalakkan mata. Saling bertukar pandang secara singkat. Bergegas menyentuh sisi tubuh si pelayan. Menyadarkan, “Bik? Bibik tak sedang kerasukan, kan? Sadar, Bik! Sadar,” Danur berujar lantang. Pada saat bersamaan, Deru kendaraan terdengar baru saja berhenti pada sisi garasi rumah. Luna berlari menghampiri Rendra dan Kasih. Sedangkan, Danur masih menemani Marni di ruang dapur. “Luna? Ada apa, Nak?” Kasih bertanya. “Bik Marni, Ma. Bik Marni—“ “Ada apa? Berucaplah dengan tenang, Luna,” Rendra menimpali. “Kurasa, Bik Marni sudah tak waras.” Sstt! “Kau itu jangan sembarangan kalau berbicara, Nak,” Kasih berdecak. Bergegas memastikan keadaan di dalam hunian. ****** Sesaat usai kedua orang tua Danur dan Luna melangkah menuju dapur. Marni terlihat menodongkan pisau ke arah sang putra. Kasih kelabakan. Beruntung, Rendra segera bersikap sigap. Menghalangi tubuh Marni yang hendak mendekati sosok Danur di sana. “BIK! SADAR. Pemuda ini adalah Danur. Sosok pemuda yang sedari kecil sudah Bik Marni anggap sebagai cucu sendiri,” Rendra berseru. Menengadahkan kedua tangan untuk menghadang si pelayan. Seketika, benda berbentuk tipis dan tajam terjatuh begitu saja. Plang! Rendra menendang pisau itu hingga menjauh. Mengedarkan pandangan pada seluruh penjuru ruang. Bergidik ngeri akan penampakan dapur, yang dipenuhi dengan potongan-potongan ayam. ****** Beberapa saat kemudian. Satu keluarga Estiawan sedang menunggu sosok Marni benar-benar tersadar. Lalu, kedua orang tua yang bertanggung jawab penuh di hunian tersebut, baru saja memutuskan. Yakni, untuk memulangkan Marni dalam beberapa pekan ke kampung halaman. Dengan begitu, Rendra dan Kasih berharap, jikalau Marni dapat menuntaskan rasa rindu pada keluarga, beserta beristirahat penuh dari rasa lelah setelah bertahun-tahun bekerja. Selagi Rendra sedang berbincang serius dengan Marni, Kasih tampak mengusap pundak sang suami. Menahan nada tinggi yang bisa kapan pun terlontar dari bibir Rendra. Mengingat, tindakan Marni cukup membahayakan bagi kedua putra dan putri, yang kerap berada di rumah dengan seorang pelayan. “Maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar merasa ada yang mengendalikan diri saya.” “Apa maksud dari ucapan Bik Marni?” Kasih melebarkan bola mata. Menghalangi Rendra yang hendak tersulut emosi. “Saya kurang paham, Nyonya. Yang pasti, sudah seharian ini tengkuk saya terasa berat. Dan, beberapa bisikan terus terdengar di dalam gendang telinga.” Mendengar sahutan Marni, Rendra enggan untuk percaya. Mengingat, pria matang itu tak pernah menggubris adanya hal-hal gaib di sekitar. Yang pasti, ia hanya ingin memastikan bahwa kejadian seperti tadi, tak pernah terulang. “Kalau begitu, esok pagi-pagi sekali saya akan pergi dari sini, Tuan-Nyonya,” Marni menyahut lirih. Danur merasa bersalah. Seandainya, tadi gue bisa menyadarkan Bik Marni sebelum Papa dan Mama tiba. Namun, keputusan bulat sudah dibuat oleh Rendra dan Kasih. Danur serta Luna hanya bisa mengikuti keputusan tersebut. Memandang Marni dengan tatapan penuh rasa simpati. Setelah itu, kedua orang tua mereka berpindah ke dalam kamar pribadi. Begitu pula, dengan Marni. Sedangkan, Danur sedang menghentikan pergerakan Luna yang hendak melangkah. Bertanya, “Luna? Apakah kau tak melihat keanehan lain pada Bibik sebelum dia kerasukan tadi?” Luna berusaha mengingat-ingat. Tetapi, hanya ada sahutan ragu yang bisa ia beri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD