TALKING ALONE

1234 Words
Setiba di hunian Pambudi. Kedua pemuda berparas tampan sedang berpandangan. Mereka terheran dengan pintu gerbang rumah Reksa yang terkunci. Tak biasa, pemuda di dalam hunian tersebut mengunci pagar di waktu yang masih sore. Tak menunggu lama, Genta menujukan panggilan keluar. Menekan pada nomor kontak milik Reksa. Tut.. tut.. Dering ponsel hanya berbunyi sebanyak dua kali. Reksa telah mengeluarkan suara dari seberang. Menyapa, “Ada apa, Ta?” “Gue di depan rumah lo. Lo lagi di mana?” “Gue sedang ada urusan.” “Maksud, lo? Lo sedang tak berada di rumah?” “Ya, iya. Kalau lo memang berada di depan rumah gue, itu pertanda lo bisa melihat jika pintu pagar gue terkunci, bukan?” “Baiklah,” Tanpa banyak tanya, Genta segera memutuskan panggilan. Berujar, “Dia sedang berada di luar, Nur.” “Di luar? Tumben?” “Mana gue tahu, Nur” Genta mengedikkan bahu. Memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Berjalan kembali menuju sisi kendaraan. Berteriak, “Ikutan, kagak?” Saat itu, Danur kembali duduk di dalam mobil sport milik Genta. Hanya saja, kedua pria tersebut tak kembali pulang ke rumah. Melainkan, Genta membawa serta Danur menuju suatu tempat. “Sial! Ini ceritanya, lo lagi menculik gue?” Danur berdecak. “Idih. Ogah! Mending gue pilih adik lo buat gue culik.” Seketika, Danur tersadar. Sosok sang sahabat sedang berpakaian cukup rapi pada sore itu. Padahal, Genta cenderung asal-asalan dalam berpakaian. Yah! Meski, bagaimana pun ia akan tetap terlihat tampan. “Lo mau bawa gue ke mana, Ta?” “Ke acara ulang tahun teman seangkatan kita.” “Siapa?” “Sudah, lo ikut saja. Lagi pula, sekali pun gue jelasin, lo juga nggak bakal kenal. Lo kan cuek sama sekitar. Meski pun, sekitaran lo banyak yang perhatian. Issh! Laga lo, Bro. Seraya cogan sedunia saja,” Genta menyahut. Sedikit mencibir sang sahabat. Sejatinya, si tiga sekawan memang memiliki paras yang tampan. Tentu, dengan ketampanan masing-masing. Tak lupa, disertai dengan sifat serta perangai yang cukup berlawanan satu sama lain. Jikalau, Danur adalah seorang pria tampan yang selalu dipuja setiap wanita tanpa melakukan usaha. Maka, lain halnya dengan Genta. Ia adalah seorang pria muda yang selalu tak kehabisan ide dalam menarik perhatian wanita. Walau pun, setelah mereka tertarik, Genta hanya menganggap mereka sebagai teman dekat saja. Berteman, akrab, menjalin hubungan tanpa status terikat. Itulah, prinsip yang Genta tanamkan. Sedangkan, Danur? Ia berkebalikan seratus delapan puluh derajat. “Lalu, perempuan yang kali juga TTM-an lo, doang?” Danur bertanya memastikan. “Yoi, Bro! Pria dengan jiwa berpetualang seperti gue, enggan terikat dalam hubungan. Jadi, untuk apa memperjelas kedekatan dengan status berpacaran? Toh, mereka fine-fine saja.” “Bangsatt, lo! Inget. Tobat, Ta. Tobat,” Danur berdecak. Melayangkan tonjokan pada bahu sisi kiri sang sahabat. Sementara itu, Genta hanya membalas dengan tawa tanpa dosa. Kemudian, ia mulai bercerita perihal saat dirinya sedang makan bersama Nayla. Sebuah kisah yang dibawakan dengan raut kesal di wajah. Bagaimana tidak, sewaktu Genta mengajak Nayla untuk berkencan teruntuk kali kedua, wanita tersebut menolak dengan mentah-mentah. Menyatakan bahwa ia sedang menyukai pria lain. Sembari mengeram, Genta mencengkram sisi kemudi. Padahal, setelah sekian lama hanya dengan Nayla-lah, hati Genta dapat bergetar dengan begitu saja. Mendengar cerita yang Genta bawakan, Danur merasa tidak enak jika tak berkata jujur. Tentu, bukan perihal misi rahasia yang sedang ia kerjakan bersama Nayla. Melainkan, mengenai perasaan yang Nayla miliki kepada dia. “Lo nggak marah kan, Ta?” Danur mengkonfirmasi. Sesaat usai melihat perubahan di wajah Genta ketika ia menyatakan perihal tersebut dengan jujur. Haha! Genta membalas dengan tawa. Sedikit menyembunyikan perasaan kecewa. Berkata, “So far, gue tersadar. Jikalau, di atas langit masih ada langit. Gue tampan, tajir, dan memiliki hal menunjang lain. Tetapi, terlepas dari itu semua, masih ada lo yang berada jauh di atas gue.” “Apaan sih lo, Ta? Lo sedang menyindir?” “Kagak. Gue sedang memuji lo, oncom!” Genta meninggikan nada. Menyertai sahutan dengan senyum berisi kata ‘tak masalah’. Meski begitu, di balik senyum tersebut tetap terselip rasa kesal yang cukup besar. ****** Tak terasa, mereka telah tiba pada sebuah rumah dengan luas beberapa hektar. Genta menyampaikan bahwa rumah tersebut adalah kediaman salah satu mahasiswi di lain jurusan. Tepatnya, mahasiswi jurusan manajemen keuangan. “Tapi, Nur. Kali ini, gebetan gue jangan lo gebet lagi!” Genta berujar. Menampakkan seringai menggoda sang sahabat. Ck! Danur berdecik. Tak memberi sahutan. Hanya mengiyakan melalui isyarat pandang. Lagi pula, selama ini ia tak pernah melakukan apa-apa. Termasuk, pada Nayla. Hanya saja, para mahasiswi itulah yang lebih dahulu menyukai dia. Lantas, Danur bisa apa? ****** Kini, mereka telah menapak pada sisi dalam rumah. Seorang security yang semula memastikan undangan milik Genta, beralih mempersilahkan tamu undangan untuk menuju sisi ruang. Saat itu, ruang dengan area terbuka sudah dihadiri oleh banyak mahasiswa dan mahasiswi dari perguruan tinggi bergengsi. Seorang wanita sedang melempar senyum ramah pada siapa saja. Dengan percaya diri, Genta melambai tangan kepada dia. Sapaan itu segera dibalas dengan garis bibir yang mengembang. Danur sengaja tak mengikuti langkah Genta menuju sisi utama. Selain, ia enggan dianggap memasang muka pada gebetan baru sang sahabat. Ia juga tak berniat untuk tampil menonjol di acara tersebut. Sehingga, Danur memilih untuk berdiri pada sebuah sudut. Menerima segelas minuman segar berisi campuran soda. Sembari mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang, Danur meneguk minuman. Hanya saja, ia tiba-tiba tersedak. Sesaat usai melihat seseorang yang berparas mirip dengan Reksa. Tak menunggu lama, Danur berlari. Menghalau kerumunan yang sedang bercengkrama sambil menikmati hidangan. Namun, sosok pemuda yang ia duga adalah Reksa, baru saja menghilang bersama sebuah taksi berwarna putih. Lalu, Danur bergumam dengan lirih. Gue pasti salah melihat. Reksa tak mungkin menghadari acara ramai seperti ini tanpa kami. Mengingat, Reksa adalah satu dari tiga orang pemuda yang cenderung introvert. Reksa adalah tipe orang yang merasa nyaman dengan lingkup kecil. Sehingga, bukan sebuah kebiasaan Reksa untuk hadir di dalam acara besar; seperti ulang tahun yang diadakan pada sore itu. Dan, “Nur?” Seseorang terdengar menyapa. Danur menoleh ke sumber suara. Ia mendapati sosok Nayla. Bertanya, “Lo juga diundang?” “Ya, iyalah. Dia adalah anggota BEM kami,” Nayla menyahut. Menunjuk sosok mahasiswi yang sedang berulang tahun. Menambahkan pertanyaan, “Lo ke mari bersama siapa?” “Genta.” “Ah,” Nayla memanggutkan dagu. Merasa sedikit janggal akan jawaban yang baru saja ia dengar. Kemudian, mereka berpindah menuju lokasi yang lebih tenang. Yakni, pada sisi samping halaman rumah. Mengobrol secara empat mata. “Jadi, bagaimana? Lo sudah berdiskusi dengan Reksa dan Genta, kan?” “Diskusi?” Danur menaikkan alis sebagai tanda tak mengerti. Issh! Nayla berdesis. Menyampaikan perihal yang ia maksud. Yakni, mengenai permintaan untuk berangkat bersama dengan tiga sekawan pada waktu KKN tiba. “Soal itu, gue baru sempat berbicara dengan Genta. Dia setuju. Sedangkan, dengan Reksa gue belum sempat mengutarkan permintaan lo.” Seketika, Nayla teringat akan suatu hal. Berkata, “Ngomong-ngomong, tadi gue sempat lihat Reksa di sini.” “HAH? Seriusan lo?” “Serius. Dua rius! Maka dari itu, gue kira lo ke mari bersama Reksa. Ternyata bersama Genta,” Nayla mengutarakan kejanggalan yang sempat ia rasa. Sebelum menambahkan, “Tapi, Nur. Ada yang aneh. Sewaktu gue tak sengaja melihat dia, dia sedang terlihat mengobrol dengan seseorang. Padahal, dia tak sedang bersama dengan kalian. Tak ada siapa pun di samping Reksa.” Danur terdiam selama beberapa detik. Kemudian menyanggah, “Jangan berbicara sembarangan deh lo, Nay!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD