Sama halnya Nayla; Danur juga segera melebarkan bola mata. Saat itu, sebuah hasil jepretan dengan terburu-buru, berhasil menunjukkan bukti perihal keberadaan Tri Ajeng Nawangsari di kampus yang sama dengan mereka. Hanya saja, status mahasiswi tersebut sudah lama tak aktif karena sempat di drop out oleh pihak jurusan. Danur tercengang. Menyimpulkan, jikalau Nawang yang sedang ia cari adalah benar si Tri Ajeng Nawangsari.
Terlebih lagi, saat Nayla mengirimkan sebuah profil melalui sosial media. Kebetulan nama akun dengan nama panjang Nawang menjadi tampilan utama. Setelah itu, Danur segera menjelajah ke dalam laman. Menemukan sebuah foto yang menggambarkan sisi wajah wanita tersebut. Meski, Danur hanya melihat secara satu kali. Namun, ia dapat membayangkan gambaran hantu wanita yang sempat menampakkan diri menggunakan raga sang dosen. Dan, yah! Danur telah menarik kesimpulan. Bahwa, sosok wanita itulah mendiang Nawang.
Pada saat bersamaan, Reksa berhasil mengejutkan Danur. Sang sahabat baru saja menepuk pundak pemuda tersebut dengan keras. Beruntung, Danur menggenggam ponsel dengan erat. Jika tidak, bisa jadi telepon genggam itu akan terjatuh dari lantai dua ke lantai dasar.
“Ada apa, Nur? Wajah lo itu, seperti baru saja melihat hantu,” Reksa mengeluarkan suara. Menaikkan salah satu sudut alis.
Danur tersenyum miring. Kemudian, mengarahkan sang sahabat agar segera melunasi tagihan konsultasi dan mengambil obat.
Di sela ia memperhatikan Reksa dari kejauhan, sosok hantu wanita yang kerap bergentayang, tak lagi terlihat. Danur menghembus napas panjang. Mengingat, setelah mendapatkan identitas akurat dari pemilik nama Nawang, ia harus benar-benar terlibat dalam memecahkan misteri pembunuhan yang sudah setahun tak terpecahkan.
******
Kini, kedua pemuda tersebut telah tiba di kediaman Estiawan. Danur sengaja memberhentikan mobil pada sisi depan rumah pribadi. Berdalih meminta Reksa untuk singgah sejenak di sana.
Saat itu, adik perempuan Danur sedang menghabiskan waktu senja dengan menonton televisi. Mendengar percakapan dua pemuda, ia segera berteriak dari ruang keluarga. Memanggil nama sang kakak laki-laki. Bertanya dengan siapakah Danur pulang ke rumah?
“Kakak bersama Reksa, Lun.”
“Yah! Kukira, kau bersama Kak Genta.”
“Tidak. Genta sedang berkencan,” Danur menyahut sembarang. Mengingat, kali terakhir ia sempat diberitahu oleh Nayla. Jikalau, balasan atas bantuan yang Genta beri adalah dengan pergi makan bersama.
Dan, “Kencan? Memang, Genta sedang pergi kencan dengan siapa?” Reksa bertanya penasaran. Menunjukkan gurat tak suka di wajah.
Danur melongo singkat. Sesaat usai melihat raut Reksa dalam memberi tanggapan tak suka seperti demikian. Berujar, “Dengan Nayla.”
Mendengar sahutan dari Danur, salah satu tangan Reksa mengepal secara tak sadar. Namun, Danur tak melihat perubahaan kasar yang Reksa lakukan tersebut. Melainkan, ia justru mengarahkan sang sahabat untuk menuju ruang makan.
******
Di dalam ruang makan.
“Sa? Lo mau makan apa? Bilang saja sama Bibik. Gue mau ganti baju sebentar di kamar,” Danur berujar. Sesaat sebelum meninggalkan Reksa di dalam ruang bersama seorang pelayan.
Setelah itu, bayangan Danur tak lagi terlihat. Seorang pelayan wanita berusia lima puluh tahunan segera menanyakan menu yang diinginkan oleh teman si majikan muda. Hanya saja, si pelayan justru bergidik ketakutan.
Bagaimana tidak, saat itu Reksa hanya menatap lurus ke depan. Sama sekali tak memberi jawaban. Sungguh, ia menampakkan gurat menyeramkan. Seraya hendak mencekik leher seseorang.
“Mas? Mas Reksa?” Pelayan itu memberanikan diri untuk mengeluarkan suara. Sejatinya, ia takut jikalau Reksa tiba-tiba dirasuki oleh sosok tak kasat mata.
“Sadar, Mas. Istighfar,” Ia menambahkan.
Dan,
Sebuah tarikan dari sudut bibir Reksa baru saja terbentuk. Ia menoleh pada sosok pelayan yang baru saja memberi arahan. Berujar, “Saya ingin makan ayam, Bik. Ayam potong dengan darah yang masih segar.”
“APA?” Pelayan di kediaman Estiawan memekikkan suara.
Danur tak sengaja mendengar suara lantang itu. Ia berlari dengan kencang. Memasuki ruang makan. Tetapi, si pelayan wanita sudah dalam keadaan tergeletak begitu saja.
“Reksa? Apa yang terjadi? Mengapa Bibik pingsan seperti ini?” Danur bertanya heran. Berjongkok. Membawa tubuh si pelayan ke dalam punggung tangan. Menepuk salah satu pipi si pelayan secara berulang.
Reksa menyahut, “Entahlah, Nur. Sepertinya asisten rumah tangga kalian sedang kelelahan.”
Pada detik itu juga, Danur menyerukan nama Luna. Sialnya, volume suara pada layar televisi yang menyala terlalu keras. Sehingga, sang adik perempuan tak bisa mendengar panggilan dari Danur dengan jelas.
“LUNA? LUNA?” Danur kembali melantangkan nada.
Reksa berinisiatif untuk menjumpai Luna. Menginfokan panggilan dari Danur kepada dia.
“Baiklah. Gue minta tolong sama lo. Mintalah agar Luna segera ke mari sembari membawa minyak kayu putih,” Danur berpesan.
Reksa segera berlalu pergi dari depan hadapan.
******
Di ruang keluarga.
Tanpa mengeluarkan suara, sosok Reksa segera menjadi sorotan Luna dalam sekejap. Gadis berusia enam belas tahun itu bertanya, “Ada apa, Kak?”
“Danur memintamu pergi ke ruang makan.”
“Benarkah? Memang, ada apa?”
“Pelayan di rumahmu baru saja pingsan.”
“Pingsan?” Luna memekikkan suara. Beranjak dari posisi semula. Beralih menuju letak kotak P3K berada. Mengeluarkan sebotol minyak kayu putih dari dalam sana. Berlari menuju ruang berbeda.
Sedangkan, Reksa? Pemuda tersebut justru pergi dari kediaman Estiawan begitu saja. Tak berniat untuk berpamitan. Bergegas pergi dari sana.
******
Sementara itu, Danur dan Luna baru saja menyadarkan si pelayan.
“Bik? Mengapa Bibik hingga terjatuh pingsan? Apakah belakangan hari sedang kelelahan?” Danur bertanya.
Pelayan bernama Marni itu menggeleng pelan. Berusaha mengingat suatu hal. Meski begitu, ia enggan mengatakan kalimat yang sempat dilontarkan oleh Reksa kepada dirinya. Marni justru berkilah. Berujar bahwa benar ia sedang lelah.
Para majikan muda mengangguk. Mempersilahkan Marni untuk beristirahat sejenak. Kemudian, mereka berjalan berdampingan menuju ruang keluarga. Namun, Danur dan Luna tak lagi mendapati sosok Reksa. Sang pemuda bergegas memastikan keberadaan Reksa. Dan, benar saja. Pintu gerbang di rumah mereka telah terbuka setengah.
Pada saat bersamaan,
Drrt drtt!
**Reksa : “Sorry, Nur. Gue sakit perut. Keburu balik tanpa pamit sama lo dan Luna.”
Sebuah pesan baru saja masuk ke dalam ponsel Danur.
Dan,
“Kak?” Luna menyapa. Menyodorkan sebuah bungkusan plastik berwarna putih. Menambahkan, “Sepertinya, Kak Reksa meninggalkan sesuatu di atas sofa.”
Danur meraih benda yang Luna sodorkan. Bungkusan itu berisi obat-obatan. Ia berpamitan, “Luna? Kalau begitu, Kakak ke rumah Reksa sebentar, ya? Cuma mau antar obat milik dia.”
Sang adik mengangguk kepala. Kembali berjalan menuju ruang keluarga. Sedangkan, sang kakak baru saja meninggalkan hunian dengan berjalan kaki sembari menikmati senja.
******
Di sela pemuda tersebut melangkah.
Tin!
Suara klakson mobil terdengar. Danur menoleh pada sumber suara. Saat itu, sosok Genta sedang mendongak dari sisi dalam kendaraan melalui jendela yang terbuka. Melajukan mobil dengan kecepatan pelan. Berujar, “Sendirian saja, Bang?”
“Anjir, lo! Gue kira, siapa? Sudah buruan berhenti. Antar gue sekalian ke rumah Reksa,” Danur menyahut. Menunggu sang sahabat menginjak rem. Berjalan menuju sisi kiri kendaraan. Masuk ke dalam badan mobil yang sama.