“Loh apa dengan bisa liat hantu, lo jadi gila?” Tanya Keira kepada Olive yang masih saja bergidik walau pun Jean sudah pergi dari sana
Olive sekarang diam. Jika dia jahat, mungkin dia akan membalikkan fakta yang sudah dibicarakannya dengan Keira. Dimana Keira yang waktu itu terus – menerus melakukan curahan hatinya kepada Olive tentang ibunya yang seperti dan semakin menggila karena sering sekali ibunya itu tertawa sendiri dan juga berteriak.
Sering sekali Olive mendengar Keira mengeluhkan jika ibunya itu sering sekali menangis dan melihat kea rah lain untuk mengobrol dengannya. Bahkan dengan semua curhatan seorang Keira, Olive bisa saja langsung menyetakkan perkataan – perkataan dari Keira barusan untuk pembelaan diri. Namun, untungnya, Olive tidak sejahat itu. Dia lebih sering untuk memberikan Keira ucapan sabar dan juga ucapan – ucapan yang baik – baiknya saja.
“Ya engga gitu juga,” kata Olive kemudian, “lo kan kalo ngobrol itu, keliatan kan yang di ajak ngobrolnya siapa?” tanya Olive yang langsung di angguki oleh Kiera, “nah gue? Ga liat siapa pun ada di depan gue. Jadi, apa jadinya kalo gitu?” Tanya Olive lagi.
Keira diam memikirkan apa yang mungkin bisa keluar dari mulutnya. Kiera juga harus berpikir bagaimana bisa menjawab apa yang sudah di bicarakan antara Kiera dan juga Olive. Setidaknya, kenyataannya benar. Dimana Keira bisa mengetahui siapa yang sedang di ajaknya berbicara, sedangkan untuk Olive, mungkin saja benar – benar gila karena tidak tahu siapa dan bagaimana rupa yang sedang di ajaknya berbicara itu.
Kemudian Keira mengangguk – anggukkan kepalanya lagi, “bener juga sih, nanti kaykanya lo bakalan jadi orang gila karena itu.” Kata Kiera.
Sekarang Olive membalikkan anggukan dari Kiera barusan, “jadi, dia masih ada di sini?” tanya Olive kepada Kiera dengan menekankan kata ‘dia’ pada kalimatnya barusan.
Sekarang Keira melirik ke tempat Jean yang tadi ia dudukki kini berganti jadi siswa lain yang duduk di sana. Sibuk mengerjakan tugas dan juga sibuk mencontek orang lain, “ga ada.” Kata Keira membuat napas Olive sedikit lega. “Dia ga suka kalo ada orang yang duduk di pangkuannya walau pun orang yang di pangku itu ga sadar juga sih.” Kata Keira menambahkan.
Olive terkekeh kecil, “ya orang mana juga ya yang suka di duduki pangkuannya dengan secara sengaja.” Kata Olive lagi.
“Ya tapi kan Jean bukan orang.” Sahut Keira lagi.
Sebenarnya, Olive ingin sekali menjitak kepala Keira jika saja tidak ada guru yang masuk ke kelasnya saat itu. Keira juga merasa bahwa Olive kesal padanya karena perkataannya barusan. Tentu saja, mungkin hampir semua orang akan tidak suka dan kesal terhadap kalimat Keira barusan. Itu adalah hal bodoh mungkin. Keira juga mungkin saja mengerti dan sadar diri jika kalimatnya membuat dirinya mungkin menjadi bodoh seketika.
Seolah dirinya menyadari bahwa dia mengatakan hal yang bodoh, Kiera lantas terkekeh, “gue bukan cuman bodoh di pelajaran aja ya, Liv, di dunia nyata kayak gini juga keliatan banget ya gue bodohnya.” Kata Keira kemudian dia terkekeh dan berubah menjadi tawa kecil seiring berjalannya waktu.
“Bodoh banget ya temen gue ini.” Kata Olive kemudian menarik napasnya dan juga menepuk jidatnya sendiri.
Kiera yang terkekeh kini menatap guru yang ada di depannya. Dan kemudian dia menundukkan dengan cepat wajahnya. Dia menatap sepatunya lalu menggeleng kecil. “Gue ga liat.” Kata Keira pelan.
Sepelan apa pun perkataan tadi Kiera, tetap saja suasana yang lebih tenang dari pada sebelumnya, membuat suara Keira terdengar oleh seorang Olive di sampingnya. Lalu Olive menatap Keira yang sednag menunduk menatap sepatunya itu.
“Kenapa, Kei?” Tanya Olive yang melihat Keira meremas rok sekolahnya.
Keira menolak membuka matanya. Wajahnya masih saja menunduk. Dia tidak ingin menatpa ke depan atau pun kemana – mana. Dia memejamkan matanya dengan sangat rapat lalu mulai berdesis, “gue ga takut – gue ga takut.” Berulang – ulang kali dia benar – benar hanya menggumamkan kata – kata itu.
Olive sebenarnya mungkin sudah tahu apa yang terjadi. Kemungkinan besar Keira benar – benar melihat hantu yang bahkan menyeramkan. Namun, seperti cerita Keira pada Olive, semenyeramkan hantu adalah dia yang biasanya tidak akan takut dan berniat mengabaikannya saja. Namun, mungkin kali ini sangat berbeda. Keira sampai gemetar ketakutan. Lalu Olive menyentuh pundak Keira.
“Kei.” Sahut Olive untuk memanggil Keira yang masih saja menggeleng – gelengkan kepalanya dan terus – menerus mengumamkan kata - kata yang katanya ajaib itu.
Lalu, ketika Keira menatap Olive di sampingnya dengan spontan sedetik itu juga Keira berteriak dan pingsan.
* * * * * * * * * * * * * *
Keira mengerjapkan matanya kemudian dia benar – benar merasakan sakit di punggungnya.
“Lo udah bangun? Nih minum – minum dulu.” Kata Olive yang ada di sebelah ranjang.
Keira menatap Olive dengan lama sekali kemudian dirinya menerima apa yang sudah di siapkan oleh Olive. Dia meminum air putih itu dengan sekali teguk.
“Kenapa juga gue ada di sini?” Tanya Keira pelan.
“Lo pingsan, Kei,” jawab Olive, “harusnya, gue yang tanya lo kenapa bisa sampe pingsan kayak gini?” tanya Olive lagi.
Keira diam. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi kepadanya. Lalu, di sela – sela ingatan Keira, ada Jean masuk ke tempatnya dan duduk di ranjang. Dia juga sepertinya ingin tahu apa yang terjadi.
“Gue tadi liat hantu.” Kata Keira lagi.
Olive diam kemudian mengangguk, “gue udah tahu siih, lo pasti liat hantu makannya lo begitu takut.” Kata Olive, “tapi, hantu kayka apa sampai ngebuat lo pingsan kayak gini?” tanya Olive lagi.
Jean menganggukki pertanyaan Olive. Tanpa mengatakan apa – apa, Jean menyetujui apa yang di tanyakan oleh Olive. Seperti terwakili oleh Olive, Jean benar – benar ingin mendengarkan apa yang dia tidak tahu.
Selanjutnya, Keira diam. “Serem banget.” Kata Keira kemudian.
Olive tidak mengatkan apa – apa seolah dia tahu bahwa kalimat yang di keluarkan dari mulut Keira belum seutuhnya selesai. Olive tahu bahwa Keira masih ingin mengatakan sesuatu. Tapi dia mungkin tersendat dan juga benar – benar susah untuk di bicarakan.
“Lo tadi ngeliat guru matematika kita kan?” Tanya Keira yang langsung Olive angguki sebagai ajwaban, “gue liat hantu itu mirip sama guru matematika kita. Tapi keadaan wajahnya hancur. Dia kayak abis kecelakan atau apa itu. Darah masih ada di wajahnya, di tangan sama di kakinya.” Kata Keira menjelaskan.
Olive dan Jean benar – benar tidak mengetahui ada hantu seperti itu.
“Gue liat dengan jelas kalua hantu itu benar – benar ada di belakang guru matematika itu. Dan dia juga ngeliatin gue. Jadi, gue berusaha untuk ga liat dia dengan menunduk.” Kata Keira, “tapi, semakin gue menunduk, semakin gue takut, dan ketakutan gue ada di puncaknya saat wajah lo berubah jadi wajah hantu yang gue liat itu. Makanya gue bener – bener kaget setengah ma*ti.” Kata Keira lagi.
Olive menelan ludahnya, “wajah hantu itu ada di wajah gue?” tanya Olive.
Keira mengangguk, “iya. Makannya, pas gue bangun, gue neliti wajah lo. Dan udah ga ada.” Kata Keira pelan.
Napas Olive jadi tenang lagi.
“Jadi ga ada hantu di sini?” tanya Olive kemudian.
Keira menatap Jean, “ada nih, Jean noh.”