“Aku mendapat pekerjaan paruh waktu lagi!” teriakku, begitu telepon dijawab. “Oh, ya? Selamat.” Seperti biasa, Romeo menanggapi dengan datar. “Aku sudah bekerja di minimarket dan sauna, sekarang aku juga menjadi pengasuh anak. Bulan depan aku bisa mentraktirmu. Mau makan apa?” “Kupikirkan nanti.” Bibirku memberengut. “Kamu sedang sibuk apa, sih? Rapat?” “Turunlah. Aku di depan.” “Heh?” Aku sampai di bawah dan melihatnya dari kejauhan. Dia tampak memandangi sebuah benda di tangannya. Dengan kedua tangan di belakang, aku menghampirinya. Malam ini, langkahku ringan sekali. “Lihat apa?” Romeo tergelagap, buru-buru melesakkan benda itu ke dalam sakunya. Aku penasaran. Jadi, kurogoh sakunya secara paksa. “Jangan! Hahaha….” Romeo menghindar sekaligus tertawa-tawa karena aku menggelitik

