“Kemana aja boleh, ngapain juga aku harus laporan sama kamu” aku menghiraukannya dan langsung duduk di kursi.
“Kukira kamu bakal mati. Ku dengar kamu tiba-tiba pingsan selesai ujian hari terakhir, terus katanya kamu demam tinggi. Dasar cowok penyakitan”. Dita mendekat dan menepuk pundakku dari belakang, “Tapi ternyata Tuhan masih baik ya sama kamu”.
Tentu saja aku merasa risih dan kesal, segera ku buang tangan Dita, “Iya. Memang Tuhan baik sama gue. Kenapa? Kamu iri?”
“Haaa? Gak salah? Ngapain iri sama kamu?” Dita berjalan kembali ke tempat duduknya. “Kamu kan tahu, orangtuaku adem ayem aja di rumah. Papa orangnya setia. Gak kayak seseorang...”. Dita memperlihatkan senyum mengejek yang jadi ciri khasnya.
“Sialan! Kamu cewek tapi bacot lu kayak setan” Emosiku spontan meledak, yang selama ini sudah memendam kekesalan padanya. Aku mendekatinya dan tanganku siap menampar Dita yang kurang ajar itu. Namun teman-teman segera menghalangi dan mendorongku duduk kembali di kursi.
“Lepasin! Bacot dia udah kurang ajar! Begitu dibiarkan malah ngelunjak!” Keluhku dengan nada tinggi. Teman-teman kelasnya terkejut melihat kejadian itu, Aku yang biasanya pendiam dan pasrah meskipun dibully, kini berani melawan dan meledak-ledak seperti orang kesetanan.
“Udah Yan! Sabar! Orang kayak gitu gak usah diladenin” Ucap Nia si ketua kelas yang ikut menengahi kami. “Kamu juga Dit! Jadi cewek itu yang lembut dikit napa? Jangan mancing-mancing kerusuhan, apalagi di dalam kelas! Kamu mau kulaporkan ke guru BK lagi?”
Dita tersenyum, “Emang BK bisa apa? Paling-paling cuma disuruh nulis ucapan maaf di selembar kertas seperti biasanya.”. Ia terdengar meremehkan guru BK yang tak pernah berani menghukum berat atas kesalahannya.
Dadaku terasa sesak dipenuhi amarah. Aku berdiri dan menunjuk Dita, “Tunggu aja Dit. Aku yakin Tuhan itu Maha Adil. Kita lihat aja nanti, bagaimana kalau suatu saat kamu juga mengalami ujian berat yang gak pernah kamu inginkan.”
Seketika suara petir menggelegar hingga menggetarkan kaca di kelas, terdengar lokasinya dekat dari sekolah.
“Aaaa!” beberapa anak perempuan menjerit ketakutan sambil menutup mata dan telinga. Suasananya seperti waktu yang tepat sekali untuk memberikan kutukan pada seseorang.
“Nah lo, kena tulah karena ulahmu sendiri kan. Sekarang kamu dapet kutukan dari Rian yang selama ini selalu kamu zolimin, bahkan langit pun ikut murka”, Ucap Nia pada Dita sambil cekikikan.
“Apaan cuma petir doang. Aku gak takut. Setidaknya Aku tahu Tuhan lebih sayang sama aku daripada ke dia, anak broken! Haha!” Balas Dita sambil nyinyir. Meskipun masih kesal, aku kembali mengacuhkannya, namun tanganku mengepal erat.
Bel masuk terdengar nyaring, kemudian diiringi rintik hujan yang turun semakin lebat dari langit, bagaikan ingin berusaha meredam panasnya hatiku. Kemudian guru pun masuk dan semua siswa segera kembali ke tempat duduknya masing-masing. Berdasarkan pengumuman dari guru, Aku mendapatkan peringkat 10 besar tertinggi di sekolah.
Aku merasa lega dan bahagia mendengarnya. Beberapa teman memberikan selamat, namun situasi yang berbeda dialami Dita, ia mengerutkan alisnya karena ia bertolak belakang denganku, yaitu 10 besar terendah di sekolah. Kemudian guru memberikan nasehat mengenai pengambilan keputusan siswa setelah lulus, termasuk pilihan universitas maupun dunia kerja.
Saatnya bel tanda istirahat, namun khusus kali ini berarti waktunya pulang. Para siswa bergegas bersiap pulang untuk mengabarkan nilai ijazahnya pada orangtua. Beberapa siswa masih santai di dalam kelas sambil menunggu gerimis mereda sebelum pulang.
“Kamu udah putuskan mau kuliah dimana?” Tanya Ucok. Ia lulus dengan menempati rangking 35 di sekolah meskipun sudah ikut les di luar maupun privat di rumahnya.
“Ya gitu deh” Aku merenggangkan tangan ke atas untuk melemaskan otot.
“Pasti ITB kan? Nilai kamu bagus. Aku yakin kamu pasti diterima disana”
“Hmm, gimana ya? Sebenernya aku udah bosen dari kecil tinggal di daerah Jawa Barat terus” Aku meletakkan wajah di atas meja, rasanya malas melakukan apapun sambil menunggu gerimis reda..
“Lah, terus kamu mau melancong kemana?” Tanya Ucok penasaran.
“Rencananya sih mau ke Yogyakarta. Disana terkenal sebagai kota pendidikan dan biaya hidupnya murah. Oh iya, aku berangkat minggu depan, jadi gak bisa ikut perpisahan sekolah, Cok”
“Jogja?!!” Tiba-tiba dari belakang terdengar suara Dita yang terkejut setelah menguping cerita tadi. Kami pun menoleh ke belakang.
“Kenapa? Emangnya gak boleh ke Jogja?” Mendengar suara Dita saja sudah membuat darahku seperti mendidih karena kesal.
“Di sekitar kita ada banyak Universitas yang bagus dan gak kalah dari yang di Jogja, ngapain kamu malah milih yang jauh-jauh?” Tanya Dita yang tiba-tiba ikut campur pada pembicaraan kami berdua.
“Terserah akulah. Emang kamu siapaku? Kok berani ngatur-ngatur?” Balasku dengan nada kesal.
“AH! Terserah kamu! Aku gak peduli lagi” Dita mengambil tasnya dan segera keluar kelas, disusul oleh teman gengnya yang lain.
“Lah, kenapa itu bocah? Aneh banget” Aku jadi penasaran dengan sikap Dita yang berbeda dari biasanya. Biasanya Dita selalu membuatku kesal hingga aku tak dapat membalas dengan kata-kata, kemudian aku hanya bisa menjauh darinya. Kali ini, Dita yang justru menjauh duluan.
“Mungkin dia gak mau jauh dari kamu. Kamukan yang paling sering diganggu sama dia sejak kelas X. Jangan-jangan sebenarnya dia suka sama kamu?” Canda Ucok.
“Gak mungkinlah, gue ini korban bully dia, Jadi yang lebih mungkin karena dia gak mau kehilangan objek bully dia aja. Udah lah, cuekin aja orang kayak gitu. Malah bikin capek pikiran aja” Rasanya malas memikirkan orang kasar seperti Dita itu.
“Iya, bisa jadi gitu sih. Entahlah, daru lulu aku gak paham alur pemikiran cewek kayak gitu” Ucok menatap jendela, ternyata gerimis sudah mereda. “Eh kelihatannya udah reda. Aku gak sabar mau pulang terus ngabarin hasil kelulusanku ke ortu- Ups maaf Yan...”
“Gapapa Cok. Kamu harus mensyukuri keadaan yang kamu miliki saat ini. Aku yakin orangtuamu akan bangga kamu dapat rangking 35 dari seluruh siswa sekolah”
“Hehe, makasih Yan. Kamu jaga diri baik-baik di Jogja ya. Kabar-kabar kalau sudah dapet cewek disana, hehe”
“OK Bro. Kamu juga. Asalkan ingat 1 hal ini. Dapet pacar itu lebih mudah daripada tanggung jawabnya. Jangan main-main sama anak orang. Bisa-bisa kualat loh. Masuk neraka”
“Haha. Iya iya pak ustad. Ampun. Haha” Jawab Ucok sambil bercanda.
Ucok pulang duluan karena diminta ibunya untuk menjemput adik di TK. Sedangkan aku masih menunggu Ojol di gerbang sekolah. Namun tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang, secara reflek aku menengok ternyata itu Dita.
“Ikut aku sebentar” Ucap Dita perlahan, seperti ragu-ragu.
“Apa? Mau ngapain sih? Sebentar lagi Ojol jemputanku datang. Jangan bikin masalah deh. Kalau mau menghinaku, disini aja kayak biasanya” Aku menolak dengan tegas, karena tak mau membuat keributan di hari terakhirnya di sekolah itu. Ku biarkan saja ia puas membully di hari terakhirku di sekolah.
Dita mengerutkan alis, terlihat kesal, ia pun mendekat dan menunjuk dadaku. “Sekarang lo berani sama gue ya! IKUT-GUE-SEKARANG!” Dita terdengar serius.
“...ok, karena ini pertemuan terakhir kita. Memang sebaiknya kita selesaikan aja sekalian”
Dita mengangguk dan berjalan menuju ke parkiran yang hanya tinggal beberapa motor, aku mengikutinya di belakang. Dita berhenti, kemudian tiba-tiba berbalik. Ia mencengkeram pakaianku hingga kusut dan mendorongku hingga menabrak tembok.
“Ugh! Lo mau mukul kan? Pukul aja sampai puas! Karena setelah ini, lo gak akan pernah ketemu gue lagi” Ucapku yang sudah menyiapkan mental dari tadi. Ia sudah tak bisa mengendalikan kata-katanya yang biasanya bisa diatur lebih sopan.
Dita mengepalkan tangannya seperti akan memukul. Aku menutup mata, bersiap untuk yang terburuk. Kalaupun nanti babak belur, tak akan ada yang bisa membantunya atau membelanya di sekolah itu. Aku hanya berharap rasa sakitnya tak berlangsung lama. Terdengar nafas berat Dita di depanku, ia seperti sedang menahan amarah. Entah apa yang membuatnya selama ini selalu membuat masalah dan membullyku padahal aku merasa tak pernah berbuat salah apapun padanya.
Sudah beberapa detik berlalu tapi tak ada pukulan yang dilayangkan. Apa jangan-jangan Dita mengurungkan niat untuk memukulku? Aku memutuskan untuk membuka mata. Dita kemudian mengubah genggaman pukulannya menjadi seperti mau menampar.
Setelah selama ini, aku sudah merasa cukup dibully. Kali ini aku ingin berani melawan setidaknya di akhir pertemuan dengannya. Akupun menatap tajam penuh kebencian padanya. Dita menghentikan aksinya, kedua tangannya mendorong pundakku ke tembok, mengunci agar aku tidak dapat melarikan diri.
“Kenapa lo berhenti? Cepat selesaikan! Sudah gue bilang Ojol jemputan gue sudah mau datang”
Dita mengambil nafas panjang, “Gue suka sama lo Yan! Sejak kita kelas X”
“....What?! Lo gila!” Pikiranku sempat kosong sedetik karena terkejut atas pengakuan cinta sang preman cantik ini.
“Iya gue gila! Gue tergila-gila sama lo. Lo yang buat gue gila” Ucap Dita penuh emosi.
“Prank lo gak lucu Dit” Tentu saja aku tak langsung begitu saja percaya. Ku coba melepaskan diri dari kunciannya tapi ia masih bersikeras agar aku tak pergi darinya.
“......” Dita terdiam sambil menunduk tetapi cengkramannya menguat.
“Terus kalau yang lo bilang tadi itu benar. Kenapa lo selalu bully gue dari kelas X?” Aku coba tenangkan diri untuk bisa berfikir jernih dari situasi ini.
“Gue gak suka lo deket sama temen-temen yang lain terutama temen cewek. Kalo gue kasar sama lo, cewek-cewek lain gak bakal mau deket sama lo karena takut dijahilin sama gue. Gue...gue cemburu, Yan. Apa lo gak sadar perasaan gue selama ini ke elo?” Suara Dita terdengar bergetar, seperti mau menangis.
“Muke gile! Mana bisa gue tau perasaan lo, kalau cara lo tunjukin perasaan dengan membully gitu?”
“Gue gak tahu harus gimana lagi. Gue cuma pingin dapetin perhatian dari lo” Ucap dita yang kini sudah mulai menitikkan air mata.
“Stop! Gue gak mau dengar alasan lo lagi, Dit. Mulai sekarang lo harus belajar menghargai orang kalau lo mau dihargain. Begitu juga dengan cinta. Yang lo tunjukkin ke gue selama ini namanya kebencian, dan itu sudah tertanam di hati gue. Jadi maaf, gue gak bisa nerima cinta lo” Aku berusaha melepaskan cengkraman Dita dan mulai menjauh.
Dita yang shock mendengar penolakan dariku, terlihat mau menangis. Ternyata meskipun terkenal sebagai preman tetapi dia bisa terlihat rapuh juga. Dita mengejar dan memegang lenganku, “Rian! Tunggu! Jangan pergi! Gue beneran suka sama lo! Gue janji bakal berubah! Jadi, tolong jangan pergi jauh dari gue. Gue bakal buktikan gue akan berubah. Please!”
“Gue gak peduli. Gue gak ada rasa sama lo. Selamat Tinggal” Aku masih merasa kesal mengingat perlakuan “Tsundere” Dita selama ini. Aku segera melepaskan genggaman Dita dan pergi ke gerbang sekolah dimana pak ojol sudah menunggu.
“Rian...Please, kasih gue kesempatan” Dita masih bersikeras tapi ku acuhkan dia. Aku yakin dia pantas menerima perlakuan ini.
“Please...jangan pergi...” Suara Dita terdengar makin lirih, kemudian ia terisak menangis di parkiran.
Aku tak peduli secantik apapun Dita, aku tak bisa mentolerir sikap buruknya padaku selama ini. Meskipun begitu, aku memikirkan kejadian tadi, Apakah perkataanku berlebihan pada Dita? Mau bagaimanapun, Dita itu seorang perempuan, tapi dilihat dari berbagai sisi selama ini, menurutku Dita memang pantas mendapatkannya.
Pengakuan cinta dari Dita sebenarnya membuatku shock tak menyangka hal ini bisa terjadi dalam hidupku. Ternyata ada orang bertipe seperti itu dalam hal cinta, layaknya suatu drama picisan. Ia mampu menyembunyikan perasaan suka namun menampilkannya dalam bentuk kebencian