Aku meluncur pulang setelah dijemput pak Ojol di depan gerbang sekolah. Ketika sedang larut dalam pikiranku yang tak jelas, pak Ojol memutuskan untuk mengambil jalan tikus demi menghindari macet. Jalan tersebut cukup sempit dan sedikit macet karena banyak yang memilih jalan itu juga.
Dalam perjalanan yang perlahan tersebut, kami melewati suatu kuburan kampung. Di depan gerbang kuburan terdapat pohon beringin yang tinggi dan rindang. Di tengah lamunanku, aku melihat ada sosok yang berdiri sedang berteduh di bawah pohon itu. Tubuhnya dibalut kain kafan putih. Sekilas terlihat seperti sosok yang dikenal sebagai pocong.
Sedetik kemudian, sosok misterius itu balas menatapku, wajahnya dipenuhi cacing dan kulitnya berwarna pucat seperti daging busuk. Kemudian ia mulai melompat mendekati motor kami. Spontan aku menjadi panik dan ketakutan.
“Wuaaa! Po-Pocong!” Yang terlintas di pikiranku adalah menyelamatkan diri darinya. Secara spontan aku melompat dari motor dan lari menjauh dari ojol yang masih terjebak macet.
Semua orang yang ada disana melihatku dengan tatapan aneh. “Duh, dia masih muda kok udah gila, kasian sekali. Mana mungkin ada pocong siang-siang gini?” Ucap seorang warga kampung itu.
Aku melarikan diri sekuat tenaga diiringi suara anjing yang menyalak keras ketika aku melewati rumah yang ada di samping kuburan. Kemudian aku berhenti di depan warung makan karena kelelahan. Keringat bercucuran dari seluruh tubuh, aku masih terengah-engah kehabisan separuh nafas setelah lari hingga lebih dari 100 meter dari kuburan tadi. Beberapa orang di warung itu melihat ke arahku dengan penasaran.
"Ada apa dek? Lari-larian kayak orang kesetanan gitu, apa lagi ngejar maling?", Tanya bapak-bapak di depanku.
"Haah Haah, bentar pak, saya ambil nafas dulu. Haah", balasku yang masih kehabisan nafas. Kucoba menoleh ke belakang dengan was-was, pocong tadi tidak terlihat mengejarku sampai disini. Aku membasuh keringat di kening dan mulai mengatur nafas untuk menenangkan diri.
"Ini dek, minum air putih dulu. Gratis", ujar wanita pelayan di warung tersebut. Ia menghampiri dan menawarkanku segelas air, mungkin karena kasihan melihatku kelelahan penuh keringat. "Sini duduk dulu. Habis lari gitu pasti capek banget kan?"
"Iya, Makasih teh", Satria duduk di kursi sebelah bapak yang tadi bertanya. Aku yang kehausan pun meminum segelas air yang diberikan hingga habis dan menata nafasnya lagi.
"Astaga! Kena karma apa sih gue sampai dikejar pocong sialan itu? Ngeri banget" ucapku dalam hati.
"Jadi kenapa kamu lari-larian dek?", tanya bapak di sampingku.
Aku berpikiran tak mungkin memberitahukan bahwa aku lari dari pocong di siang hari. Ayah kandungnya saja tidak percaya ucapan anak kandungnya sendiri tentang hal seperti itu, apalagi orang lain. Akupun berkilah, "...Gak apa-apa pak, tadi saya salah paham aja. Saya kira tadi dikejar-kejar anjing galak, ternyata gak jadi dikejar", Jawabku yang mencoba menutupi kenyataan.
"Oww, apa mungkin anjing di rumah Pak Rama di dekat kuburan sana? Kadang memang galak itu dek, suka gonggong gak jelas, padahal gak ada apa-apa disana. Dia biasanya diikat dekat pagar, jadi aman-aman aja selama ini", Jelas bapak itu.
Din! Suara klakson motor yang menghampiri ke warung itu. Itu Bapak Ojol yang kutinggalkan di dekat kuburan tadi. "Mas, jangan ngaget-ngagetin gitu. Bahaya banget kalau tiba-tiba turun dari motor terus lari - larian di tempat yang lagi macet”
“I-iya Pak. Maaf” aku merasa bersalah pada Pak Ojol itu.
“Terus gimana ini? Masih mau diantar ke rumah gak?", Tanya Pak Ojol yang terdengar kesal.
Aku berdiri dan menghampirinya, "Kita pulang sekarang saja Pak". Aku benar-benar merasa bersalah karena merepotkan Bapak Ojol itu. Akupun pamitan pada orang-orang di warung, "Teh, makasi air putihnya. Permisi Pak"
"Ya, hati-hati di jalan dek. Semoga di jalan gak dikejar anjing lagi" Canda bapak yang tadi.
"Haha. Iya, Pak. Mari..." Aku menaiki motor pak Ojol dan kami pun berangkat.
"Lain kali jangan diulang lagi ya mas, bahaya itu." Nasehat pak Ojol sekali lagi.
"Iya Pak, maaf,", Aku jadi mulai merasa kesal juga kalau hal itu diungkit terus, bukankah aku sudah minta maaf dari tadi.
"Nanti jangan lupa kasih saya bintang 5 ya mas" Canda pak Ojol.
"Ok. Siap Pak" Balasku mengiyakan.
Akhirnya aku sampai di rumah. Motor Babe masih belum terlihat di garasi, itu berarti Babe belum pulang. Aku mengeluarkan kunci rumah dan masuk pintu utama. Tiba-tiba saja aku teringat kejadian yang lalu saat ibu marah besar karena kecewa dengan Babe yang tidak setia. Aku seperti merasakan kilas balik dari kejadian tak mengenakkan itu. Tanganku mengepal ketika mengingat ibu dibuat menangis tersedu-sedu saat itu.
Aku masuk ke kamar dan melemparkan tas ke meja belajar. Tanpa mengganti pakaian, aku langsung rebahan di kasur. "Hari ini gue sial banget sih...semoga hal buruk ini hanya mimpi atau setidaknya semua segera berakhir" aku yang sudah kelelahan baik fisik dan mental ini pun mulai menutup mata dan terlelap.
Waktu berlalu hingga jam menunjuk pukul 16.00, aku terbangun dengan kondisi yang lebih segar. "Hoaam. Udah sore ya. Laper banget"
Aku segera mengganti baju sekolah dengan kaos santai, kemudian menuju dapur untuk memasak makan malam sambil ngemil kerupuk di toples. Babe masih belum pulang, biasanya jam 18.00 baru sampai rumah. Kali ini aku memasak Mie rebus dengan telur, setelah jadi, ku tambahkan nasi sisa tadi pagi.
Aku menikmati mienya sendirian. "ini nikmatnya berasa jadi anak kos, Hehe serba bebas". Namun tiba-tiba ia teringat kebersamaan dengan kedua orangtuanya selama ini. Mereka makan bersama di meja itu dari masakan ibu. Saat seperti itu membuat keluarga terasa hangat, meskipun terkadang lauknya keasinan karena ibu memang tak pandai memasak. Aku tersenyum kecil mengingat kebahagiaan kami di masa lalu.
Suara motor berhenti di depan rumah. Babe sudah pulang. Pintu utama dibuka dari luar, Babe pun masuk namun ternyata ia tak sendirian. Ia membawa seorang wanita yang telah merusak rumah tangga mereka.
Aku yang baru selesai mencuci piring di dapur, langsung menemui mereka tanpa membasuh tangan yang masih basah ini. Rasa kesal yang bertumpuk di d**a selama ini, kembali meluap, "Kenapa Babe bawa wanita itu ke rumah? Babe tau kan apa yang sudah wanita itu lakukan ke keluarga kita?" Ucapku penuh dengan kekesalan.
"Jangan kurang ajar kamu Rian! Kamu anak bau kencur gak tau apa-apa. Ini kan rumah Babe, terserah Babe mau bawa siapa ke rumah. Dan dia ini bukan orang asing lagi. Bulan depan kami akan menikah, jadi dia akan jadi ibumu yang baru. Kamu udah tau itu kan?" Balas Babe dengan nada tinggi karena kesal mendengar ucapanku yang terkesan lancang.
"Tapi kan Rian gak pernah setuju Be! Kenapa sih Babe gak pernah mau denger Rian! Apa kata orang-orang kalau Babe nikahi wanita itu Be!" Rasanya sangat geram, keluhanku selama ini tak pernah didengar Babe. Aku juga sudah beberapa kali tak sengaja mendengar tetangga membicarakan tentang wanita itu dalam hal yang negatif.
"Diam kamu Rian! Kamu itu cuman anak-anak. jangan ikut campur urusan orang dewasa. Durhaka kamu!" balas Babe yang semakin marah.
Aku dan Babe semakin memanas. tapi kami masih menahan diri. Babe biasanya bisa langsung memukulku ketika kami bertengkar tapi kini ia tahan agar tak terlihat buruk di depan wanitanya. Tiba-tiba wanita berlipstik merah menyala itu menarik lengan Babe dan ikut campur dalam pertengkaran keduanya, "Sudah...Sudah mas! Gak usah berantem sama Rian. Dia itu masih anak-anak. Kamu juga sih Rian, pamali marah-marah sama orangtua, Cepat minta maaf ke Babemu!"
“Memangnya kamu siapaku, kok ngatur-ngatur? Sampai kapanpun Rian gak akan pernah ngakuin kamu jadi ibuku!” Ucapku dengan kasar
Tiba-tiba tamparan keras dari Babe dilayangkan ke pipi kananku. pipi ini terasa panas namun tak semembara kekesalan hatiku. Aku menutup pipi yang masih terasa panas, berharap rasa sakitnya akan mereda. Aku tak kuasa kecuali menatap Babe dengan kebencian yang lebih membela wanita itu daripada anak kandungnya sendiri.
“Apa-apaan tatapanmu itu! Dasar kamu anak tak tau diuntung! Mau nantang babe? Bener-bener anak kurang ajar. Ini pasti karena didikan dan genetik dari ibumu yang tak berguna itu”, ujaran kebencian dan serapah dikeluarkan Babe.
Hal itu membuatku shock. Tak masalah jika Babe menghinaku, tapi kali ini ia menyalahkan ibu yang tak bersalah. Aku tak terima ibuku yang tak bersalah itu, yang sebenarnya menjadi korban justru disalahkan atas dosa Babe. Tanganku mengepal kencang.
“Sudah mas, sabar. Dia nantinya akan kuanggap jadi anak sendiri. Jangan dikasari gitu.”, kata wanita itu seperti mau membelaku tetapi sebenarnya ia sempat tersenyum ketika melihatku ditampar Babe tadi.
“Kamu dengar itu Rian? Dia bahkan sebaik ini sama kamu, sampai dianggap anak sendiri. Kok kamu malah aneh, gak mau nerima dia?” Ucap ayahnya dengan nada meremehkan.
“Tch! Terserah Babe!” Aku segera berbalik dan pergi masuk ke kamar dengan kesal.
Aku membanting pintu kamar dengan kasar hingga pigura disebelahnya bergetar..
“Lihat itu, karena dia dari dulu selalu dimanja ibunya, jadi berani sama orangtua. Awas aja kalau dia berani sekali lagi. Bakal habis dia” Ucap Babe yang masih kesal. Aku masih bisa mendengarnya dari dalam kamar.
“Udah lah mas, menghadapi anak kecil gitu gak usah diladenin serius. Buang-buang energi aja” Balas wanita itu.
“Haah, kamu benar dek. Kamu yang sabar ya” Kata Babe sambil menepuk pundak wanita itu.
“Iya mas, dedek gapapa. Lagipula gak lama lagi kita akan jadi satu keluarga. Rian akan kuanggap jadi anak kandungku sendiri” Ucap wanita itu dengan meyakinkan.
“Kamu ini baik banget dek, gak salah abang pilih kamu daripada wanita itu” Babe memuji wanita itu dengan nada yang cukup mesra.
“Udah ah mas, gak usah bicarain orang yang itu lagi. Bicarakan tentang kita dan masa depan kita aja” ucap wanita itu yang mulai terdengar kesal ketika Babe membicarakan ibu.
“Iya dek” Balas Babe dengan lesu, ia sadar telah salah ucap.
Aku melampiaskan amarah yang telah menumpuk daritadi ke bantal di atas kasur. Aku memukul bantal tak bersalah itu sekuat tenaga lalu berteriak meluapkan kekesalanku ke Babe dan nasip burukku. Aku berharap bisa segera pergi dari rumah ini. Ini bahkan sudah tak bisa lagi ku sebut dengan rumah, bukan tempat yang membuatku merasakan nyamannya keluarga.
Setelah perasaanku sedikit tenang, aku mengambil bingkai kecil berisi foto keluarga yang ada di atas meja belajar. Itu merupakan salah satu foto terbaik saat keadaan keluarga kami bahagia. Aku mengangkat bingkai foto itu dan akan membantingnya di kasur hingga terpental dan jatuh ke lantai. Aku mengatur nafas, kemudian aku memungut kembali bingkai foto penuh kenangan itu.
Aku memperhatikan lagi foto itu. Itu foto terakhir kebersamaan yang penuh kenangan bahagia. Aku mengeluarkan lembar foto keluarga dari bingkainya, kemudian merobek sosok Babe di foto itu dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di pojok ruangan.
Aku duduk di pinggir dipan sambil memandangi sisa sobekan foto di tangan. “Bu, Rian kangen. Bagaimana kabar Ibu sekarang?”. Kemudian foto itu ku masukkan lagi dalam bingkai tadi. Tak terasa aku di usia 18 tahun kini masih bisa menitikkan air mata yang turun semakin deras. Sekilas terkenang berbagai siluet momen - momen bahagia keluarga kami ketika aku masih anak-anak hingga remaja.
Aku lelah dengan hidupku. Ku putuskan untuk menutup mata sejenak dan membiarkan pikiranku terhanyut akan masa lalu. Akankah hidupku akan berubah 180 derajat menjadi lebih baik dari sekarang? Aku yang kini memiliki status sebagai anak brokenhome.