Serangan Tak Terduga

1702 Words
Dikarenakan keputusan pengadilan, Babe dan ibu dilarang berada dalam satu tempat dan formalnya berjauhan setidaknya 1 Km. Setelah sidang perceraian itu, nomor ibu tak dapat dihubungi lagi dan tak ada kabar darinya kecuali informasi dari tetangga yang pernah menjumpai ibu ketika di pasar. Setelah perceraian itu, aku merasa kehadirannya tidak diterima oleh Babe namun ibu juga justru tidak bisa ada komunikasi seperti ingin menjauhinya, sepertinya sudah tidak mau peduli lagi padaku. Aku sempat mengalami depresi berat selama beberapa waktu setelah sidang itu, bahkan ada niatan untuk bunuh diri karena membenci hidup ini dan kedua orangtuaku yang memutuskan untuk bercerai. Namun suatu ketika aku sadar, balas dendam terbaik adalah dengan menunjukkan kesuksesanku pada kedua orangtua yang menyebabkan semua jadi seperti sekarang. Hal inilah yang membuatku mengambil keputusan untuk kuliah di luar daerah. Kemudian aku tidur telentang sambil meletakkan bingkai foto tadi di d**a. Pipiku masih terasa panas, tapi amarahku mulai mereda. Kini kepalanya terasa berat dan mulai mengantuk, aku pun terlelap. Di tengah malam, tiba-tiba jantungku berdegup kencang tak karuan dan tubuhku terasa tak nyaman. Sepertinya hal ini pernah terjadi sebelumnya, perasaanku jadi tak enak. Aku terbangun, lalu aku mencium ada bau busuk yang sangat kuat di dekatku. Begitu aku menoleh ke samping, ternyata ada sosok pocong berdiri disana. Sontak aku terduduk mundur, menjauh dari pocong itu. “Aaaaa!!” Aku teriak secara spontan karena terkejut, tetapi suaraku tidak keluar seperti dulu itu. Tubuhku gemetar dan terasa lemas tak dapat melarikan diri. Pocong itu melompat, mendekatiku dan menundukkan tubuhnya sehingga kedua wajah kami berdekatan. Bau daging busuk tercium dari wajah pocong itu, hal itu membuatku semakin ketakutan dan reflek meninju wajah pocong itu tapi tidak mengenainya. Pocong itu menghilang dengan kemampuannya yang terkenal yaitu [Teleport] untuk berpindah ke lokasi lain dalam sekejap. Tiba-tiba pocong itu sudah berdiri di atas kasur, menatap ke arahku. Pandangan kami pun bertemu sekali lagi. Aki ketakutan tak dapat bergerak, jantungku berdetak semakin kencang, kesadaranku mulai menghilang. Aku bahkan seperti merasa roh ini mulai terlepas dari raga. “Jangan-jangan ini yang biasanya orang sering bilang kerasukan”, Pikirku dalam hati. Itu kemampuan makhluk gaib yang dikenal sebagai [Possessed]. Kemampuan tersebut dimaknai sebagai kekuatan untuk dapat memasuki tubuh manusia dan mengendalikannya. Aku berusaha dengan kekuatan mental yang tak seberapa untuk kembali ke tubuhku sendiri. “Bocah...berikan...tubuhmu...”, Ucap pocong itu dengan nada berat yang membuat bulu kudukku berdiri. Suasana di kamarku tiba-tiba terasa sangat dingin dan mematikan, tapi aku tak mau menyerahkan tubuh ini begitu saja. Aku berusaha melawan dengan pantang menyerah untuk bisa meraih kesadaranku lagi. Namun kekuatan gaib pocong itu melebihi perkiraanku. Aku tak sanggup, sepertinya aku sudah kehilangan 60% dari kesadaran. Kini tubuhku bahkan mulai bergerak tak terkendali. “Aaaaaaa, enyah kau setaaann! Ini tubuhku!” Aku masih berontak dalam pikiran yang semakin tak terkendali. Seluruh tubuhku gemetar dan mulai mati rasa. Dari situasi tak mengenakkan itu, tiba-tiba dari keningku muncul cahaya kehijauan dengan simbol aneh. Disusul angin besar yang datang entah dari mana menyelimuti tubuhku. Angin itu bahkan mampu mengangkatku melayang ke udara. Kemudian perlahan aku dapat mengembalikan kesadaranku lagi. Sosok pocong itu terkejut melihat kekuatan spiritualku tiba-tiba menjadi lebih kuat, “I-ini...ilmu Kanuragan sukma Bayu Marta! Bocah! Kamu keturunan Kanjeng Raja Sili-!”. Belum selesai bicara, sosok pocong itu terlempar ke tembok oleh angin misterius. Pocong itu merengkuh kesakitan di pojok ruangan. Seketika aku bisa mendapatkan lagi kesadaran dan tubuhku merasa lebih segar, tanpa ada rasa takut seperti sebelumnya. Ku lihat pocong itu terduduk gemetaran di pojok ruangan. Yang aneh yaitu, meskipun aku sudah bisa sadar, namun seperti ada yang mengendalikan tubuhku, ia bergerak sendiri. Tubuhku dikendalikan, tiba-tiba aku berdiri di atas kasur dan mulut ini bergerak sendiri, “Cecunguk mana yang berani buat masalah dengan keturunan Raja ini!”. Aku bingung ada suara yang keluar dari mulutku tetapi bukan suaraku. Tanpa bisa kukendalikan, tanganku menunjuk ke arah pocong yang masih terduduk di pojok ruangan tadi. Kemudian tanganku bergerak lagi, mulai menggenggam dari kejauhan. Ini sejenis kemampuan [Telekinesis] seperti sebelumnya. Pocong tadi pun kemudian melayang di udara sambil menggeliat, ia berusaha melepaskan diri. “Ampun gusti Ratu...Saya tidak tahu kalau anak ini merupakan keturunanmu… Ampun Gusti” Ucap pocong itu penuh penyesalan dan kesakitan. “Aaaaargh” ia berteriak sambil berusaha melepaskan diri. “Yang berani macam-macam dengan keturunan Raja ini… Mati!” Ucap suara yang keluar dari mulutku. “Aaaaaa....ampuun Gusti...Rajaku…” Seketika udara di sekitar pocong seperti memadat dan menekan tubuhnya hingga penyet dan akhirnya lenyap menyisakan asap hitam pekat yang terus memudar. Setelah kabut hitam itu menghilang, suasana di kamar kembali hening. Aku beranikan bertanya, “Siapa kamu?! Kenapa kamu mengendalikan tubuhku?” Tanyaku penasaran, karena bukannya merasa takut, justru seperti aku sudah mengenal suara yang tak asing itu. “Ha! Suatu saat kamu akan tahu dengan sendirinya jika kamu memang ditakdirkan dan diijinkan untuk tahu” Ucap suara itu. Sesaat kemudian, aku sudah bisa mengendalikan tubuhku sepenuhnya lagi. Aku menghela nafas lega, jantungku kembali berdetak normal dan memutuskan untuk tidur karena sangat lelah. “Ya Tuhan...apa yang terjadi padaku. Kenapa hidupku jadi seperti ini?” Aku yang telah kelelahan fisik dan shock mental karena hampir kehilangan kendali tubuh dari pocongpun menutup mata dan berusaha tidur. Ku berharap esok hari, akan berubah menjadi seperti hari yang normal, karena aku juga harus bersiap pergi ke Yogyakarta untuk tes masuk Universitas pilihannya. Siapa sosok mistis yang telah menyelamatkanku? Terlebih lagi misteri siapa identitasku sebenarnya? Mengapa hanya aku yang mengalami hal mistis berbahaya ini? Hari baru telah tiba, mentari menyinari hingga membuat ruangan terasa hangat. Ini sudah pukul 07.00. Tidak ada jadwal wajib untuk ke sekolah hari ini. Aku bangun dari tidurku dan memandang sekeliling, mencoba mengingat sesuatu hal yang penting semalam. “Semalam aku mimpi apa ya? Hmm, sepertinya mimpi buruk tapi aku gak inget. Hmm. Udahlah, mandi dulu aja”. Aku bangkit dari tempat tidur dan mengambil pakaian di dalam lemari. Ku lihat ke rak bagian atas, si tuyul itu muncul lagi. Ia sedang duduk di samping dompetku lagi seperti biasanya. Namun kali ini aku tidak panik, rasanya sudah cukup terbiasa. Lagi pula tuyul bisa apa. “Oh, kamu tuyul yang biasanya kan? Betah amat tinggal di lemariku” Tuyul itu tersenyum seperti tidak punya rasa bersalah. Aku menghela nafas, entah tuyul itu paham bahasa manusia atau tidak. Aku pun menutup lemari lalu duduk sejenak untuk berfikir. Ku coba membuka lemari itu lagi, Tuyul itu masih ada di tempatnya semula. “Hei, Yul. Jangan pernah mencuri uangku atau yang ada di keluarga ini. Kalau sampai aku tau ada sepeserpun uang yang hilang di rumah ini, aku akan bacakan ayat-ayat langsung ke telingamu. Ayat...ayat apa itu ya? Ayat-ayat cinta atau apalah itu. Ngerti?! Awas kamu” Ancamku pada si Tuyul itu. Tuyul itu terlihat kesal, ia berdiri dan menyedekapkan tangannya kemudian menghilang. Kemampuan itu biasa disebut [Invisibility] menyembunyikan diri dari indera lawan. Aku sudah tak terkejut, pada dasarnya aku sudah tak mau tau urusan perhantuan ini asalkan mereka tidak menggangguku maupun keluargaku. Aku kembali menutup lemari dan turun ke kamar mandi. Terdengar seseorang sedang menggoreng di dapur, siapa lagi kalau bukan Babe. Entah kenapa aku sudah tak marah padanya, jadi sebelum mandi, aku memeriksa ke dapur. “Masak apa be?” “Tempe goreng sama telur goreng.” Jawabnya. Sepertinya Babe juga sudah melupakan luapan amarahnya semalam, ia berlaku seperti tidak pernah terjadi cekcok. Aku iseng menyantap tempe goreng yang sudah jadi di piring saji. Masih hangat dan kering kriuknya. “Hmm. Gak bikin sambelnya sekalian be?” “Kamu aja yang bikin, babe udah mau berangkat ke kantor”. Setelah selesai menggoreng telur, ia meletakkannya di piring dan mengambil secuil tempe goreng. “Babe berangkat dulu”. Ia cemil tempe itu sambil berangkat kerja. “Ya be” Jawabku singkat. Terdengar suara mesin motor menyala, kemudian semakin lirih dan akhirnya menghilang. Babe sudah pergi, kini hanya tertinggal sunyi. “Haah, rasanya rumah ini jadi sepi... Yaudah deh waktunya mandi” Ucapku dalam hati Selesai mandi, aku mulai mencicil untuk persiapkan barang-barang yang perlu dibawa ke Yogya. Ku ambil secarik kertas catatan yang ku letakkan di meja belajar. “Baju resmi 4, 1 celana kain, 2 celana Jeans, kaos 4, celana dalam 4, celana pendek 2, alat mandi lengkap, handuk...apa beli aja yang baru ya? Yang lama warnanya sudah luntur gitu. Apa lagi ya, oh iya laptop jangan sampai nanti ketinggalan” Aku mengingat-ingat lagi, jangan sampai ada yang terlupakan. “Hmm. Sepertinya ini sudah semua”. Aku memeriksa meja belajar, kemudian mengambil sebuah pigura kecil berisi foto keluarga yang tersobek setengah. “Ah iya, kemarin aku marahan sama babe”. Aku membongkar keranjang sampah di pojokan ruangan dan mengambil separuh foto yang kemarin ku buang. Aku memasangnya lagi dengan selotip transparan. Tidak sesempurna foto utuh aslinya tapi setidaknya kenangan keluarganya mengalir di kepala. “Apa kita tak bisa kembali seperti dulu lagi bu, babe” Aku memeluk foto itu kemudian menyelipkannya di koper. Suara HP dalam mode getar. Ada seseorang yang menelponku. Aku memeriksanya, ternyata nomor si Ucok, aku pun segera mengangkatnya tanpa pikir panjang. “Oi, ada apa Cok?” Ucapku tanpa basa basi. “Lo gak ke sekolah hari ini?” Tanya Ucok. “Enggak, urusanku sudah selesai di sekolah, kan kemarin aku sudah bilang sama kamu, Cok”, Aku jadi merasa janggal, karena ku yakin sudah menginformasikan pada Ucok kemarin. “Yaelah bro, ku kira hari ini kamu masih sempat masuk” Ia terdengar kecewa. Ini membuatku jadi penasaran. “Kenapa sih Cok? Apa ada hal penting disana?” Tanyaku penasaran. “Ini...ada yang nyariin lo dari tadi”, ungkapnya dengan terdengar misterius. “Ha? Siapa yang nyari aku?” Tanyaku penasaran. Tiba-tiba terdengar suara wanita, “Kesinikan HP lo...Halo, Rian. Ini gue, Dita” Begitu aku mendengar suaranya, aku langsung teringat kejadian kemarin di sekolah. Kemarin aku mencampakkan Dita di parkiran. “Oh, elo Dit, ada apa lagi? Urusan kita sudah selesai kemarin. Jangan cari gue lagi” “Rian, gue mau ketemu sama lo, gue mau ngomong serius” Ungkap Dita. Secara spontan, aku merasa kesal. Kebencianku padanya seperti sudah mendarah daging. Kenapa dia mau menemuiku lagi? Bukankah jawabanku kemarin sudah jelas? Aku sebenarnya sudah malas mendengar suara Dita. Aku bahkan berharap tidak menemuinya lagi dalam hidupku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD