Tak butuh waktu lama untuk aku segera membentak Dita di telpon.
“Gue gak tertarik! Kalau mau ngeprank, cari korban yang lain aja Dit. Selamat tinggal dan jangan hubungi gue lagi. Paham?” Aku benar-benar serius tidak mau berhubungan apapun dengan Dita lagi, semoga dia paham dengan keseriusanku ini.
“Tunggu- tuut tuut tuut” Aku menutup panggilan itu sebelum Dita selesai mengutarakan isi pikirannya.
“Apa dia pikir aku cowok murahan?” Ungkapku kesal.
Ada telpon masuk lagi dari nomor Ucok. Tapi ku biarkan saja bergetar karena ku yakin itu pasti ulah Dita, cukup lama bergetar kemudian berhenti. Selang beberapa saat kemudian, ada telpon masuk lagi, kali ini dari nomor asing.
“Apa dia gak tau pepatah patah tumbuh hilang berganti. Kenapa sih masih ngejar gue terus padahal udah nyata-nyata ditolak gitu”
Berkali-kali HPku bergetar karena telepon masuk tapi tidak ku angkat, bahkan nomor asingnya silih berganti. “Seriusan ini bocah waras apa nggak sih, gangguin hidup orang aja”. Aku mengecek sekilas ternyata sudah ada 27 panggilan dari nomor asing ke HPku.
“Ya Tuhan. Keras kepala banget sih nih orang” Sekali lagi HPku bergetar, ada telpon masuk dari nomor asing.
“Duh lama-lama bisa menghabiskan batre HPku, gak bener ni orang. Apa ku angkat saja ya?” aku putuskan untuk mengangkat telepon dari nomor asing itu.
“Udah gue bilang jangan hubungi gue lagi! Kurang jelas dimananya sih?” Tanyaku dengan kesal. Ku yakin perkataanku tadi sudah cukup bisa dipahami oleh bahasa manusia.
“Rian...Ini ibu nak”, Suara ramah yang hampir ku lupakan itu terdengar lagi. Suara yang tak asing bagiku, suara bagai senandung rindu yang menggetarkan jiwa. Siapa lagi jika bukan ibu kandungku yang selama ini telah menyayangiku dan merawatku sepenuh hati.
“Ibu! Bagaimana kabar ibu? Ibu dimana sekarang?” Rasa senang, rindu dan kegelisahan jadi satu. Air mata mulai menggenang di ujung mataku. Ini pertamakalinya Ibu menelponku setelah beberapa bulan tidak memberi kabar. Aku benar-benar merindukan suara dan sosok hangatnya dalam hidupku.
“Ibu baik-baik aja nak. Gimana kabar kamu? Sekolahmu sudah selesai kan?” Ibu mengalihkan pertanyaanku dengan pertanyaan yang lain. Aku tak peduli, asalkan masih bisa mendengar suara ramah ini lebih lama.
“Iya bu. Rian ranking 10 terbaik di sekolah” Aku harap Ibu bisa merasa bangga padaku, pada anak lelaki satu-satunya. Sejak kecil, ibu yang mengajariku menjadi orang yang baik dan hebat. Berbeda dengan ayah yang hanya menghabisakan waktu lebih banyak di kantor kecuali bila libur panjang.
“Wah kamu hebat, Nak! Dari dulu kamu memang gak pernah ngecewain ibu. Sehat-sehat terus ya nak...” Ungkap Ibu. Ia terdengar sedih. Wajar saja, karena aku dan ibu lebih dekat dibandingkan dengan ayah. Pembicaraan kami sempat terhenti beberaa detik, aku coba mengalihkan keheningan ini.
Ini pertamakalinya aku bisa berbincang dengan ibu selama ini setelah sekian lama tak bisa ku hubungi. “Jadi, Ibu lagi dimana sekarang? Rian kangen sama Ibu…”
Aku mendengar suara isak tangis ibu, kemudian ia melanjutkan pembicaraan kami. “...Ibu juga kangen sama Rian. Ibu sekarang tinggal di rumah pamanmu di Cilegon”
Aku langsung menyahutnya, baru kali ini aku mendengar bahwa aku punya paman di Cilegon. Aku tak tahu paman yang mana, mungkin saudara jauh dari keluarga ibu. “Cilegonnya daerah mana bu? Kalau boleh, Rian mau main kesana karena ini sudah mulai liburan.”
“Ibu dengar kamu sudah menentukan kuliahmu dan sedang bersiap pergi, bukan? Kita bisa bertemu lain kali setelah kamu menetap. Tidak perlu buru-buru.” Balas Ibu yang terkesan tidak mau ditemui anak satu-satunya. Entah apa yang membuat Ibu terasa berbeda. Meskipun kami terpisah, bukankah dia tetaplah ibu kandungku?
Aku hening sejenak. Rasanya percakapan ini tidak nyaman. Aku ingin berargumentasi dengan ibu untuk bisa menemuinya saat ini juga tapi aku takut ibu justru menjauhiku karenanya. Oleh karena itu, aku tunggu ibu dulu yang membuka percakapan.
“....Bu Broto (tetangga sebelah) bilang kalau kamu mau kuliah di Yogyakarta ya?”, Sepertinya ia sengaja ingin mengalihkan pembicaraan. Aku memahami hal itu, tapi bagaimanapun aku sedang benar-benar rindu padanya.
“Iya bu. Rian mau ganti suasana aja. Yogyakarta juga sudah terkenal sebagai kota pendidikan, jadi kualitasnya terjamin” Jawabku standar. Pada dasarnya aku memilih kuliah di Yogyakarta juga karena sudah tidak nyaman berada di rumah. Apalagi dalam beberapa bulan ke depan, Babe akan menikahi wanita “itu”.
“Iya nak, gak apa-apa yang penting kamu tekuni dan segera lulus ya” Ibu berusaha menyemangatiku. Sudah lama tidak ku dengar suara cerianya ini.
“Siap Bu. Ibu tahu sendiri kalau Rian rajin belajar” Aku menjawab dengan semangat agar Ibu merasa senang.
“Iya, Ibu tahu kamu daridulu suka belajar. Oh iya, kamu ingat Hendi, putranya Om Anis Madiun? Yang 3 tahun lebih tua dari kamu” Sekali lagi Ibu mengalihkan pembicaraan kami.
“Iya rada ingat sih wajahnya. Kenapa bu?” Kalau tidak salah, Hendi anak yang pendiam dan kami terakhir bertemu sekitar 3 tahun lalu. Meskipun demikian, jika aku menemuinya, aku yakin pasti akan tetap bisa mengenali wajahnya.
“Dia juga kuliah di Yogyakarta, sekarang lagi selesaikan skripsinya” Ungkap Ibu.
“Ohh, cepat juga ya. Setau Rian, biasanya jatah selesai kuliah itu 4 tahun” Aku jadi penasaran, kenapa Ibu justru membicarakan orang yang tidak berkaitan dengan kami?
“Iya kata Om Anis, dia anak yang pintar tapi juga mudah bergaul, bahkan jadi anggota BEM. Om Anis sendiri yang cerita. Jadi kalau besok kamu ke Yogya, nemuin kak Hendi ya. Kalian sesama saudara harus saling jalin silaturahmi” Nasehat Ibu. Tentu saja aku akan menyempatka waktu untuk bertemu dengan Kak Hendi jika aku tahu nomor yang bisa dihubungi.
“Oww gitu. Siap bu. Rian minta nomornya kak Hendi ya. Nanti kalau Rian sudah sampai Yogya, Rian pasti hubungi kak Hendi” Jawabku.
“Iya nanti ibu kirim nomornya. Terus Rian, kamu lagi ada masalah apa sama temanmu? Sampai bikin kamu marah-marah gitu di telepon tadi?” Tanya Ibu penasaran. Itu wajar, karena saat mengangkat telpon ibu, kukira itu telepon dari Dita sehingga aku menggunakan nada tinggi.
“Eh itu, gapapa kok. Salah paham aja kok bu. Iya salah paham. Hehe” Rasanya malu jika mengungkapkan permasalahanku pada Ibu. Meskipun aku biaasanya melakukan curhat time dengan ibu setiap kali ada masalah di sekolah. Ibu selalu mendengarkanku dengan baik dan kadang memberikan nasehat yang bijak. Tapi kali ini semua terasa berbeda, aku tak ingin menambah beban pikiran Ibu.
“....Ya sudah kalau kamu gak mau cerita. Simpan nomor ibu yang ini ya. Nomor yang lama sudah hangus, lewat masa tenggang karena ibu lupa isi pulsa.” Pesan ibu. Tentu saja aku pasti akan menyimpan nomor Ibu karena dialah ibu kandungku satu-satunya.
“OK bu. Rian simpan nomor yang ini” jawabku.
“Dan kalau misalkan gak ada halangan, Ibu berencana mau ke Yogya juga akhir bulan depan. Ada acara Meet up sama temen-temen sesama penjual produk online” Ungkap Ibu. Mendengar hal itu, membuatku langsung kegirangan. Ini berarti aku bisa punya kesempatan untuk bertemu dengan Ibu setelah sekian lama saling merindu.
“Wah, Ibu mau ke Yogya juga? Jadi nanti kita bisa ketemu disana dong” Ucaapku penuh semangat.
“Iya, jadi kalau kamu gak sibuk, kita bisa ketemu disana. Gimana?” Ibu menawarkan sesuatu yang tentu saja tidak bisa ku tolak. Belum tentu aku bisa mendapatkan kesempatan ini lagi di masa depan.
“Mau! Rian pasti akan siapkan waktu untuk ketemu sama ibu disana” Aku kegirangan dan menantikan datangnya hari itu.
“Ya sudah kalau gitu, lain kali kita sambung ngobrol lagi ya nak. Jaga kesehatanmu, jangan lupa makan. Kamu sudah dewasa...Ibu..Ibu sudah gak bisa jagain kamu”, Suara Ibu semakin lirih dan terdengar isakan sesekali, ia seperti sedang menahan tangisan.
“Iya bu. Rian paham. Ibu juga jaga diri ya. Terimakasih sudah merawat Rian dari kecil” Kini giliran aku kesulitan membendung air mata, kami pun menangis bersamaan karena menahan rindu. Di telepon itu terdengar suara tangisan disertai kenangan kebahagiaan masa lalu seiring dengan bulir-bulir bening yang jatuh dari ujung mata.
“Ya sudah ya, Rian. Ibu tutup dulu. Ada pelanggan yang datang di toko” Ucapnya. Ini berarti waktu percakapan kami sudah usai.
“Iya bu, nanti kita lanjut chatingan aja kalau ibu memang lagi sibuk” Balasku.
“Iya nak. Sudah ya..Tuut tuut” Ibu menutup telponnya. Usai sudah percakapan kami yang tidak sampai 10 menit itu. Meskipun tidak bisa bertemu langsung, setidaknya aku bisa mendengar suara hangatnya dari telepon. Itu juga menandakan bahwa keadaan ibu masih baik-baik saja disana.
Aku menata emosi yang sedang meluap karena rasa rindu ini sedikit terobati. Aku akhirnya bisa mendengar suara lembut ibu yang sudah beberapa waktu tak ku dengar.
HPku bergetar. Nomor asing menelpon lagi, kemungkinan itu adalah Dita. Aku menyeka air mata dan mengatur nafas.
“Huff, aku tak perlu menghindar dari Dita, bukan aku yang salah. Sebaiknya benar-benar harus ku selesaikan masalah ini dengannya sebelum berangkat ke Yogyakarta” Aku pun memutuskan untuk menerima panggilan itu,
“Syukurlah kamu mau mengangkatnya” Ucap Dita terdengar lega.
“Ada apa lagi Dit? Ku rasa jawabanku kemarin sudah cukup jelas dan lugas. Apa lagi maumu?” Aku menjawabnya dengan ketus. Ku harap ini telpon terakhir dari Dita.
“Aku sudah ada di depan rumahmu. Tolong beri aku waktu untuk menjelaskan” Ungkapnya. Tentu saja aku spontan terkejut mendengar perkataannya itu.
“Gila lo. Sampai datang ke rumah gue. Semua sudah jelas Dit, dan gue gak butuh penjelasan lo. Lo sebaiknya pulang aja Dit” Aku mengusirnya dengan kasar. Meskipun dia bicara baik-baik di telpon saja masih terdengar menyebalkan. Kini dia justru daatang langsung ke rumahku.
“Please...Rian.” Suara Dita semakin lirih, ia menangis terisak. Ini membuatku jadi teringat ibu yang baru saja telepon hingga menangis. Aku tahu mau bagaimanapun Dita seorang perempuan yang bisa rapuh seperti halnya ibuku. Akupun menutup panggilan telepon itu dan turun dari kamar kemudian membuka pintu rumah untuknya.
“Rian...” Dita menatapku dengan wajah sayu, matanya sembab karena menangis.
“Masuk. Gue gak mau tetangga mikir yang aneh-aneh kalau lihat ada cewek nangis di depan rumah gue” Aku mempersilahkannya masuk. Dita mengangguk sambil menutup wajahnya yang semakin lesu. Kamipun masuk ke dalam rumah.
“Duduk” Aku mempersilahkannya duduk di ruang tamu, kemudian memberinya secarik tisu di atas meja. “Ini, hapus air matamu pakai tisu. Tangisan seperti itu gak sesuai dengan imagemu selama ini”
Dita mengambil tisu dariku, lalu mulai menenangkan diri.
“Rian…gue…” Dita terdengar ragu-ragu. Ini tidak seperti Dita yang biasanya.
Entah apa yang mau dikatakan Dita, tapi rasa kesal ini sudah mendarah daging. Tiga tahun aku dibully olehnya dan terus memendam amarah agar tidak bermasalah di sekolah. Namun kini aku sudah lulus, jadi apapun yang akan keluar dari mulut busuknya Dita, akan kupastikan ku tolak.