8

1656 Words
Sungguh cobaan sebelum menikah memang benar adanya, kini Mas Abi menatap tajam ke arahku yang hanya mampu berbaring di ranjang rumah sakit. Beberapa jam yang lalu aku dilarikan ke rumah sakit dengan bantuan Nana dan karyawan toko ku yang lain, asam lambung naik dan kelelahan, karena beberapa hari ini tidurku tidak cukup, pusing, mual dan entah apa yang aku rasakan lagi, tidak bisa didefinisikan rasanya. Mas Abi yang baru mendarat dari penerbangannya pun segera menyusulku, ku lihat dia begitu panik dan jujur aku sangat takut kalau dia menatapku dengan tajam. "Berhubung Mas Abi sudah disini Ayah sama Bunda balik dulu ya, Nduk?" Bunda Kinan berpamitan padaku dan juga Ayah Hafiz mengelus rambutku mendoakan aku agar lekas sembuh. "Kalau Abi ngomel dengarkan saja, jangan diambil hati." Ujar Ayah Hafiz saat aku mencium punggung tangan beliau. "Ayah sama Bunda balik dulu, Mas." Pamit Ayah Hafiz dengan menepuk pundak Mas Abi dan Mas Abi pun mengangguk lalu mengantar mereka sampai depan ruang rawatku. Aku berusaha bangun untuk meraih segelas air yang ada di meja nakas, namun karena jarak ranjang dan nakas agak berjauhan membuatku sulit meraihnya. "Masih sanggup bicarakan untuk sekedar minta tolong?" Sindir Mas Abi lalu memberikan segelas air untukku. Aku hanya diam dan merengut mendengar sindirannya. Sudah tau aku sakit, masih aja dimarahin. "Udah, makasih." Aku mengembalikan gelas yang sudah ku minum setengah dari sebelumnya, Mas Abi duduk di kursi samping ranjangku dengan melipat kedua tangannya di d**a. "Mas-" "Baru tiga hari aku tinggal, pulang-pulang aku dapat kabar kamu dilarikan ke rumah sakit. Bisa kamu bayangkan, betapa khawatirnya aku saat melihat foto kamu tidak berdaya dan disaat beberapa hari lagi kita akan menikah?" "M-" "Kamu itu terlalu menyepelekan kondisi tubuh kamu, sudah aku bilang sesibuk apa pun jangan sampai lupa makan. Sebelum menyentuh kopi paling tidak kamu harus makan nasi dulu. Haruskah setiap saat aku mengingatkan itu, Ghan? Aku rasa kamu sudah cukup hafal untuk jadwal makan kamu." Mas Abi tidak main-main kali ini, aku bisa menangkap kilat api yang membara lewat tatapan mata tajamnya. "Kamu sudah bukan anak kecil lagi yang setiap makan harus diingatkan terus, kalau kamu masih seperti ini gimana nantinya sama keluarga kita? Kamu masih mau seperti ini terus?" "Kamu memang prioritas aku, tapi bukan sepenuhnya waktuku hanya untuk mengurus kamu. Ada banyak hal yang harus aku kerjakan, pekerjaan aku bukan hanya untuk mengingat kamu makan dan lain sebagainya. Aku rasa kamu harus belajar lebih dewasa lagi." Deg Tanpa sadar aku menitikkan air mata, aku memang memilih untuk mengalihkan pandanganku tanpa menatap Mas Abi sedikit pun. Aku tau, aku tau sifat minus Mas Abi yang ini, namun bagaimanapun aku tetap sensitif saat dia marah dan haruskah dia menganggapku tidak dewasa? Menyudutkanku tanpa mendengar penjelasanku lebih dulu? "Aku pergi tiga hari untuk mengisi seminar terakhir kalinya, sebelum pernikahan kita, aku rasa kamu akan baik-baik saja saat aku tinggal, bukan seperti ini yang aku mau. Kamu selalu sukses membuat aku takut." Kenapa seolah-olah disini aku yang paling salah? Bukannya dia juga yang terkesan cuek dan tidak mau tahu tentang persiapan pernikahan kami? "Masih ingat pernikahan juga ternyata." Aku berdecih sukses membuatnya terdiam. "Kemana aja selama ini? Sibuk sama pekerjaan? Emang nggak bisa ya hanya sekedar basa-basi gimana progres persiapannya, sampai mana persiapan pernikahan kita, gimana hasil zoom meeting tadi, apa yang belum fix, dan masih banyak lagi pertanyaan yang bisa kamu tanyakan mengenai pernikahan kita. Segitu tidak pentingkah proses ini? Aku butuh kehadiran kamu juga Mas, bukan hanya finansial kamu dalam proses ini." "Aku merasa sepertinya aku yang terlalu effort dalam pernikahan ini. Aku jadi ragu, kamu nggak terpaksa kan menikahi aku?" Entah apa saja yang aku keluarkan, kurang satu minggu akad kami digelar namun kali ini aku merasa Mas Abi tidak sungguh-sungguh dalam pernikahan kami. Dia terkesan lebih mengandalkan aku dan yang lain. Padahal, aku hanya ingin dia juga ikut andil dalam proses ini, memang secara finansial 80% Mas Abi yang menanggung namun setidaknya aku ingin dia tau proses apa saja yang kami persiapkan sebelum hari akad tiba. "Udah? Ada lagi uneg-uneg yang mau kamu keluarkan?" Aku hanya diam enggan untuk menatapnya, dari suara Mas Abi terdengar dingin dari biasanya, "Oke, Mas akui akhir-akhir ini mungkin Mas Abi sibuk sendiri dan terkesan membiarkan kamu untuk bekerja sendiri menyiapkan segala hal. Pekerjaan dan tanggung jawab memang menyita waktu akhir-akhir ini. Hal ini bukan berarti Mas tidak mau tahu sama proses pernikahan kita Ghan, apalagi sampai kamu mikir Mas terpaksa menikahi kamu? Omong kosong apa itu? Kalau pun Mas terpaksa, buat apa Mas mengeluarkan uang sebanyak itu mengorbankan waktu dan segala hal untuk melamar kamu dan mengurus semua. Pikir hal itu, sebelum kamu menuduh orang yang tidak-tidak. Tanyakan Bapak, kejadian apa yang terjadi disana beberapa hari lalu. Mas Abi keluar dulu, kita perlu menenangkan diri masing-masing." Mas Abi meninggalkan aku sendiri di ruang inapku.                                                                                          oOo Malam ini ruang inapku kembali menghangat karena kedatangan Bapak, Ibu dan Papa Hammas yang mengorbankan waktu untuk menemaniku di rumah sakit. Aku yakin mereka pasti bergegas kesini setelah mendapat kabar dari Bunda Kinan siang tadi. "Mau Bapak suapi?" Tanya Bapak yang menemani ku malam ini, Ibu sendiri sudah kembali ke apartemenku untuk istirahat, sedangkan Papa Hammas sedang di luar. Aku hanya mengangguk mengiyakan dan mengubah posisiku tidurku, "Bapak sudah makan?" "Udah tadi sama Mas Abi dan Papa Hammas."  "Mas Abi kemana?" mengingat setelah pembicaraan kami tadi aku tidak lagi melihat Mas Abi. "Bapak suruh istirahat, kasihan habis perjalanan jauhkan?" Aku menghembuskan nafas beratku, "Ghania nggak tahu, akhir - akhir ini kami sibuk dengan urusan masing - masing."  "Bapak boleh cerita?" Aku membalas tatapan Bapak dan mengangguk. "Tiga hari lalu sebelum ke Bandung Mas Abi ke rumah kita, pihak hotel menghubungi Mas Abi membatalkan pesanan kita di hari H." Aku terkejut karena baru tahu tentang masalah ini. "Bukan tanpa alasan mereka membatalkan, karena memang tanpa dugaan bangunan aula mengalami kerusakan pasca gempa minggu lalu. Kalau pun harus menanti renovasi, waktu kita tidak akan cukup untuk itu dan Mas Abi memutuskan kita cari gedung lain dengan waktu sesingkat ini. Dia tidak ingin kamu tahu, karena Mas Abi bilang kamu sudah cukup sibuk untuk mengurus resepsi kalian disini dan tidak ingin menambah beban pikiran kamu. Bapak cerita ini karena Bapak tahu, kalian sedang tidak baik - baik saja kan?"  "Jadi Mas Abi kemarin sempat kesana?"  Bapak mengangguk dan sedikit muncul rasa bersalahku, "Iya, karena pihak hotel mengabari Mas Abi lebih dulu, sebelum memberi kabar pada kami." "Bapak tau darimana kalau kami sedang tidak baik - baik saja?" "Mata kamu tidak bisa membohongi Bapak." Jawaban Bapak justru membuatku menangis, entah mengapa aku semakin sensitif akhir - akhir ini.  Tanpa mengatakan apapun Bapak mendekapku dan memberikan ketenangan yang aku butuhkan saat ini.                                                                                         oOo Pagi ini setelah sarapan dan membersihkan diri, aku memanfaatkan waktu untuk ngobrol dengan Ibu yang menemaniku. Giliran Bapak dan Papa Hammas yang istirahat di apartemenku. "Ujian menjelang pernikahan setiap pasangan itu beda-beda kak, ibaratnya kalian diuji untuk saling percaya dan menguatkan perasaan kalian. Ibu dulu juga gitu kok, bawaannya takut, ragu dan bimbang juga sama Bapak kamu." "Emang iya Bu?" Tanya ku memainkan genggaman tangan kami yang sejak tadi saling menggenggam. "Iya, dulu waktu mau nikah Bapak kan masih kerja kantoran, belum buka kantor sendiri, kami LDR dan h-3 atau seminggu kalau nggak salah Bapak baru pulang, jadi ya semua persiapan pernikahan Ibu yang ngurus, sampai ke KUA pun ditemani sama Papa Hammas." "Eh iya kah? Lha itu Ibu nikahnya sama Bapak atau Papa?" Canda ku dengan tertawa kecil. "Ya gimana, untungnya Papa Hammas itu pengertian, ya mungkin lebih ke kasihan sih ya lihat Ibu mondar-mandir sendiri." Aku menghembuskan nafas beratku saat mengingat kejadian kemarin dengan Mas Abi. Aku rasa Bapak dan Ibu sudah tahu tentang kami, tanpa harus kami bicarakan. "Dijadikan pelajaran ya Kak, ilmu rumah tangga itu memang tidak ada habisnya, yang utama setiap hubungan harus saling percaya dan menjaga komunikasi, jangan sampai menyesali sesuatu yang sudah terjadi hanya karena kesalahan pahaman." "Maaf ya Bu, kalau kakak selalu merepotkan." "Sudah kewajiban orang tua, selalu ada untuk anak-anaknya. Nanti dibicarakan sama Mas Abi ya kalau masih ada yang belum selesai."                                                                                         oOo Cukup dua hari aku dirawat di rumah sakit, kini kami bersiap untuk kembali ke apartemen sebelum nantinya aku akan ikut pulang dengan Bapak, Ibu dan Papa Hammas. Pagi ini Mas Abi yang bertugas menjemputku, karena kedua orang tua ku bertepatan menghadiri acara teman Bapak. "Udah semuakan?" "Aku rasa udah." Jawabku lirih mengamati dia yang terkesan biasa saja setelah kejadian kemarin. "Pulang sekarang?" Aku menggeleng dan meraih tangannya untuk ku genggam. "Mas Abi nggak marah sama Aku kan?" "Marah kenapa?" "Aku rasa Mas nggak amnesia setelah obrolan kita kemarin." Dia hanya terkekeh lalu mendudukkan dirinya disampingku. "Kamu sendiri gimana? Marah nggak sama Mas Abi?" Aku menggeleng ragu. "Kok ragu gitu jawabnya?" "Aku nggak tahu, pingin marah sebenarnya tapi nggak tega juga marahin Mas Abi." "Lho, kenapa emang?" "Ya Mas Abi sih, kenapa nggak cerita kalau hotel membatalkan pemesanan dihari H? Kan aku jadi merasa bersalah juga udah nuduh Mas yang nggak-nggak." "Ya kan kamu udah pusing ngurusin yang disini, karena yang kamu tau di rumah Bapak udah clear, Mas nggak mau kamu terbebani lagi. Lagian Mas juga merasa yang kamu omongin kemarin benar, Mas terlalu memasrahkan semua sama kamu, walaupun pada akhirnya Mas bakal nurut semua yang kamu inginkan. Mas terkesan lebih memilih mengurus pekerjaan dan pindahan kantor juga akhir-akhir ini." Tuhkan dia sadar juga "Jadi, kita sama-sama salah kan ya?" "Mas minta maaf, kalau komunikasi kita akhir-akhir ini kurang." "Ghania juga minta maaf kalau terlalu banyak menuntut dan tidak nurut." Balasku memeluk lengannya. "Setelah ini jaga kesehatan ya? Jangan sakit lagi, Mas khawatir lihat kamu tak berdaya seperti kemarin." "Huum, Mas juga, jangan kangen aku ya?" Candaku lalu mendapatkan sebuah cubitan di hidung lalu menarik tubuhku dalam dekapannya, aku pun melingkarkan kedua lenganku pada tubuh Mas Abi. "Kamu yang jangan kangen Mas, karena kita seminggu lagi baru bisa ketemu." "Ketemunya di akad nikah ya?" "Iya dengan status yang berbeda." "Aku jadi istri Abizar Daffa." "Dan aku jadi suami Ghania Almahyra."                                                                                                 oOo
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD