9

1415 Words
Kini tanggung jawab Bapak Dhimas telah diserahkan pada Mas Abi. Tepat pukul dua siang tadi Mas Abi berhasil mengucapkan ijab dengan baik, dia bahkan tidak tegang sama sekali. Berkali - kali ku lihat Bapak dan Ayah Hafiz membantunya untuk tetap tenang dan tidak gugup. Kini kami resmi menjadi suami istri. "Kamu bahagia?" Aku menoleh ke samping kananku, sosok lelaki yang baru saja mendapat gelar menantu dari Bapak Dhimas ini tersenyum tipis menatapku. "Aku rasa Mas Abi udah tau jawabannya, apa perlu aku melebarkan senyumku lagi?" Dia terkekeh dan mengelus punggung tanganku yang ada digenggamannya. "Kasihkan ke Pak Dhe Abi sama Bu Dhe Nia, Kay." Suara Mbak Najwa membuat kami menoleh pada Kayla yang berjalan menghampiri kami serta membawa kotak kado  "A dhe, U dhe.." "Wah, princessnya pak dhe bawa apa ini?" Mas Abi menyambut Kayla lalu membawa ke pangkuannya  Setelah acara akad dan beberapa rangkaian adat selesai, memang konsep dari pernikahan kami hari ini hanya untuk keluarga dan beberapa kerabat dari Bapak Ibu yang turut diundang, terlebih aku juga tidak memiliki banyak teman hanya beberapa saja yang benar-benar dekat denganku itu pun sudah banyak yang merantau, maka dari itu resepsi besar kami diadakan di semarang nanti tepat acara ngunduh mantu. Suasana seperti ini lah yang aku inginkan, intim dan sakral. Dua keluarga yang dipertemukan untuk saling mengenal lebih dekat.  "Wah, ini kadonya buat Bu Dhe ya, Kay?" Kayla mengangguk gemas, membuatku tidak tahan untuk tidak mencubit pipinya dan membuatnya kesal lalu menangis dalam pelukan Mas Abi. "Wah Bu Dhe Nia rese ya, Kay."  "Dia itu paling nggak suka kalau dipegang pipinya, kayak Papanya tuh sensitif banget kalau dipegang - pegang." Ujar Mbak Najwa, pantas saja padahalkan aku cubitnya nggak beneran cubit juga. "Bu Dhe gemes sama kamu, Kay. Maafin Bu Dhe ya?" Aku meminta maaf pada Kayla, bukannya menanggapiku Kayla malah meminta dipanggilkan Papanya. "Mas, Mas Rayyan, anak kamu nangis nih." Panggil Mbak Najwa pada Mas Rayyan, suaminya dan lelaki yang dipanggil Mbak Najwa pun menghampiri kami lalu mengambil Kayla dari gendongan Mas Abi. Mas Rayyan tidak lain juga teman kuliah Mas Abi, entah bagaimana kisah Mbak Najwa bertemu dengan Mas Rayyan sampai mereka menikah, sepertinya kisah mereka menarik mungkin lain waktu aku bisa tanyakan pada Mas Abi. "Kok langsung diam gitu?" Tanyaku heran saat melihat tangisan Kayla reda dalam pelukan Papanya. "Ya emang gitu kalau sama Papanya, ngalem pol. Nanti kalian juga gitu kok kalau udah punya anak, pasti bakal nempel ke Mas Abi kalau baby girl." Kata Mbak Najwa dengan nada menggodakan kami, ku lihat Mas Abi hanya menyungging senyum lalu merangkul pinggangku. Acara kami pun selesai sampai sore, kini aku dan Mas Abi sedang di kamar berdua setelah membersihkan diri dan aku pun dibantu oleh perias pengantin yang meriasku hari ini. "Mas, bajunya nggak lupa kan?" Tanyaku sebelum membuka koper Mas Abi. "Udah semua sayang, itu yang siapin Bunda kemarin. Kamu cek sendiri coba." Jawab Mas Abi yang sudah merebahkan diri di ranjang dan memejamkan mata setelah sholat ashar. Aku pun mulai membongkar koper Mas Abi dan menata semua perlengkapan dia. Setelah selesai dengan pekerjaanku, aku bergabung merebahkan diriku di ranjang hotel kamar kami. Ku amati wajah lelaki yang sudah menyandang status sebagai suamiku. Terlintas ingatan saat dia mengucapkan ijab kabul dan berjabat tangan dengan Bapakku. Saya terima nikah dan kawinnya Ghania Nimas Almahyra binti Abrisam Dhimas Budianta dengan mas kawin tersebut dibayar tunai. Jelas aku dapat melihat dan mendengar dengan baik disamping Mas Abi dan berhadapan dengan Bapakku. Bapak Dhimas sendiri, sudah berkaca-kaca dan tersenyum haru menatapku, aku hanya bisa menitikkan air mata melihat semua itu. Keluarga ku pun menangis haru, bahkan Nenek dan Uti menangis di dekapan Mas Abi saat kami melakukan sungkeman, yang aku dengar Uti dan Nenek meminta agar Mas Abi bisa menjagaku dan selalu menghargaiku sebagai istrinya. Jangan ditanya bagaimana dengan Ibu Anin, sudah pasti beliau yang paling banyak mengeluarkan air mata bahkan jauh sebelum hari akad, Ibu dan Bapak sudah menangis haru dan tidak menyangka kalau aku akan dipersunting seorang laki-laki. Mata Mas Abi terbuka dan tatapan kami bertemu. "Kenapa?" Suara dia serak dan dahinya mengernyit menatapku bertanya. "Nggak papa, nih mau ikutan rebahan. Capek banget." Jawabku menggeliat berharap rasa lelahku hilang dari tubuhku. "Semalam tidur jam berapa?" "Aku tidur lebih awal sih, habis teleponan sama Mas Abi dan Bunda, aku langsung tidur." "Tumben." Cibir Mas Abi lalu menarik tubuhku agar lebih mendekat padanya. "Iya, soalnya sengaja minum obat sakit kepala yang berefek cepat tidur. Ya kalau nggak gitu ya nggak tidur cepat." Mas Abi mengecup keningku lalu berkata, "Jangan sering-sering, nggak bagus konsumsi obat terus." "Nggak kok, cuma kemarin aja." Jawabku pelan dan Mas Abi hanya berdeham. Kami pun sama-sama diam, suasana hening sejenak. "Mas?" "Hmm?" "Kok diam?" "Kamu juga, kok diam?" Kok jadi canggung sih? "Bingung, mau ngapain." Jawabku pelan. "Ya udah tiduran aja, nunggu waktu magrib." "Belum bisa sholat jamaah." Ujarku menatapnya, "Udah berapa hari?" "Baru tiga hari." "Ya udah, disuruh sabar masih empat hari lagi." "Takut aku tuh." "Takut apa?" "Takut diunboxing." Mas Abi seketika tertawa terbahak mendengar perkataanku, aku hanya memandangnya kesal dan membiarkan dia puas tertawa. "Kayak paket aja diunboxing. Ya kalau belum siap gimana mau punya anak? Hm?" "Y-ya ya gimana." "Haha, nanti make up jam berapa?" "Masih ada waktu sejam kayaknya, aku pingin merem dulu. Ngantuk banget." "Ya udah, merem aja." Ujar Mas Abi lalu mengelus kepalaku yang berada dalam dekapannya sampai aku tertidur dengan nyaman. oOo Tanganku mengapit lengan kiri Mas Abi memasuki tempat makan malam kami. Tidak terlalu mewah memang, namun ini lebih dari yang aku inginkan di hari pernikahanku. "Tiga bodyguard kamu keren banget malam ini." Bisik Mas Abi saat kami memusatkan pandangan pada Ganendra, Ghifari dan Ghava yang sudah berjalan menghampiri kami. "Anak buah kamu kan? Mas Abi bayar berapa mereka buat mata-mata aku?" Mas Abi mengulum senyum, satu minggu dipingit tidak membuat dia sulit untuk mengetahui segala kegiatanku, sudah pasti berkat adik-adikku yang tiba-tiba menjadi mata-matanya "Kamu bisa tanya mereka nanti." "Mari tuan dan nyonya Aditama tempat duduk pengantin ada disebelah sana." Ujar Ganendra dengan santun. Aku hanya bisa tertawa dalam hati, mengulum senyum melihat ketiga adikku yang rese saat ini bisa tunduk dan melayani kami. "Jangan lewatkan kesempatan ini untuk membuat mereka nurut sama kamu." Bisik Mas Abi pada ku "Jarang-jarang lihat mereka nurut gini, tanpa bantahan." "Cukup hari ini Kak, nggak lagi deh nanti." Sahut Ghifa dari belakang kami. "Ghif-" "Ghif, diam deh." Ujar Ganendra dan Ghava bersamaan. Acara makan malam kami berlanjut dengan menikmati alunan musik yang dibawakan oleh wedding singer and band. Mas Abi memintaku untuk berdiri dan ternyata Bapak Dhimas mengulurkan tangannya padaku. "Dansa sama Bapak?" Aku hanya terdiam menatap wajah kedua laki-laki yang berdiri di depanku. Aku mengangguk dan menerima uluran tangan Bapak, kami pun berjalan menuju lantai dansa "Ghania cantik sekali hari ini." Ujar Bapak pelan dengan mata berkaca-kaca menatapku. "Bapak juga, terlihat lebih gagah dan tampan, apalagi saat berjabat tangan dengan Mas Abi tadi." Sekuat tenaga untuk mengeluarkan suara, namun sayang sekali aku hanya bisa mengucapnya dalam hati dan meneteskan air mata. "Jangan nangis, nanti Mas Abi marahin Bapak, karena sudah istrinya nangis." Canda Bapak mengusap sudut mataku, aku hanya mengulum senyum dan menahan diri untuk tidak menangis memeluk tubuh Bapak Dhimasku. "Istri Mas Abi ini kan anaknya Bapak Dhimas." Ujarku dengan nada merajuk. "Jadi istri yang baik ya, Nak. Apapun yang akan terjadi nanti, tetap ingat satu hal ini, pintu rumah Bapak terbuka lebar untuk Ghania pulang, sekeras dan sekejam apapun dunia nanti, Bapak akan selalu usahakan mendampingi dan memberikan pelukan untuk Ghania." Suara Bapak bergetar dan beliau menitikan air mata sebelum airnya aku merengkuh tubuh tegap beliau dan menangis di pelukannya. "Jangan nangis, Bapak sayang Ghania." Ujar Bapak melepas pelukan kami dan mengusap air mataku, "Ghania juga, love you Bapak Dhimas ku." Setelah berdansa dengan Bapak, aku bergantian dansa dengan Ganendra, Papa Hammas dan kini dengan Mas Abi. Lirik dan alunan lagu Marry your daughter terdengar begitu indah. "Harusnya kamu yang bawain lagu ini untuk Bapak dan Aku." Ujarku menatap Mas Abi. "Kayak di film-film gitu?" "Huum, romantis banget deh, Mas." Jawabku mengulum senyum menatap wajah datarnya, aku tau dia tidak akan melakukan hal itu, karena Mas Abi ini bukan tipikal laki-laki romantis yang ada di kebanyakan drama-drama atau film. "Becanda Mas Abi Sayang, hal seperti ini sudah membuat aku merasa sangat-sangat beruntung telah diberikan kebahagiaan terlebih sampai detik ini. I am very lucky to be born in this family and become your wife." "Aku lebih beruntung bisa menjadikan kamu untuk menjadi istriku, milikku Insya Allah sampai maut nanti memisahkan kita."                                                                         oOo
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD