10

1090 Words
Sempat terkejut dengan perubahan kecil pagi ini, tiba-tiba ada seseorang yang tertidur di sampingku. Yang biasanya hanya memeluk guling, kini aku bisa memeluk lengan kekar suamiku yang ternyata justru lebih memberikan kenyamanan. Ah, tidak menyangka jika hubungan kami bisa sampai di titik ini. Aku putuskan untuk membersihkan diri sebelum Mas Abi terbangun untuk sholat subuh. Bahkan semalam kami menghabiskan waktu bersama keluarga sampai larut malam, rasanya ingin berendam dan merilekskan badan sebelum siang nanti aku dan Mas Abi melakukan perjalanan ke villa Kakek Budi. Setelah pulang dari hotel aku dan Mas Abi pulang ke rumah Bapak dan Ibu, hanya singgah sebentar untuk mengambil barang-barangku sebelum kami berangkat ke Tawangmangu. "Udah disiapin semua, Kak?" "Udah deh kayaknya Bu, oiya bentar vitaminnya Mas Abi belum." "Nah, dicek lagi. Nanti kalau ada apa-apa disana, kontak Pak Lik Man aja ya?" Ujar Ibu mengingatkanku. Jadi, sebagai refreshing dalam waktu singkat Ibu dan Bapak menyarankanku dengan Mas Abi untuk berlibur ke villa Kakek Budi yang ada di Tawangmangu, bisa dibilang sama mereka honeymoon sederhana, namun bagiku dan Mas Abi kami hanya melepas penat, bagaimana mau honeymoon kalau aku masih 'palang merah wanita'. "Oiya Bu, nanti habis dari Tawangmangu kami langsung balik Semarang nggak papa?" "Nggak papa, paling seminggu lagi Ibu sama yang lain udah harus ke Semarang juga kan? Bantu-bantu kalau ada yang kurang." "Makasih ya Ibuku sayang, doakan anak Ibu ini bisa jadi istri dan menantu yang baik dan sabar seperti Ibu." "Sudah pasti kalau itu, yang penting nurut sama Mas Abi. Jangan egois dan suka bantah." Setelah selesai menyiapkan baju dan keperluan lainnya, aku dan Mas Abi meninggalkan rumah Bapak dan melakukan perjalanan beberapa jam kedepan. "Nanti mampir ke minimarket bentar ya Mas, aku mau beli cemilan." Pintaku pada suamiku, ah, suami? mentang-mentang udah punya suami ya, berasa bangga sekali rasanya menyebut Mas Abi dengan panggilan suami. "Sekalian beli air minum juga." "Oke, aku juga mau beli mie instan juga kali aja nanti kita sampai villa kelaparan dan mager keluar lagi." "Jangan banyak makan mie instan." Oke kini saatnya Mas Abi berpidato dimulai dari sekarang. "Kamu itu harus banyak makan makanan yang sehat, jangan kebanyakan makan junk food. Katanya kemarin setelah nikah mau beralih ke makanan sehat? Pokoknya mulai sekarang harus banyak makan sayur dan minum jus, nggak ada lagi go-food junk food. Olahraga paling tidak seminggu-" "Seminggu tiga kali, minum air putih minimal dua liter sehari, tidak minum softdrink dan kopi berlebihan. Tidur cukup dan istirahat teratur." Sahutku dan membuat dia mengangguk-angguk dengan tersenyum puas. "Udah hafal di luar kepala ya." Ujar Mas Abi lalu mengelus kepalaku. "Ya gimana pidatonya setiap hari sih, makanya sampai hafal di luar kepala." "Kalau udah hafal di luar kepala ya diterapkan dong, jangan diam-diam pesan go-food makanan - makanan junk food tanpa sepengetahuanku. Kalau nggak bisa masak, kan bisa beli masakan rumahan yang justru lebih enak." "Iya Bapak Abizar, saya paham. Semoga anda tidak lupa menggaji tiga mata - mata anda yang berkerja dengan baik." Sindirku dan Mas Abi hanya bisa tertawa mendengarnya. "Nggak lupa, mungkin nanti aku bakal kerja sama lagi sama mereka." "Serah ah, kalau udah posesif gini mana bisa gerak bebas akunya." "Nggak posesif Sayang, kan Mas maunya yang terbaik buat kamu. Besok kita jogging pagi disekitar villa ya?" Ujarnya dan aku hanya bisa mengangguk patuh.                                                                                                   oOo Di luar hujan deras, selepas makan malam kami habiskan waktu untuk menonton televisi dengan menikmati kacang rebus dari Pak Lik Man, penjaga villa ini. Mas Abi sendiri dia lebih banyak mengupaskan kacang untukku dibandingkan dimakan sendiri. Tidak heran, dia memang tidak hobi mengemil, terkecuali untuk cookies dan onde-onde buatan Bunda Kinan, dia paling tidak bisa menolak untuk dua kue itu. "Mas?" "Hmm?" "Mas Abi nyangka nggak-" "Nggak." Jawabnya memotong pertanyaanku "Ih, belum selesai pertanyaanku." "Iya-iya, apa?" Dia menatapku sekilas lalu kembali menonton televisi "Aku kira dulu hubungan kita bakalan kaku lho, mengingat sikap Mas Abi yang dulu cuek banget." Mas Abi menatapku dan tersenyum tipis, kalau seperti ini dia persis dengan Ayah Hafiz tidak banyak berkata dan basa-basi namun beliau selalu sigap dalam bertindak. "Masak secuek itu sih?" "Iya, aku pikir dulu nggak bakal kenal lama sama Mas Abi, ya hanya sekedar kenalan aja, mengingat pertama kita ketemu wajah Mas Abi aja tidak begitu menyenangkan." "Waktu itu kan baru pulang kerja, udah capek lembur, kejebak macet lagi, kan nggak enak Yang sama Bapak. Udah janjian masak harus nunggu lama buat ketemu." "Iya, habis itu nggak peduliin kalau Bapak datangnya nggak sendiri, aku dianggap angin lalu." "Bukannya angin lalu, hanya saja belum begitu kenal. Itu juga kali pertama kita ketemu, semenjak kamu udah remaja. Iya ya masih nggak nyangka juga sih, gadis manjanya Om Dhimas bisa jadi istriku." Ujarnya membuatku  mengulum senyum, rasanya masih malu setiap Mas Abi menyebutku seorang istri. "Kalau aku manja nggak mungkin lho, dari umur enam belas tahun tinggal di kota orang sendirian. Hm? Masih belum bisa disebut mandiri itu?" "Iya mandiri, karena tiap malam tidurnya di rumah Gendhis dan pulang ke kost cuma siang aja, soalnya kamu penakut." Ejek Mas Abi membuatku cemberut setiap mengingat kejadian dulu, waktu awal pindah di kost aku selalu tidak bisa tidur karena mendengar suara-suara tidak jelas setiap malam, entah orang berjalan, pintu diketuk atau bahkan orang berdehem. Maka sejak saat itu, aku lebih banyak menghabiskan waktuku menginap di rumah Tante Keysa dan tidur bersama Mbak Gendhis sampai akhirnya aku memutuskan untuk pindah kos yang tidak jauh dari rumah Bunda Kinan, semenjak itu juga aku mulai dekat dengan Bunda Kinan dan keluarga. "Ya habis beneran serem kok." "Emang dasarnya aja kamu penakut." "Hm, nah berhubung istri Mas Abi ini penakut, ini bakalan jadi PR buat Mas Abi. Nggak boleh ninggalin aku malam-malam sendirian di rumah, kecuali kalau aku di apartemen sih, nggak tau kenapa kalau di apartemen justru aku enjoy aja nggak ada ketakutan sama sekali." "Yah, nggak bisa basket malam dong." "Ya aku nggak tau, gimana caranya aku nggak mau di rumah sendirian." "Iya gampang, nanti bisa nitip kamu di rumah Bunda dulu kalau aku mau keluar malam, cuma gang empat rumah aja, itu hal yang mudah." Jawab Mas Abi dengan tersenyum. "Dasar, maksud aku bilang gini tuh biar Mas Abi nggak keluar-keluar malam terus, masa iya ninggalin istrinya cuma buat basket doang." "Kenapa istriku jadi posesif, gini?" Tanya Mas Abi menggodaku. "Emang situ aja yang bisa posesif?" Bukannya menjawabku, Mas Abi malah memiringkan kepalanya dan menangkup kedua sisi rahangku, spontan ku pejamkan mata dan merasakan bibirnya mendarat dipuncak hidungku. Demi Tuhan, hal sekecil ini saja berhasil membuat jantungku berdebar sekencang ini? Bagaimana dengan yang lainnya nanti? Mungkin kah aku akan dibuat pingsan tak berdaya?                                                                                             oOo
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD