"Rumi, mau mamam sama Papa atau Mama? atau mau sama suster?" Aku bertanya pada Rumi dengan menunjukkan Mas Abi, diriku dan suster Mila sebagai pilihan. Rumi menunjukkan Papanya yang sedang menggendong Reyhan, aku pun tersenyum lebar. Setelah beberapa hari ke Semarang, akhirnya Mas Abi kembali lagi ke pelukan kami. Ternyata tak hanya aku yang merasakan beratnya pisah dengan suami, Mas Abi pun merasakan hal tersebut. Mengingat setiap saat dia selalu menanyakan keadaan anak-anak, dia merasa tersiksa saat melihat laporan foto yang aku kirimkan kepadanya. "Nah, silahkan Papa, selamat menyuapi tuan putri." Kataku lalu mengambil alih tubuh Reyhan dari gendongan Papanya. "Kiss Papa dulu sini, nanti Papa suapin kakak Rumi." Kata Mas Abi menunjuk pipi kanannya, mengode Narumi untuk memberi sebuah

