"Hati-hati ya Dek, nanti kalau udah sampai sana kabarin aku, salam juga buat Tante Anin."
"Iyaa Mbak, nanti aku kabarin dan salamin ke Ibu."
"Oiya, pesanan Tante Anin udah?" Tanya Mbak Gendhis, hampir membuatku lupa kalau aku harus membawa gaun yang bisa aku gunakan ke acara formal, dan aku pun memilih gaun baru ku yang diberi bahan oleh Bunda Kinan, kebetulan juga belum aku pakai sama sekali.
Aku pun mengecek kembali barang yang sudah aku siapkan, dan ternyata sudah semua.
"Udah kok Mbak, udah aku siapin. Mbak Gendhis gapapa emang nganterin aku ke stasiun?"
"Gapapa, kan udah ajak Mas Vian, sekalian nanti aku mau beli cemilan dekat sana."
"Ya udah aku bilang Mas Abi dulu kalau gitu, biar nggak usah minta tolong ke Sabil." Ujar ku lalu menelepon Mas Abi.
"Iya, hallo. Kenapa, Ghan?" Sapa Mas Abi namun terdengar agak berisik, sepertinya dia sedang ada di jalan.
"Mas Abi dimana? Kok berisik banget?"
"Hm ini, lagi di jalan habis keluar sama anak kantor. Udah mau berangkat?"
Kok sama anak kantor? Bukannya mau ada acara sama anak club basket?
"Belum sih, ini masih di apartemen. Oiya, aku cuma mau bilang, nggak usah minta tolong Sabil buat antar aku, ini Mbak Gendhis sama Mas Vian yang mau antar aku ke stasiun." Memang semenjak Mbak Gendhis hamil, Mas Vian sudah jarang ikut acara basket mereka, dia lebih menikmati perannya sebagai suami dan calon Ayah.
"Oh gitu? Ya udah, kebetulan juga sih tadi Sabil juga ada acara ternyata. Udah mau berangkat?"
"Nih bentar lagi jalan."
"Ya udah, hati-hati ya nanti. Barangnya dicek lagi jangan sampai ada yang ketinggalan ya."
"Iyaa, kamu juga hati-hati."
"Aku tutup ya. Assalamualaikum.."
tut..tut..tut..
"Waalaikumsallam.. Nyebelin banget sih nggak ada manis-manisnya." Omel ku dan mengundang gelak tawa Mbak Gendhis.
"Sabar, nanti kalau udah nikah pasti beda."
Kami pun bergegas berangkat ke stasiun lebih awal, aku trauma pernah ketinggalan kereta dan berakhir dapat ceramah dari Mas Abi, si Mr perfectionist yang sangat disiplin dengan waktu. Lagi pula kasihan juga Mas Vian sudah menunggu di mobil terlalu lama.
oOo
Seperti kisah Ibu ku yang pernah beliau ceritakan, dulu sebelum beliau menerima ajakan menikah dari Bapak ku, beliau rela berangkat dari Madiun - Semarang hanya untuk menemui Tante Keyra, sahabatnya yang sudah seperti saudara. Bahkan, sampai sekarang anaknya pun juga aku dan Mbak Gendhis bagaikan seorang Adek dan Kakak.
Aku akui Ibu ku memang wanita yang mandiri, beliau sangat mengutamakan nama baik keluarga dibanding dirinya sendiri. Terkadang aku ingin seperti Ibu, namun aku rasa aku lebih beruntung karena Ibu dan Bapak ku tidak pernah menuntut apa pun yang harus aku raih. Bahkan saat aku meminta untuk hidup mandiri di Semarang pun, Ibu yang membantuku untuk membujuk Bapak agar mengijinkan.
Dan, saat ini aku bangga dengan diriku yang telah melangkah sejauh ini. Membuat mereka dengan bangganya menyebutkan nama ku saat aku meraih impianku.
Tring
Ibu Sayang :
Sudah perjalanan, Kak? Nggak ketinggalan kereta kan?
Nah kan baru juga membatin sudah muncul juga notif dari beliau.
Ghania :
Alhamdulillah, sampun Ibu ku sayang... Ini sudah duduk manis di kereta kok.
Tenang Buk, semuanya beres..
Ibu Sayang :
Syukurlah...
Nanti kabarin aja kalau mau sampai.
Minta dijemput siapa? Bapak? Ibu? Mama Dinda atau Papa Ham? Atau mau dijemput ramai-ramai? Sekalian si bungsu sama si kembar.
Ini mau jemput aku apa mau demo?
Ghania :
Ya ampun Ibuk niatnya mau demo ya?
Terserah sih siapa aja yang jemput, kalau pun nggak ada yang jemput juga Kakak bisa pakai ojol.
Bapak Negaraku memanggil ...
"Hallo, Assalamualaikum, sugar daddy akuuu...." Sapa ku namun dengan suara berbisik, takut di dengar sama orang juga kali
"Waalaikumsallam, sugar daddy - sugar daddy. Udah di kereta, Sayang?"
"Sudah dong, Bapak aku yang paling ganteng. Ini udah di kereta kok. Sabar sebentar lagi kita ketemu."
"Iyaa Sayang, minta dijemput siapa? Bapak kira kamu ketinggalan kereta lagi." Ujar Bapak diseberang sana dengan nada candanya yang khas
"Ini Bapak sama Ibuk lagi nggak bareng, ya?"
"Nggak, Ibuk lagi di toko. Bapak lagi di kantor ini sama Papa bro, kamu."
"Hallo Anak gembul ku sayang, buruan sampai rumah, Papa kangen kamu."
Om ku satu ini memang tidak pernah berubah, meskipun dia sudah punya anak sendiri. Om Hammas adalah adik Bapakku yang sekaligus juga sahabat Ibuku waktu SMA, dan ya bagi ku Om Hammas adalah Bapak kedua ku yang selalu ada untukku, namun sekali pun ada Om Hammas tentu yang ada di hatiku tetap Bapak Dhimas Abrisam Budianta number one. Saking dekatnya aku dengan Om Hammas makanya dia ajarin aku sejak kecil panggil dia Papa, sampai teman-teman aku salah paham dikiranya aku punya dua Ayah, ya mana bisa gitu, 'ih enak ya, Ghania punya dua Ayah'
"Iyaaa nih bentar lagi juga sampai rumah, Papa Bro. Ya udah, nanti sekalian aja yang jemput Bapak sama Papah. Tapi ya terserah sih, Kakak mau dijemput siapa aja."
"Ya sudah, nanti kabarin Bapak aja ya? Kita ini Mama Dinda wasap Papa mu, kita makan di luar dulu."
"Oke deh, siap. Nanti princess kabarin lagi, hehe.."
"Iyaa Princess, hati-hati. Jangan ada yang ketinggalan barangnya, dicek lagi, Nak."
"Iyaa Bapak, Assalamualaikum.."
"Waalaikumsallam, Princess Ghania."
Beruntung kan?
Beruntung rasanya, dihadirkan ditengah-tengah keluarga ini. Mungkin di luaran aku bisa terlihat mandiri dan kuat, namun sungguh berbeda saat ditengah-tengah mereka aku menjadi gadis yang manja dan lemah. Bagaimana tidak, cucu perempuan satu-satunya membuat mereka protective. Maka dari itu, aku sangat berterima kasih pada Ibu ku, beliau benar-benar hebat bisa meyakinkan keluarga besar saat aku memutuskan ingin bersekolah di kota yang otomatis jauh dari keluarga.
Ya walaupun dua minggu sekali mereka bergantian untuk menjengukku dan setiap malam aku selalu diteror untuk video call bersama-sama, aku tau mereka seperti itu karena mereka menyayangi ku. Entah, selain bersyukur aku harus bagaimana lagi aku benar-benar beruntung telah dihadirkan di keluarga ini.
Ghania :
Kakak dijemput sama Bapak dan Papa Bro, Buk. Jadi Ibu tunggu di rumah aja, see u Buk Anin ku sayang :*
oOo
"Aaa kangen Bapak..." Ujar ku lalu mencium punggung tangan Bapak Dhimas ku yang makin tua makin keren, beliau pun segera menarik tubuh ku kedalam pelukannya.
"Bapak kangen banget..."
"Kakak juga,kangen banget sangat sekaliii rasanya." Bapak terkekeh geli lalu mencium kening ku, lebay sekali kan kami? namun inilah kami dan aku bahagia.
"Bapak sendiri?" Aku mencari sosok lain yang disekitar kami namun ternyata tidak ada, hanya Bapak yang menjemputku.
"Nggak. Papa Hammas mu nunggu di mobil, ayo Ibu sama Mama Dinda sudah nunggu di restoran."
"Let's go."
Kami pun berjalan ke parkiran stasiun dan sudah terlihat Papa Hammas yang sudah menunggu di depan mobil. Ia lebih kaca mata hitamnya lalu merentangkan kedua tangannya untuk menyambutku.
"Anak gembulku."
"Aku udah gedhe Pa, bukan gembul lagi. Lihat badanku udah slim kayak gini juga." Jawab ku setelah melepas pelukan kami, ya mereka selalu memperlakukanku bagai gadis kecil mereka meskipun aku sudah berumur kepala dua ini.
"Hahaa.. iya-iya udah gedhe, bentar lagi mau jadi istri orang."
"Doain aja, biar cepat dihalalin ya Pa."
"Nggak mau ah." Jawab Papa Hammas lalu berjalan ke sisi kemudi.
"Kok nggak mau?"
"Papa masih agak nggak rela aja ada yang mau jadiin kamu istri. Pasti nanti Papa udah nggak sebebas ini peluk-peluk kamu, takut kalau dicemburuin sama suami kamu nanti. Ya nggak Mas?"
Bapak pun mengangguk dan tersenyum.
Aw, so sweet
"Ih, ya nggak kali Pa. Ya mana bisa gitu, Bapak Dhimas dan Papa Hammas tetap di hati ku dengan tempatnya masing-masing. Jadi nggak perlu khawatir, nanti setelah menikah Ghania Nimas Almahyra tetap menjadi gadis kecil kalian yang menggemaskan." Jawab ku membuat Papa dan Bapak tersenyum lalu Bapak membukakan pintu belakang untukku.
Berlebihan bukan? Tapi ini manis sekali
"Makasih Bapak ku."
"Sama-sama, Sayang."
"Baiklah tuan putri, saatnya kita menyusul Ibu dan Mama Ratu." sahut Papa Hammas yang masuk disebelah kanan sedangkan Bapak di sisi kiri.
Manis sekali kan mereka?
Untung saja Ibu Anin dan Mama Dinda tidak diabetes, karena perlakuan mereka yang amat manis semacam ini.
Kayaknya Mas Abi perlu belajar banyak deh sama mereka.
oOo