"Wih, tumbenan kita makan bareng di hotel." Ujar ku saat mobil Papa Hammas membelok ke parkiran hotel ternama di kota kami.
"Ibu sama Mama Dinda sudah nunggu di dalam dan malam ini kita rayakan pergantian tahun disini." Jelas Bapak menoleh ke arahku.
"Wih, asyik nih.. kita nginap bareng-bareng, Bapak?"
"Iya, nanti Kakek, Nenek nyusul bareng Om Bagas dan Uti bareng sama aunty Qila."
"Emang ada acara apa sih? Tumben banget perayaan malam tahun baru sampai nginap semua, biasanya juga cuma bakar-bakar terus main petasan di komplek Nenek." Tanya ku heran.
"Ya nggak papa kan? Sekali-kali kita buat acara yang beda dari biasanya." Jawab Bapak dan kami pun turun dari mobil yah sudah berhenti di depan lobi hotel.
"Tuh, pada kumpul disana. Bapak mau check in kamar kamu dulu, ya." Tunjuk Bapak pada lima orang yang sedang berkumpul di meja restoran dan ku lihat dua wanita cantik sedang bercengkrama sembari menampilkan tawa bahagia, sedangkan ketiga remaja itu seperti biasa sedang asyik dengan ponsel miringnya.
"Assalamualaikum, Ibu ku dan Mama Dindaku." Sapa ku merangkul Ibu dan Mama Dinda dari belakang membuat mereka terkejut.
"Eh, astaghfirullah, hiiih hobi banget ya bikin orang kaget." Kata Ibu dan aku hanya tertawa, tanpa menghiraukannya aku pun mencium kedua pipi Ibu Anin dan memberikan pelukan, setelah itu bergulir ke Mama Dinda, Tante yang sudah seperti Mama ku sendiri.
"Nggak ketinggalan kereta kan?" Tanya ku dengan membanggakan diri.
"Hah, paling juga diwanti-wanti sama Mas Abi kan? Kalau nggak ya diingetin terus sama Mbak Gendhis?"
"Hehe, tebakan Ibu selalu saja tepat. Sampai dibantuin packing sama Mbak Gendhis malah."
"Mau minum apa, Kak? Mama pesankan."
"Hmm, nggak usah Ma. Nanti aja, Kakak pesan sendiri." Tolak ku halus lalu berjalan ke arah tiga krucil yang tidak menghiraukan kedatanganku.
"Kok nggak ada yang nyambut kedatangan kakak sih?" Ujar ku kesal, secara bersamaan si bungsu dan si kembar pun mendongak dengan wajah datar mereka menatap ku.
"Hai kak." Sapa mereka kompak, setelah itu mereka kembali menunduk dan fokus ke handphone masing-masing.
"Ganendra, Ghifari, Ghava, kalian nggak kangen sama Kakak?" Tanya ku selembut mungkin.
Tidak direspon
Dasar menjengkelkan
"Ghava, kamu nggak kangen kakak dek?" Tanya ku pada Ghava, diantara mereka bertiga yang paling lemah lembut.
"Hm, kangen." Jawabnya singkat.
"Kok nggak peluk kakak? Biasanya kamu yang paling antusias kalau kakak pulang."
"Bentar kak, nanggung." Jawabnya tanpa menatapku sama sekali.
"Udah, biarin aja dulu, nanti juga bakalan nempelin kakak kalau udah jenuh main game." Sahut Papa Hammas mengacak-acak rambut ku dari belakang.
"Dasar nyebelin semua."
Papa Hammas hanya terkekeh dan mengajak ku untuk memesan makanan kami, sebelum aku ke kamar untuk istirahat.
"Toko gimana, Kak?" Tanya Ibu sembari menunggu makanan kami datang.
"Baik Bu, Alhamdulillah kemarin produk baru kami terjual semua, di store online maupun offline sama-sama ramai." Jawab ku.
"Oiya, bulan depan kayaknya Mama perlu seragam sekeluarga deh, Kak. Kira-kira bisa kan desain kan?"
"Boleh Mah, bisa banget dong buat Ibu dan Mamah apa sih yang nggak."
"Tante Key, sehat kan Kak? Jangan-jangan kamu malah jarang main ya?" Tanya Ibu curiga, padahal tanpa aku jawab pun Ibu pasti sudah tahu kabar sahabat sejatinya, bagaimana tidak mereka saja setiap hari chattingan. Kadang aku dan Mbak Gendhis bingung, apa saja yang mereka bahas sampai rutin bertukar kabar setiap menitnya.
"Nggak kok, bahkan kakak sering ikut pulang Mbak Gendhis buat makan gratis. Hehe.." Jawab ku nyengir melihat ekspresi Ibu yang tidak menyenangkan.
"Nggak-nggak Bu, lagian lho Tante Key yang minta, kadang malah dianterin ke apartemen pas aku nggak ke toko. Malah repotin beliau kan. Bukan Ibu kan yang nyuruh?"
"Ha? Nyuruh Tante mu? Nggak lah, lagian kamu udah gedhe ngapain Ibu minta Tante ngurus makan kamu."
"Ih, kali aja suruh mata-matain aku."
"Iya, mata-matain kamu biar nggak pacaran terus sama Mas Abi."
"Boro-boro pacaran, yang ada aku ditinggalin kerja terus, Buk."
-°-°-°-
Akhirnya aku bisa merebahkan diriku di kasur, setelah seharian ini beraktivitas. Ku ambil ponselku yang ada di meja, aku baru menyadari kalau belum memberi kabar pada Mas Abi.
Tumben juga dia nggak neror aku, apa lagi sibuk sama rekannya?
Memanggil ...
Lama banget nggak dijawab, apa emang lagi sibuk ya? Tau lah, nanti aja paling dia bakal telepon balik.
Tok tok tok
Aku pun dengan lesu membuka pintu kamar dan ternyata laki-laki replika Bapak Dhimas yang muncul.
"Apa?!"
"Ih, galak bener sih, Kak." Jawabnya dengan tengil dan menerobos masuk ke dalam kamar ku
"Dasar nggak sopan, main nylonong aja. Tadi sok-sokan nggak peduli sama Kakaknya, sekarang akhirnya nyusulin juga kan?"
"Ya ampun, kakak ngambek? Ya maaf, kan tadi aku masih seru main game. Kakak kangen aku ya? Sini-sini peluk." Dia pun bangun dari tidurnya dan mendekapkan dengan erat sampai aku merasa sesak.
"Ganendra! Sesak tau nggak. Rese banget sih kamu." Bukannya merasa bersalah adekku itu pun malah tertawa terbahak di ranjang.
"Gimana tadi perjalanannya? Nggak salah gerbong kan?"
"Sembarangan aja, ya nggak mungkin lah."
"Ya kali aja Kakak salah masuk." Jawab Ganendra, aku pun merebahkan tubuhku disampingnya memang kami biasa tidur bersama saat aku pulang ke rumah, meskipun jarak umur kita terpaut lima tahun tapi karena postur tubuh Ganendra yang lebih tinggi pun berasa kalau aku ini adeknya bukan kakaknya. Si kembar dan Ganendra memang memiliki postur tubuh yang sama, ya jarak lahirnya pun berdekatan, bahkan saat itu Ibu Anin pun masih sempat menemani Mama Dinda di rumah sakit saat melahirkan si kembar, sampai beberapa hari setelah si kembar lahir Ibu melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Ganendra Alfarel Budianta si replika Bapak Dhimas.
"Kak?"
"Hmm?"
"Kakak bahagia?"
"Kenapa tanya gitu?" Tanya ku balik dengan menyelidik
"Ck, tinggal jawab aja kali kak."
"Hmm, bahagia kok. Sejauh ini kakak bahagia dengan apa yang kakak punya sekarang."
"Bahagia nggak punya pasangan kayak Mas Abi?" Ganendra ini tipikal anak yang cuek, namun dia sangat sayang sama Ibu dan kami sekeluarga, bisa saja dia menjadi lelaki dingin tidak tersentuh namun jika di rumah dia akan menjadi lelaki manja dan menyebalkan bagiku. Ya sebelas dua belas dengan Mas Abi.
"Kenapa tanya gitu? Kamu jarang-jarang lho, tanya-tanya kayak gini."
"Nanti kalau kakak udah nikah dan ikut suami, kakak nggak akan lupain kita kan?" Suara Ganendra terdengar lirih dan serak membuat ku menatapnya, namun Ganendra hanya menatap langit-langit kamar tanpa mau melihatku.
Ku ubah posisi ku dengan berbaring miring menghadapnya, "Kamu aneh banget sih, Dik. Nggak mungkin lah kakak lupa. Kenapa kamu jadi kayak gini? Takut banget ya kehilangan kakak kamu yang cantik dan menggemaskan ini?" Tanyaku balik dengan centil, seketika Ganen melirikku dengan malas.
"Sok cantik banget sih. Nggak usah geer ya, aku tanya gitu karena takut aja nanti setelah kakak nikah sama Mas Abi kakak udah nggak kasih uang jajan buat aku."
"Halah, dasar gengsi. Paling juga tadi sebenarnya pengen bilang nggak mau kehilangan kakak, kamu tenang aja meskipun nanti kakak udah jadi istri orang, kamu tetap jadi adek kakak yang paling tampan kok dan untuk uang jajan aman sampai nanti kamu punya penghasilan sendiri seperti janji kakak sama diri kakak sendiri." Jawab ku dan Ganen tersenyum lebar.
"Awas aja kalau kamu pakai foya-foya." Ancamku.
"Ish, nggak-nggak kok. Tenang, selama ini uang dari kakak aman kok, nanti buka aja tabungan aku. Kurang gimana coba punya adek kayak aku, udah ganteng, pintar, rajin nabung, sayang keluarga lagi." Aku pun mengangguk-angguk, memang benar sih yang dia bilang
"Lagian juga Kakak nggak tau, bakalan dinikahin kapan." Gumam ku dan aku rasa Ganendra mendengar dengan jelas.
"Sabar aja, aku doakan secepatnya kok Mas Abi halalin kakak."
oOo