"Udah selesai? Duh, cantik banget anaknya Ibu." Ujar Ibu saat masuk kamar ku.
"Jadi kakak disuruh pulang cuma mau diajak kondangan?"
"Hehe, gapapa sekali-kali ikut Bapak sama Ibu kondangan, ya itung-itung pamer punya anak gadis yang cantik gini." Yang awalnya aku ogah-ogahan pun tersenyum setiap Ibu memujiku.
"Ini yang dikasih Bunda Kinan?"
"Iya, bahannya dari Bunda. Bagus nggak Bu?"
"Bagus, cantik. Apalagi yang dipakai Kakak, makin cantik."
"Bulan depan kakak belikan tas baru ya? Hari ini Ibu udah bilang cantik berkali-kali." Kataku dan Ibu tersenyum geli lalu mengangguk menatapku.
"Ayok, Bapak sama yang lain udah nunggu di depan." Ajak Ibu.
Kami pun berjalan bersama menemui Bapak, Mama Dinda dan Papa Hammas, untuk krucil mereka menunggu di kamar, rencananya nanti setelah acara di nikahan anak teman Bapak kita akan berkumpul bersama-sama menjelang pergantian tahun.
Aku sedikit enggan untuk ikut ke acara kondangan, terkecuali kalau acara dari teman atau sahabat ku. Ya beginilah, aku hanya mengikuti Ibu dan Mama Dinda untuk menyapa teman-teman mereka. Dari informasi yang aku tangkap tadi ternyata yang menikah adalah anak dari client Bapak dan Papa Hammas yang sudah kenal baik.
"Kak, kenapa? Bete ya?" Mama Dinda bertanya sedikit berbisik dan seketika aku hanya tersenyum mengiyakan.
"Nggak ada yang kakak kenal, Mah."
"Hehe, iya udah sabar ya, bentar lagi kita keluar." Jawab Mama Dinda dengan pengertian.
Sesekali aku menatap layar ponsel ku, berharap ada pesan dari Mas Abi, sepertinya benar dia sedang sibuk dengan teman-temannya sampai tidak bisa memberi kabar setelah telepon sore tadi.
Ku potret kedua mempelai dan akan ku kirimkan pada Mas Abi.
Semoga dia peka dengan kode ku kali ini.
To Mas Abi :
Aku lagi ikut ke pesta pernikahan anak temannya Bapak, suka banget sama dekorasinya.
Bagus ya Mas? Apa perlu aku tanyakan sama mereka pakai vendor mana? biar bisa kita pakai juga nanti, hehe, Canda kok. Tapi kalau mau diseriusi sih, ya Alhamdulillah.. hehe
Oke, kali ini memang dia benar-benar sibuk sampai tidak ada waktu untukku.
"Dekornya bagus ya, Kak?" Tanya Bapak berjalan pelan dengan merangkul bahuku disebelah kiri beliau, sedangkan Ibu ada disebelah kanan, berasa jadi istri kedua nih.
UPS, canda Pak Dhimas hehe nggak kok. Ya gimana ya, Bapak Dhimas nggak kelihatan sih kalau udah kepala lima, makin tua malah kelihatan makin muda.
"Huum Bapak, bagus. Simple tapi elegan."
"Bisa tuh kak, nanti dipakai buat nikahannya Kakak." Sahut Papa Hammas dari belakang kami
"Iya, teman-teman Mama juga banyak kok yang pakai jasa WO tadi. Nanti Mama tanyakan ke teman Mama."
"Yang acaranya anak Jeng Dahlia kemarin, juga pakai WO ini ya Dek?" Tanya Ibu pada Mama Dinda
"Iya Mbak, waktu tunangan juga pakai ini."
"Nah, iya kak, besok kalau nikah pakai WO ini aja ya. Nanti biar Mama sama Ibu yang urus." Ujar Ibu
Aku hanya bisa mengangguk lesu dan berusaha menampilkan senyum pada mereka.
"Iyaa, nanti ya, nanti entah kapan nantinya, tunangan aja belum." Gumam ku dan ku lihat Bapak tersenyum lalu mengelus rambut ku.
"Eh kok? Kita langsung ke rooftop?" Tanya ku saat Papa Hammas menekan tombol lift ke lantai paling atas.
"Iya, yang lain juga udah nunggu." Jawab Papa Hammas
"Lho Buk, kita nggak ganti baju dulu?".
"Nggak usah, buat apa ganti baju?"
"Ih, nggak nyaman Bu, katanya mau barbeque an kok pakai dress gini Kakak nggak nyaman."
Mereka hanya tersenyum tanpa menjawab perkataanku.
"Boleh Bapak tutup mata kakak?"
Aku memandang heran ke Bapak
"Ngapain? Kok pakai tutup mata?"
"Hm, ada sedikit surprise buat kakak."
"Kan kakak nggak lagi ulang tahun." Bapak terkekeh namun ada yang beda, mata Bapak terlihat berkaca-kaca menatapku.
"Nggak harus ulang tahun kan kalau mau kasih surprise, ditutup pakai tangannya Bapak kok." Bahkan suara Bapak pun bergetar seperti menahan tangis.
Aku pun mengangguk dan mau, setelah itu aku merasa dituntun oleh Bapak dan Ibu entah dimana aku sama sekali tidak bisa melihat karena mataku ditutup oleh kedua tangan Bapak.
"Dalam hitungan ketiga, kakak boleh buka mata setelah Bapak melepas kedua tangan Bapak." Bisik Bapak setelah kami berhenti.
"Kakak sudah siap?"
Aku mengangguk dan merasakan genggaman tangan Ibu yang mengerat serta Ibu jari Ibu tak henti mengelus punggung tanganku.
"Satu.."
"Dua.."
Bapak mulai melepas tangannya dari kedua mataku dan beralih merangkul pundakku.
"Tiga.."
"Kakak bisa buka mata."
Perlahan ku buka kedua mataku, masih samar menyesuaikan pencahayaan sekitar dan di depanku dia berdiri gagah menatapku memberikan senyuman terbaiknya. Aku menoleh ke sampingku, dimana Bapak berusaha untuk tidak menjatuhkan air matanya dan tersenyum ke menatapku.
Jadi ini alasan mereka meminta ku pulang dan Mas Abi tidak ada kabar seharian?
"Jangan nangis." Bisik Bapak Dhimas, mengusap sudut mataku yang sudah menitikkan air mata.
"Bapak harap malam ini menjadi salah satu malam terindah dalam hidup kakak." Ujar Bapak, tanpa sanggup ku tahan aku memeluk lelaki hebat dalam hidupku, beliau telah memberikan yang terbaik untukku.
"Semoga segala niat baik Mas Abi dan keluarga datang kesini bisa diterima Kakak, apa pun keputusan kakak, Bapak dan Ibu akan merestui." Setelah melepas pelukan kami Bapak mencium keningku dan aku beralih pada Ibu yang tidak jauh beda dari kami, bahkan hidung Ibu sudah memerah yang ditutup dengan tisu dan aku yakin hidungku pun sama-sama merahnya seperti Ibu kali ini.
"Nih tisu, hidung kakak merah." Kata Ibu memberiku selembar tisu.
Aku terkekeh dan menerima, "Ibu juga."
Kami pun sama-sama terkekeh sebelum pada akhirnya mengikuti arahan MC yang mengatur segala acara malam ini.
Aku masih tidak menyangka, ini semua diluar perkiraanku.
Bagaimana mungkin acara lamaranku aku tidak mempersiapkan apapun, baik baju, make up apapun itu. Mas Abi benar-benar mengejutkan, ah bukan hanya Mas Abi, bahkan semua keluarga, mereka benar-benar hebat atau memang aku yang tidak peka?
"Baiklah, kami akan memberikan waktu kepada Mas Abizar untuk menyampaikan niat baiknya malam ini terhadap Mbak Ghania beserta keluarga besar."
Namun, sebelum Mas Abi menyampaikan niat baiknya Bunda Kinan meminta waktu untuk menyampaikan sesuatu.
"Maaf, saya sela sebentar, Ghania, Pak Dhimas dan Ibu Anin beserta keluarga besar, mungkin ini acaranya sedikit berbeda ya? Biasanya seorang lelaki yang menyampaikan langsung niat baiknya pada seorang wanita dan keluarganya, sebelumnya, perkenalkan Saya Kinanthi, wanita beruntung yang dipanggil Bunda oleh anak laki-laki yang ada disamping saya ini. Saya sangat beruntung, dimana hampir tiga puluh tahun yang lalu dia memilih saya dan meminta saya untuk menjadi Bundanya."
Bunda Kinan memandang Mas Abi sembari menceritakan bagaimana masalalu mereka dulu, saat Mas Abi menginginkan Bunda Kinan menjadi Ibunya setelah Mama Mita, Mama kandung Mas Abi meninggal.
Bahkan aku bisa melihat kalau Mas Abi juga menitikan air mata, saat mencium tangan Bunda.
"Maka dari itu malam ini , izinkan saya, sebagai Ibunda dari Abizar Daffa Aditama meminta Ghania Nimas Almahyra untuk menjadi istri, pendamping hidup Mas Abi dan menjadi menantu Bunda? Ah iya, jangan dijawab sekarang ya, biar Mas Abi yang meminta." Ujar Bunda Kinan dan tersenyum hangat pada kami.
Aku tidak melepas tangan kedua orang tuaku selama acara berlangsung, Bapak dan Ibu pun sesekali mengelus punggung tangan ku dan mengusap air mata ku saat aku menitikkan air mata.
Kini giliran Mas Abi yang mengucap salam dan berterima kasih untuk sambutan dari kami serta berlangsungnya acara malam dengan baik.
"Seperti yang disampaikan Bunda saya tadi, tujuan saya kesini adalah untuk melamar Ghania putri Om Dhimas dan Tante Anin, saya tidak bisa mengucap ini sebagai suatu pencapaian dalam hidup saya, menurut saya ini adalah langkah awal yang akan kami tempuh apabila lamaran ini diterima. Saya ingin melakukan ibadah, yang tidak bisa saya lakukan sendiri dan harus berjamaah maka dari itu saya butuh seorang makmum, jadi Ghania maukah kamu menjadi makmum saya?"
Bapak menatapku dan mengangguk, seolah memberikan kesempatan untukku mengambil keputusan. Sebelum berbicara, "Kakak, Putri Bapak dan Ibu, hari ini ah bukan tapi beberapa hari yang lalu Mas Abi datang ke rumah, dengan beraninya dia meminta putri Bapak satu-satunya untuk dijadikan istri, dan hari ini dia membawa keluarganya bertemu dihadapan semua keluarga besar kita dia meminta putri Bapak untuk menjadi pendamping hidupnya, sudah dua puluh empat tahun Bapak dan Ibu mendidik Kakak yang Insya Allah menjadi anak yang baik, ini menjadi salah satu keputusan besar yang akan Kakak ambil yang akan kakak jalani kedepannya, maka dari itu Bapak Ibu serahkan semua pada Kakak, apa pun itu keputusan Kakak kami sekeluarga akan merestui." Bapak memberikan keputusannya padaku.
"Bapak, Ibu dan seluruh keluarga besar kami, sebelumnya terima kasih, terima kasih telah memberikan kesempatan ini pada kakak untuk menentukan keputusan kakak sendiri, teruntuk Bunda Kinan dan Ayah Hafiz beserta keluarga besar, terima kasih juga telah datang menemani Mas Abi kesini jauh-jauh untuk melamar Ghania, dan Mas Abi aku nggak tahu mau bicara apa lagi, selain thank you, terima kasih telah memintaku, and Bismillah I said yes."
Seluruh keluarga bahkan mengucap hamdalah bersama-sama setelah mendengar jawabanku, Mas Abi pun menatapku bahagia dia bahkan terlihat lebih lega dari sebelumnya.
Setelah tukar cincin dan perkenalan keluarga, kami makan malam bersama dan menurutku ini adalah acara lamaran yang paling unik dan beda dari yang lain, ya bagaimana tidak setelah selesai berkenalan dengan anggota keluarga, kami langsung pesta untuk menyambut malam pergantian tahun beberapa menit lagi, ya walaupun tidak semua ikut ada beberapa yang sudah kembali ke kamar terutama Kakek, Nenek, Uti, beberapa keluarga Mas Abi juga.
"Bapak sama yang lain balik kamar dulu ya Kak, kalian saja yang lanjut." Ujar Bapak pamit pada kami dan menyisakan aku, Mas Abi, tiga G, Mbak Caca anak Pak Dhe Bima beserta suaminya dan teman-teman Mas Abi yang ikut kesini.
"Udah nggak mau nangis lagi?" Tanya Mas Abi membuat ku melayangkan tatapan tajam ke arahnya.
"Apa?!"
"Duh, galak bener sih Ndra, kakakmu." Ujarnya dramatis.
"Gimana Mas? Nggak nyesel kan habis lamar wanita galak? Udah galak cengeng lagi." Respon Ganendra membuatku semakin kesal dan Mas Abi hanya tertawa lalu mencubit hidung ku, ah dasar kebiasaan!
"Awas-awas minggir, adegan 18+ akan ditayangkan disini." Ujar Ghifari saat Mas Abi menarik tubuhku kedalam rangkulannya.
"Bahagia nggak?" Bisik Mas Abi.
"Bahagia dan sedih juga sih."
"Kenapa sedih?"
"Ya gimana, lihat dong penampilan aku nggak maksimal banget buat lamaran. Harusnya aku pakai MUA, bukannya gini make up an sendiri tipis banget, Mas."
"Jadi kamu merasa lagi jelek?" Tanyanya dengan datar.
"Nggak sih, aku kan cantik. Cuma kurang maksimal aja."
"Pede banget. Tapi benar sih kamu cantik, apalagi waktu nangis tadi cantiknya maksimal banget sampai hidungnya merah." Ujarnya dengan tersenyum jahil.
"Mas? Kamu lagi ngeledek aku?"
"Nggak, aku jujur."
"Habis ngomongnya nggak ikhlas banget."
"Ikhlas kok, ikhlas banget. Makasih ya? Makasih sudah menerima lamaran aku." Kata Mas Abi lalu mencium tanganku.
Tumben banget nih, ternyata sisa-sisa romantisnya masih.
"Terima kasih juga, terima kasih untuk malam ini atas segalanya, aku nggak nyangka sih bakalan ada acara kayak gini, ya walaupun kesal sama Mas, sengaja nggak ngabarin aku seharian."
"Lho, kan tadi sore udah teleponan."
"Ih apaan, kamu aja telepon kayak dikejar-kejar orang. Buru-buru banget, takut ketahuan sama aku ya?"
"Hehe, iya waktu itu aku lagi di kamar sama si kembar, kan Ganendra lagi kamar kamu toh?"
"Oh, jadi Ganen itu mata-mata kamu?"
"Hehe, iya." Jawabnya berbisik ke telinga ku.
"Hayoo, Abiiii.. sabar ya, satu setengah bulan lagi tahan Biii." Teriakan Mbak Caca membuatku malu dan menenggelamkan wajah ke pelukan Mas Abi.
"Ca, malu nih calon istriku."
oOo