Setelah sarapan bersama, satu persatu keluarga kami saling berpamitan, terutama keluarga Mas Abi yang akan melakukan perjalanan jauh.
"Pesan saya ya Bu Hafiz, nanti kalau Ghania jadi menantu Bu Hafiz, Bu Hafiz harus sabar, ekstra sabar menghadapi Ghania, cucu saya yang satu ini ya gimana ya, namanya cucu perempuan satu-satunya, sejak kecil sudah pasti menjadi princess di keluarga kami. Yang sabar kalau nantinya, Bu Hafiz tau sifat minusnya Ghania." Ujar Nenek Lastri pada Bunda dan Bunda pun hanya tersenyum mengangguk menatapku.
"Tenang aja Nek, Alhamdulillah sejauh ini saya sudah bisa mengerti sifatnya Ghania, terlebih setelah Ghania memutuskan sekolah di Semarang, sejak saat itu saya sudah menganggap Ghania jadi putri saya sendiri, jadi Nenek nggak usah khawatir." Jawab Bunda Kinan merangkul pundak ku yang duduk disamping Bunda.
"Semoga Ghania bisa jadi menantu yang baik ya, Bu."
Setelah semua masuk mobil dan bersiap untuk jalan, kecuali Mas Abi.
"Hati-hati lho, Bil. Besok Mas kabarin kalau mau jemput." Ujar Mas Abi pada Sabila yang akan mengemudi mobil.
"Iya, siap."
"Lho, Mas Abi nggak pulang sekarang?"
"Nggak, kalau Mas balik sekarang, besok kamu balik sama siapa? Nggak mungkin kan Mas biarin kamu balik sendiri." Jawab Mas Abi santai.
"Ck, padahal kemarin juga sendiri."
"Beda Ghania, sekarangkan kamu udah diikat, jadi tanggung jawab Mas semakin bertambah sekarang."
"Duh, makin posesif kayaknya." Gumamku dan dia hanya terkekeh mendengarnya. Kami pun bersiap untuk pulang dengan membawa seserahan dari pihak Mas Abi kemarin, bahkan mobil Bapak pun tidak muat sampai harus dibagi di mobil Papa Hammas.
"Kerjaan lancar, Mas?" Tanya Bapak pada Mas Abi yang sedang mengemudi.
"Alhamdulillah, lancar Pak. Ya walaupun kemarin ada beberapa yang miss pencatatan beberapa client cukup menguras pikiran dan waktu juga. Alhamdulillah, dapat teratasi."
Dengarku saat mereka memulai obrolan.
Ah, dua orang itu kalau sudah bertemu pasti tidak jauh dari pekerjaan, motor dan olahraga.
"Bu, kangen Mbah Kakung." Ujarku berbisik pada Ibu disampingku, spontan Ibu menatapku dan menggenggam tanganku lalu memberikan senyuman hangat.
"Nanti sore kita ziarah bareng-bareng ya, Ibu juga udah lama nggak ziarah."
Aku mengangguk dan mengalihkan pandanganku ke jalanan, tiba-tiba terlintas seharusnya di hari bahagia kemarin Mbah Kakungku ikut hadir ditengah-tengah kami, namun Allah lebih menyayangi beliau, beliau dipanggil Allah ketika aku baru berpindah ke Semarang, karena penyakit jantung beliau. Bahkan, Ibuku sampai jatuh sakit karena tidak kuat untuk menerima kenyataan atas kepergian Mbah Kakung yang begitu mendadak. Bagi Ibu, berkat didikan keras Kakung Ibu bisa kuat seperti, bahkan Ibu bisa memperjuangkan keinginanku untuk hidup sendiri di kota orang.
"Bahagia disana Mbah Kakung, Ghania sayang Mbah Kakung."
oOo
"Kak, itu Mas Abi kalau mau istirahat suruh tiduran dulu di kamar kakak. Katanya kakak mau tidur sama Ibu? Nanti malam biar Bapak tidur sama Ganendra." Perintah Ibu lalu ku tawarkan ke Mas Abi yang masih main game bersama Ganen, Ghifa dan Ghava di ruang tengah.
Karena jarak rumah Bapak dan Papa Hammas hanya terhalang beberapa rumah saja, jadi tidak perlu heran kalau di kembar tiba-tiba suka tidak pulang dan memilih untuk ikut tidur bersama Ganendra, kalau sudah seperti ini aku merasa punya tiga adik kembar yang menyebalkan semua.
"Mas Abi.."
"Iya?"
"Mas nggak mau istirahat dulu? Tidur di kamar aku dulu gih." Ujarku duduk di sofa belakang tubuh Mas Abi yang duduk di karpet bersama adik-adikku.
"Kak, bentar dulu lah, Mas Abi baru juga main masak udah disuruh istirahat aja." Gumam Ghifa yang sedang berduel dengan Mas Abi.
"Mas Abi tuh dari kemarin belum istirahat, semalam juga dia begadang, makanya dia butuh istirahat, besok dia harus balik kerja." Jelasku.
"Uhuk, mentang-mentang mau jadi istri terus posesif gini. Hati-hati ya Mas Abi, kalau nanti dikekang sama induk monster." Bisik Ghifa pada Mas Abi membuatku menepuk punggungnya dengan bantal sofa.
"Sembarang banget ah kalau ngomong."
Ku lihat Mas Abi hanya terkekeh, lalu memberikan stik playStation pada Ghava disampingnya.
"Lanjutin Ghav." Ujarnya lalu beranjak dan ikut duduk disampingku, memperhatikan Ganen dan Ghifa berebut stik PlayStation bergantian main.
"Ayo, aku antar ke kamar." Ajakku lalu dia tersenyum lalu mengikutiku setelah berpamitan dengan adik-adikku.
"Mau makan dulu nggak Mas?"
"Hm? Belum lapar, nanti aja lah." Ujarnya lalu berbaring di ranjang kamarku yang bernuansa girly sekali.
"Duh, gadis banget." Ujar Mas Abi mengamati setiap sudut kamarku.
"Ya maklum, aku kan disini bagaikan princess tanpa mintapun Ibu sama Bapak udah siapin kamar aku sesuai dengan kamar princess." Jawabku lalu menata meja rias beberapa peralatan skincare yang aku bawa.
"Jadi, kalau anak kita nanti cewek kamu bakal buat kamar dia kayak gini juga?" Tanya Mas Abi membuatku menoleh ke arahnya yang sedang menatapku juga.
Aku hanya tersenyum dan mengedikkan kedua bahu, "Ya tergantung anaknya sih, kalau suka princess juga, ya why not?"
"Nanti setelah kantor pindah ke ruko, kamu yang pilih interiornya sendiri ya, Ghan?"
"Lah, yang lama?"
"Ya biar ditaruh kantor aja, kita bisa beli lagi." Ujar Mas Abi lalu merentangkan tangan kirinya mengodeku untuk mendekat.
"Mau ngapain?"
"Sini, bentar aja."
"Nggak ah, nanti kalau Ibu kesini gimana."
"Nggak, cuma bentar aja aku mau ngobrol." Mau nggak mau aku mendekat dan duduk disampingnya
"Baring."
"Nggak Mas, jangan macem-macem kamu."
"Ghania, cuma baring aja, aku nggak bakalan macem-macem." Ujarnya dengan tenang, lalu aku pun berbaring dengan berbantal lengan Mas Abi, "Nah, gini kan enak."
"Buruan mau ngobrolin apa." Desakku, asal dia tahu aja saat ini hatiku tidak tenang memang kami sering berduaan di apartemenku, namun untuk kali ini aku sedikit takut karena sekarang lagi di rumah Bapak bisa saja Ibu, Bapak atau adik-adikku memergoki kami sedang berduaan seperti ini, beda lagi kalau kami udah sah kan bebas.
"Kamu kok gugup gini, sih?"
"Nggak gugup kok, cuma sedikit takut aja nanti kalau ada Bapak atau Ibu atau malah si tiga krucil, mergokin kita kayak gini."
"Emang kenapa? Toh kita nggak ngapa-ngapain." Jawab Mas Abi dengan tenang dan tangannya yang menganggur pun mengusap pinggangku.
"Mas, geli."
Dia hanya terkekeh, Dasar jahil! Udah tau kelemahanku masih aja digoda.
"Aku cuma mau tanya aja, boleh nggak kalau setelah menikah nanti jadwal kamu bisa dirubah sedikit?"
"Dirubah gimana?"
"Kamu tau kan Sayang, kalau kamu jadi istri otomatis semua kegiatan kamu diluar akan sedikit berkurang, oke, bukan bermaksud mengekang kamu, tapi aku mau kalau aku pulang kerja kamu udah di rumah, setelah itu kita bisa habiskan waktu berdua dan bisa aja kamu kerjakan kerjaan kamu dari rumah. Ya, apalagi kita sama-sama freelance jadi aku minta kamu jangan pulang sampai larut kayak biasanya ya."
"Mas, kita bisa bicarakan ini nanti kan?" Tanya ku melihat Mas Abi terlalu serius membicarakan ini. Memang untuk selama ini aku seringkali pulang malam, kadang pukul delapan aku baru keluar dari toko dan aku habiskan untuk bertemu client, entah hunting kain atau jalan-jalan dengannya.
Jarang sekali berdiam diri di apartemen.
Mungkin karena selama ini aku terbiasa hidup dengan kehangatan keluarga, jadi aku habiskan waktu luang ku untuk di luar dan ke apartemen hanya untuk istirahat.
"Memang apa bedanya dengan kita bicarakan sekarang?"
"Ya, nggak, cuma bisalah kita bicarakan nanti. Lagian kamu ngajak nikah kok dadakan banget, mana cuma ada dua bulan lagi waktunya buat siapin semua. Mana bisa?"
"Lha, katanya kamu udah siap buat dinikahin, kemarin siapa yang minta buru-buru pengen nikah? Lagian kita juga akan dibantu banyak orang, optimis dong dalam waktu singkat kita bisa wujudin pernikahan sesuai dengan keinginan kamu."
Iya juga sih, kan aku yang kepengen buru dinikahin
"Hm? Kamu keberatan sama permintaan aku? Atau terlalu mengekang kamu ya?" Mas Abi terlihat menatapku dengan menyelidik
"Ha? Nggak, nggak kok. Cuma ya, aku usahakan mulai sekarang biar aku terbiasa nanti bisa pulang lebih awal."
"Dan satu lagi?"
"Apa?" Tanyaku penasaran
"Aku ingin kamu tidak menunda kehamilan, siapkan setelah menikah nanti kalau kita langsung mendapat keturunan?"
Jujur, aku masih ragu dalam hal ini, ada banyak hal yang harus aku persiapkan untuk menghadapi masa-masa kehamilan dan menjadi seorang Ibu, tentunya. Tapi kalau dilihat dari wajah Mas Abi ketika bersama keponakan - keponakannya, tidak bisa ditutupi kalau dia sebenarnya tidak sabar ingin memiliki anak sendiri.
"Kok diam?"
"Hm?"
"Apa yang kamu pikirkan?"
Seketika aku mengingat awal kehamilan Mbak Gendhis, dia mabuk parah bahkan sampai dia harus bedrest di rumah sakit karena sempat terjadi pendarahan juga. Bisakah aku melewati masa-masa seperti itu? Terlebih Mas Abi sendiri masih suka pergi-pergi sampai larut bertemu dengan teman-temannya dan belum lagi kalau pekerjaan dia yang terkadang mengharuskan Mas Abi pergi ke luar kota.
"Ghania..."
"Kamu janji kan, akan menemani aku dimasa-masa kehamilan? Selalu disamping aku dan menjadi suami siaga?" Tanya ku padanya dan Mas Abi sempat tertegun lalu terkekeh.
"Kok nanya gitu? Kamu kayak belum percaya sama aku." Kini mata Mas Abi menatapku serius.
"Mas, bukannya gitu. Selama ini aja kita masih suka sama-sama habisin waktu di luar kan? Nggak hanya aku lho, kalau disini cuma aku yang harus merubah jadwalku, gimana sama Mas Abi? Mas Abi juga masih seringkan habisin waktu sama teman-teman entah basket atau kantor, bahkan alumni ini itu lah. Kan nggak adil kalau cuma aku aja yang rubah jadwalku, kamu menginginkan aku lebih banyak di rumah sedangkan kamu dengan seenaknya keluar sama teman-teman kamu." Jelasku namun hanya mendapat respon datar dari Mas Abi.
"Udah?"
"Apa?"
"Ada lagi yang mau dikeluarkan uneg-unegnya?"
"Kali ini, cukup itu aja sih."
"Kamu pikir Mas Abi nggak mikirin kayak gitu, kalau Mas Abi udah ngajak kamu nikah dan kamu siap untuk dinikahi, maka saat itu pula Mas siap buat merubah seluruh kehidupan Mas. Makanya Mas biarin kamu buat senang-senang dulu, fokus ke karier dan bahagiakan diri kamu dengan segala pencapaian kamu sendiri, sebelum akhirnya kamu menjadi seorang istri dan ibu, yang pastinya tidak akan bisa sebebas saat ini. Kalau Mas nggak mikirin itu semua, sudah pasti Mas nikahin kamu waktu kamu lulusan SMA dulu." Penjelasan Mas Abi membuatku melongo, enak aja lulus SMA langsung dikawinin dia mana mau juga aku.
"Enak aja, lulus SMA mau nikahin aku. Ya nggak mau lah aku."
"Halah, sekarang bilang nggak mau paling juga waktu itu kamu mau mau aja."
"Eh, asal nuduh ada mana mau aku nikah sama kamu yang gila kerja dan cuek."
"Itu kan topeng aja, Sayang. Aslinya udah tau kan sekarang. Lagian juga Mas akan usahakan selalu menemani kamu dan selalu berusaha menjadi suami terbaik sampai kapanpun, bukan hanya saat menemani masa-masa kehamilan kamu, Ghan."" Jawabnya dengan memainkan kedua alisnya naik-turun dan berhasil membuatku menahan diri untuk tidak tersenyum.
Tuh kan, sok romantis tapi gini aja udah buat aku meleleh.
"Nggak cocok banget Mas kamu kayak gitu, dih, geli aku." Kata ku lalu agak menjauh memberi jarak antara kami, namun tangan Mas Abi malah merangkul pinggangku dan membuatku sedikit menimpa dadanya.
"Mas.." Panggilku ketika Mas Abi membenamkan wajahnya ke ceruk leherku.
"Hmm.."
"Aku teriak lho." Bisikku dan dia tersenyum menjauhkan wajahnya.
"Sebelum kamu teriak, aku akan bertindak lebih dulu." Kata Mas Abi namun matanya menatap ke arah bibirku dan spontan aku melotot.
"No. Jangan macam-macam ah, aku aduin ke Ayah Hafiz lho." Bukannya takut dengan ancamanku Mas Abi malah tertawa tertawa terbahak.
"Aduin aja, paling juga akad kita bakal diajuin minggu depan."
"Dasar nyebelin, udah ah aku mau keluar. Mas Abi makin nggak waras kalau lagi ngantuk." Aku melepaskan diri dan beranjak dari ranjang.
"Lho, mau kemana?'
"Mau tidur sama ibu." Langkahku terhenti ketika melihat jaket milik Mas Abi yang digantung di gantungan baju kamarku, "Mas, kayaknya kamu tadi nggak bawa jaket ini deh."
"Oh iya, aku lupa, kemarin ketinggalan."
"Kemarin? Kemarin kapan? Kok aku nggak tau."
"Waktu habis dari Medan, aku kan langsung kesini."
"Oiya, yang ngilang-ngilang kemarin ya?" Sindirku dan dia hanya tertawa, "Iya Sayang, iyaa yang waktu aku ngilang dan yang pentingkan berhasil ngantongin izin dan restu."
"Iya-iya percaya." Jawabku lalu keluar kamar dan membiarkan Mas Abi istirahat sebelum sore nanti kami ke makam Mbah Kakung dan besok kembali ke Semarang untuk menjalani kehidupan kami yang sebenarnya serta mulai mempersiapkan segala hal untuk pernikahan kami.
oOo