Bram menggeleng-gelengkan kepala. Lalu pria tampan itu bersedekap d**a seraya menatap Violeta. “Kalau jaketmu nggak dibuka, lalu aku gimana mau ngebersihin dan ngobatin luka di tanganmu, hmm?”
Wajah Violeta seketika merona merah. Dia menunduk menahan malu karena telah salah sangka dan menuduh yang tidak-tidak pada Bram. Padahal pria itu berniat baik ingin mengobatinya. Akhirnya, perlahan dia melepas jaket.
Bram membersihkan darah yang mulai mengering di tangan Violeta. Bahu, lengan, dan jarinya terluka cukup dalam akibat sabetan celurit. Terkadang gadis itu meringis kesakitan.
“Tahan. Rasanya emang sakit dan perih, tapi obat ini kualitasnya sangat bagus. Besok pasti lukamu ini udah kering.” Bram terus memberikan obat, lalu diperbannya.
Setelah selesai, Bram ke dapur merapikan semuanya. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa minuman dan makanan, lalu diletakkan di meja. Violeta hanya diam saja tanpa melirik, apalagi melihat.
“Makan dan minumlah. Nanti kamu baru istirahat.” Bram membuka minuman kaleng dan diberikan pada Violeta.
Tangan Violeta terulur menerimanya, lalu langsung menenggaknya hingga tandas, karena sejak tadi dia merasa sangat haus. Mata Bram tak luput dari gadis di hadapannya. Matanya terus tertuju pada leher jenjang Violeta yang terlihat sangat seksi ketika menenggak minuman.
Violeta merasa sedang diperhatikan, lalu menoleh dan menatap Bram dengan tajam. “Om lagi ngeliatin apa? Kok sampai segitunya ngeliatin aku. Dasar Om-Om piktor. Hhhh!”
Lagi dan lagi Violeta berkata pedas dan sarkas. Dia kembali mengatakan Bram m***m. Namun, wajah Bram tetap terlihat santai dan tenang. Dia mengulum senyum seraya menatap Violeta yang memberengut.
“Jangan cerewet, nanti kamu darting! Ayo, kuantar ke kamar dan tidurlah!” Bram bangkit, lalu berjalan menuju lantai atas.
Violeta mengikutinya. Namun, seketika langkahnya terhenti ketika akan menaiki tangga. Keningnya mengernyit karena merasa aneh, sebab Bram tidak mengantarnya ke kamar tamu, melainkan ke lantai atas.
“Ada apa, Nona barbar? Kenapa kamu muram begitu, hmm?”
Lamunan Violeta buyar. Dia mengernyitkan kening seraya menatap Bram dengan tajam. “Apa tadi? Om manggil aku apa?”
“Nona barbar!”
“Kenapa Om manggil aku barbar?”
“Karna kamu manggil aku om piktor. Jadi, kita impas kan?” Bram mengerlingkan mata.
Violeta semakin kesal dibuatnya. Dengan menghentak-hentakkan kaki dia terus menggerutu dan memprotes Bram. "Om, please ya, jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan!"
Bram menatap tajam. "Apa maksudmu ngomong kayak gitu?"
"Ini buktinya kamu nyuruh aku tidur di kamar pribadimu, mau ngapain coba? Kenapa aku bukannya tidur di kamar tamu? Dasar piktor akut!" Violeta cemberut. "Itu artinya karna kamu emang piktor yang nyari kesempatan dalam kesempitan. Mentang-mentang udah nikah, jadi kamu berbuat semaumu! Eh, Om piktor, inget ya, kalo kita ini nikah cuma sandiwara!"
Bram bersedekap d**a seraya memperhatikan wajah Violeta yang merengut, tapi tetap menunjukkan kecantikan. Sesekali dia menggigit bibir bawahnya, dan itu semakin membuat Violeta semakin kesal dan naik pitam.
Sejak tadi gadis itu tiada henti menggerutu dan marah-marah, tapi Bram tak menggubrisnya, bahkan malah dengan sengaja menggoda hingga membuat istri kontraknya itu semakin murka.
"Sok ganteng banget ih! Narsis! Gak ngaca apa kalo mukanya udah tua bangka, jelek, keriput. Tapi gak sadar diri, segala pengen nikah sama gadis muda!" Lagi dan lagi Violeta berkata pedas.
Bram hanya menggeleng-geleng kepala mendengarnya. Entah mimpi apa dirinya bisa menikahi gadis barbar seperti Violeta. Jika bukan demi keinginan sang putra, tidak akan mungkin dia menikahinya.
Hanya demi Berlin dia melakukannya, bahkan bisa dikatakan dia melakukan hal yang di luar nalar karena seperti mempermainkan sebuah pernikahan, sebuah ikatan yang sakral.
"Udah belum marah-marahnya, Nona barbar? Kalo udah, yuk, aku antar ke kamar. Ngaso dulu mulutmu itu ngoceh, nanti bisa stroke, hahaha!" Bram tertawa terbahak-bahak sembari melangkah.
Violeta semakin kesal mendengar perkataan Bram, apalagi pria itu tiada henti tertawa. Dan akhirnya, dia mengikuti Bram menuju kamar pribadinya.
Lalu dia menghempaskan tubuhnya dengan kasar di ranjang. Mulutnya tiada henti menggerutu. “Dasar Om piktor. Nyebelin banget sih jadi orang! Yang ada bukan aku yang stroke, tapi dia, hhhh!”
Bram tersenyum mendengarnya. Menurutnya Violeta adalah gadis yang sangat unik dan langka. Lalu dia keluar dari kamar. Violeta langsung memejamkan mata. Tubuhnya yang terasa lelah langsung membuatnya terlelap dengan cepat.
Violeta merasa seperti baru saja tertidur, tetapi suara riuh begitu mengganggunya. Lalu perlahan dia membuka mata. Dan betapa terkejutnya dia ketika membuka mata.
“Mama … akhirnya Mama pulang juga ke rumah. Berlin kangeeennn banget sama Mama … Berlin kangen Mama. Berlin mau dimanja sama Mama kayak temen-temen Berlin.”
Dengan susah payah Bram menenangkan dan memberi pengertian pada sang putra, sementara Violeta sejak tadi mulai tampak gelisah dan tak tenang. Bram menyadari sikapnya itu.
“Vio, ayo, aku antar kamu pulang.” Bram menggendong Berlin.
Violeta mengikuti mereka. Namun, dia masih tampak gelisah. Bram membuka pintu mobil bagian depan, dan mempersilakan gadis itu untuk masuk. Namun, Violeta bergeming.
“Vio, ayo, masuk.” Bram mempersilakan.
“Emm … Om, motorku gimana? Aku mau pulang pake motorku aja.” Violeta menggigit-gigit buku jari.
Bram tersentak. Kini akhirnya dia paham, mengapa sejak tadi Violeta tampak gelisah. Ternyata gadis itu sedang memikirkan motornya. Ia pun mengeluarkan ponsel dari saku, lalu menghubungi seseorang.
“Tunggu sebentar. Nanti orang bengkel yang akan mengantarkan motormu kemari.” Bram menyimpan kembali ponselnya.
Violeta mengangguk tanpa menjawab. 10 menit kemudian, seorang laki-laki mengantarkan motornya. Wajah gadis tersebut kini berubah sumringah. Dia memperhatikan kondisi moge yang terlihat baik-baik saja.
‘Syukurlah, ternyata motornya gak kenapa-napa. Soalnya semalem motor ini nabrak pohon.’ Violeta membatin.
“Motor itu mengalami beberapa kerusakan gara-gara menabrak pohon. Tapi itu udah dibenerin sama tukang bengkel.” Bram menatap Violeta.
Violeta terkejut dan membalas tatapan pria tampan di hadapannya. “Berapa hutang yang harus kubayar sama Om?”
“Hutang? Hutang apa, Vio? Apa maksudmu?”
“Motor ini 'kan udah Om bawa ke bengkel dan diperbaiki. Itu artinya aku berhutang sama Om.”
Bram mengernyit. Tatapannya kian dalam terhadap Violeta yang kini sudah mengenakan helm. Sebab dia tak pernah berpikir jika gadis di hadapannya itu akan menganggap itu semua sebagai hutang, apalagi status mereka kini telah menjadi suami istri.
“Vio, aku nggak pernah nganggap kamu berhutang sama aku tentang motormu yang diperbaiki. Aku ikhlas nolongin kamu.” Bram menatap serius.
“Sorry, Om. Tapi aku bukan cewek matre yang doyan nerima uang secara cuma-cuma, apalagi biaya mogeku ini pasti sangat mahal. Dan juga —”
“Dan juga apa?”
“Dan juga … aku gak mau berhutang budi sama orang, apalagi orang asing yang baru aku kenal.”
Deg!
Entah mengapa, hati Bram sakit mendengar ucapan pedas Violeta. Sedari awal pertemuan mereka, dia tak pernah mengambil hati setiap kata-kata pedas yang terlontar dari mulut Violeta. Namun, kali ini, dia merasa sakit karena gadis itu mengatakan dirinya orang asing dan tak mau berhutang budi, sementara kini mereka telah sah sebagai pasangan suami istri.
Violeta menyalakan motor dan memain-mainkan gasnya. Setelah itu, dia menarik kopling dan melepasnya perlahan sembari menarik gas dan keluar dari pekarangan rumah Bram yang megah. Suara motornya terdengar nyaring memekakkan telinga ketika sudah di jalan raya. Bram menatap nanar kepergian gadis tersebut.
“Papa, Mama mau pergi ke mana? Kenapa Mama gak bareng kita? Kenapa Mama ninggalin Berlin lagi, Pa? Berlin kangen Mama.” Berlin menangis kencang.
Bram tersadar dari lamunannya. Lalu dia kembali berusaha menenangkan sang putra. Setelah anak laki-laki tersebut terdiam dan tenang, barulah Bram menjalankan mobil menuju ke Sekolah TK, tempat sang putra bersekolah.
Di lampu merah, Bram terlihat melamun. Tatapannya kosong. Namun, suara gelak tawa dari samping mobil mengalihkan perhatiannya. Matanya menyipit seraya terus menatap orang yang berboncengan di sampingnya.
Baru saja dia ingin membuka kaca mobil karena ingin memastikan penglihatannya, tapi tiba-tiba lampu hijau menyala, dan kedua orang yang berboncengan itu langsung melaju dengan kencang.
“Vio sama siapa ya, berboncengan. Dan mereka mau pergi ke mana? Apa dia pergi lagi sama pacarnya yang hampir menodainya itu?” Bram bermonolog.
"Papa, itu tadi Mama 'kan? Mama pergi sama siapa, Pa? Kok kayak sama laki-laki?"