Di kantor, Bram tak fokus bekerja, karena pikirannya terus tertuju pada Violeta yang tadi dipergokinya sedang berboncengan dengan Jerry. Entah mengapa hatinya memanas jika teringat hal tersebut, apalagi jika teringat tentang kelakuan buruk Jerry terhadap Violeta pada malam itu.
Dia tak habis pikir, bagaimana bisa Violeta tetap mempertahankan hubungan dengan lelaki yang tidak bisa menghormati dan menjaganya. Bukankah seharusnya lelaki yang mencintai dengan tulus itu akan melindungi.
“Kenapa Vio masih aja pergi bareng cowoknya itu, padahal kan dia bukan cowok baik-baik. Buktinya dia tega ngasih obat perangsang dan hampir aja menodainya.” Bram bermonolog sambil bangkit berdiri. “Aku gak bisa tinggal diam, walaupun Vio bilang kalau aku gak boleh ikut campur ranah pribadinya, tapi ini gak bener kalo dibiarin.”
Bram berjalan mondar-mandir sambil sesekali menggigit buku jari. Pikirannya benar-benar sedang tidak baik-baik saja, membuat otaknya tak bisa fokus bekerja.
Lalu dia mengeluarkan ponsel dari saku, dan menghubungi Haris. Tak lama kemudian sang asisten pun datang. Haris melihat wajah sang bos yang tampak muram dan gelisah.
“Maaf, Pak Bram. Ada apa Anda memanggil saya?” Haris menunduk.
“Haris, aku mau kamu selidiki semua tentang Vio. Karna aku gak mau kalau dia melampaui batasnya di luar sana. Kamu selidiki dia tinggal di mana dan apa kegiatannya setiap hari!” Bram berkata dengan tegas.
“Baik, Pak. Saya segera laksanakan. Kalau begitu, saya permisi.”
“Hmm!”
Haris pun keluar dari ruangan CEO. Dia bergegas melakukan perintah sang bos, sementara Bram masih terlihat gelisah dan muram. Hari itu dia meng-cancel pertemuan penting dengan kliennya, sebab dirinya benar-benar sedang tidak fokus.
'Aahh! Kenapa pikiranku jadi kacau begini? Ini semua gara-gara gadis barbar itu, dia yang udah membuatku bad mood. Dasar gadis keras kepala!"
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB. Bram bergegas pergi untuk makan siang di luar. Dia menuju sebuah restoran langganannya yang terletak di mall.
Bram makan dengan begitu lahap, karena perutnya sudah keroncongan sejak tadi. Namun, nafsu makannya seketika lenyap ketika tanpa sengaja matanya melihat pemandangan yang membuat nafsu makannya menghilang.
Di seberang sana terlihat Violeta sedang makan siang bersama Jerry. Mereka tampak sangat bahagia, makan sambil bersuap-suapan dan sesekali diselingi tawa. Wajah Bram memerah, rahangnya mengeras menyaksikan semua itu. Tanpa berpikir panjang dia pun bangkit dan menuju meja mereka.
Brak!
“Vio! Ayo pulang!”
Bram menggebrak meja dan tanpa basa-basi mengajak Violeta untuk pulang. Tentu saja kegaduhan yang diciptakannya itu membuat para pengunjung lainnya menatap keheranan. Namun, Bram tak menghiraukannya.
“Om … ke-na-pa Om a-da di si-ni …?” Suara Violeta terbata-bata.
Sementara Jerry tampak gelisah ketika mengenali wajah Bram. Dia masih teringat dengan jelas ketika malam itu dirinya babak belur dihajar oleh Bram. ‘Sebenarnya siapa sih pria ini? Kok perasaan dia selalu ada di mana pun Vio dan aku berada?’
“Vio! Kamu dengar aku apa gak? Ayo pulang!” Tangan Bram menarik tangan Violeta dengan kuat.
Violeta kebingungan karena sebelah tangannya ditarik oleh Bram, sang suami, dan sebelah tangannya lagi dicekal oleh Jerry, sang kekasih. Ia menatap kedua pria tampan tersebut secara bergantian.
Bram semakin jengah melihatnya, lalu ditepisnya dengan kasar tangan Jerry, dan kemudian dia menarik kerah pemuda tersebut. “Ternyata peringatan dan pelajaran yang aku beri padamu pada waktu itu belum cukup juga bagimu! Lelaki b******k dan pecundang kayak kamu ini gak pantes deket sama cewek baik-baik!”
Tanpa mempedulikan tatapan Jerry, Bram langsung menarik tangan Violeta. Mereka berjalan dengan tergesa-gesa hingga sampai di parkiran. Sebelum mengemudikan mobil, Bram menetralisir keadaannya terlebih dahulu.
Huh! Hah!
Suaranya membuang napas terdengar memburu. Violeta yang duduk di sebelahnya hanya bisa terdiam, sebab dia tak berani untuk membuka suara karena melihat wajah Bram yang sangat menyeramkan.
Bram menatap Violeta dengan nyalang, sehingga membuatnya semakin ketakutan. Napas Bram masih membur, dadanya naik turun. Dengan susah payah Violeta menelan ludah.
"Kenapa kamu masih aja jalan bareng lelaki b******k itu? Kenapaaa?!" Bram berteriak sambil meremas bahu Violeta. "Seharusnya kamu itu sadar diri, Vio. Bahwa sekarang kamu udah bersuami, jadi udah gak sebebas seperti waktu masih single!"
Mata Violeta terbelalak. Ditatap dengan sengit wajah Bram yang sedang menegang. "Om, seharusnya kamu yang sadar diri, karna pernikahan kita hanya formalitas aja, bukan murni karna cinta! Jadi, aku tetap bebas melakukan apa pun juga!"
"Vio! Aku paling gak suka dibantah! Sekarang kamu udah jadi istriku, mau apa pun juga alasanmu, tapi itu gak akan bisa dipungkiri!"
"Dan aku gak suka diatur, Om. Aku gak suka dibatesin kebebasanku!"
"Vio —"
Dering ponsel mengejutkan Bram. Dia langsung mengangkat panggilan suara dari Haris. Sambil mendengarkan sang asisten berbicara, matanya tak luput dari Violeta, sehingga membuat wanita tersebut semakin salah tingkah sekaligus meradang.
Bram meletakkan ponsel setelah perbincangannya dengan Haris selesai. Sesekali dia menarik napas dengan berat dan matanya tiada henti melirik ke arah Violeta yang sedang menunduk sembari memilin-milin jemari.
“Jadi, sekarang kamu udah gak punya tempat tinggal? Trus kamu tiap hari bolos kuliah dan menghabiskan waktu dengan pergi ke clubbing bareng Jerry?” Tangan Bram memegang erat setir mobil.
Deg!
Violeta sangat terkejut karena ternyata Bram sudah menyelidiki tentang kehidupan pribadinya. Ditatap dengan lekat wajah tampan di sampingnya yang kini semakin tajam menatapnya.
Mata Violeta tiba-tiba berkaca-kaca dan memerah. Dia sangat tidak suka jika ada orang lain yang mengusik kehidupan pribadinya, apalagi Bram merupakan orang yang baru dikenal, sungguh sangat tak pantas rasanya jika terlalu jauh ikut campur tentang privasinya.
“Vio! Aku lagi ngomong sama kamu, tapi kenapa kamu cuma diem?!” Bram kembali membuka suara. "Apa kamu amnesia kalau sekarang aku udah jadi suami kamu, jadi emang udah seharusnya kalau suami serba tau tentang kehidupan istrinya!"
“Cukup, Om! Kamu gak perlu tau dan gak harus tau tentang kehidupan pribadiku! Ingat, Om! Kalo kita ini hanyalah orang asing yang terjerat karena kerja sama aja!” d**a Violeta bergemuruh menahan emosi. “Dan masalah Jerry … Om gak ada hak ngatur-ngatur aku sama dia. Karna dia adalah pacar aku. Kami saling mencintai satu sama lain!”
Gigi Bram gemeretak mendengarnya. Lagi dan lagi Violeta mengatakan bahwa dirinya hanyalah orang asing. Dan tentang Jerry, membuatnya semakin naik pitam, sebab Violeta tetap membela lelaki itu yang sudah jelas-jelas telah berbuat buruk terhadapnya.
Harga dirinya seperti diinjak-injak oleh Violeta. Walaupun pernikahan mereka bukan karena cinta dan hanya sebatas bisnis saja, tapi tetap saja dia tak bisa menerimanya.
“Setelah apa yang Jerry lakuin sama kamu, kamu masih nganggep dia pacar dan kamu bilang saling cinta? Apa kamu lupa sama perbuatan bejatnya ke kamu pada malam itu?” Bram menatap Violeta dengan tajam. "Dia hampir aja menodai kamu, Vio. Mungkin kalau aku terlambat datang, kamu udah berhasil dia nodai."
“Ya, aku ingat! Tapi, itulah kenyataannya bahwa aku cinta sama Jerry. Udah 2 tahun aku pacaran sama dia, udah banyak kenangan yang kami lalui bersama.” Mata Violeta memerah seraya membalas tatapan Bram. “Aku yang lebih tau tentang pacarku! Bukan kamu, Om! Kamu cuma tau tentang dia malam itu doang, jadi alasanmu ngatain dia buruk itu gak etis!”
Bram terdiam. Kata-kata Violeta sungguh sangat menamparnya. Apakah dirinya yang terlalu berlebihan terhadap wanita tersebut karena status mereka yang kini telah resmi sebagai suami dan istri, sehingga membuatnya sampai seperti itu.
Akan tetapi, meskipun mereka hanya menikah kontrak dan tanpa cinta, tapi tetap saja bahwa kini Violeta sudah menjadi tanggung jawabnya dan semua harus di bawah pengawasannya.
"Aku tau, Vio. Bahwa aku orang baru dalam kehidupanmu, sedangkan Jerry adalah orang lama dalam kehidupanmu. Maka dari itu kamu gak terima aku ngomong kayak gitu." Bram berkata tanpa semangat. "Aku hanya menjalani kewajibanku sebagai suami terhadap istri. Hanya itu, gak lebih!"
Kini, Bram semakin dilema antara tetap bersikap tegas terhadap istri kontraknya itu, atau akan tetap bersikap acuh layaknya orang asing. Bram kembali menghirup oksigen dengan berulang kali untuk menetralisir emosinya. Ia tak ingin jika sampai tak bisa mengontrol emosi.
“Nanti kita lanjutkan obrolan ini. Sekarang kamu harus ikut aku!”