Boutique

1313 Words
“Mama … yeee … horeee … akhirnya Berlin dijemput juga sama Mama ….” Suara Berlin terdengar sangat riang gembira ketika melihat sang papa dan Violeta datang menjemputnya ke sekolah. Tadi Bram sengaja mengajak Violeta untuk menjemput sang putra. Tentu saja Violeta kembali dibuat syok atas kejadian tersebut, sebab Berlin memanggilnya mama di hadapan banyak orang sembari memeluknya dengan erat. Bocah itu begitu manja terhadapnya. Ingin rasanya Violeta memarahi Berlin dan melepaskan pelukannya. Namun, ia urungkan ketika melihat teman-teman Berlin dan beberapa orangtua dari mereka datang menghampiri dan bertanya pada Berlin. “Berlin, ini mama kamu, ya?” “Wah, ternyata mamanya Berlin cantik banget ya.” “Iya, dan masih muda banget, kayak kakaknya ya, bukan kayak mamanya.” “Papa dan mamanya Berlin cantik dan ganteng ya.” Begitulah kata-kata yang terlontar dari teman-teman Berlin. Meskipun mereka masih terbilang balita, tetapi cara mereka berbicara layaknya seperti orang tua. Violeta hanya terdiam sambil memperhatikan, sedangkan Berlin sungguh tampak bahagia. Bram sejak tadi hanya memperhatikan tingkah sang putra. Hatinya terenyuh melihat betapa bahagianya Berlin ketika dijemput oleh Violeta yang dianggapnya sebagai mama, meskipun wanita itu belum bisa menerimanya dengan sepenuh hati, tapi setidaknya dia sudah mau diajak menjemputnya. 'Baru kali ini aku melihat Berlin sebahagia ini. Dia sangat senang dan gembira karna dijemput oleh ibu sambungnya.' Bram menatap Berlin yang sedang asik mengobrol dengan teman-temannya. 'Aku cuma ngerasa aneh aja sama Berlin, kenapa kok bisa dia menganggap Vio sebagai mamanya? Padahal kan dia baru kenal. Ini bener-bener aneh banget.' Berbeda halnya dengan Violeta yang sejak tadi merasa tak nyaman karena menjadi pusat perhatian dan menjadi topik pembicaraan teman-teman Berlin. Hatinya tiada henti menggerutu. 'Iiiihhh, bener-bener nyebelin banget deh. Kenapa sih temen-temennya bocah tengil itu doyan banget ngegibah? Padahal masih bocil semua.' Violeta menggerutu di dalam hati. 'Duuhh, masih lama gak sih, aku udah gak betah banget, gak nyaman.' Setelah Berlin selesai mengobrol dengan teman-temannya, lalu mereka pun pergi meninggalkan sekolahan. Di dalam mobil, Berlin bergelayut manja duduk di pangkuan Violeta. Bocah itu tiada henti menciumi kedua pipi sang ibu sambung. Sebenarnya Violeta merasa sangat risih atas sikap Berlin, tapi karena kini dia sudah terikat kontrak kerja sebagai istri kontrak dan juga baby sitter, maka mau tak mau dia harus sabar dalam menghadapinya. “Om, kita mau pergi ke mana? Ini kan bukan arah ke rumahmu.” Violeta bertanya karena melihat arah mobil yang menuju jalan lain, bukan ke arah rumah Bram. “Kita mau ke boutique langgananku.” Bram menjawab sambil fokus menyetir. “Buat apa, Om?” “Nanti juga kamu tau!” Violeta cemberut karena Bram tak memberinya penjelasan. Tak lama kemudian, mereka telah sampai di boutique langganan Bram. Pria itu langsung membukakan pintu untuk Violeta, lalu ia mengambil alih Berlin yang sedang terlelap. Mereka bertiga masuk bersama. Pramuniaga menyambut kedatangan mereka. Pemilik boutique yang mengetahui kedatangan Bram segera menghampirinya. “Selamat siang, Pak Bram. Mari, silakan masuk.” Paramita, sang pemilik boutique mempersilakan. Bram menggamit tangan Violeta menuju ruangan VIP. Lalu ia meletakkan Berlin di ranjang, di kamar yang telah tersedia. Bram memesan makanan dan minuman untuk mereka, sebab dia masih lapar gara-gara makan siangnya tadi terganggu. “Makanlah, Vio. Aku tau kalau kamu juga masih lapar. Tadi kamu juga belum kenyang kan, makan siang bareng pacarmu yang b******k itu, hhh!” Bram mengunyah seraya menatap Violeta. Sementara bibir Violeta merengut. Dia masih kesal mendengar Bram yang mengatakan sang pacar b******k. “Kamu yang bikin aku gak kenyang makan siang, Om! Lagian apa-apaan coba, tiba-tiba ngerusak acara lunch aku bareng pacarku!” “Vio, dia itu bukan tipe cowok yang baik buat kamu. Dia gak sungguh-sungguh cinta sama kamu. Buktinya malam itu dia tega ngasih obat perangsang di minumanmu.” Bram menatap Violeta dengan tajam. “Dan jika malam itu aku gak ada di tempat itu, kamu pasti udah diapa-apain sama dia. Kenapa kamu gak ada rasa sakit hati barang sedikitpun juga?” Violeta terdiam. Dia tak menjawab ucapan Bram. Karena jika sekali saja dia menjawab, maka seribu kata-kata lagi yang akan Bram ucapkan. Kini, dia fokus menghabiskan makanannya, sebab tadi saat di mall dia memang belum kenyang makan. Setelah selesai makan, Paramita langsung membawakan pakaian couple yang Bram pesan. Bram, Berlin, dan Violeta, pakaian mereka senada dan terlihat sangat elegan. "Vio, kamu coba dulu gaun ini. Tapi aku yakin kalau gaun itu pas tubuhmu." Bram memberikan gaun yang indah kepada Violeta. Violeta menerimanya sambil menatap Bram. "Kok Om bisa seyakin itu kalau gaun ini pas di badan aku? Kan gaun ini belum diukur." Bram mengulum senyum, tiba-tiba ide jahil terbesit dalam benaknya. Violeta mengernyit sambil terus menatap pria tampan, tapi menyebalkan di hadapannya. Tiba-tiba perasaannya menjadi tak tenang melihat gelagat Bram yang sejak tadi senyam-senyum. "Om piktor, kenapa kok kamu malah sibuk senyam-senyum kayak orang gak waras gitu sih?! Jawab aja pertanyaanku!" Violeta berkata dengan tegas. "Hmm, oke. Aku jawab. Aku yakin tanpa mengukurnya karna kan waktu itu aku udah ngeliat seluruh tubuhmu yang molek dan seksi ini. Jadi, wajar dong kalau aku tau ukuran body-mu. Hehehe ...." Bram terkekeh. Mata Violeta terbelalak mendengarnya. Ternyata dugaannya benar bahwa pria yang menjadi suami kontraknya itu adalah pria yang selalu berpikiran kotor dan m***m. Sementara Bram semakin terkekeh melihat raut wajahnya yang terlihat lucu dan menggemaskan. Dia merasakan kepuasan tersendiri setiap berhasil menggoda dan membuat Violeta marah. "Hahaha ... udahlah, Vio. Jangan cemberut gitu. Lebih baik kamu cepetan coba gaunnya." Bram mengerlingkan mata. Akhirnya, dengan mulut komat-kamit, Violeta pun mencoba gaun berwarna merah marun yang sangat pas di tubuh tinggi semampainya. Dia terlihat sangat cantik sekali. Bram sampai terpana dan terkesima melihatnya. “Wow! Ternyata istriku cantik banget pakai gaun ini.” Bram berdecak kagum. “Gak usah lebay deh, Om piktor! Lagian buat apaan sih pakai gaun ini dan mau ke mana?” Violeta mulai berkata pedas dan memasang wajah jutek. “Seminggu lagi aku akan menghadiri undangan pesta salah satu klien-ku. Jadi, aku harus bawa anak dan istriku.” Bram menjawab santai. “Tapi kenapa mesti aku yang Om bawa? Kenapa bukan istri tuamu aja yang dibawa. Kan pas banget karna Om bareng istri dan anakmu.” Bram terdiam. Wajahnya tiba-tiba berubah muram di saat Violeta membahas tentang ibu dari Berlin. Kini, dia tak banyak berbicara. Setelah selesai mencoba pakaian, dia langsung mengajak Violeta dan Berlin pulang. Hingga sampai di rumah pun, dia masih diam dengan wajah yang ditekuk. Violeta sejak tadi merasa heran melihat perubahan sikap suami kontraknya itu. Namun, dia tak berani untuk membuka suara. Berlin yang sudah terbangun dari tidurnya, kini sedang bermain di ruangan khusus bermainnya. Dia minta ditemani bermain oleh sang ibu sambung. Karena Bram sedang tidak baik-baik saja, akhirnya Violeta memaksakan diri untuk menuruti keinginan Berlin. Berlin terlihat sangat riang gembira sekali, karena akhirnya bisa bermain dengan ditemani oleh sang mama. Mulutnya tiada henti berceloteh. Violeta sebenarnya kesal karena menurutnya bocah tersebut sangat bawel dan berisik sekali. Namun, rasa kesalnya terkalahkan ketika melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah mungilnya. ‘Udah berapa kali aku ke rumah ini, tapi kok aku gak pernah ngeliat mamanya Berlin ya? Ke mana dia? Oh, apa mungkin dia tinggal di rumah yang berbeda?’ Violeta membatin seraya menatap Berlin. ‘Dan … kenapa tadi si Om piktor mukanya langsung berubah pas aku bahas istrinya? Apa mereka lagi berantem dan pisah ranjang? Tapi … kenapa Berlin selalu manggil aku mama kalau mama dia ada?’ Pertanyaan demi pertanyaan kini bercokol di benak Violeta. Dia sangat penasaran dengan istri Bram. Lalu, ia sengaja mendekati Berlin untuk mengorek informasi tentang mamanya. Perlahan Violeta melangkah mendekati Berlin. Ditatapnya wajah mungil yang tampan, yang masih asik bermain. Demi mengobati rasa penasarannya, maka ia rela mengajak Berlin berbicara terlebih dahulu. “Berlin, mama kamu ke mana? Kok tante udah berapa kali ke sini, tapi gak pernah melihat mama kamu?” Violeta menatap lekat wajah Berlin. “Vio! Lancang sekali mulutmu bertanya hal yang tak patut terhadap putraku! Memangnya siapa kamu, hah?! Jaga batasanmu! Mengerti!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD