Begal

1302 Words
Violeta memikirkan ucapan demi ucapan Sinta. Karena baru kali ini sahabatnya itu berbicara serius tentang hubungannya dengan Jerry. Selama ini dia selalu memberikan dukungan atas hubungan mereka, meskipun terkadang dia sering mengeluarkan unek-uneknya tentang sikap Jerry. Akan tetapi, untuk kali ini Sinta sungguh sangat berbeda. Dia menunjukkan kekecewaan dan kebenciannya pada Jerry, karena dianggap selalu memanfaatkan dirinya. Selama ini, memang hanya Sinta-lah yang menjadi teman terdekatnya. 'Apa bener ya, kalo aku ini cewek yang bodoh, dan jadi b***k cinta terhadap Jerry? Apa saking cintanya aku sama Jerry sampai aku ngelakuin hal-hal yang gak masuk di akal?' 'Aahh, aku bingung sendiri jadinya. Selama ini aku emang gak pernah dekat sama cowok mana pun selain Jerry. Tapi, selama ini dia nunjukin kalo dia cinta banget sama aku.' 'Trus, apa salahnya kalo aku juga nunjukin rasa cintaku yang begitu besar sama dia? Aahhh ... otakku mau pecah rasanya, pusing dan stres mikirinnya.' Akhirnya, Violeta memilih pergi sendiri dengan menggunakan motor rental. Otaknya sedang tidak bisa diajak berpikir dengan jernih. Otaknya buntu. ***** Malam itu, di jalanan yang gelap dan sangat sepi, terlihat dua motor sedang mengepung satu moge yang sedang dikendarai dengan kecepatan tinggi. “Serahkan motormu! Ayo, cepat!” “Kalau kamu nggak berhenti dan nyerahin motormu itu, maka kami akan melakukan perbuatan yang lebih keras lagi!” “Enak aja lo nyuruh gue nyerahin motor ini. Gue aja cuma ngerental. Ini bukan motor gue. Masa mau lo begal dan gue nyerahin gitu aja!” Pengendara motor itu tidak menyerah. “Kalo lo mau duit, ya kerja! Bukannya malah ngebegal, ngerampas motor orang terus!” “Kurang ajar! Dia malah menantang kita. Jangan biarkan dia lolos!” “Dia ini nggak ngedengerin omongan kita. Ayo, keluarkan celurit. Dia lebih milih mati daripada nyerahin motornya!” Suara beberapa orang laki-laki yang mengendarai motor dan menggunakan helm yang menutup seluruh wajah mereka dan tubuhnya ditutup pakaian serba hitam. Mereka semakin gencar mengepung motor incarannya, bahkan mereka sudah mengacungkan senjata tajam untuk mengancam si pengendara motor. Sementara pengendara motor itu semakin menarik gas dan membawa motor dengan sangat kencang. Namun, para pembegal itu mampu mengejarnya. Cres! Cres! Sabetan celurit mengenai tangan kiri pengendara motor tersebut. Darah mengucur dari luka di tangannya. Dan kini tangannya semakin kehilangan tenaga. Dia sudah tak kuat untuk memegang stang motor dan menarik kopling. Namun, tangan kanannya masih bisa menarik gas dengan kencang. ‘Aku nggak mau nyerahin motor ini begitu aja. Apa pun yang terjadi, akan kuhadapi! Dasar pembegal pemalas, bisanya cuma ngerampok dan ngebahayain nyawa orang!' Malam yang sunyi di jalanan yang jauh dari keramaian, semakin memudahkan tindakan para pembegal yang sedang beraksi membegal korbannya. Mereka tidak pernah memikirkan keadaan korban mau mati atau hidup, yang terpenting bagi mereka adalah berhasil mengambil motor. Jika korban melawan, maka mereka tak segan untuk membunuhnya. Dari kejauhan, sebuah mobil berwarna hitam memperhatikan kejadian di depannya. Dia melihat seorang pengendara motor sedang dikepung oleh dua motor yang sedang menyerangnya dengan menggunakan celurit. “Ternyata mereka itu begal. Mereka sedang membegal pengendara motor itu. Aku harus membantunya.” Pengemudi mobil hitam itu ternyata adalah Bram. Bram memainkan gas, sehingga mengalihkan perhatian para pembegal itu. Mereka saling memandang, lalu beralih melayangkan celurit ke arah mobil Bram. Namun, Bram bergerak lebih cepat. Dia langsung menabrak kedua motor itu hingga mereka jatuh. Senjata tajam mereka jatuh entah ke mana. Mereka melihat mobil Bram yang begitu kencang akan menabrak tubuh mereka. Akhirnya keempat pembegal itu melarikan diri. Bram menatap pengendara motor yang terlihat tak stabil, lalu kemudian dia terjatuh dan berguling-guling di jalan. Motornya menabrak pepohonan di pinggir jalan. Bram bergegas keluar dari mobil dan menghampirinya. Matanya terbelalak ketika melihat bahu, lengan, dan jari pengendara motor yang merupakan korban begal itu terluka dan berlumuran darah. Dia mengangkat kepala, lalu helmnya dibuka supaya tidak pengap. Mata Bram terbelalak ketika melihat wajahnya. “Ka-mu ….” Bram terkejut ketika melihat korban begal itu adalah Violeta, gadis yang kini telah menjadi istri kontraknya. “Vio, ayo, kita ke rumah sakit.” Bram membantu memapah tubuh Violeta. ‘Aku gak mau ke rumah sakit. Tapi aku harus ke mana? Gak mungkin kalau aku ke kontrakan Sinta dengan keadaan kayak gini, apalagi kalau nemuin Jerry.’ Violeta tak langsung menjawab, tapi dia sedang berpikir. ‘Ahh … tapi aku juga males bareng sama Om ini. Aku masih kesel sama kelakuannya dan anaknya yang nakal itu.’ Bram memperhatikan sikap sang istri kontrak di hadapannya yang sejak tadi tidak menanggapi, sementara darah terus bercucuran dari luka di tangan Violeta. Bram tidak bisa jika hanya berdiam diri saja. Tiba-tiba Bram membopong tubuh Violeta dan diletakkan ke dalam mobil. Violeta yang sedang melamun sontak terkejut, dan secara refleks tangannya melingkar di leher Bram. Bram segera menjalankan mobilnya. Violeta tampak panik dibuatnya. “Eh, Om. Om mau bawa aku ke mana? Turunin aku di sini, Om. Motorku —” “Kamu nggak usah khawatir, motormu aman. Nanti anak buahku yang ngurusin motor kamu.” Bram menjawab santai. “Tapi aku mau dibawa ke mana? Aku nggak mau ke rumah sakit, Om.” Bram terdiam. Dia menatap wajah cantik di sampingnya hingga mata mereka bersirobok. Namun, Violeta langsung memutus kontak mata mereka karena merasa tak nyaman. “Kalau kamu gak mau ke rumah sakit, biar ikut ke rumahku aja.” Bram tetap fokus menyetir. Mata Violeta terbelalak. Dia bingung harus berkata apa. Dia ingin menolak, tetapi luka di tangannya terasa sakit dan nyeri. Namun, jika dia ikut ke rumah Bram, dia merasa malas karena harus tinggal sekamar. “Om, turunin aku di sini aja, deh! Aku gak mau juga kalo ikut ke rumahmu.” “Jangan keras kepala, Vio! Aku cuma ingin membantumu karna ini udah larut malam. Lagian, kamu mau ke mana malam-malam gini keluyuran, hmm?” “Itu bukan urusanmu, Om! Aku mau ke mana, kek, terserah aku!” Violeta menjawab dengan ketus. Bibir Bram terangkat. Dia tersenyum tipis mendengarnya. “Sekarang semua urusanmu menjadi urusanku, Vio! Karna sekarang kamu adalah istriku! Emangnya kamu mau ke mana malam-malam bawa motor sendirian sampai jadi korban pembegalan, hah?!” Violeta langsung cemberut. Dia semakin kesal dengan pria di sampingnya karena selalu berbicara semaunya. Padahal mereka menikah juga hanya sebatas kerja sama saja, tetapi sudah banyak mengatur dan ikut campur. Bram tetap menjalankan mobil dengan tenang dan santai. Dia hanya tersenyum tipis setiap melihat wajah Violeta yang ditekuk karena kesal. Dia seperti merasa memiliki hiburan baru saja. Tak berapa lama kemudian, mereka telah sampai di rumah Bram. Pria itu membuka pintu mobil dan berniat akan membopong kembali tubuh Violeta. Namun, secepat kilat gadis itu menepis tangan Bram. “Om mau ngapain?” Violeta melotot. “Aku mau bantuin kamu, jadi kamu harus kugendong.” Bram menatap lekat wajah cantik di hadapannya. Violeta semakin merasa risih. “Gak usah! Emangnya aku gak bisa jalan sampai mau digendong gitu. Yang terluka 'kan cuma tangan aku, bukan kakiku!” “Jangan nyari kesempatan dalam kesempitan deh, Om! Dasar piktor!” Violeta kembali berkata dengan ketus. Bram tidak merasa sakit hati mendengar ucapannya. Dia justru tersenyum semakin lebar melihat Violeta yang sangat berani, ketus, dan barbar. Menurutnya gadis tersebut sangat unik. “Oke. Kalo gitu, ayo, masuk. Aku mau ngobatin luka di tanganmu.” Bram melangkah lebih dulu. Violeta terlongong-longong. Dia merasa heran karena Bram sangat cuek dan tidak baperan menghadapi sikapnya yang ketus dan ucapannya yang pedas. Akhirnya, dia pun turun dari mobil dan mengikuti Bram. Bram mempersilakan Violeta duduk di ruang keluarga, lalu dia mengambil kotak obat P3K. Bram memintanya untuk membuka jaket levis yang dikenakan. Awalnya gadis tersebut tidak mau, tetapi Bram terus memaksanya. “Om, jangan piktor, deh! Ngapain sih minta aku buka jaket? Gak usah genit deh, Om. Udah punya bini juga masih aja mau godain cewek lain!” Violeta semakin merapatkan jaketnya. “Jangan mentang-mentang status kita sekarang udah sah sebagai suami istri, jadi kamu semaunya aja, hhh! Dasar Om piktor!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD