“Aku yang mengganti pakaianmu. Emangnya kenapa, hmm?”
Bram bersedekap d**a seraya memandang Violeta. Dia sengaja berbohong untuk mengerjainya, sebab dia tahu bahwa Violeta sejak tadi menuduh dirinya yang mengganti pakaiannya.
Dia bisa membaca dari cara Violeta menatapnya sambil menggerutu di dalam hati. Jadi, karena terlanjur dicurigai, maka lebih baik disengaja saja sekalian untuk meyakinkannya.
Mata Violeta terbelalak, kekesalannya semakin memuncak, apalagi melihat ekspresi wajah Bram yang cengengesan. Pria tampan itu benar-benar sangat menguji kesabarannya.
“A-apa? Om jangan gila, ya? Dasar Om-Om piktor. Gak puas apa sama satu wanita? Emangnya Om gak puas ngeliatin body istrimu sendiri sampe ngeliatin body cewek lain?!” Violeta berkata sarkas sambil melotot.
Bram mengulum senyum melihatnya. Dia semakin senang melihat Violeta yang marah-marah dan selalu berkata pedas padanya. Dengan begitu santainya dia berjalan menghampiri sang gadis seraya menggigit bibir bawah..
Violeta mundur ketika Bram merangkak naik ke ranjang dan mencondongkan tubuhnya ke depan, sehingga kini wajah mereka berjarak sangat dekat. Dengan susah payah Violeta menelan ludah yang terasa tercekat di tenggorokan.
“Bukankah nanti kita bakal jadi suami istri? Jadi … aku tetap akan melihat tubuhmu yang molek ini.” Jari telunjuk Bram memainkan pipi dan bibir Violeta.
Dengan kasar Violeta menepis tangannya. “Eh, Om piktor! Inget ya poin-poin penting yang tertulis di surat perjanjian kita, bahwa kita gak boleh ngelakuin HB. Jadi, ngeliat body aku juga gak boleh!”
“Itu kalau aku gak khilaf, hhh!” Bram bangkit dan berjalan keluar.
“Iihhh, nyebelliiinnn! Dasar Om piktor! Udah tua bangkotan juga, tapi hiper!”
Bram tertawa penuh kebahagiaan karena telah berhasil menggoda dan membuat Violeta kesal. Dia bergegas keluar dan menuju meja makan. Tak lama kemudian, Violeta menyusul dengan wajah yang masih ditekuk. Dia duduk dengan cemberut.
Mata Bram sejak tadi meliriknya dengan tersenyum jahil. Sesekali dia mengunyah sambil mengulum senyum. Semua itu tak luput dari perhatian Violeta dan gadis itu semakin kesal dibuatnya.
‘Iihh, dasar Om piktor. Dari tadi senyum-senyum gak karuan, persis orgil hhhh!’ Violeta merutuk di dalam hati.
“Cepat kamu habiskan sarapanmu, lalu mandi dan ganti pakaian. Nanti kita mau langsung ke KUA untuk melangsungkan ijab qobul!” Bram berbicara dengan santai, tapi tegas.
Uhuk! Uhuk!
Violeta tersedak mendengarnya. Matanya sampai keluar air. Bram dengan sigap memberinya air minum sembari menepuk-nepuk pelan punggungnya.
“Pelan-pelan makannya. Aku tau kalau kamu saking senangnya ‘kan mau nikah sama aku, hmm.” Bram tersenyum.
“Apaan sih, Om piktor! Siapa juga yang saking kesenengan mau nikah sama kamu. Aku justru kaget karna kok ngedadak banget nikahnya.” Mata Violeta melotot.
“Karna lebih cepat lebih baik, oke!”
“Tapi, Om gak lupa ‘kan, kalau aku juga harus merangkap jadi baby sitter Berlin? Itu buat nutupin status pernikahan kita di publik.”
“Hmm.”
Pembicaraan mereka terhenti, lalu fokus pada acara sarapan. Setelah selesai sarapan, Violeta bergegas membersihkan diri, lalu mengenakan pakaian yang sudah disediakan oleh Bram. Mereka dijemput oleh Haris, sang asisten.
Haris telah mempersiapkan semuanya. Di kantor KUA, kini sudah duduk sang penghulu dan wali hakim, sebab Violeta tidak diwalikan oleh ayah ataupun pihak keluarganya.
Pernikahan pun telah selesai. Kini, Bram dan Violeta telah resmi sebagai pasangan suami dan istri secara agama. Mereka hanya menikah siri karena hanya menikah kontrak saja.
Kini, Bram telah membawa kembali Violeta ke rumahnya. Violeta bergegas masuk ke dalam kamar tamu, tetapi ternyata dikunci. Ia merasa heran, sebab tadi ketika ia akan berangkat ke KUA, pintu kamar masih dalam keadaan terbuka.
Dengan perasaan kesal Violeta menghampiri Bram. “Om, kenapa pintu kamarnya dikunci? Lalu aku gimana mau masuk? Aku gerah pake baju kebaya ini, jadi aku mau salin.”
“Vio, apa kamu lupa kalau kita sekarang udah jadi suami istri?” Bram menatap lekat.
“Apa hubungannya, Om?”
“Jelas aja ada hubungannya. Bukankah suami istri itu harus tinggal dalam satu kamar dan tidur dalam satu ranjang?”
“Ya. Tapi ‘kan di surat perjanjian udah aku tulis bahwa kita gak akan pernah ada sentuhan fisik alias HB.”
“Hmm. Tapi ‘kan gak tertulis kalau kita gak boleh sekamar dan seranjang. Jadi, itu artinya kita harus sekamar dan seranjang meskipun tanpa melakukan HB.” Bram mengerlingkan mata.
Violeta terdiam, ia seperti terjebak dengan ulahnya sendiri. ‘Omg … kenapa aku sampai lupa sih, gak nulis di surat perjanjian tentang tidur terpisah. Mampus dah aku kalo gini. Itu artinya selama 5 tahun aku harus tidur bareng sama Om piktor ini.’
“Tapi, Om. Aku gak bisa kalau langsung tinggal serumah sama kamu. Aku masih ingin hidup bebas tanpa diatur-atur. Tolong ngertiin posisiku.” Akhirnya Violeta mengeluarkan unek-unek yang sejak tadi mengganjal di hati.
Bram sungguh kaget mendengarnya. Dia menghampiri sang istri kontrak dan meremas bahunya dengan kuat. “Apa maksudmu, Vio?!”
“Om, aku belum siap kalau harus tinggal serumah sama kamu dan anakmu yang songong dan bandel itu. Kalau kamu gak mau ngertiin posisi aku, mending kita batalin aja deh perjanjian kita!” Wajah Violeta sewot.
“Batalkan apanya, Vio? Karna sekarang kita udah sah sebagai suami dan istri. Udah gak mungkin ‘kan kalau kita cerai sebelum 24 jam?” Bram semakin kuat meremas bahu Violeta.
Wajah Violeta semakin kusut. Ternyata, semuanya tak semudah dan semulus yang ia bayangkan. Kini ia benar-benar merasa terjebak dengan ulahnya sendiri yang telah menyetujui untuk menikah kontrak dengan Bram.
Karena ia tak ingin bertambah pusing dan stres menghadapi Bram, lalu ia memilih pergi meninggalkan rumah sang suami dengan masih mengenakan pakaian kebaya. Ia tak mempedulikan tatapan orang-orang yang memandangnya dengan penuh cibiran.
Violeta menghubungi Sinta, sang sahabat. Lalu tak lama kemudian Sinta datang menjemputnya. Tentu saja Sinta sangat syok melihat penampilan Violeta. Ingin rasanya dia bertanya pada saat itu juga, tetapi Violeta memberi isyarat bahwa nanti dia akan menjelaskan semuanya.
Sinta membawa Violeta ke kontrakannya yang sederhana. Violeta langsung mengganti pakaiannya dengan memakai pakaian Sinta. Sebab semua pakaiannya ada di rumahnya.
“Vio, buruan lo jelasin ke gue. Ada apa dan apa yang udah terjadi sama lo?” Tanpa berbasa-basi, Sinta langsung bertanya.
Violeta menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewatkan. Mata Sinta terbelalak sempurna mendengarnya, lagi dan lagi dia dibuat syok.
“Vio, please deh, lo jangan bercanda.”
“Sin, gue serius, gue lagi gak bercanda. Otak gue mau pecah rasanya, Sin. Stres banget gue.”
“Trus … gimana sama cowok lo, Vio? Gimana sama Jerry? Gimana kalo dia tau semua ini? Gimana hubungan lo sama dia?”
“Aduh, Sin. Lo dari tadi kebanyakan nanya gimana-gimana mulu. Otak gue tambah pusing, tau gak?! Jerry udah tau, dan justru dia yang nyuruh gue nikah kontrak biar dapet 50 persen harta Om Bram!”
Mata Sinta terbelalak lebar mendengarnya, dia sangat syok. Dia sungguh tak habis pikir, mengapa bisa Jerry yang hanya merupakan kekasih Violeta sampai punya pikiran seperti itu.
Antara percaya dan tidak, Sinta mencoba berpikir secara logika tanpa menggunakan perasaan. Pertemanan yang sudah lama terjalin dengan Violeta mampu memberi jawaban dari semua pertanyaannya sendiri. Karena dia sangat memahami sifat Violeta.
"Vio, apa lo gak salah ucap? Apa benar Jerry yang nyuruh lo nerima tawaran untuk nikah kontrak hanya demi harta? Demi 50 persen harta dari calon suami lo?" Sinta menatap Violeta dengan tatapan serius.
"Ya, Sin. Itu benar dan gue nggak bohong. Lagian buat apa coba gue berbohong hal sensitif dan gila seperti itu, gak ada gunanya." Violeta menjawab dengan serius.
"Tapi kenapa lo nurut, Vi? Lo yang bakal ngejalanin rumah tangga nanti, bukan Jerry. Dia itu cuma ngemanfaatin lo aja, Vio!"
"Apa maksud lo, Sin?! Kenapa sekarang lo kayak gak ngedukung hubungan gue sama Jerry? Ada apa, Sin?"
Sinta menghela napas dengan raut wajah yang tak kalah serius. Dia sungguh tak habis pikir dengan pola pikiran sahabatnya itu. Apakah semua ini terjadi karena cinta semata?
"Lo bucin akut, Vi. Sampai lo dibudakin sama Jerry. Lo dimanfaatin dia, tau gak? Lo bodoh banget, Vio!"