Pisah Ranjang

1313 Words

“Sin, makasih banyak ya, karna lo udah mau nginep di sini buat nemenin gue ngobrol. Jujur aja gue emang ngerasa kesepian kalo gak ada lo.” Violeta tersenyum sumringah. “Iya, Vio. Yang penting lo cepat sembuh, jangan banyak pikiran dan gak boleh lagi berbuat nekat kayak gitu.” Sinta pun tersenyum. “Apa lo gak kasihan sama Om Bram dan Berlin? Mereka berdua sangat terpukul ngeliat lo yang gak sadar-sadar.” Violeta langsung terdiam. Mimik wajahnya yang tadi ceria, kini berubah sendu. Dia merasa tertampar atas ucapan Sinta. Sinta memegang tangan Violeta karena tampak melamun. Kini mereka berdua sudah berada di kamar. Sementara Bram sejak tadi berada di lantai bawah bersama Haris. Malam ini pun Haris juga disuruh Bram agar bermalam di rumahnya. “Vi, menurut gue Om Bram itu lelaki baik dan b

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD