Part 10 ( Arka bersama Maura)
Aku kesal sekali karena Mas Arka menerima telepon yang Aku tidak tahu dari siapa itu padahal ini hari libur dan Aku ingin seharian ini selalu berada di dekat suamiku.
Selesai menerima telepon Mas Arka kembali duduk bersamaku, kali ini ia langsung mengecup pucuk kepalaku mungkin ia tahu jika aku merajuk.
"Telepon dari siapa sih Mas! Kayaknya penting sampai terimanya harus jauh-jauh dari Aku, mencurigakan!" Gerutuku dengan wajah yang ditekuk.
"Itu telepon dari Maura, Mas menjauh karena mungkin ada hal yang penting, walau bagaimanapun dia kan tetap istri Mas, tidak mungkin Mas mengabaikannya."
"Mas itu tetap cinta dan sayangnya hanya sama kamu seorang," ucap Mas Arka membuatku berbunga-bunga.
"Emang Maura mau apa Mas telepon kamu?"
"Dia hanya bertanya kapan Mas balik ke Bandung, karena Mas harus adil sama kalian berdua."
"Trus Mas jawab apa?"
"Mas jawab kalau minggu depan Mas baru bisa kesana lagian kan Mas baru aja kembali kesini mana mungkin balik lagi kesana."
"Mas! Nanti kalau Mas ke Bandung terus Aku di tinggal sendirian dong Mas!"
"Iya mau gimana lagi Sayang, Mas juga ke Bandung tidak lama, cuma setor aja," godanya sambil terkekeh.
"Mas apaan sih, kok ngomongnya gitu," Aku masih cemberut tak suka.
"Sudah-sudah mending kita bermesraan aja daripada ngomongin Maura yang bikin kamu bete gitu."
"Nggak ah, Cila gak mau," Aku berlalu meninggalkan Mas Arka masuk ke dalam kamar.
Saat aku berada di kamar, Mas Arka membututiku dari belakang, ia juga langsung memelukku dan membelai rambut panjangku.
"Kok ngambek sih, istri Mas mana boleh ngambek, Mas kan ke Bandungnya tidak lama paling dua hari udah pulang terus kita sama-sama lagi."
"Lagipula kan minggu depan Mas berangkatnya, masih ada waktu untuk kita sama-sama."
****
Satu minggu terasa begitu cepat dan hari ini waktunya Mas Arka berangkat ke Bandung untuk menemui Maura istri pertamanya.
"Mas kamu cepat pulang ya? Jangan lama-lama disana nanti Aku kangen Mas," ucapku sambil memeluk Mas Arka dengan erat seolah tak mau melepaskan pelukan ini.
"Iya Mas Janji cuma dua hari Mas disana sisanya akan kita habiskan bersama," Mas Arka berpamitan sambil mencium keningku.
Aku mengantarkannya sampai depan teras dan melihat mobilnya berlalu hingga hilang dari pandanganku.
Setelah mobil Mas Arka tak tampak lagi Aku masuk ke dalam rumah, di perumahan ini aku belum mengenal tetanggaku, karena semua orang sibuk dan jarang ada di rumah, seperti tetangga sebelah rumahku.
Tapi saat aku hendak masuk tiba-tiba tetanggaku menyapa.
"Hai Mbak! Boleh kenalan, namaku Mira tetangga Mbak," sapanya memperkenalkan diri saat ia juga mengantarkan suaminya pergi.
"Ouh Iya, Namaku Arsila, Mbak udah lama tinggal disini?" Tanyaku mengawali pembicaraan kami.
"Iya sudah lima tahun Mbak, Alhamdulilah betah disini, soalnya gak ada yang kepo," celetuknya.
"Gimana kalau Mbak main kerumahku, biar kita ngobrolnya makin asik, maklum suamiku baru saja pergi, ayo Mbak," ajak Mira menawarkan diri.
"Baiklah, sebentar ya, Aku kunci pintu dulu."
Dirumah Mira yang sama besarnya dengan rumahku tapi perabotannya tak begitu banyak hanya ada beberapa saja.
"Mir, kamu sudah berapa lama menikah? Sudah punya anak?" Tanyaku saat kami sedang bersantai di ruang tamunya.
"Sudah lima tahun Mbak, Aku belum punya anak, ribet Mbak jika punya anak sekarang, lagi pula aku hanya istri simpanan yang sewaktu-waktu akan ditinggalkan."
"Maksud kamu!"
"Iya, suamiku sudah punya anak dan istri Mbak, Memang sih istri pertamanya tahu jika aku adalah istri kedua suaminya tapi tetap saja Aku tidak mau punya anak.
"Kalau begini kan Aku bisa bebas Mbak kemana saja dan kapan aja mau bermesraan sama suamiku."
Aku hanya menatapnya sambil mendengarkan semua ceritanya sebagai istri simpanan.
"Kalau Mbak udah berapa lama menikah?"
"Baru saja, baru satu bulan ini Mir."
"Wah, masih anget dong, masih maunya sama-sam terus," ujar Mira terkekeh meledekku.
"Bisa aja kamu."
"Tapi Aku sama seperti kamu Mir, hanya istri kedua."
"Satu frekuensi dong kita Mbak," ia tertawa mendengar ucapanku.
Sejak perbincangan itu kami menjadi dekat dan sering ngobrol ataupun sekedar makan bareng.
Mira juga suka bercerita tentang masa lalunya menjadi wanita malam hingga akhirnya menjadi istri simpanan.
****
"Sayang kamu apa kabarnya?" Tanya Arka pada Maura saat ia sudah sampai di rumah.
"Aku baik." Maura menyambut suaminya dengan balutan gaun yang indah berwarna merah muda serta parfum yang menggoda.
"Kamu cantik sekali?" Tanya Arka sambil merangkul Maura, meski ia bersama Arsila tapi ia juga merindukan Maura yang juga pandai membangkitkan gairahnya di atas ranjang.
Kekurangan Maura hanya ia belum bisa memberikannya keturunan hingga sepuluh tahun pernikahan mereka.
"Mas, ini Minum dulu jamunya biar kuat sampai pagi," ucap Maura memberikan secangkir jamu yang sudah dia racik sendiri untuk Arka.
"Terimakasih Sayang, kamu memang bisa membuat suami betah diatas ranjang."
"Ya sudah kita mulai saja malam ini hingga fajar menjelang, karena aku sudah kangen sama kamu" ucap Maura sambil berbisik, ia juga sudah siap dengan gaun malamnya yang transparan membuat Arka terkesima dan bergelora.
Desahan demi desahan membuat Arka makin b*******h untuk menaklukan istri pertamanya itu. Arka memang lelaki yang perkasa dan tak bisa hidup tanpa wanita.
Beruntung sekarang ia memiliki dua wanita yang bisa memuaskan na*su birahinya.
Dua hari waktu yang singkat baginya untuk bermesraan dengan Maura. Selama dua hari itu pula ia tak pernah keluar kamar. Tugasnya hanya melayani istrinya.
Hingga untuk menghubungi Arsila pun ia tak punya waktu karena Maura telah menyita ponselnya. Dua hari hanya untuk dirinya seorang.
"Mas! Gimana kamu suka kan?" Tanya Maura saat mereka masih dalam balutan selimut.
"Sangat suka, kamu memang the best kalau soal ranjang."
Pujian itulah yang selalu didapatkan Maura dari suaminya jika merasa puas. Meski Arka tak pernah mencintainya.
Entah kenapa hati Arka selalu untuk Arsila seorang padahal semua telah dilakukan oleh Maura agar Arka bisa jatuh cinta padanya.
Sepuluh tahun bersama Arka tak pernah mencintai Maura, Arka hanya butuh saat ia ingin menuntaskan hasratnya saja namun Maura tetap sabar menunggu.
"Mas, gimana kabar Arsila?" Tanya maura saat mereka sedang sarapan karena Arka akan kembali ke Jakarta siang ini.
"Arsila Baik, dia juga titip salam buat kamu."
"Syukurlah kalau dia baik, aku berharap jika dia akan segera hamil ya Mas."
"Ia tentu saja dia akan segera hamil," ucap Arka.
"Mas,kamu bahagia sekarang?"
"Bahagia dong, kenapa tidak," jawab Arka.
Mereka hanya akan mesra jika di atas tempat tidur saja, setelah itu mereka akan kembali kaku satu sama lain.
Maura tak pandai mencuri hati Arka, ia hanya pandai memuaskan suaminya di atas ranjang.
Makanya selama dua hari Arka di rumahnya ia hanya memanjakan suaminya di dalam kamar mereka karena hanya itu yang bisa ia lakukan meski ia sendiri merasa kelelahan melayani suaminya selama dua hari ini.
Tapi jika ia tak pandai memuaskan suami ya pasti Arka akan selalu bersama Arsila dan tidak akan datang mengunjunginya.
Meski ia sudah memberikan izin pada suaminya untuk berpoligami tapi tetap saja di hati kecilnya tak rela jika harus berbagi suami dengan wanita lain.
Maura akan terus berusaha untuk menarik perhatian Arka agar ia tetap bisa mempertahan rumah tangganya.