Penyempurnaan Rulp

1090 Words
Tubuh Lucky terkulai tak sadarkan diri. Sekarang Dugvrog tak lagi mengekang Lucky dengan lidahnya, tubuh itu sekarang dibopong pada bahu kirinya. Dengan langkah bangga iblis yang berkekuatan menyedot aura lawannya melalui lilitan lidahnya itu memasuki sebuah pintu kembar nan tinggi dan sangat berat. Sekali menjalankan tugas langgung dari Raja Melchoir, Dugvrog dengan mudah membawa targetnya walau ia harus kehilangan sembilan belas bawahannya. Amukkan manusia iblis berkekuatan api itu bear-benar di luar dugaannya. “Dugvrog!” Raja Melchoir berpaling dari Rulp yang masih melayang-layang sejengkal dari bantal beludrunya. Ia menuruni beberapa anak tangga untuk menghampiri ‘hadiah’ dari Dugvrog. BRUGH! Tubuh lunglai itu dijatuhkan begitu saja ke lantai. Sekarang Lucky dalam posisi tertelungkup, sementara kepalanya sedikit miring ke kanan hanya berjarak beberapa senti dari kaki Melchoir. “Yang Mulia.” Dugvrog membungkuk penuh hikmat pada Sang Raja, di mata yang lain ia benar-benar seperti penjilat. Dari sudut matanya, Eva menatap Lucky beberapa saat. Ia sedang memastikan berapa buah core yang ada di dalam tubuh manusia itu. Setelah beberapa detik, Eva berdiri dan berjalan dengan anggun hingga ia berdiri di samping Melchoir. Eva tak pernah menyembunyikan ketidaksukaannya pada Dugvrog. “Aku akan mengantarmu pada jalan keluat, atau…” Eva sengaja tak melanjutkan ucapannya, Dugvrog yang mengerti segera berdiri dan tersenyum sinis pada Sang Ratu. Iblis yang memiliki ukuran tubuh seperti Murdock, tapi dengan wajah yang dipenuhi tanduk seperti katak beracun. Iris matanya yang berwarna kunig, membuatnya paling mencolog di antara iblis lain yang hanya memiliki mata berwarna hitam. “Jika Anda menginginkan hadiah lain, aku punya rekomendasi untuk anda, Yang Mulia.” Dugvrog mentap Eva sekilas dan kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangar besar itu dan di akhiri dengan suara debaman dua pintu kembar yang kembali menutup. Eva memiliki dendam prbadi pada iblis Dugvrog. Sebuah dedam yang belum bisa terbalaskan karena Dugvrog memiliki perlindungan kuat dari Raja Iblis. Tidak dipungkiri jika Dugvrog memnag selalu berhasil memuaskan Raja Melchoir yang akan sellau megirimnya jika ada sesuatu atau seseorang yang aka diambil. Iblis itu memang sellau berhasil menyelesaikan misinya tanpa cela sedikitpun. “Masih ada beberapa hal yang harus Dugvorg ‘jemput’, tapi belum sekarang.” Melchoir tertawa, menggema di seluruh ruangan. Eva memasang wajah tak suka karena Melchoir terlalu mempercayakan misi seperti itu pada iblis sial itu. Namun suara rintihan lemah dari lantai membuatnya menatap Lucky, lalu menarik rambut Lucky dengan kasar dan menyeretnya ke depan meja tak jauh dari tangga menuju singgasana Raja dan Ratu iblis. “Sepuluh iblis yang terkunci di dalam tubuh makhluk fana, lepaskan diri kalian dan kejarlah panggilan Rulp nan merdu di langit Khavaya! Sang Raja penggati telah hadir. Tundukkanlah tanduk kalian pada Rulp!” Suara Eva yang biasanya selalu anggun, kali ini terdengar mengerikan. Penyihir itu mulai membaca mantra- mantra kuno yang tak bisa dimengerti bahkan oleh Melchoir. Tak lama setelahnya tubuh Lucky kejang beberapa saat. Semakin bibi Eva membaca mantra dengan cepat, kejang Lucky semakin mejadi. “Khavaya!” suara Eva menggema, lalu ia membuat segel pelindung di sekeliling tubuh Lucky yang sudah berhenti kejang. Tepat pada waktunya, segel dinding telah terpasang kokoh. Tubuh Lucky perlahan berubah wujud menjadi iblis sepenuhnya. Kejadian selanjutnya tak jauh beda dengan kejadia pada saat Lucky menerima sepuluh core iblis dari Raph. Hanya saja segel yang dibuat oleh Eva jauh lebih kuat dari segel para penjaga. Sekeras dan sekuat apapun amukan iblis Lucky, segel itu sama sekali tak terpengaruh. “Mereka mulai keluar. Mereka akan kembali pada Tuannya!” desis Eva. Satu persatu core iblis itu mulai keluar dari mulut Lucky yang sekarang terbuka lebar. Dalam sekejap ke sepuluh core itu seolah disedot oleh Rulp dan langsung bersatu. “Mereka begitu cantik, Rajaku. Mereka sempura,” ujar Eva mendekat pada Rulp yang sudah berbentuk cincin sepenuhnya. Lingkaran cicncin Rulp dihiasai oleh sepuluh lambang iblis pemilik core. Melchoir mendekati Rulp yang sekarang terletak di atas batal beludru itu. Ia dengan penuh perhatia mengambil dan memsangkan cincin Rulp di jarinya. Sesuatu yang berbeda langsung menjalari jemarinya hingga ke seluruh tubuh. Cincin itu mengeluarkan duri dan menancapka diri pada jari telunjuk Melchoir. “Aku lapar…” keluh Valrey yang baru saja bangun setelah satu minggu tak sadarkan diri. Maya seolah tahu bahwa Valrey akan mengatakan hal itu, muncul membawa nampan dengan sebotol besar air dan sepiring roti yang menggunung. Maya sudah tahu posri makan Valrey dan sengaja menyipkan sebanyak itu. Sargon, Maya, dan Lucy menggeleng-geleng melihat nafsu makan Valrey yang luar biasa. Sargon tak sadar sampai mengaga dengan segigit roti yang masih ada di mulutnya. “Kau benar-benar luar biasa, Val,” ucap Lucy yag juga tak bisa tak heran meski sudah bersama Valrey selama berbulan-bulan ini. “Kekuatan yang dia pinjamkan padaku benar-beanr membuatku kelaparan.” Valrey mendadak berhenti mengunyah dan meletakkan roti itu di piring kembali. Vio… Ia mendadak terbayang kedian saat Vio bersimbah darah. Padahal ia bertarung dengan posisi yang paling dekat dengan Vio saat itu. Namun ia sama sekali tak menyadari jika Vio terkena serangan, malah Sargondan Lucy yang menyadari duluan. Semua nafsu makannya menguap seketika. “Val,” panggil Sargon pelan. Sargon tahu apa yang membuat temannya itu menjadi seperti ini. Sargon menatap Lucy dan Maya bergantian. Dia berdiri dan mendekati ranjang Valrey. Temannya itu sekarang menunduk dan pundaknya mulai berguncang. Maya yang tak kuat kemudian meninggalkan ruangan, bagaimanapu singkatnya kedekatan mereka, Vio sudah mengajari beberapa hal pada Maya, terutama untuk menghadapi iblis yang terlihat lebih kuat dari mereka. Sekian bulan perjalanan yang mereka lakukan bersama, mungkin terkesan tak terllau akrab. Apalagi Vio tipe pemimpin yang selalu serius dan sangat bertaggug jawab pada kelompoknya. Bila diibaratkan, Vio adalah induk angsa yang menampung sekian banyak anak-anaknya di atas punggung, lalu membawa mereka megarugi sungai sambil mengajarkan bagaimana cara berenang dan menetahui ligkungan sekitar. Apakah mereka akan bisa berenang tanpa terbawa arus dan jatuh ke dalamnya air terju setelah kepergian Vio? “Vio pasti akan memukul kepalamu jika terus begini,” bujuk Sargon. Padahal ia juga tak bisa menahan kesedihan saat tubuh Vio akan dikremasi. Berhasil menguasai diri, Valrey kembali menatap lurus ke depan. Ia berjanji di dalam hati akan melanjutkan misi mereka. Menemukan tiga menusia iblis lainnya dan mengalahkan kerajaan iblis. Bumi ini adalah bumi manusia. Mereka akan mengambil rumanhnya kembali dan mengusir makhluk buruk lupa yang telah mencurinya selama ini. Di taman belakang Kerajaan Bajarian. “Tenang di sini. Aku akan berusaha menjadi penjaga merka setelah kau tiada. Agar mereka tak tersesat!” Maya tengah berbicara pada seubah pohon yang baru ia tumbuhkan beberapa hari lalu. Di bawah dahan yang rindang, sebuah guci sederhana tersandar ke batang pohon. Maya mengusap guci itu sekilas, lalu berbalik meninggalkan taman tanpa menoleh lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD