Seventeen

1604 Words

“Yah, udah mau pulang.” Oceana berwajah murung, gadis itu mengantarkan ke empat temannya menuju ke luar gerbang rumah.  “Jangan sedih, Ce. Entar gue kesini lagi,” kata Gendis memeluk singkat Oceana. “Numpang makan,” lanjutnya kemudian terbahak membuat Pricilia menggeleng heran. Dia penasaran, ingin membedah tubuh teman sebangkunya itu, sebenarnya dimana Gendis menyimpan semua makanan yang masuk ke dalam mulutnya? “Kamu pulang sama Kaka kan, Ndis?” tanya Oceana yang sambil menoleh ke arah Kanaka yang sudah berada di atas motor.  “Hooh, gue searah sama Kaka. Eh, Cia lo pulang gimana?” Gendis tiba-tiba teringat dengan Pricilia. Pasalnya, tidak ada taksi yang lewat disini karena rumah Oceana yang berada di dalam sebuah gang. “Gue naik ojol aj—-“ “Pulang sama gue aja,” sahut Brian membuat

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD