Kisah Papa dari Masa Lalu

3715 Words
Masa lalu adalah pembentuk masa depan. Seperti masa lalu Papa yang akhirnya membentuk masa depan kami menjadi lebih berwarna -Sad Satya Sri Sena- Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Aku dan Dik Adhit sejak tadi berada di teras depan rumah. Menunggu Papa dan Mama untuk pulang. Mama menjemput Papa di Yonif 413. Satu jam, dua jam, Mama dan papa tak kunjung datang. Sebenarnya kapan Papa akan datang? Lima menit setelah dua jam. Mobil hitam milik kami datang. Berhenti di garasi dan yang keluar dari balik kemudi bukan Papa. Melainkan Mama. Aku dan Dik Adhit masih menunggu. Tapi tidak ada satupun yang keluar dari mobil kecuali Mama. "Papa mana, Ma?" tanyaku dan Dik Adhit kompak. Kami hanya kompak dalam berbicara beberapa hal. Selebihnya kami adalah musuh dalam atap yang sama. "Ada kendala di sana. Jadi pulangnya nanti malam atau mungkin besok pagi," jelas Mama merangkulku dan Adik. "Yah," aku dan Dik Adhit berseru kecewa bersama-sama. Kompak kan? Ya, hanya dalam hal tidak penting. "Kita tunggu saja nanti ya, sabar." Mengelus lengan kami bersama-sama. Kekuatan dari Mama sangatlah berarti. Tapi ya beginilah hal yang tidak aku suka dari dunia Papa. Dunia itu sudah merenggut kebersamaan kami, juga memaksa kami untuk memiliki kekuatan lebih dibandingkan orang lain, terlebih waktu di dunia Papa lebih banyak php-nya. *** Sampai akhirnya malam menjelang. Kami masih menunggu Papa pulang. Kami bertiga duduk di ruang tamu. Mama dengan ponselnya menanti kabar dari Papa, aku dan Dik Adhit duduk lesu di sebelah Mama. Aku sudah habis tiga gelas s**u, Dik Adhit sudah habis empat gelas s**u. Gelas ukuran sedang. Sudah habis dua toples mini kue nastar dan kue kacang. Tapi Papa tak kunjung pulang. Mungkinkah besok pagi? Ya ampun... PHP! Sampai aku terlelap. Tak hanya aku, Dik Adhit juga. Saat mataku membuka. Aku sudah berada di dalam kamarku. Bukannya semalam aku tertidur di ruang tamu? Mama tidak mungkin memindahkan aku dengan segala kekuatannya. Apa mimpiku semalam itu nyata? Ya, semalam aku bermimpi Papa mengangkat tubuhku ke kamar. Lalu memberiku kecupan kecil di dahi dan mengatakan, "Have a nice dream, Dear."Apa karena aku tak sabar menunggu Papa, jadi terbawa mimpi begini. "Kak," suara yang aku tunggu memanggilku dari balik pintu kamar. Apa aku masih tidur? Kenapa bisa berhalusinasi begini? Aku diam saja, sambil memukul-mukul kecil telingaku. Siapa tahu memang hanya halusinasi dari telingaku. "Kak, sudah subuh ini," suara itu sekali lagi terdengar oleh telingaku. "Kak, Papa buka ya pintunya?" Suara itu meminta izin. "Papa buka nih." Aku tak menjawab. Aku belum yakin. "Papa buka, ya?" Meminta persetujuanku lagi. Aku tetap tak menjawab sampai akhirnya pemilik suara itu benar-benar membuka pintu kamarku. "Papa," panggilku masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Pria terbaik dalam hidupku sudah rapi dengan baju koko dan peci hitamnya, siap untuk ke masjid. "Iya, ayo bangun!" menarik tanganku. Tangan ini sungguh nyata. Aku tidak bermimpi kan? Ini Papa, kan? "Ini Papa, Sayang," menghentikan tarikannya. Papa pasti tahu kalau aku masih tidak percaya. Aku langsung melonjak, memeluk Papa. "Kangen, Pa," keluhku manja pada Papa. "Iya, sayang. Papa juga kangen," memberiku sentuhan lembut di punggung dan mengecup ujung kepalaku. "Tapi nanti saja kangen-kangenannya. Sekarang salat dulu, Papa sama Adik telat nanti ke masjidnya," melepas pelukannya padaku. Iya, aku setuju dengan Papa. Bagaimana pun indahnya urusan dunia, Allah Swt. tetap yang utama. Intinya, salat dulu. Hehe. "Ke masjid dulu, Ma," pamit Papa dan Adik. Kemudian berlalu pergi. Tinggal aku dan Mama yang juga harus segera menghadap Tuhan yang Maha Esa. Setelah doa terakhirku. Aku langsung melepas mukena dan bertanya pada Mama. "Papa pulang semalam, Ma?" "Lah, kakak nggak tahu?" Mama justru balik bertanya padaku. "Lah, gimana sih, Ma?" Aku bingung. "Kata Papa semalam kamu sudah manggil-manggil nama Papa waktu Papa gedong kamu ke kamar. Ngasih kecupan sama kamu," ujar Mama. "Really? Berarti kakak nggak mimpi dong semalam," lega sekali rasanya. Mama mentertawakan aku. "Assalamualaikum." Papa dan Dik Adhit serentak mengucap salam saat membuka pintu rumah. "Wa'alaikumsalam." Mama dan aku menjawab kompak. Pagi ini seperti hari libur biasanya, setelah Papa dan Dik Adhit olahraga, setelah aku dan Mama selesai memasak. Setelah kami semua selesai dengan pekerjaan masing-masing. Barulah kami sarapan bersama. Batas waktu menyelesaikan pekerjaan adalah pukul tujuh pagi, jadi semua harus sudah di meja makan jam tujuh tepat. Meski Papa yang dari militer, tapi Mama yang membuat aturan ini. Waktu sarapan kami tak lama. Hanya lima belas menit saja makanan sudah ludes. Yang lama adalah waktu ngobrol setelah sarapan, apalagi di waktu libur sekolah begini. Kalau hari-hari biasa, aturannya berbeda. "Oh iya, Pa. Mama lupa," ucap Mama mendahului pembicaraan di pagi hari ini. "Papa masih kangen sama anak dari tanah Papua?" tanya Mama, ini baru paragraf pertama dari Mama. "Ya, kangen lah, Ma. Oh iya," seperti mengingat sesuatu. "Adik sama Kakak sudah tahu belum, soal anak dari tanah Papua?" Kiranya Papa belum mengerti soal kejadian kemarin. "Belum." Aku dan Dik Adhit bisa kompak. Padahal sedikit banyak kami sudah tahu dari Mama. Tapi kami penasaran, bagaimana cerita versi Papa? "Eleh!" Mama menyangkal pernyataan kami. "Obes su datang ke rumah, Papa. Su ketemu deng katong," jelas Mama mengikuti bahasa Kak Obes. Bahasa orang timur. Membuat kami tertawa, lucu sekali. Kecuali Papa. Tahulah, Papa langsung terkejut. "Terus Obesnya gimana? Ada nomor ponselnya nggak?" Antusias yang berlebihan. "Nah, itu lah, Pa." Aku terhenti sejenak. "Dik, kalau bahasa timurnya kita lupa minta nomor ponselnya gimana ya?" bisikku pada Dik Adhit. Ya, kalau Mama bisa. Aku juga bisa dong ya bahasa orang timur. "Entah," jawab Adik singkat. "Kita lupa minta nomor ponselnya Kak Obes, Pa. Tapi dia bilang sekarang sumber air su dekat." Dik Adhit terlalu banyak nonton iklan di TV daripada acara TVnya. "Adik!" seru Papa. "Papa serius!" Bukan saatnya bercanda. "Obes bilang lusa mau ke sini lagi. Tapi nggak tahu jadi atau tidaknya, Pa," sahut Mama. "Aduh nggak sabar," ujar Papa dengan wajah yang memang nggak sabaran banget. Mungkin karena empat belas tahun tidak bertemu kali ya? Dan sebenarnya bagaimana kisah Papa dengan Kak Obes itu? sepertinya Kak Obes begitu berarti untuk Papa. "Ternyata bukan hanya Adik ya, anak cowok Papa satu-satunya." Dik Adhit seperti cemburu. Ya, pastinya akan ada dua kebanggaan untuk Papa. Tak lagi kebanggaan hanya ada pada Dik Adhit. "Kalian harus baik sama Kak Obes. Terutama Kakak," seru Papa. Kenapa aku? Adik juga bisa berlaku tidak baik pada Kak Obes? Eh, kenapa Papa seperti sedang mengganti posisiku dan Adik dengan Kak Obes? Huah! "Eh, bagaimana Obes tahu rumah kita, Ma? Dan bagaimana Obes bisa ke tanah Jawa? Dia sudah jadi tentara kah?" Papa sepertinya begitu bahagia. "Ya, cari-cari lah. Kalau soal bagaimana Obes bisa ke tanah Jawa dan sudah jadi tentara atau belum, ya nggak tahu Mama, Pa," menjawab pertanyaan bahagia dari Papa. "Obes cuma bilang sekarang di Solo terus..." Mama ingat sesuatu. "Kak Obes bilang dia buru-buru pulang mau ada tugas." Dik Adhit mendahului Mama. "Tugas negara kah, Pa? Tentara, kah?" "Aduh, jadi pengen cari Obes." Papa seperti tidak di dunia nyatanya. "Wah, kalau Kak Obes tentara, lengkap sudah hidupku." Dik Adhit yang tergila-gila dengan tentara ini jadi ikut menjauh dari dunia nyatanya. Aku harap Kak Obes bukan tentara. Aku muak dengan dunia itu. Berhubung kami semua libur dan Mama juga memaksa toko kuenya tutup, jadi kami menikmati kebersamaan di rumah. Kebersamaan yang amat sangat jarang, karena Papa akhirnya ada di antara kita semua. Hingga siang menjelang, menikmati waktu luang hanya dengan main PES, mengobrol, sampai akhirnya Dik Adhit dan Papa terlelap. Mungkin karena mereka berdua juga sedang menunggu kedatangan Kak Obes. Menunggu itu melelahkan to? "Permisi," seseorang mengetuk pintu rumah kami saat hari sudah semakin terik. Matahari sudah berada di tengah-tengah Bumi Intanpari. Puanas sekali. "Ya," jawabku sambil melenggang mendekati pintu rumah. Membukanya dan sedikit canggung pada akhirnya. Biasanya aku langsung menyunggingkan senyum ketika membuka pintu. Ya, karena yang datang Kak Obes, membuatku sedikit canggung. "Adik Sena, tra lupa kan deng Kakak?" tanya Kak Obes yang mungkin tersinggung oleh ekspresi wajahku. "Ah, tidak lah, Kak," jawabku tetap kaku. "Masuk, Kak." Mempersilakan Kak Obes masuk dan sekaligus duduk di kursi panjang ruang tamu. "Tunggu dulu ya, Kak. Saya panggilkan Mama dan Papa," pamitku langsung meninggalkan Kak Obes sendirian. "Anak Papa datang, Ma," kataku singkat. Itu cukup membuat Mama langsung keluar dari sarangnya di perpustakaan mini rumah kami. Papa masih terlelap dengan Dik Adhit. "Mana?" Kata Mama masih dengan buku Rudy Habibie-nya. Ya, Mama memang mengidolakan Bung Hatta dan BJ Habibie. Setiap hari Mama selalu menyempatkan waktu membaca buku-buku tentang beliau-beliau itu. Terkadang suka diulang-ulang. Mama seperti tidak pernah bosan. "Di ruang tamu," jawabku singkat dan langsung ke dapur. Menyiapkan apapun yang kami punya. Ya minuman, ya camilan. "Pa," kudengar Mama mulai membangunkan Papa. "Pa," Papa pasti sulit dibangunkan kalau sudah tidur begini. Sama sepertiku. "Pa, Papa." Mama mulai lelah, terdengar dari nadanya yang semakin tinggi. "Hem..." Hanya itu yang Papa suarakan. "Ada Obes tuh," seharusnya Papa langsung terbangun karena yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Aku pun masih tidak mengerti, kisah apa yang dulu Papa jalani dengan Kak Obes, sampai begitu membekas dan bahkan Papa menganggap Kak Obes sebagai anaknya sendiri, Kak Obes juga sebaliknya. "Pa," panggil Mama lebih keras. Ternyata itu pun sulit membuat Papa bangun. Mungkin Papa juga masih lelah. Tubuhnya kan habis bekerja keras selama satu bulan. Kemudian hening. Aku tidak mendengar suara apapun dari ruang keluarga. Tempat Papa dan Dik Adhit tidur sekarang ini. Hanya suara samar-samar dari ruang tamu. Mungkin Mama sudah ke ruang tamu untuk menyapa Kak Obes. Aku penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, makanya aku percepat mengaduk minuman ini. Sirup rasa melon kesukaan Dik Adhit, di dapur cuma sirup yang mudah dibuat. "Mama, kita baru berjumpa kemarin itu. Tapi Mama langsung tahu kalau sa ini Obes. Padahal sa cuma bilang anak Bapa Gibran dari tanah Papua." Itu yang kudengar saat keluar membawa nampan penuh. "Ya, cuma kamu anak Papua yang sangat dekat dengan Bapa to? Mama yakin itu kamu, Obes. Cuma kamu saja yang Bapa rindukan," jelas Mama tepat saat aku menghidangkan minuman dan beberapa toples kue kering buatan Mama. "Iya kah? Padahal banyak yang dekat dengan Bapa, Mama. Bapa itu idola kami, anak-anak Imko." "Apalagi itu anak-anak Imko?" batinku. "Mungkin cuma kamu saja yang memiliki kenangan indah sama Bapa." Mama juga tidak begitu paham ternyata. Kata mungkin memperjelas itu semua. Tapi, kenangan indah? Seindah apa itu? "Sebentar ya, Obes. Mama bangunin Bapa dulu. Kamu ngobrol dulu sama Sena." Mama pergi padahal aku baru saja duduk di sebelahnya, di depan Kak Obes. "Siap, iya, Mama," jawabnya begitu tegas. Seperti Papa saat menjawab perkataan atau perintah dari atasannya. Tunggu, ada yang baru aku sadari dari tadi. Wah, Kak Obes datang dengan pakaian spesial hari ini. Pakaian kebanggaan. "Adik Sena, sekarang su kelas berapa?" tanya Kak Obes memecah kekagumanku atas pakaiannya yang tidak begitu menyebalkan untukku. "Kelas satu SMA, Kak," jawabku menatap setiap detail pakaiannya itu. Setiap apapun yang melekat di pakaian itu dan juga sesuatu yang seharusnya di kepala Kak Obes tapi justru di bahunya. Wah, Daebak! "Wah, Sekolah yang rajin e. Biar bisa mengabdi par Indonesia," ujar Kak Obes. "Hehe iya, Kak," jawabku malu-malu. Sebentar, Mengabdi pada Indonesia? Buang-buang waktu! Seperti Papa itu, katanya mengabdi pada negeri, tapi pengabdian itulah yang menyita banyak waktu Papa. Tidak lah. Cukup hidup biasa saja. Toh banyak yang sudah mau mengabdi. Tapi aku tidak mungkin mengakatakan itu semua pada Kak Obes. Bisa diceramahi aku, seperti yang lainnya. "Obes," panggil Papa sudah bangun dari tidurnya. Walaupun muka bantal sekali. "Bapa," seperti dalam sebuah sinetron, dalam adegan ketika anak bertemu dengan Ayahnya setelah berpisah selama puluhan tahun. Seperti dalam acara termehek-mehek, yang kalau baru saja bertemu langsung teriak histeris dan nangis. Kalau Papa dengan Kak Obes ini kasusnya sedikit berbeda, Papa langsung mendekati Kak Obes, menatap haru. Sedangkan Kak Obes berdiri dari tempatnya dengan mata yang mulai memerah. "Lama sekali tidak bertemu, Obes," kata Papa memeluk anaknya dari tanah Papua. "Maafkan sa, Bapa. Maaf," Kak Obes mulai menitikkan air mata. Mama juga begitu. Sedangkan aku yang tidak mengerti apa-apa, hanya bisa menebak dan bertanya. Kisah apa yang mereka berdua lewati di masa lalu? "Hey, par apa kah minta maaf segala?" Papa sedikit menggunakan kemampuan bahasa dan logat Papua nya, masih cetek. "Sa tra bisa jadi TNI macam Bapa pung doa itu, macam Bapa pung harapan. Kematian Pace deng Mace bawa sa jadi Polisi, Bapa." Kak Obes menahan tangisnya. "Innalillahi wa innailaihi rajiun." Papa melepas pelukannya lalu menatap Kak Obes lekat. "Kamu pung Pace deng Mace su tra ada? Bapa turut berduka cita, Obes. Sabar e." Kembali memeluk Kak Obes. Aku dan Mama terdiam kaku. "Iya, Bapa. Pace deng Mace meninggal itu tiga tahun setelah Bapa tra tugas di Imko lai." Pasti berat untuk Kak Obes. "Ada kebakaran waktu itu." Menangis di pelukan Papa. "Sabar, Obes e." Papa mengelus punggung Kak Obes. "Lalu kamu hidup dengan siapa setelah Pace dan Mace tidak ada?" Papa mengajak Kak Obes untuk duduk. Setidaknya agar Kak Obes lebih tenang. Aku dan Mama juga ikut duduk. Drama sudah berlalu. "Sa diadopsi Bapa Kapolresta Jayapura waktu itu, Bapa. Sekarang, beliau su tugas jadi Kapolda Bali," jelas Kak Obes singkatnya begitu. Ini luar biasa. Setidaknya menurutku, Kak Obes diadopsi seorang Perwira Polri dan Kapolda lagi itu luar biasa karena Beliau orang yang memiliki kuasa. "Alhamdulillah, setidaknya kamu tidak hidup sendirian sampai sekarang, Obes." Papa hampir menangis. "Sa sedih skali waktu itu, Bapa. Sa ingin skali ke tanah Jawa bertemu deng Bapa dan Mama. Sa selesaikan sa pung sekolah SD, sa pergi ke Jayapura, cari uang par pergi ke tanah Jawa. Baru sa bertemu deng Bapa Hanif itu. Sa pung Ayah angkat." Kak Obes menahan tangisnya tetapi air mata tetap ingin jatuh. "Sa dikasih makan gratis, sa pung sekolah juga gratis, sa cuma disuruh belajar yang rajin, biar bisa jadi Polisi macam Ayah Hanif itu. Sa tra berani bilang kalau sa itu ingin jadi tentara bukan Polisi. Tapi sa ingin balas budi deng Ayah Hanif, jadi setelah lulus SMA itu, sa didaftarkan Akpol dan lulus. Ya begini, Bapa." Menunjuk tubuhnya yang ditutup seragam polisi. Lengkap dengan brevet dan baret biru, di bahunya. "Jadi polisi juga merupakan pengabdian sama saja dengan tentara," ucap Mama ikut nimbrung. "Iya, Mama. Sa tadinya juga tra bisa terima kenyataan ini. Di Akpol sa memang memiliki fisik yang bagus tapi tahun pertama semua hancur karena sa tra ada niat yang tulus, sa sering skali kena marah, dibeberapa hal sa juga cukup buruk. Sa pikir kalau sa terus begini sa akan mengecewakan Ayah Hanif, mungkin Bapa Gibran juga akan kecewa. Tapi sa mulai menyukai dunia polisi pada akhirnya, Mama, Bapa. Semua kemampuan sa meningkat. Ya, tapi sa bukan lulusan terbaik." Air mata Kak Obes tidak ada lagi. Kasian Kak Obes harus tersiksa dengan keinginan Ayah angkatnya. Kalau aku tidak akan mau, habis nggak suka. Mau tentara mau Polisi, semuanya hanya menghabiskan waktu. "Kakak nggak bangunin aku sih!" Dik Adhit dengan muka bantalnya ikut duduk di sampingku, belum lagi mulut manyunnya membuatku ingin tertawa di tengah-tengah kesedihan dan haru biru ini. "Bodo!" Aku langsung melengos. "Maafkan sa, Bapa. Sa tra bisa jadi tentara macam Bapa ini," ujar Kak Obes. Papa pasti sudah meracuni pikiran Kak Obes, sampai Kak Obes juga pengen jadi tentara, seperti Adikku ini. "Eh... Tra apa Obes, itu kan keinginan kamu, juga jalan hidup kamu. Kamu yang berhak menentukan. Bapa bersyukur sekali, anak Bapa dari tanah Papua jadi Polisi sekarang. Tinggal anak Bapa yang laki ini mau jadi tentara atau tidak?" Melirik Dik Adhit yang masih mengumpulkan nyawanya. "Hah!" Dik Adhit bingung. "Em... Adik calon Jendral TNI loh." Membuat kami semua tertawa. Percaya diri sekali Adikku ini. "Aamiin," seru kami semua serentak. "Dik Adhit harus bisa masuk Akmil e," ujar Kak Obes. "Siap, Pak Pol," memberi hormat pada Kak Obes. "Haha." Mentertawakan Dik Adhit. "Oh, sa lupa. Ada hadiah par Bapa, Mama, Sena deng Adhit. Sebentar," katanya lalu pergi keluar rumah. Bapa dan Mama hanya saling menatap, sedangkan aku dan Dik Adhit mengikuti Kak Obes yang berjalan menuju sebuah mobil. Mobil Terios putih. "Wah, keren juga kendaraannya ya?" pujiku dalam hati. Dua menit kemudian Kak Obes keluar dari mobilnya dengan dua kotak besar dan kecil. Entah isinya apa? Aku dan Dik Adhit langsung berlari ke tempat semula. Duduk di samping Mama. Kak Obes duduk di sebelah kiri Papa. Meletakkan dua kotak itu pelan-pelan. "Ini untuk Adik Sena deng Adik Adhit." Memberiku dan Dik Adhit satu kotak yang lumayan besar tapi tak sebesar satu kotak lainnya. Dik Adhit yang menerimanya dengan antusias. "Terima kasih, Kak Obes," ucapnya. "Terima kasih, Kak," ucapku. "Sama-sama," balas Kak Obes dengan senyum manis khas orang timur. "Ini par Bapa deng Mama." Kotak yang begitu besar. Kotak yang biasanya dipakai untuk mengemas barang-barang lama. Box. "Apa ini, Obes?" Mama lebih antusais dari Papa. "Kenapa harus repot-repot macam ini, Obes?" Papa sungkan. "Tidak repot, Bapa." Kak Obes membukakan kotak itu untuk Mama dan Papa. Yang terpampang di dalamnya adalah sebuah kotak kado kecil bertuliskan 'Par Mama' dan tumpukan buku-buku tulis yang lusuh sekali. "Ini untuk Mama?" Mama memperjelasnya lagi. "Betul Mama," jawab Kak Obes cepat. Mama mengambil kotak itu. Dan di bawah kotak itu ada satu kotak lagi sama seperti milik Mama tapi tidak ada tulisannya. Itu pasti untuk Papa, siapa lagi? "Terima kasih banyak, Obes," ucap Mama. "Sama-sama, Mama," balas Kak Obes dengan senyum khasnya lagi. "Ini untuk Bapa." Sedikit menggeser kotak itu mendekati Papa. Entah apa yang begitu spesial dari hadiah itu. Hanya buku lusuh dan sebuah kotak yang belum diketahui apa isinya. Tapi Papa sudah menangis hanya dengan melihat itu tanpa menyentuhnya. Papa jarang sekali menangis, apalagi di depan banyak orang seperti ini. "Ini buku dari Bapa dulu, kah?" tanya Papa mulai menyentuh buku-buku lusuh itu dengan tangan gemetar. "Iya, Bapa. Sa kumpulkan semuanya, sa bawa ini kemana-mana. Bahkan sampai sa ke asrama sa pung tempat tugas sekarang ini, Bapa. Di Pelopor C Brimob Polda Jawa Tengah, di Solo," jelas Kak Obes. Kalau Papa terakhir bertemu dengan Kak Obes empat belas tahun yang lalu. Berarti buku-buku itu juga memiliki umur yang sama dengan perpisahan Papa dan Kak Obes. Daebak! Lama sekali dan buku lusuh itu masih utuh? Pasti sangat berarti. Kisah macam apalagi ini? Tangan Dik Adhit yang jahil itu langsung mengambil salah satu buku yang paling atas. Buku dengan tulisan amburadul ala anak kecil. Disetiap lembar yang Dik Adhit buka selalu ada tulisan kecil di pojok kanan atas, 'Buku dari Bapa Gibran, Yonif 413/Bremoro'. "Sengaja sa bawa kesini, Bapa. Sa ingin Bapa simpan ini buku agar Bapa ingat, Bapa yang sebenarnya membawa ilmu pengetahuan itu par sa pung hidup. Tanpa buku itu, sa mungkin trada semangat par sekolah, Bapa." "Bapa akan simpan bukumu ini, Obes. Nanti Bapa buatkan rak khusus. Kamu bisa kesini setiap saat jika kamu mau. Kamu ini anak Bapa." Merangkul Kak Obes penuh dengan kasih sayang. "Terima kasih, Bapa." Kembali tersenyum. Kak Obes memang lebih baik tersenyum daripada harus menangis. "Eh, silakan itu di buka!" Mempersilakan kami semua. Satu per satu kami semua membuka kotak jatah kami. Mama dan aku dapat sebuah mukena lucu bermotif bunga-bunga. Dik Adhit dan Papa dapat sebuah sepatu Nike keluaran terbaru. Padahal baru beberapa hari yang lalu Dik Adhit bilang ingin sepatu itu, sudah minta ijin Mama juga untuk menggunakan uang tabungannya. Tapi Mama belum setuju, sampai akhirnya justru Kak Obes memberi Dik Adhit sepatu itu, couple dengan Papa lagi. "Terima kasih banyak, Obes," ucap Mama. "Kenapa repot sekali?" Mama berubah sungkan. Ya, bagaimana tidak sungkan kalau hadiahnya begitu luar biasa. "Satu lagi hadiah yang mungkin buat Mama deng Bapa bersyukur skali," ucap Kak Obes berhenti sejenak. "Apa?" Mama tak sabar. "Sa mualaf, Mama." Papa, Mama, aku dan Dik Adhit diam manganga sebelum akhirnya kami mengucapkan Alhamdulillah bersama. "Sa pung Adik tiri itu penghafal Al-Quran." Kak Obes menjelaskan apa yang sebenarnya hendak kami semua tanyakan. Bagaimana bisa? Itu pertanyaan kami. "Ayah Hanif deng Mama Shofi itu Muslim yang taat. Macam Bapa deng Mama begini. Padahal sebenarnya, Ayah Hanif tidak memaksa sa par pindah agama. Ayah bahkan mengantar sa ke gereja. Tapi Al-Quran buat sa jatuh hati," jelas Kak Obes. "Alhamdulillah, Bapa senang sekali dengarnya," binar mata Papa juga menjelaskan semuanya. "Ya, alhamdullilah, Bapa. Oh, Iya... Ayah titip salam par Bapa. Ayah masih sibuk mengurus mutasinya. Ke Jawa Timur mungkin." "Ya, wa'alaikumsalam," balas Papa untuk salam dari Ayah Hanif, Ayah angkat Kak Obes itu. "Kak Obes sibuk nggak?" tanyaku ingin lebih dekat dengan Kak Obes. "Kalau nggak sibuk boleh lah cerita soal masa lalu dengan Papa. Kok bisa sedekat ini?" Ya, aku penasaran sekali. "Tidak, Kakak bebas tugas sampai besok sore. Bolehlah kalau mau dengar cerita dari Kakak." Dari yang aku lihat sampai sekarang, Kak Obes akan menjadi kakak yang baik untukku dan Dik Adhit. Dia ramah dan selalu menyunggingkan senyumnya padaku. "Oh, kalau begitu menginap saja di sini. Ada satu kamar kosong kok," tawar Mama. Penawaran terbaik, agar kami juga bisa lebih dekat. "Iya, nanti kita lapor RT setelah ini," tandanya Papa juga setuju. "Tapi sa trada baju ganti, Bapa," alasan yang biasa banget dari Kak Obes. "Nanti Bapa ajak shopping." "Wah, iya tuh," aku yang paling semangat. "Yang shopping Kak Obes ya, bukan Kak Sena." Papa menurunkan semangatku. Ya, Papa pasti tahu kalau selama Papa tidak ada aku boros sekali. Mama sering mengadukan aku. "Eh, nanti Kak Obes belikan kalian baju. Tenang Adik-adik." Huah... Melegakan sekali, membuat bibirku terus melebar. Tersenyum bahagia. Dik Adhit juga. "Eh, tidak usah, Obes." Mama menolak. Sudah kuduga. "Tra apa Mama. Trada yang mau menerima sa pung gaji. Ayah juga tra mau kalau sa transfer uang par Ayah. Adik di sana juga tra mau kalau sa tra pulang. Nah, di sini juga ada sa pung Adik, mereka harus terima sa pung gaji ini." Pintar sekali Kak Obes. Hihi. "Kalau mau ada yang menerima gajimu, ya nikah Obes. Istrimu pasti mau menerima gajimu," seloroh Papa mencairkan suasana. "Betul itu, Bapa," Kak Obes membenarkan. "Ah, tapi nanti lah. Par Adik-adik dulu." Keputusan yang tepat. Hihi. Setidaknya tepat untukku. Seharian kami lewati bersama dengan keluarga baru dari tanah Papua. Mengulas kisah masa lalu antara dia dan Papa. Kisah dari perbatasan RI-PNG. Kisah yang membawa masa kami sekarang ini begitu berwarna. Hadirnya Kak Obes telah membawa kebahagiaan tersendiri untuk keluarga kami, tapi ada satu hal yang tidak aku suka dari kisah masa lalu itu. Aku baru tahu kalau aku lahir tanpa seorang Papa yang menemani Mama. Papa justru sibuk di perbatasan. Membuatku semakin benci dengan Dunia Papa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD