Tuhan telah memberiku nikmat berupa keluarga, nikmat waktu juga bersama keluarga. Jadi nikmat Tuhan manakah yang bisa aku dustakan?
-Adhitakarya Negara Bhakti-
Pagi ini Kak Obes masih tidur di rumah kami. Menghabiskan waktu bersama keluarga kecilku. Semalam Kak Obes tidur bersamaku, aku yang memaksa. Dan dia jadi korban pertanyaan-pertanyaanku sampai tengah malam. Kalau Papa tidak marah mungkin aku dan Kak Obes tidak tidur. Lihat saja sekarang! Mata kami hampir tidak mau membuka sempurna, terutama aku. Mungkin kalau Kak Obes sudah biasa tidak tidur, lah kalau aku? Aku kan tukang tidur. Jujur banget ya? Hihi
"Kalian tidur jam berapa sih?" tanya Mama sambil menyiapkan sepiring nasi untukku.
"Tidur jam dua, Mama. Adik Adhit ini, tanya terus." Kak Obes menjawab cepat, mendahuluiku.
"Dik Adhit mah gitu, Kak. Kepo!" Kak Sena ikut memojokkan aku. Dia memang selalu begitu. Dasar Kakak menyebalkan!
"Tapi tra apa lah, seru." Kak Obes sedikit membelaku.
"Coba kalau Papa nggak bangun tengah malam, mereka nggak mungkin tidur," kata Papa sudah menyantap sesondok nasi dari piring putihnya.
"Maaf, Bapa." Kak Obes itu nurut sekali dengan Papa, juga lebih tahu sopan santun. Beda dengan Kak Sena. Hihi.
"Tidak masalah kalau kalian mau bercerita tapi jangan sekarang ini. Kalau kalian ngantuk begini, bagaimana bisa ketemu dengan Om Bagas?" seru Papa. Kata terakhir membuat Kak Sena tersedak. Aku juga. Terlebih Kak Obes.
Om alayku akan datang? Iya, kah?
"Om Bagas mau ke sini, Pa? Kemarin kirim pesan ke Kakak katanya lagi di Bandung. Ambil cuti tahunan." Kak Sena menghentikan makannya.
"Iya, kemarin Papa bilang kalau Kak Obes datang ke rumah. Jadi, Om Bagas langsung pesan tiket kereta ke Solo, berangkat tadi malam," jelas Papa tetap menikmati makanannya.
"Kalau Kakak yang minta aja nggak langsung pesan tiket, giliran cuma dibilangin Kak Obes datang langsung pesan tiket," seru Kak Sena cemburu. Kak Sena memang pencemburu sosial tingkat kelurahan.
"Ya, beda lah. Om Bagas tuh sudah bosen sama Kakak. Kalau Kak Obes kan lama nggak ketemu," penjelasan dan ejekan dariku untuk Kak Sena.
"Ih, kaya Om Bagas nggak bosen saja Dik sama kamu, Kenyataanya kalau kamu minta Om Bagas kesini nggak langsung kesini kan?" Kak Sena kesal.
"Ya, kan Om Bagas punya alasan. Tugas negara," alibiku. Tapi memang benar, Om Bagas sibuk sekali sejak pindah tugas di Yonif 411/Pandawa. Sebenarnya tidak terlalu jauh sih, tidak seperti Karanganyar dan Bandung. Hanya saja kegiatan Om Bagas banyak sekali di sana, waktu luangnya cukup singkat.
"Selalu negara yang menghalangi kita," seru Kak Sena bosan juga kesal. Seperti biasanya.
"E, sejak kapan negara menghalangi kita?" Kak Obes pasti akan menyanggah. Dia pasti belum terbiasa dengan Kak Sena. Iyalah, baru ketemu dua hari ini. Mana bisa Kak Obes mengenal Kak Sena secepat itu? Kalau aku kan sudah bertahun-tahun.
"Kakak mah gitu, Kak. Dia benci dengan negaranya, generasi tutup mata!" seruku tidak suka dengan sikap Kak Sena.
"Sudah sudah. Makan dulu!" Mama menghentikan kami bertiga, sebelum ada pertikaian lebih lanjut.
"Ya, Ma." Kami bertiga menjawab bersamaan. Seperti anak kecil yang baru saja kena marah sama Mama-nya.
Setelah sarapan selesai, aku mengajak Kak Obes main ke Yonif 413/Bremoro. Ikut Papa piket. Sementara Kak Sena dan Mama sibuk menyiapkan makanan, menyambut kedatangan Om Bagas yang entah jam berapa.
"Adik sering ya, iko Bapa Gibran ke sini?" tanya Kak Obes duduk kaku di jalan utama menuju markas.
"Iya, Kak. Tapi kalau Papa bolehin aku ikut. Kadang nggak boleh sih," jawabku. Aku hanya akan mengganggu kalau ikut Papa tugas. Kalau cuma piket biasanya boleh ikut.
"Terus par apa Katong menunggu di sini?" Kak Obes bingung, melihat sekitar. Bagaimana tidak bingung? Bukannya masuk ke dalam malah nunggu di dekat gerbang utama, duduk di tepian jalan utama, berdua, macam gembel saja.
"Kita nunggu Om Jodan dulu, Kak. Nanti aku kenalkan. Dia prajurit Papa yang paling lucu dan paling cekatan," jawabku melihat ke arah gerbang utama. Tadi Om Jodan bilang sedang membeli Bensin keluar.
"Oh, siap-siap." Kak Obes menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon di tepi jalanan.
"Nah itu." Menunjuk Om Jodan yang sedang mengendarai sepeda motornya dari arah gerbang utama.
Aku langsung berdiri dan melambaikan tangan. Baru setelahnya Kak Obes berdiri.
"Ngapain coba nunggu di sini," tegur Om Jodan setelah menghentikan sepedanya di depanku. "Nggak nunggu di asrama saja," lanjutnya mematikan mesin sepada motornya.
"Nanti kalau Om Jodan nggak ke asrama ya nggak ketemu dong. Jadi nunggu di sini saja," jelasku.
"Ya sudahlah, terlanjur ini." Om Jodan mulai melirik Kak Obes yang sudah menundukkan kepalanya untuk menyapa Om Jodan. "Siapa?" tanya Om Jodan padaku.
"Kenalkan, Om. Ini IPDA Obes, anak Papa dari tanah Papua." Aku memperkenalkan Kak Obes.
"Anak?" Om Jodan sama bingungnya dengan aku beberapa hari yang lalu.
"Ceritanya panjang, Om." Menghentikan kebingungan Om Jodan. Aku saja butuh banyak waktu untuk memahami bagaimana bisa Kak Obes ini jadi anak Papa? apalagi Om Jodan.
"Saya Obes, Om." Mengajukan tangan kanannya pada Om Jodan. "Eh, panggil apa kah?" Kak Obes bingung dan bertanya padaku.
Om Jodan menahan tawanya. "Panggil Jodan saja, Komandan."
"Ah, jangan komandan macam itu." Kak Obes sungkan.
"IPDA itu kan Perwira, Dan. Polri pula. Tak masalah kan? Harusnya sih tidak," tanya sendiri dijawab sendiri.
"Ya." Kak Obes bingung.
"Sudah ayo naik," menawarkan jok belakang sepeda motornya.
Aku dan Kak Obes langsung naik. Jadi seperti perempuan masa kini yang kemana-mana boncengan motor bertiga, pamer paha lagi. Bedanya kalau kami ini, dua dengan pakaian bebas sopan, satu dengan pakaian dorengnya.
"Papa," panggilku saat kami melewati Papa yang sedang berdiri dengan leting-nya di depan teras kantor.
"Eh, pelanggaran itu! Prada Jodan kamu SIM-nya beli ya!" teriak Papa membuat Om Jodan menghentikan laju kendaraannya.
Om Jodan langsung turun dari motornya, memberi hormat. "Siap salah, Komandan," serunya di depan Papa.
"Ya, sudah lanjut," ucap Papa.
"Lah, macam itu saja?" Kak Obes bingung. "Bapa Gibran sehat, kah?" Bertanya padaku. Membuatku tertawa. Papa dan Om Jodan memang sering begitu. Seperti saat Papa dan Om Bagas dulu, kata Mama.
"Haha, mereka memang suka begitu, Kak. Tapi Papa kalau hukum Om Jodan tetep hukum beneran. Sikap taubat seharian pernah loh," kataku sembari menahan tawa untuk Om Jodan yang sudah kembali dengan wajah bingungnya.
"Kakak waktu di Akpol juga sering sikap taubat. Aduh itu Adik, macam dunia itu terbalik dan menimpa Kakak pung kepala."
Aku pernah mencoba dan itu memang begitu menyakitkan. "Iya Kak."
"Papa kamu kambuh tuh," keluh Om Jodan sambil menaiki jok depan motornya lagi. Membuat kami tertawa.
"Kamu sniper juga?" tanya Kak Obes kaku pada Om Jodan.
"Iya, Ndan. Bisa dibilang begitu," sama kakunya.
"Wah, katong bisa belajar bersama ini," kata Kak Obes. Brimob juga harus bisa nembak jitu kan ya?
"Bisa, Ndan, bisa," sedikit cair.
Dua jam kami menikmati waktu bertiga sebelum akhirnya Papa meneleponku untuk segera pulang. Om Bagas sudah datang kata Papa. Bahkan Papa sudah menunggu kami di depan asrama Om Jodan sekarang ini.
"Buruan, Dik," kata Papa dari balik kaca mobil padaku. Aku masih ngobrol dengan Om Jodan, negosiasi waktu untuk bertemu. Padahal Kak Obes sudah duduk di kursi sebelah kemudi.
"Sebentar," berkata pada Papa. "Lusa ya, Om. Jam 15.30," kataku pada Om Jodan, lalu meraih tangannya untuk bersalaman. "Mari, Om. Assalamualaikum," pamitku.
"Iya, wa'alaikumsalam. Hati-hati, Komandan," menjawab salamku dan berkata pada Papa.
"Iya, Duluan ya," pamit Papa.
"Duluan, Jo," pamit Kak Obes. Sudah semakin akrab berkat stik PES menyebalkan milik Om Jodan.
"Siap, siap. Hati-hati," sekali lagi.
Hanya butuh sepuluh menit untuk sampai di depan rumah. Depan rumah yang terlihat penuh berkat mobil Kak Obes dan taksi yang baru saja datang. Sepertinya Papa membohongiku, katanya Om Bagas sudah datang tapi kenyataannya baru saja datang.
"Om Bagas." Kak Sena dengan ke-alay-an yang dimilikinya itu langsung menghambur keluar rumah menghampiri Om Bagas dan Istri yang baru saja turun dari taksi. Jangan tanya ada anaknya atau tidak? Jelas ada, anak bayi yang baru saja lahir delapan bulan yang lalu. Aduh, lucu sekali. Perempuan lagi.
"Lihat, Dik. Kakak dan Ayahmu histeris sekali," ucap Tante Maya pada putrinya yang masih terlelap dalam gendongannya, sudah hafal dengan pertemuan semacam ini. Ketika dua alay dipertemukan setelah berpisah dalam waktu yang lama.
Om Bagas dan Kak Sena memang sudah histeris sekarang ini.
"Masuk, Tante," Mama menyambut adik kesayangannya, Tante Maya. Hangat sekali. "Kasian ini Dik Vidya masih kecil sudah diajak jalan-jalan sampai ke Bandung, langsung ke Karanganyar lagi," terlihat gemas.
Padahal ini baru pertemuan kedua Mama dengan Dik Vidya atau nama panjangnya, Vidya Sana Viveka. Kata Om Bagas nama itu diambil dari pataka KODIKAU. Seperti Kakaknya, yaitu Papa. Om Bagas memberi nama itu asal. Papa kan begitu saat memberiku nama, tidak tahu artinya tapi tahu keinginannya. Tapi Mama sudah begitu gemas dan sering merindukan Dik Vidya ini.
"Dik Vidya tidur, Tan?" tanyaku basa-basi saja. Balita umur satu tahun juga tahu kalau Dik Vidya tidur.
"Iya ini, Kak." Tante Maya yang menjawabnya.
"Bapa Bagas." Kak Obes menatap Om Bagas haru. Sepertinya akan ada drama kedua setelah Papa dan Kak Obes.
"Hey, Obes, lama tidak bertemu. Wah, sedikit lebih putih kamu ya? Bagaimana kabarmu? Pace dan mace bagaimana? Letda atau sudah Lettu sekarang?" Ternyata bukan drama, justru lebih mirip talkshow karena Om Bagas memberondingi Kak Obes dengan pertanyaan ribetnya. Sudah gitu salah kaprah lagi! Sejak kapan di Polri ada pangkat Letda dan Lettu? Aku rasa tidak ada?
"Baik-baik, Bapa. Lama tra jumpa ini. Bapa su punya anak saja," mengganti fokus matanya pada Dik Vidya.
"Ah, Iya ini. Lama sekali menunggu dia hadir," kata Om Bagas. Memang Om Bagas memiliki sedikit kendala sampai akhirnya Dik Vidya hadir. Karena kesibukan tugas dan jarangnya bertemu dengan istri membuat Om Bagas baru memiliki momongan setelah bertahun-tahun menikah, belum lagi memang Allah memberi momongan dengan jarak yang lama.
"Jadi korban cuek!" keluh Kak Sena keras. Berharap Om Bagas mendengar. Sebenarnya Om Bagas juga tidak tuli. Hanya sedang sibuk melepas rindu dengan Kak Obes.
"Sudah masuk dulu!" Mama sekali lagi mengingatkan, karena sejak tadi tidak ada yang mau menuruti perkataan Mama. Semua sibuk melepas rindu di tepi jalan depan rumah kami.
Sekarang Tante Maya menuruti perkataan Mama. Kasian juga Dik Vidya kalau harus terkena terik mata hari.
"Taruh di kamar Sena aja, Tante," tawar Mama saat Tante Maya hendak menidurkan anaknya di sofa ruang tamu.
"Iya, Tante. Di kamar Sena saja. Aman kok," seru Kak Sena dari balik pintu rumah. Dia mengikutiku, Mama dan Tante Maya ternyata, sudah tidak tahan jadi korban cuek. "Asal jangan di kamar Adik, Tante. Berantakan kaya kapal pecah. Sudah bisa dipastikan tidak aman untuk Dik Vidya," menyindirku keras.
"Ye, kaya kamarnya situ rapi aja!" Sindirku balik. Terkadang kamar Kak Sena juga macam kapal pecah, apalagi saat belajar. Huah... Buku-buku bisa berserakan menutup semua lantai kamarnya.
"Setidaknya lebih baik!" balas Kak Sena lagi.
"Duh, lihat, Dik. Kakakmu masih kaya tikus sama kucing," celetuk Tante Maya sembari membawa Dik Vidya ke kamar Kak Sena.
"Ya gitu, Tante. Setiap hari bikin pusing Mamanya," itu keluhan Mama.
"Jadi kamu Brimob sekarang Obes? Anaknya Kapolda lagi," suara Om Bagas masuk dari pintu, masih mengobrol sefu dengan Kak Obes dan Papa.
"Ya begitulah, Bapa."
Papa, Om Bagas dan Kak Obes duduk di sofa bersama aku dan Kak Sena. Melanjutkan obrolannya, sama seperti yang kemarin Papa dan Kak Obes bicarakan. Kisah masa lalu yang seru itu.
"Kak Sena marah?" tanya Om Bagas pada Kak Sena yang duduk sambil manyun-manyun tidak jelas. Lagipula sejak kapan Kak Sena jelas?
"Ya, habis dari tadi jadi korban cuek!"
"Maaf maaf. Sini lah deket, Om!" sedikit merasa bersalah.
"Oleh-olehnya mana?" Kak Sena mendekat dan mengajukan telapak tangannya pada Om Bagas.
"Minta Tante," jawab Om Bagas enteng.
"Terus ketemu nggak sama Hanif Sjahbandi, Om? Kemarin aku lihat Twitter-nya dia baru pulang dari Manchester."
"Ya, nggak lah. Hanif pulangnya kemarin kan? Orang Om kemarin itu langsung persiapan kemari. Lagian ogah juga ketemu sama Hanif kalau ujung-ujungnya cuma buat mintain tanda tangan dia untuk oleh-oleh kamu."
"Om mah gitu!" Cemberut lagi. Dasar Kak Sena!
Kak Obes menahan tawa.
"Tertawa saja, Obes. Sena memang jelek kalau sedang cemberut begini!" kata Om Bagas pada Kak Obes.
"Iya, Kakak mah sukanya cemberut padahal kalau cemberut jelek sekali," Papa membenarkan sekaligus memperkeruh suasana hati Kak Sena.
"Hahah betul itu, Bang," semakin keruh berkat Om Bagas.
Kak Obes akhirnya tertawa lepas.
"Jahat!" Bibir Kak Sena kian manyun.
"Kalau jahat lapor Polisi, mumpung ada polisi nih, Kak." Aku ikut nimbrung.
"Ye, Brimob kagak ngurusin kejahatan kaya gini kali, Dik. Ngurusinnya itu teror biasanya," sahut Kak Sena.
"Ya, mana aku tahu Kak, yang penting sama-sama polisi ini sih!" Manahan rasa maluku. Lagian mana aku tahu. Baru kali ini aku tahu info soal polisi khususnya Brimob. Soalnya dari kecil sudah fanatik dengan dunia tentara.
"Sok tahu sih!"
"Berantem lagi," ujar Tante Maya keluar dengan Mama membawa minuman dan camilan.
"Tahu tuh, berantem mulu!" sahut Papa.
Aku dan Kak Sena langsung saling menatap penuh amarah. Bibir manyun kami juga menjelaskan banyak hal.
Sebenarnya aku sendiri juga sadar kalau kita berdua berantem itu suka bikin Papa dan Mama pusing, kalau Kak Sena sadar atau tidak ya tidak tahu. Anehnya walaupun sadar, lihat Kak Sena sebentar aja rasanya langsung pengen mancing. Mancing perkara maksudnya. Hehe. Rasanya sangat menyebalkan melihat wajah yang lumayan cantik! Euuu... tapi kalau tidak lihat wajah itu sehari saja, kangen. Mungkin takdir kakak-beradik memang begitu kali ya?
"Sampai bosen lihatnya." Om Bagas menyadarkan kami dari tatapan penuh kebencian. "Ini loh, keluarga lagi kumpul semua di sini tapi malah ada yang berantem. Nanti kalau Om Bagas jauh aja pada nyariin, kirim pesan tidak jelas, sudah gitu minta video call sampai berjam-jam, giliran sudah ketemu cuma di suruh jadi wasit." Om Bagas mengeluh. Ya, Om Bagas memang sering menjadi wasit dari pertengkaran ku dengan Kak Sena, sama seperti Pakde Satya, juga Kak Shena, anaknya Pakde. Mereka sering jadi wasit.
"Ya apa? Video call berjam-jam. Masa' Pa? bulan lalu terakhir video call sama Om Bagas, Kakak tuh baru say hello.. Om Bagas..." Kak Sena memperagakan saat dia melakukan video call dengan Om Bagas. Tangan kiri di depan pegang ponsel, tangan kanan Melambai-lambai alay, belum lagi suaranya yang heboh. "... Tau-tau ada suara sirine, langsung deh Kakak ditinggal, jadi ngobrol sama Tante Maya," cemberut lagi. Mulai deh! Uh, bosan lihat Kak Sena kalau lagi begini.
"Setidaknya sudah lihat wajah Om yang ganteng ini kan?" Menempelkan kedua telunjuknya di pipi. Ala-ala perempuan sok manis. Om Bagas juga sama alay-nya dengan Kak Sena.
"Wahaha... Bapa Bagas ini masih sama saja. Dasar alay!" Kak Obes tertawa lebar. Tawanya sungguh lucu. Suaranya dari tawa itu juga menggelegar. Gigi putihnya juga berbaris rapi, mengalahkan warna kulitnya.
"Eh, Obes, kamu sudah tahu bahasa gaul e. Belajar dari siapa kamu?" Logat Papua Om Bagas keluar.
Yang lain hanya tertawa. Sungguh tawa yang bahagia.
"Belajar dari Bapa lah, dari siapa lai? Yang alay dan gaul kan Bapa saja," jawaban Kak Obes menambah riuh suka cita keluarga beda darah ini. Kisah Papa di masa lalu benar-benar membawa warna baru untuk masa sekarang dan masa depan keluargaku.
Belum lagi Allah Swt. memang telah memberiku nikmat keluarga yang bahagia, meski tanpa aliran darah yang sama tetapi kami sama-sama cucu Nabi Adam kan? Allah Swt. juga memberiku nikmat sempat untuk sekedar tertawa bersama dengan mereka, sumber bahagia ku di usia menginjak remaja. Usia dimana keluarga dan lingkungan punya pengaruh besar untuk masa depanku.
Maka nikmat Tuhan manakah yang Kamu dustakan?
(Surat Ar-Rahman)