Andai saja waktu bisa berhenti saat kami tertawa -Adhitakarya Nagara Bhakti- Hari yang indah masih bersama keluarga beda silsilah. Keluarga dari tanah Sunda juga tanah Papua, tentunya tanah Jawa yang utama. Ah, tapi tanah Papua hanya sampai sore ini saja. Tugas negara membuat Kak Obes terpaksa menyudahi kehadirannya dalam hangatnya kebersamaan ini. Mungkin baru besok pagi Kak Obes datang lagi, sebelum Om Bagas dan Tante Maya kembali ke Asrama Yonif 411/Pandawa. Sesuai apa yang baru saja kami semua rencanakan. "Pamit dulu, Bapa," ucap Kak Obes sembari menjabat lalu mencium tangan Papa. "Iya, hati-hati, Obes," mengelus punggung Kak Obes lembut. Duh, kenapa melihat romantisme Papa dan Kak Obes membuatku iri, rasanya Papa seperti lebih sayang dengan Kak Obes dibandingkan aku. "Astagfirulla

